Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Sunday, 4 April 2021

Mengapa Memilih Sekolah Farmasi ITB

Dalam rangka memperingati bertambahnya usia ITB, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengajak saya kembali bernostalgia. Mengenang tentang alasan memilih jurusan di ITB.

Saya jadi teringat tahun itu. Tahun 2006, ketika tiba saatnya saya harus mendaftar kuliah dan memilih perguruan tinggi yang mana yang akan diperjuangkan. Di antara beberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Pulau Jawa, sejujurnya saya tidak terbayang sebelumnya akan kuliah di ITB. Karena cita-cita saya waktu itu adalah menjadi dokter. Sementara ITB tidak memiliki jurusan kedokteran.

Kala itu saya sekolah di SMA 3 Yogyakarta.  Seterusnya tinggal di Yogyakarta adalah impian saya yang lain. Maka tak heran, jika lalu saya berharap bisa kuliah di  Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu universitas negeri yang prestasinya bersaing ketat dengan ITB.

Saya tidak pernah melirik perguruan tinggi lain. Pun saat teman-teman saya bereuforia dengan dibukanya pendaftaran ITB jalur mandiri. Saya tetap santai. Hati dan pikiran saya tetap terfokus ke UGM.

 

Ikut Ujian Perguruan Tinggi Jalur Mandiri sebagai Try Out

Beberapa bulan menjelang Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), try out masuk perguruan tinggi mulai banyak digelar oleh berbagai lembaga. Saya berusaha memyempatkan untuk selalu ikut. Latihan mental, tujuan utama saya. Tes ombak adalah tujuan berikutnya. Kira-kira kemampuan saya sudah sampai mana sih untuk mengejar cita-cita saya itu.

Mendekati jadwal SPMB, beberapa perguruan tinggi negeri mulai membuka pendaftaran jalur mandiri dan PMDK, termasuk UGM. Saya ikuti proses Ujian Masuk UGM jalur mandiri ini (UM-UGM). Saya berharap bisa diterima di jurusan incaran saya, kedokteran, melalui jalur ini, sehingga saya sudah bisa tenang lebih awal. Kalaupun tidak, di tahun itu saya masih akan punya satu kesempatan lagi, yaitu dengan ikut ujian SPMB.

Setelah UM-UGM, saya juga mengikuti saringan masuk Pendidikan Dokter Universitas Airlangga (Unair) jalur PMDK dan Ujian Saringan Masuk ITB (USM-ITB).

Jikalau rejeki saya diterima, maka bisa untuk cadangan. Tapi jika tidak, ya nothing to lose toh, karena impian saya sesungguhnya adalah Kedokteran UGM.

 

Tidak Ingin Membuat Ibu Kecewa

Meski hanya saya anggap try out, jalan untuk ikut USM ITB ternyata tidak semudah itu. Ternyata keputusan ini membuat ibu saya patah hati. Ibu sempat tidak mengijinkan. Bahkan saat saya menanyakan pendapat Ibu terkait pilihan jurusan di ITB yang akan saya pilih, Ibu saya memilih diam dan cemberut. 🙈

Lain halnya dengan Abah (ayah saya). Abah cenderung mendukung saja apa pilihan saya selagi itu baik.

Usut punya usut, ternyata Ibu saya suatu hari nanti ingin memiliki anak yang berprofesi sebagai dokter. Sementara Ayah saya berharap ada anaknya yang menjadi engineer. Harapan ayah saya sudah dipenuhi oleh kakak saya yang kuliah di Teknik Mesin. Sebagai anak bungsu, maka saya menjadi satu-satunya harapan ibu saat itu 😅

Perlu waktu beberapa hari untuk meyakinkan Ibu akan niat saya ikut USM ITB. Tampaknya teman-temannya juga banyak memberikan pencerahan terkait ITB sehingga akhirnya saya berhasil mengantongi restu Ibu untuk mendaftar USM ITB.

 

Pilihan Pertama Idealis, Pilihan Kedua Realistis

Tidak seperti saat mendaftar UM-UGM yang saya sudah yakin dengan jurusan yang hendak saya pilih, saat mendaftar ITB saya harus mempelajari dulu jurusan apa saja yang ditawarkan. Di titik ini, sejujurnya saya tidak terlalu serius dalam memilih. 

Saya mengingat-ingat hari ketika mas-mas dan mbak-mbak senior alumni SMA saya yang sudah menjadi mahasiswa ITB kembali ke sekolah. Mereka datang untuk memberikan pencerahan tentang ITB dan ujian masuknya, kepada kami adik-adiknya yang masih duduk di bangku kelas tiga. Mereka juga memotivasi kami untuk kuliah di ITB.

Dari pencerahan mereka, saya jadi berani tertarik untuk memilih Teknik Kimia. Saya rasa jurusan ini cocok untuk situasi saya saat itu, karena lingkup kerjanya kelak masih luas. Cocok untuk saya yang belum memiliki passion yang spesifik di bidang teknik.

Untuk meyakinkan diri, saya mencoba mengajak Ibu berdiskusi. Ternyata pandangan Ibu berbeda.

"Karena tidak ada kedokteran, sudah pilih apa aja yang terdekat dengan bidang kesehatan!"

Begitu saran Ibu saya. Maksud Ibu saya tak lain dan tak bukan adalah agar saya memilih jurusan Farmasi saja di ITB.

Awalnya saya ingin menjadikan Teknik Kimia di pilihan pertama, lalu Sekolah Farmasi di pilihan yang kedua. Tetapi Ibu saya masih belum srek jika Sekolah Farmasi di pilihan kedua. Akhirnya demi mendapat restu Ibu untuk ke Bandung, ketika mendaftar saya balik, Sekolah Farmasi pilihan pertama, dan Teknik Kimia pilihan kedua.

Setiap yang dengar pilihan saya ini pasti bernafas panjang. Hihi. Karena dua-duanya termasuk kelompok jurusan yang passing grade nya tinggi. Tapi bagi saya mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi jalur mandiri adalah nothing to lose. Menurut saya sebaiknya dipilih jurusan yang paling diminati. Terlalu idealis pun tidak apa-apa. Asal sesuai minat.

Nasehat dari mas-mas dan mbak-mbak senior tentang "Pilihan Pertama Idealis, Pilihan Kedua Realistis" saya simpan dulu untuk mendaftar SPMB, jika memang saya tidak diterima di seleksi mandiri.

 

Allah Maha Membolak-balikkan Hati

Saya sedang ada di Bandung ketika hari pengumuman UM-UGM. Saya di Bandung karena beberapa hari lagi waktunya tes USM-ITB. Saya deg-degan sekali hari itu. Akhirnya rasa was was saya terjawab. 

