Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Tuesday, 4 April 2017

Catatan Perjalanan Bapak Siaga, Bumil, dan Batita Menjangkau Hannover dari Leoben

Hari yang dinanti tiba. Kami sekeluarga jadi melancong ke Hannover. Bukaaan.. bukan buat jalan-jalan tujuan utamanya. Tapi konferensi suami saya. Pak suami direkomendasi oleh pembimbing tesisnya untuk ikut dalam konferensi geologis di Hannover pada awal Maret 2017 lalu. Biaya transportasi dan akomodasi akan di-reimburse, tapi syaratnya PP naik kereta pakai vorteilscard (kartu diskon tiket kereta Austria). Suami saya bilang ke pembimbingnya kalau dia punyanya vorteilscard family, diskonnya baru berlaku kalau bepergian bersama anak. Eladalah rejeki anak, pak pembimbing bilang, “Ya udah, ajak aja istri sama anakmu...”

Alhamdulillah... bisa ngekor.. ngebolang berdua sama anak di Hannover (selagi suami konferensi). Nikmat-Nya mana yang hendak kau dustakan... (ngomong di depan kaca).

Leoben dan Hannover, dua kota di dua negara yang bersebelahan, Austria dan Jerman. Jaraknya kira-kira 900-an km atau setara dengan Bandung-Malang. Ditempuh dengan kereta perlu waktu sekitar 12,5 jam perjalanan totalnya di atas kereta. Tapi karena tidak ada kereta langsung ke Hannover dari Leoben, dan adanya dari Wina yang terdekat, ya jadi kami ke Wina dulu. Naik kereta dari Leoben ke Wina sekitar 2,5 jam, lanjut dari Wina ke Hannover 10 jam-an.

Di Austria, tiket kereta yang kita beli biasanya belum termasuk reservasi kursi. Kita harus membayar ekstra untuk reservasi kursi. Tapi dari Leoben ke Wina kami tidak perlu reservasi kursi karena biasanya banyak kursi yang nganggur. Hehehe.. terutama di bagian gerbong yang ada fasilitas kino alias bioskop mini untuk anak-anak. Gerbong ini biasanya letaknya di ujung paling belakang atau paling depan kereta, ada area parkir stroller-nya juga di dalam gerbong.

Nunggu kereta di stasiun Leoben. Stasiunnya kecil ya, namanya juga di kota kecil. Tapi untuk ukuran kota kecil, stasiunnya cukup hi-tech dan ramah stroller, kursi roda dan sepeda.

Dari Wina ke Hannover kami naik City Night Jet, alias kereta malam milik OeBB (KAI-nya Austria). Kami pilih kereta malam dari Wina ke Hannover, tujuannya untuk menyamakan dengan jam tidur anak, menghindari sebanyak mungkin anak bosan di dalam kereta.  Untuk kereta yang ini, kami sudah reservasi kursi sekaligus saat membeli tiket, karena perjalanan panjang, bisa mati gaya kan kalau sampai tidak dapat kursi. Kami pesan tiga kursi termasuk untuk anak kami, meskipun demikian untuk anak kami masih gratis karena umurnya masih 27 bulan. Alhamdulillah.

Makan malam di stasiun Wien-Meidling Wina, makan Kebap box di ruang tunggu. Enyaak.. dan insya Allah halal :)
Makanan habis, kereta belum datang. "Bapak siaga" membunuh waktu dengan nemenin anak menggambar bebas. Batita kami yang dasarnya memang suka sekali menggambar jadi 'anteng'. Bumil jagain barang bawaan sambil duduk di kursi khusus lansia, bumil, dan difable, yang juga merupakan satu-satunya kursi tunggu pakai busa. Wkwkwk.

Kami mendapatkan kursi di dalam kompartemen di kereta dari Wina ke Hannover, semacam kompartemen di kereta menuju Hogwarts dalam cerita Harry Potter. Dalam setiap satu kompartemen ada enam kursi. Pada saat akan masuk, di samping pintu setiap kompartemen tertulis kursi mana saja yang sudah dipesan dan dari stasiun mana pemesan kursi akan naik, juga di mana mereka akan turun. Informatif. Buat kami, ini berguna banget buat mengatur strategi invasi kursi orang lain dengan tenang. Hihihi...

Di kompartemen kami, tiga kursi untuk kami, dua kursi untuk orang lain yang naik dari stasiun lain di perbatasan dengan Jerman, dan satunya kosong. Tapi ternyata.. dua orang lainnya itu tidak datang. Yeyeyy jadi kami bisa pakai semua kursinya. Semua kursi bisa ditarik maju sehingga saling berimpitan membentuk seperti kasur. Kami bertiga bisa tidur selonjoran sepanjang perjalanan. Meskipun hanya anak kami yang benar-benar bisa tidur. Hahhaa.. Di tengah malam, memasuki stasiun pertama di Jerman setelah melewati perbatasan dengan Austria, kereta berhenti untuk pengecekan kartu identitas dan passpor penumpang oleh polisi Jerman. Yaaa paling tidak kami bisa selonjoran sepanjang perjalanan dan anak tidak rewel sudah Alhamdulillah. Sebelumnya sudah siap-siap mental, dikira bakal semalaman duduk sambil mangku anak supaya bisa tidur. Hihi..

Kursinya depan-depanan semuanya bisa ditarik maju, berimpitan. Kebetulan yang di foto ini belum selesai ditarik, lumayan sudah bisa dipakai selonjoran :D 
Barang bawaan kami. Kata teman-teman di Hannover, bawaan kita dikit banget untuk ukuran travelling 7 hari 6 malam satu keluarga. Satu ransel besar untuk perlengkapan selama di Hannover, dua tas ransel kecil berisi barang-barang kebutuhan selama perjalanan, seperti diaper, cemilan, dkk.
Kereta kami berangkat sekitar pukul sembilan malam dari Wina, dan tiba di Hanover Hauptbahnhof (stasiun kereta utama di Hannover) sekitar pukul tujuh pagi. Kami bergegas mencari tempat sarapan karena bumil (yang adalah saya sendiri) butuh pertolongan hahaha.. morning sickness datang euy... tapi alhamdulillah ga hoek hoek, hanya mual dan sendawa-sendawa saja seperti orang masuk angin. Untungnya kami bawa ini :

Minyak kayu putih tak lupa saya bawa ke mana-mana setiap bepergian menginap bersama anak

Waktu itu kami hanya mendapati McD, tempat makan yang rasanya akan cocok di lidah. Yang lainnya roti atau per-babi-an.. bumil solehah (aamiin) lagi picky, ga mau makan roti dan tentu cari yang halal. Tapi sayangnya McD ada di lantai dua, dan untuk ke sana harus naik tangga.... lah.. batita kami lagi tidur di stroller, rasanya ga mungkin ya harus diangkat naik tangga setinggi itu bersama strollernya.

Ya sudah.. walhasil kami berjalan menyusuri lorong di lantai bawahnya, dan ternyata lorong itu adalah mall yang ada di bawah jalan raya saudara-saudaraa... mantap jiwa Hannover ini tata ruangnya..! Mall ini menghubungkan stasiun utama Hannover dengan stasiun trem Kroepcke. Di tengah-tengah mall antara stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kropcke kami menemukan KFC. Yeayyy i miss you so much.. serius restoran ayam yang ga ada di Leoben ini ngangenin banget, yang padahal kalau di Indonesia