Saya tidak diterima di Pendidikan Dokter melalui jalur UM -UGM yang sudah saya ikuti.

Seketika saya langsung lemas.

"Mungkin kurang kenceng doanya, Vid." Begitu kata teman saya mencoba menyemangati. Ah ya mungkin saja ya.

Masih ada SPMB. Juga PMDK Unair yang belum pengumuman. Dalam hati saya. Meski begitu saya tidak bisa bohong kalau saya jadi khawatir juga meleset di SPMB. 

Sejak hari itu, saya tersadar bahwa setiap "pintu masuk kuliah" mestinya "diketuk" dengan serius. Karena kita tidak tau pintu mana yang sebetulnya jadi rejeki kita. 

Sejak saat itu, USM-ITB juga jadi lebih serius saya persiapkan. Tinggal beberapa hari lagi.

 

If You Get Tired, Learn to Rest, Not To Quit -Banksy

Setelah tes USM ITB, saya pulang ke Yogyakarta. Hati saya yang masih sedih bertambah sedihnya melihat suasana Yogyakarta yang baru tertimpa musibah.

Ya, gempa besar yang menghantam Jogja di tahun 2006. Saat gempa terjadi, saya baru tiba di Surabaya untuk tes PMDK UNAIR. Dari Surabaya saya langsung ke Bandung untuk tes USM-ITB. Jadi setelah USM, baru saya kembali lagi ke Jogja.

Tempat tinggal saya Alhamdulillah tidak apa-apa. Hanya barang-barangnya saja kacau berantakan. Kakak saya bilang, kamar saya sengaja tidak dibereskan supaya saya sendiri ikut menyaksikan efek gempa dahsyat itu. 

Perjalanan mengetuk pintu kuliah ini dari Jogja-Surabaya-Bandung-Jogja ternyata cukup melelahkan. Tapi sepertinya semakin terasa melelahkan lagi karena pengumuman hasil UM-UGM saya dinyatakan tidak lolos. Perjalanan saya masih panjang. Masih perlu banyak latihan soal SPMB. Tapi suasana hati kok tidak mendukung ya 😅

Saya putuskan istirahat dulu dari persiapan SPMB. Saya minta kakak menemani berkeliling Yogyakarta, dan apa yang saya dapati ternyata lebih memilukan lagi. Kota Bantul yang rata dengan tanah. 😭 Sejauh mata memandang, hanya reruntuhan rumah-rumah, kantor, gedung. Masyarakat tinggal di pengungsian. Sebagian lagi harus dirawat di Rumah Sakit. 

Di lain hari saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya. Sebagian dari mereka sudah lolos UM-UGM. Sebagian lagi sama seperti saya, masih harus berjuang. Mereka menceritakan kejadian di hari H terjadinya gempa. Kacau, panik, kehilangan anggota keluarga, dan sedikit humor untuk meredakan ketegangan. Dalam hati saya, saya harusnya bersyukur, Allah sudah menyelamatkan saya dan keluarga saya dari musibah. Allah juga mengijinkan saya mencoba mengikuti tes beberapa perguruan tinggi ternama. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Meski kali ini gagal, saya tetap harus semangat, pasti Allah punya rencana lain yang lebih indah. 

 

Saya Sempat Ragu 

Akhirnya tiba waktunya pengumuman PMDK UNAIR dan USM-ITB. UNAIR juga saya tidak lolos. Tapi tanpa saya sangka, ternyata saya lolos di pilihan pertama (Sekolah Farmasi) ITB. Senang sekali rasanya. Senang dan tenang karena sudah mendapat tempat di perguruan tinggi. Saya bisa pede memilih Pendidikan Dokter UGM sebagai pilihan pertama, karena saya pikir kalaupun, saya tetap bisa kuliah di ITB. 

Ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama. Karena setelah membaca lebih detail lagi tentang syarat pendaftaran ulang, ternyata hari daftar ulang bertepatan dengan hari tes SPMB. Sementara daftar ulang di ITB tidak boleh diwakilkan oleh orang lain dengan alasan apapun. Jadi? Saya harus memilih, ikut SPMB atau daftar ulang ITB?

 

Bukan Pilihan Mudah

Kalau saya memilih SPMB, saya bisa perjuangkan lagi Pendidikan Dokter UGM. Tapi kalau meleset alias tidak lolos lagi, sementara Farmasi ITB sudah dilepas.. ahh.. saya sulit membayangkannya. Mungkin juga jadi berat melepasnya karena pada waktu itu Sekolah Farmasi ITB menduduki peringkat pertama passing grade fakultas farmasi se-Indonesia.

Sementara kalau saya memilih daftar ulang Farmasi ITB, maka saya harus menutup "buku cita-citaku" yang ingin jadi dokter itu.

Saya tidak bisa memilih sendiri. Bertanya ke Ibu saya, Ibu saya lebih menyarankan saya ikut SPMB saja dengan pilihan ke dua sama-sama pendidikan dokter, tapi di universitas lain yang lebih realistis. Bagi ibu saya, jurusan pendidikan dokter adalah yang paling penting. Sementara bagi saya, minat kepada perguruan tinggi nya juga penting.

Saya pun istikhoroh. Berkali-kali. Dan entah bagaimana ceritanya hati saya tetap condong ke Farmasi ITB. 

Setelah saya sampaikan lagi ke Ibu dan Abah, beliau berdua pun akhirnya merestui.

 

Ridho Allah Bersama Ridho Orang Tua

Masuk ITB bersama ribuan mahasiswa baru dalam satu angkatan, disambut dengan Sidang Terbuka di Sabuga.

 Sempat merasa bersalah juga pada Ibu, karena tidak bisa memenuhi harapannya. Pernah merasa kesepian juga karena keluarga nun jauh di mato. Sempat down dan minder waktu adaptasi dengan lingkungan dan budaya baru yang jauh beda dengan di kampung halaman. Juga cukup kaget dengan pola belajar teman-teman sejurusan. Hahaha.. 

Alhamdulillah masih bisa lulus tepat waktu empat tahun kemudian dan tambah satu tahun lagi untuk belajar di pendidikan profesi Apoteker dengan beasiswa. 

Tentunya berkat ridho Allah, doa ibu dan usaha untuk bisa membahagiakan orang tua. Mungkin berkat ini juga, sebelum lulus saya berhasil mendapat posisi permanen di salah satu perusahaan kosmetik besar di Indonesia. Tiga tahun kemudian saya mencoba menceburkan diri ke dunia pelayanan farmasi di Apotek. Meski sekarang harus off dulu dari menjadi garda depan yang berkontribusi langsung dalam membangun kesehatan masyarakat yang berkualitas.

Dulu, mungkin saya berat move on dari cita-cita untuk jadi dokter. Tapi ternyata sekarang saya juga berat move on dari pekerjaan kefarmasian. Walaupun saat ini ada tanggung jawab lain yang harus saya lakukan dan situasi membuat saya belum bisa praktek lagi, tapi menimba ilmu dan edukasi ke masyarakat tetap bisa berlanjut. InsyaAllah tabungan jariyah. Aamiin.

 

<<< Cerita sebelumnya

Penerbangan Panjang bersama Anak Satu Tahun

KenaikanBerat Badan Bayi di Bawah Minimum 

Jaman Sudah Beda, Kenapa Tetap ngeBlog?

 

Share:

Monday, 15 February 2021

Jaman Sudah Beda, Kenapa Tetap ngeBlog?


Akhir-akhir ini bermunculan pertanyaan tentang sesuatu, seringkali tentang satu hal yang sama dari beberapa teman di medsos. Kadang hanya perlu dijawab singkat, tapi ada pula yang perlu dijawab panjang. Saya yakin ini sering terjadi di lingkaran medsos kita semua.

"Ditulis di blog, Vid! Nanti kalau ada yang nanya lagi tinggal di-share link-nya, nggak perlu cerita ulang", kata salah seorang teman. Dia adalah blogger yang konsisten. Kami pernah sama-sama menjadi penulis di blog apotekerbercerita.com. Dia sudah berhasil menelurkan sebuah buku. Keren sekali. Monika Oktora namanya.

Suami saya juga sama, sering mengucapkan kalimat itu. Dia juga konsisten menulis di blog nya, andyyahya.com. Dia juga sudah menulis bukunya sendiri. Tapi kok  sudah lama ya saya tidak dengar lagi suami saya bilang, "udah.. ditulis di blog..".🤭

Pak suami sepertinya tau saya sudah mulai kehilangan semangat ngeblog. Hihi. Kelihatan history postingan saya di blog ini, terakhir ternyata sudah tiga tahun yang lalu. Setelah saya ingat-ingat, kelihatannya saya tenggelam bersama rutinitas baru. Back for good, adaptasi lagi, ngurusin sertifikasi, hamil lagi, ngurusin sekolah anak, melahirkan, hamil lagi (lagi 🤭), renovasi, lalu dilanjut PJJ. Banyak sekali ide cerita yang ingin ditulis, tapi saya merasa kesulitan untuk mengatur waktunya.

Beberapa hari yang lalu, saya jadi sengaja sempatkan satu waktu untuk membuka-buka lagi blog ini. Memangnya saya sudah ngapain aja sih dengan blog ini? Buka-buka page nya, baca-baca judulnya, lalu baca ulang cerita-ceritanya. Astaga, ternyata seru juga. Saya seperti sedang menggunakan mesin waktu, melihat dan mendengarkan diri saya yang lebih muda. Berargumen, belajar menjadi edukator, belajar masak, sampai curcol hal receh. Ternyata sedikit-sedikit memories dan rasa-rasa mulai lepas dari ingatan. Saya sampai ketawa ketiwi sendiri, terutama waktu membaca cerita tentang celotehan Aqila waktu batita. 

Jadi saya sempat merasa ngeblog nggak se-worthwhile itu untuk disempatkan di sela-sela kesibukan. Tapi sekarang, malah saya menyesal. Merasa tulisannya kurang banyak. Merasa rindu dengan masa lalu yang belum sempat diceritakan. Ternyata feel nya beda ya, ketika sebuah cerita atau artikel ditulis saat belum lama terjadi dibanding dengan ditulis ketika sudah kelewat jauh. Waktu dibaca, feel nya akan beda.

Nulis blog pun sekarang bisa dari dan di mana saja. Tinggal pakai aplikasi di HP. Tidak harus lagi pakai laptop.

Dari situ, muncul semangat saya untuk rajin menulis lagi. Apalagi sekarang sudah gabung komunitas ngeblog bareng Mamah Gajah Ngeblog. Komunitas yang isinya ibu-ibu dan calon ibu, sesama almamater kampus gajah duduk, yang sama-sama hobi ngeblog. Jadi ada yang rajin ngingetin buat nulis. Bisa belajar banyak juga dari mamah-mamah yang lain.

Tulisan ini juga jadi salah satu challenge dari Mamah Gajah Ngeblog, "Alasan kembali menulis".

Challenge sampai tahun depan bahkan sudah direncanakan :

Februari : Alasan Kembali Ngeblog
Maret: Budayakan Hidup Tanpa Bajakan/Legal
April : Review/Resensi Film
Mei: Cerita Komedi true story
Juni: Mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing
Juli: Resep Masakan Andalan
Agustus: Komunitas yang bikin aku bahagia
September: Cerita kegiatan #dirumahaja
Oktober: Pengalaman/pelajaran berharga dari masa kuliah
November: Review/resensi buku
Desember: Lesson learned 2021 dan motto 2022
Januari: Nulis blog pakai bahasa Inggris


Semoga saja bisa terus mengikuti challenge nya.

Awal lahirnya blog ini, saya tulis ini di bagian about me :

---"Dengan menulis, saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja. hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis."---

That's so true. Dan saya pikir, akan relevan sampai kapanpun.

Jadi, tetap semangat menulis ya!🤗


<<<Cerita sebelumnya :
Nasi Kebuli Kambing

Share:

Saturday, 13 February 2021

Keberangkatan ke Austria

Akhirnya hari itu tiba juga. Jadwal keberangkatan kami ke Austria. Tiket sudah di tangan. Barang-barang sudah dikemas. Visa juga tentu saja sudah siap. Walaupun baru jadi beberapa hari sebelum keberangkatan.

Sedih karena ini yang pertama kali pergi sangat jauh dari Abah dan Ibu, untuk waktu yang lama. Sangat jauh sampai kami nggak yakin kapan bisa ketemu lagi. Mungkin tahun depan, atau depannya lagi, atau depannya lagi? Entahlah. Pun juga orang tua kami, saya yakin beliau berdua merasakan kegundahan yang tidak jauh berbeda. 

Tapi juga senang, karena ini artinya saya, suami, dan Aqila tidak perlu berjauhan lagi. 

Juga excited, wondering dunia luar seperti apa yang akan saya temui. 

Kala itu teknologi bernama android dan whatsapp belum lama muncul. Generasi milenial seperti saya dan suami tentu mudah menyesuaikan diri. Lain halnya dengan generasi senior. Kami juga sudah memikirkan itu. Hari-hari sebelumnya kami membiasakan berkirim video dan foto via whatsapp dan juga video call dengan para orang tua kami. Mempelajari trouble and shoot di whatsapp dan tentu saja cara memperpanjang kuota internet 😄 Demi kelancaran komunikasi jarak jauh nanti.

Di hari H, Abah dan Ibu, kedua mertua, dan adik ipar semua mengantar di bandara. Sahabat saya, Sabrina dan Kuti juga datang. Adik kelas suami yg sudah bantu ngurus2 residence permit, Heru dan Gumi, juga datang. Kakak saya dan keluarganya yang saat itu tinggal di Tanjung Balai, tidak bisa hadir. Tapi mereka sudah menyempatkan untuk bertemu kami di rumah sebelumnya. Momen yang sangat berarti ❤️

Aqila saat itu usianya 1 tahun lewat sedikit. Dia baru bisa mulai melangkah beberapa langkah. Lucu sekali. Di bandara, dia selalu bersama mainan kucing kesayangannya. Tetap ceria sambil berusaha disuapi makan buah pisang. Dia waktu itu memang agak tidak suka makan. Hahah. Sedikit makan, tapi sehat dan sangat aktif. Alhamdulillah. Dia senang sekali banyak yang datang memperhatikannya. Dia belum mengerti momen nano-nano di hari itu 😅 yah.. sepertinya keberadaannya menjadi pelipur lara kami semua orang dewasa yang di sana.
Tiba saat saya, suami, dan Aqila harus masuk ke ruang tunggu di dalam bandara. Sekali saya sempatkan menoleh ke belakang, melambaikan tangan, tersenyum dan berusaha tidak menitikkan air mata. Wkwk. Saya orang yang gampang terharu.

---
Sekelumit cerita untuk Aqila 😊 sebelum bunda lupa suatu hari nanti 😁

<<< Cerita sebelumnya :


Mengajukan Visa Schengen Austria 


Share:

Wednesday, 24 January 2018

Rontgen untuk Mengonfirmasi Diagnosa Reflux dan Sinusitis

Hari ini saya datang ke praktek dokter Radiologi di Leoben sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh resepsionis. Beberapa hari yang lalu saya sudah ke sini untuk meminta jadwal  khusus untuk saya, "Termin" istilah yang dipakai di sini.



Dari luar, tempat praktek dokter Pelzmann ini tampak horor. Mungkin karena akses masuknya hanya berupa pintu besi bertuliskan Radiologie. Meskipun ruang prakteknya menempel dengan mall satu-satunya di kota ini. 


Pintu Masuk Praktek Dokter Radiologi



Namun begitu masuk ke dalam, kesan horor itu berubah. Di balik pintu besi itu ternyata persis layaknya klinik eksklusif. Meskipun hawa-hawa tegang di sana masih ada. Mungkin juga itu hanya perasaan saya yang berharap hasil rontgen baik-baik saja. 

Ruang Tunggu Pendaftaran

Resepsionis

Ruang Tunggu Rontgen


Saya ke sini atas rujukan dari dokter THT. Beliau perlu data radiologi saluran pernafasan saya untuk mengonfirmasi diagnosa Refluks yang bulan September lalu diberikan. Juga untuk melihat apakah ada kemungkinan lain yang mrmbuat saya kok langganan pilek tiap bulan, mungkinkah sinusitis?


Btw, saya pernah menulis tentang Refluks di sinidi sini dan di sini.


Saya menjalani dua metode rontgen. Yang pertama, rontgen saluran nafas atas untuk melihat potensi sinusitis. Saya hanya perlu berdiri di atas alat rontgen, menghadap depan, belakang, dan samping. Menggunakan apron untuk bagian pinggang ke bawah. Ini seperti proses rontgen pada umumnya. 



Metode rontgen yang kedua adalah untuk mengonfirmasi adanya Refluks. Masih menggunakan alat yang sama, namun selama proses rontgen, saya diminta sambil minum suatu cairan bernama Barium Contrast. Di ruangan radiologi saya ditemani oleh asisten, sementara dokter radiolog memantau dari ruang kaca di pojokan. Dokter memantau layar komputer yang merekam video radiologi proses yang terjadi selama saya minum. Setelah meminumnya, cairan ini akan terlihat berpendar di sepanjang saluran cerna saya dari hasil rontgen. Dokter akan melihat detail proses ketika cairan barium contrast ini saya minum, apa yang akan terjadi di pencernaan saya. Jika ada refluks, maka akan terlihat bagaimana barium contrast ini sulit tertelan hingga masuk ke lambung, dan setelah barium contrast mulai memasuki lambung, maka dia akan kembali lagi ke kerongkongan. Proses rontgen yang ini berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Selama itu saya diminta terus minum sambil berdiri dan berputar. Ada juga sesi ketika alat rontgen yang saya pijaki dan sandari bergerak naik dan miring hingga 90 derajat (menjadi posisi tidur).  serius ini asik hehe. Pada saat alat Rotngen mulai bergerak itu tangan saya harus terus disandarkan ke atas dengan tetap minum barium contrast terus menerus. Pada saat posisi badan saya sudah hampir horizontal (seperti orang tiduran) asisten memegangi cairannya dan saya meminumnya lewat sedotan. saya minum juga sambil berputar-putar saat tiduran. 


Akhirnya proses selesai.


Dokter menjelaskan diagnosa dari hasil rontgen. Kata dokter saya tidak mengalami sinusitis dan tidak terjadi refluks selama saya minum cairan tadi. Semuanya normal. Hanya di saluran nafas atas saya ada inflamasi. Sebuah inflamasi normal yang lusa akan ditangani oleh dokter THT saya. Artinya kemungkinan refluks yang selama ini terjadi adalah karena adanya gejala lain, misalnya seperti batuk, dsb. Dokter menjelaskan dengan tersenyum. Saya mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal.
Saya tidak menerima cetakan hasil rontgen. Hasil rontgen dikirimkan secara online oleh dokter radiolog langsung kepada dokter THT saya.

Bagi saya hasil rontgen ini adalah berita baik. Saya yakin saya tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia saya di depan dokter waktu itu. Tapi yang beliau tidak tau, hati saya tersenyum lebih lebar daripada senyum di bibir saya. Barakallah.. Alhamdulillah. Alhamdulillahirobbil alamin.



Saya yang pernah didiagnosa GERD (Refluks) sebelumnya dan setiap bulan sekali berikutnya selalu merasakan gejala yang sama, hingga harus selalu bedrest selama beberapa hari, sekarang merasa seperti diberi kesempatan kedua oleh Allah. Kemarin itu seakan-akan seperti warning agar saya lebih bisa mendengarkan dan memahami kebutuhan raga ini. Hindari begadang, kelelahan, dan stress. Menjaga pola hidup dan pola makan yang sehat. Selalu positif dan bahagia. Sehat itu memang kekayaan yang nilainya tiada tara dan harus diperjuangkan.



Mudah-mudahan ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan, diberkahi olehNya, dan rasa sakit yang pernah datang, menjadi penggugur dosa-dosa kita. Aamiin. 

Nama Dokter dan Jam Praktek
Alhamdulillah sudah lega

Share:

Thursday, 26 October 2017

Hari Pertama Haid... Bedrest?



Day 1 menstrual cycle yg skarang 'luar biasa' dibandingkan yg biasanya. Luar biasa capeknya.. Ngantuknya.. Nyerinya.. Mualnya.. alhamdulillah nya emosi aman terkendali (perasaan saya si :D😁 )

Day 2, pagi kebangun lewat dari jam biasanya, dgn sekujur badan sakit semua T-T😆 kepala migrain, tenggorokan radang, dada nyeri, perut mual dan nyeri, kaki pegal2. Superb. Ini kayaknya perlu bed rest. Bilang ke suami "aqila libur aja apa ya hari ini, kayaknya aku perlu bedrest." Jawaban suami pun sangat romantis "udah masuk aja, aku yg anterin ke tk." Aaak mamacih.. Udah mau berangkat lebih awal muter dulu ke tk sblum k kampus di waktu2 yg task nya kayak sekarang.. Smoga tetap sehat ya mas suami.. Jangan ikutan tumbang..

===
Jd inget, bbrp teman jg ada yg di awal2 kayak gini perlu bedrest. Dan katanya ada undang2 ketenagakerjaannya ya yg menyatakan libur di hari pertama mens adalah hak tenaga kerja wanita.


===
Sambil rebahan, baca2 apa yg bisa dibaca, lalu nemu postingan ini

Well explained ttg bagaimana siklus menstrual mempengaruhi performa kerja seorang wanita setiap bulan.. Yang ga terjadi di pria yang relatif linear dan stabil.

"ignoring our bodies by working and forcing ourselves to be active during our 'winter' -menstrual days- can potentially ruin the month ahead."

Because every woman is special. 👩
We are unique and different each other.

 👩👩
Listen to your body gives you better opportunities to understand what you really need. 

===
Baca juga :
Share:

Saturday, 19 August 2017

Celoteh anak ep 3 : Pizza

Aqila, anak kami yang minggu depan genap 3 tahun, senang sekali masak. Dia suka membantu kami memasak dan sering meminta untuk ditugasi apapun, mengupas bawang, menuang, dsb.

Kemarin lusa saya ajak dia bikin Pizza. Dengan resep dasar yang simpel, dia bisa banyak berpatisipasi.

Saya siapkan dulu semua bahan untuknya supaya nanti dia tinggal tuang2 dan aduk2.

Tepung terigu, ragi roti, air suam kuku, minyak biji labu, garam, semua sudah dia masukkan satu-satu, dicampur dan diremas dengan tangan supaya jadi adonan pizza. Ehh tapi kok... ga kalis2 ya??

Kyaaa tiba2 saya ingat, tadi semua bahan kering + minyak saya siapinnya cuma setengah resep, tapi airnya malah 1 resep full. Jeng jeng.... Yasudah.... akhirnya saya tambahkan lagi bahan2 lainnya supaya semuanya jadi 1 resep full. Nambahinnya agak barbar sih karna udah kburu lewat jam makan.. laper :(

Long story short, pizza nya jadi. Yeayyy. Ini pizza ketiga yang kami buat sendiri semuanya di dapur kami. 2 pizza sebelumnya dgn resep yang sama sudah sukses... berhasil meraih fans setia (pak suami & aqila).

Gigitan pertama.. kok ada yang aneh ya. Kedua, ketiga, dst. Ahh ini mah keasinan!! huhuu.. mana bikinnya td 1 resep full itu kira2 bisa buat 6x makan. Duh!

===

Kemarin siang saya hidangkan lagi sebagian sisa pizza nya buat makan siang, nambahin stok tom yam yg udah tinggal sedikit. Rupaya Qila tergiur melihat pizza nya yg baru keluar oven. Meskipun habis itu dia tampak kecewa sama rasanya hihi.. cuma habis setengah slice orang dewasa.

Malemnya setelah dia bermain semangat banget tuh diajakin makan. Bahagia, mungkin udh lapar. hihi. Senyum2 ke meja makan mininya. Tiba2 jeng jeng.. wajahnya berubah. "Pizza lagi??" Katanya refleks.

Kayaknya berat banget nih mau makan pizza yang ini... Maafkannn yaaa.. gimana lg 1 pan-nya masih banyak.. asinnya juga ga asin2 banget kan. masih biisa ditolelir sama lidah walo agak maksa.. soalnya sayang banget kalau mubazir.. topping tuna keju maksimal lagi... Dan di kulkas masih ada 1 pan lagi! >.<

Percaya pada bunda nak, mungkin sekarang berat, tapi suatu hari nanti percayalah kamu akan mengerti dengan sendirinya karena insyaAllah kelak kamu akan jadi seorang istri dan ibu... *nyari pembenaran. Piss..

Disclaimer : Walaupun begitu alhamdulillah dia habis 1,5 slice, kira2 setengah porsi makan saya. Terharu..


Share:

Celoteh Anak : Minum Teh

Pagi ini sepertinya pak Suami lupa ngabisin dulu tehnya sebelum pergi. Karena perginya dinas luar berhari-hari, ya saya yang habisin aja sehabis makan sekalian saya seduh lagi karena sisa teh di teh celupnya masih banyak. Saya termasuk jarang minum teh. Tapi kali ini suasananya kok pas ya.. di luar gerimis, rumah sudah bersih, anak makannya nyenengin, makan sendiri juga, dan sepertinya dia mulai ngantuk (ngebayangin ga perlu begadang hehe), saya duduk simpuh, lalu berimajinasi sedang prosesi minum teh pakai baju kimono di Jepang diiringi musik tradisional lirih.. damai.. kayak yg ada di film2.Saya pun ingin menyelesaikan imajinasi momen minum teh ini dengan sempurna sampai tetes terakhir teh di gelas saya habis. Wkwk... Momen mewah minum teh seumur2.. (walaupun dalam imajinasi :D)

Lalu tiba2 ada suara anak kecil menghancurkan imajinasi saya ketika tegukan pertama. Dan ternyata itu suara Aqila.

"Loh, bunda kok minum teh pake gelas Bapak sih?"

-______-"


Come back to reality Ma'am.. :D :D

I love you honey.. cutie lil princess. Terimakasih sudah hadir ke dunia ini. *smooch*
Share:

Friday, 5 May 2017

Mendampingi Suami Sekolah di Luar Negeri? Kenapa Tidak?!

Makna judul tulisan saya ini mungkin menyuarakan hati sebagian istri yang sedang atau sudah mendampingi suami sekolah di luar negeri. Bagi sebagian yang lain, mungkin sebaliknya. Sementara bagi saya?

Sejak sebelum menikah, saya sudah tau bahwa calon suami saya mungkin suatu hari nanti harus melanjutkan sekolah di luar negeri, bukan setahun atau dua.. tapi minimal tiga tahun. Sementara saya, yang dalam diri saya saat itu mengalir darah muda, tersimpan energi besar, dan haus untuk mengejar ambisi dan cita-cita di masa depan, tidak ambil pusing. Bagi saya saat itu, kalau mesti LDR dulu selama suami saya sekolah di luar negeri, kenapa mesti takut?!

Seorang teman saya saat kuliah, justru berpandangan sebaliknya. Baginya, keliling dunia adalah salah satu passion-nya. Bahkan dia menantang calon suaminya untuk sanggup mengajaknya keliling dunia setelah mereka menikah. Matre! Demikian celoteh saya sambil tertawa. Maka dialah yang pertama kali menentang keberanian saya untuk LDR selama suami sekolah di luar negeri. Katanya, "demi apa lo rela LDR? Demi kerja banting tulang buat siapa? Kalau suami gue yang nanti sekolah ke luar negeri, ya gue bakal ikutlah, ga semua orang bisa jalan-jalan ke luar negeri, apa lagi sampai tinggal di sana."

Sungguh semua bagian perkataan teman saya saat itu terdengar matre di telinga saya. Matanya tampak duitan di mata saya. Tapi nyatanya, kata-katanya malah terngiang-ngiang terus di pikiran saya.

Waktu terus berlalu. Kami sudah menikah. Saya berhasil meraih cita-cita karir saya semenjak sebelum menikah. Bekerja di industri kosmetik dalam negeri, turut berjuang mengharumkan nama bangsa di mata bangsa kita sendiri minimal, dan di kancah internasional, melakukan pekerjaan yang saya cintai, dikelilingi oleh orang-orang yang baik, dan dibayar dengan jumlah yang melebihi ekspektasi awal saya. Dari situ saya belajar menabung dan bersedekah. Masa-masa itu saya seperti sedang on fire. Semuanya on the track seperti yang saya inginkan. Meskipun satu yang belum tercapai... berhenti LDR. Ya, sejak menikah, kami memang sudah LDR karena saya dan suami bekerja di kota yang berbeda.

Suatu hari suami saya memberanikan dirinya untuk jujur. Dia meminta saya untuk berhenti LDR. Kala itu, saya sedang hamil. Alasannya sederhana. Beberapa bulan lagi tiba waktunya ia harus berangkat ke luar negeri untuk sekolah. Momen dalam hidupnya yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini. Apa iya, dari sejak menikah, sampai berangkat sekolah ke luar negeri, kita belum pernah tidak LDR?

Saya memintanya bersabar untuk menunggu saya berpikir dan memantapkan hati. Sesungguhnya keluarga adalah prioritas saya, tapi apa iya saya harus berhenti sekarang, di saat karir saya sedang baik dan di kala ia akan berangkat ke luar negeri selama bertahun-tahun sementara saya entah kapan bisa menyusulnya bersama anak kami?

Saya bertanya kepada Yang Kuasa, memohon petunjuk dari-Nya. Saya berusaha berpikir logis selama berhari-hari. Tetapi semakin hari realita justru yang menjadi tidak logis. Mendadak apa yang saya cintai dari karir saya menjadi berbeda. Ini seperti kalau kita sedang menonton video, flow-nya terus-menerus maju, dan semakin seru, lalu tiba-tiba videonya jadi lambat, ceritanya monoton, dan membosankan, bahkan, menjadi suram. Video itu adalah gambaran karir saya waktu itu.

Bagi saya ini seperti tamparan dari Allah. Saya berusaha mempertahankan untuk bekerja di suatu tempat yang atasnya suami saya tidak ridho. saya sudah mempertahankan apa yang menurut saya baik untuk saya dan keluarga saya kelak, tapi sebaik-baiknya hal yang baik, adalah yang baik menurut Allah, dan mentaati permintaan suami selama itu bukan di jalan yang mungkar adalah salah satunya...

Tak berselang lama semenjak saya berhenti, rejeki tetap terus mengalir Alhamdulillah. Saya tetap melakukan apa yang saya suka kerjakan, praktek di dunia saya dunia kefarmasian dan masih berkiprah pula untuk industri yang secara fisik sudah saya tinggalkan itu, dan saya dibayar untuk itu serta ditambah dengan momen indah sebagai seorang ibu yang bisa bersama dengan anaknya hampir di seluruh waktunya. Ya, saya tetap bekerja. Tawaran pekerjaan itu datang sendiri tanpa saya yang melamar. Bukan satu, tapi empat. Dan semuanya bisa saya kerjakan di dekat anak saya yang baru lahir. Nikmat dunia mana yang hendak kau dustakan?

Menjelang keberangkatan suami ke luar negeri hingga bulan-bulan awal setelah keberangkatannya, kami menerima banyak sekali kunjungan dari teman dan kerabat. Kunjungan dalam rangka menengok anak kami yang baru lahir sebetulnya. Maka topik apakah saya akan segera menyusul hampir tak pernah luput dari perbincangan.

Di antaranya sangat mendukung saya dan anak kami segera menyusul, buah bibir yang ternyata sangat memotivasi dan menyemangati kami, tapi tak sedikit juga yang nyinyir. “Ngapain kamu ikut-ikutan segala? Terus ngapain di sana? Ngurus suami sama anak aja? Sayang banget gelarmu.” Dan lain sebagainya yang senada. Helloooo apa salahnya ya tinggal bareng dan ngurus suami dan anak sendiri? Tapi ya, boro-boro kalimat ini terucap untuk menjawab mak nyinyir.. yang ada hati malah menjadi galau. Dududu...

Saya sudah lelah mempertanyakan hal-hal duniawi. Toh hidup yang kekal hanya di akhirat. Sejak punya anak, saya merasa kematian itu menjadi semakin nyata. Kematian tak terlihat lagi sebagai akhir dari segalanya, tapi justru awal dari kehidupan yang kekal di akhirat. Ditambah lagi kehadiran buah hati kami, yang ingin kami tumbuhkan dalam lingkungan cinta kasih kedua orang tua nya semaksimal mungkin. 

Berkaca dari pengalaman saya sebelumnya, saat-saat bimbang untuk berhenti kerja, saya putuskan sudah dengan bismillah, saya hanya akan niatkan semuanya yang di depan sebagai ibadah. Saya jalani peran utama saya sebagai istri dan ibu karena ibadah. Dan itu menjadi yang utama bagi saya. Pekerjaan dan rejeki adalah hal yang bobot duniawi nya lebih besar bagi saya yang seorang wanita bersuami, akan saya kejar sebisa saya, tapi prioritas saya bukan itu lagi. Saya yakin, insyaAllah rejeki sudah dijamin oleh Allah. Toh saya sudah membuktikannya sendiri.

Bulan-bulan awal setelah keberangkatan suami ke luar negeri adalah masa-masa terpelik dalam sejarah LDR rumah tangga kami waktu itu. Ironis, kami hidup di jaman di mana teknologi sudah sangat sangat maju, tapi ternyata komunikasi ga segampang itu dijalani. Kurang lebih lima sampai enam jam perbedaan waktu antara kami. Suami sudah bangun pagi, saya masih terlelap kelelahan di tengah malam. Suami istirahat siang di kantornya, saya di Indonesia masih pagi, jam-jamnya rempong rutinitas pagi sama anak bayi yang baru bangun. Suami saya pulang dari kantor, jam saya bekerja. Jam kerja saya selesai, suami sudah terlelap di malam hari. Hahaha. 

Alhamdulillah Allah memberikan hadiah atas kesabaran kepada kami hingga beberapa bulan kemudian, berakhirlah masa-masa LDR kami itu. Allah memberikan kami kesempatan dan kemampuan untuk bisa tinggal bersama. Suatu hari suami saya datang menjemput saya dan anak untuk tinggal bersama dengannya di luar negeri
.
Ya, di sini saya menjalani peran penuh sebagai istri dan ibu yang tidak didampingi asisten dan jauh dari keluarga. Berat, menjalani rutinitas pekerjaan yang sama setiap hari, setelah sebelumnya terbiasa dalam titian karir. Karisma titian karir yang saya tinggalkan itu berganti dengan pengalaman luar biasa dalam hidup saya. serunya kejar-kejaran dengan anak, pekerjaan rumah, mendidik buah hati sesuai dengan visi misi berdua (dengan suami), belajar menjadi koki ala-ala, kursus bahasa, menimba ilmu, menulis, menikmati hobi yang lain, quality time bersama suami dan anak, video call dengan keluarga, bersosialisasi dengan orang-orang baru, menikmati kerinduan bertemu orang tua, menikmati up and down realita hidup bersama suami, berhemat supaya bisa jalan-jalan, mengenal banyak hal baru yang belum pernah saya temukan sebelumnya, serta melihat dunia yang berbeda sangat berbeda dari dunia saya sebelumnya, membuka mata saya, mengubah cara pandang saya akan dunia dan hidup ini.

Ke mana rejeki saya yang dulu? Alhamdulillah Allah masih memberikannya, dalam bentuk yang lain yang datangnya dengan cara tidak terduga, tidak ada surprise yang lebih indah daripada surprise yang datangnya dari-Nya. Sulit untuk mengungkapkan semuanya dengan kata-kata. Tapi saya bahagia, satu chapter dalam hidup saya sedang dilalui. Insya Allah akan memberi energi positif untuk chapter hidup saya selanjutnya nanti.

Leoben, Austria April 2017


<<< Cerita sebelumnya :

>>> Cerita sesudahnya :
Share:

Tuesday, 4 April 2017

Catatan Perjalanan Bapak Siaga, Bumil, dan Batita Menjangkau Hannover dari Leoben

Hari yang dinanti tiba. Kami sekeluarga jadi melancong ke Hannover. Bukaaan.. bukan buat jalan-jalan tujuan utamanya. Tapi konferensi suami saya. Pak suami direkomendasi oleh pembimbing tesisnya untuk ikut dalam konferensi geologis di Hannover pada awal Maret 2017 lalu. Biaya transportasi dan akomodasi akan di-reimburse, tapi syaratnya PP naik kereta pakai vorteilscard (kartu diskon tiket kereta Austria). Suami saya bilang ke pembimbingnya kalau dia punyanya vorteilscard family, diskonnya baru berlaku kalau bepergian bersama anak. Eladalah rejeki anak, pak pembimbing bilang, “Ya udah, ajak aja istri sama anakmu...”

Alhamdulillah... bisa ngekor.. ngebolang berdua sama anak di Hannover (selagi suami konferensi). Nikmat-Nya mana yang hendak kau dustakan... (ngomong di depan kaca).

Leoben dan Hannover, dua kota di dua negara yang bersebelahan, Austria dan Jerman. Jaraknya kira-kira 900-an km atau setara dengan Bandung-Malang. Ditempuh dengan kereta perlu waktu sekitar 12,5 jam perjalanan totalnya di atas kereta. Tapi karena tidak ada kereta langsung ke Hannover dari Leoben, dan adanya dari Wina yang terdekat, ya jadi kami ke Wina dulu. Naik kereta dari Leoben ke Wina sekitar 2,5 jam, lanjut dari Wina ke Hannover 10 jam-an.

Di Austria, tiket kereta yang kita beli biasanya belum termasuk reservasi kursi. Kita harus membayar ekstra untuk reservasi kursi. Tapi dari Leoben ke Wina kami tidak perlu reservasi kursi karena biasanya banyak kursi yang nganggur. Hehehe.. terutama di bagian gerbong yang ada fasilitas kino alias bioskop mini untuk anak-anak. Gerbong ini biasanya letaknya di ujung paling belakang atau paling depan kereta, ada area parkir stroller-nya juga di dalam gerbong.

Nunggu kereta di stasiun Leoben. Stasiunnya kecil ya, namanya juga di kota kecil. Tapi untuk ukuran kota kecil, stasiunnya cukup hi-tech dan ramah stroller, kursi roda dan sepeda.

Dari Wina ke Hannover kami naik City Night Jet, alias kereta malam milik OeBB (KAI-nya Austria). Kami pilih kereta malam dari Wina ke Hannover, tujuannya untuk menyamakan dengan jam tidur anak, menghindari sebanyak mungkin anak bosan di dalam kereta.  Untuk kereta yang ini, kami sudah reservasi kursi sekaligus saat membeli tiket, karena perjalanan panjang, bisa mati gaya kan kalau sampai tidak dapat kursi. Kami pesan tiga kursi termasuk untuk anak kami, meskipun demikian untuk anak kami masih gratis karena umurnya masih 27 bulan. Alhamdulillah.

Makan malam di stasiun Wien-Meidling Wina, makan Kebap box di ruang tunggu. Enyaak.. dan insya Allah halal :)
Makanan habis, kereta belum datang. "Bapak siaga" membunuh waktu dengan nemenin anak menggambar bebas. Batita kami yang dasarnya memang suka sekali menggambar jadi 'anteng'. Bumil jagain barang bawaan sambil duduk di kursi khusus lansia, bumil, dan difable, yang juga merupakan satu-satunya kursi tunggu pakai busa. Wkwkwk.

Kami mendapatkan kursi di dalam kompartemen di kereta dari Wina ke Hannover, semacam kompartemen di kereta menuju Hogwarts dalam cerita Harry Potter. Dalam setiap satu kompartemen ada enam kursi. Pada saat akan masuk, di samping pintu setiap kompartemen tertulis kursi mana saja yang sudah dipesan dan dari stasiun mana pemesan kursi akan naik, juga di mana mereka akan turun. Informatif. Buat kami, ini berguna banget buat mengatur strategi invasi kursi orang lain dengan tenang. Hihihi...

Di kompartemen kami, tiga kursi untuk kami, dua kursi untuk orang lain yang naik dari stasiun lain di perbatasan dengan Jerman, dan satunya kosong. Tapi ternyata.. dua orang lainnya itu tidak datang. Yeyeyy jadi kami bisa pakai semua kursinya. Semua kursi bisa ditarik maju sehingga saling berimpitan membentuk seperti kasur. Kami bertiga bisa tidur selonjoran sepanjang perjalanan. Meskipun hanya anak kami yang benar-benar bisa tidur. Hahhaa.. Di tengah malam, memasuki stasiun pertama di Jerman setelah melewati perbatasan dengan Austria, kereta berhenti untuk pengecekan kartu identitas dan passpor penumpang oleh polisi Jerman. Yaaa paling tidak kami bisa selonjoran sepanjang perjalanan dan anak tidak rewel sudah Alhamdulillah. Sebelumnya sudah siap-siap mental, dikira bakal semalaman duduk sambil mangku anak supaya bisa tidur. Hihi..

Kursinya depan-depanan semuanya bisa ditarik maju, berimpitan. Kebetulan yang di foto ini belum selesai ditarik, lumayan sudah bisa dipakai selonjoran :D 
Barang bawaan kami. Kata teman-teman di Hannover, bawaan kita dikit banget untuk ukuran travelling 7 hari 6 malam satu keluarga. Satu ransel besar untuk perlengkapan selama di Hannover, dua tas ransel kecil berisi barang-barang kebutuhan selama perjalanan, seperti diaper, cemilan, dkk.
Kereta kami berangkat sekitar pukul sembilan malam dari Wina, dan tiba di Hanover Hauptbahnhof (stasiun kereta utama di Hannover) sekitar pukul tujuh pagi. Kami bergegas mencari tempat sarapan karena bumil (yang adalah saya sendiri) butuh pertolongan hahaha.. morning sickness datang euy... tapi alhamdulillah ga hoek hoek, hanya mual dan sendawa-sendawa saja seperti orang masuk angin. Untungnya kami bawa ini :

Minyak kayu putih tak lupa saya bawa ke mana-mana setiap bepergian menginap bersama anak

Waktu itu kami hanya mendapati McD, tempat makan yang rasanya akan cocok di lidah. Yang lainnya roti atau per-babi-an.. bumil solehah (aamiin) lagi picky, ga mau makan roti dan tentu cari yang halal. Tapi sayangnya McD ada di lantai dua, dan untuk ke sana harus naik tangga.... lah.. batita kami lagi tidur di stroller, rasanya ga mungkin ya harus diangkat naik tangga setinggi itu bersama strollernya.

Ya sudah.. walhasil kami berjalan menyusuri lorong di lantai bawahnya, dan ternyata lorong itu adalah mall yang ada di bawah jalan raya saudara-saudaraa... mantap jiwa Hannover ini tata ruangnya..! Mall ini menghubungkan stasiun utama Hannover dengan stasiun trem Kroepcke. Di tengah-tengah mall antara stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kropcke kami menemukan KFC. Yeayyy i miss you so much.. serius restoran ayam yang ga ada di Leoben ini ngangenin banget, yang padahal kalau di Indonesia mah saya sama suami ga suka makan di sana. Wkwkw.. dalam keadaan kepepet, kami baru pilih makan ayam di semacam KFC dan McD di Eropa biasanya sih. di Wina ada KFC dan jual nasi juga... ternyata KFC di Hannover ga jual nasi euy. Oh.. ya sudahlah.. jadi bule dulu ya kita... sarapan kentang. Tapi bumil yang juga punya batita ini sudah siap amunisi apel (dan pisau) juga susu kotak dong.hehehe mengurangi rasa bersalah karena makan fast food.

Ini yang saya bilang, lantai basement-nya mall, lantai atasnya jalan raya biasa (dan city walk juga). Foto ini diambil malam harinya, waktu kami mampir lagi ke sini.

Nah ini penampakan di siang hari, dari area city walk nya. Gedung yang ada labelnya "DB" (KAI-nya Jerman) di belakang patung berkuda itu adalah pintu masuk stasiun utama Hannover. Mall yang di basement-nya itu, menghubungkan stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kroepcke membentuk lorong bawah tanah.

Nantikan cerita kami selanjutnya tentang petualangan di Hannover ya! J




Share:

Wednesday, 29 March 2017

Celoteh Anak Episode 1 : Aku Berani Diimunisasi

Percakapan antara Ibu dan buah hatinya yang berumur 27 bulan..

Bunda : "Aqila, nanti kita ke pak dokter ya.."
Anak : "okey.."
Bunda : "Aqila nanti mau disuntik.."
Anak : mematung sejenak lalu.. "dituntik itu taatit tauuuk" dan.. mundur teratur.
Bunda : "Ih.. disuntik kan sakitnya cuma dikit, kayak digigit semut, ckiiiiit. Trus udah."
Anak : "ih.. dituntik itu taaatit tauuuk" --> masih keukeh ternyata 😁

Lalu anak menghilang dari pandangan.

Bunda : "Healah. Palingan nanti dikasih permen sama dokternya"
Anak : "Pemmen itu ya em yang wannanya putih itu ya??" --> datang lagi 😂😂
Bunda : "Yok.. yang itu.. apa nama permennya kata dokternya, Traumzucker ya?"
Anak : "iya. Iya! Mau!"
Bunda : "Mau apa? Mau disuntik?"
Anak : "Iya!"

Yeah! Rayuan maut suntik hepatitis A berhasil. 

*Ngomong-ngomong, cerita tentang dokter anak saya yang kasih sebutir permen kecil sesudah vaksinasi itu benar adanya. Kadang hadiahnya bisa berupa mainan kecil, misalnya cincin untuk anak perempuan. Karena rajin jajan vaksin, anak saya totalnya sudah pernah dapat dua permen dan 2 cincin mainan, dan 1 permen untuk saya sendiri. Wkkwkw. Efeknya anak saya tidak takut ke dokter untuk diimunisasi. Ide bagus dari dokter, apreasiasi kepada dokter anak saya ini.


Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya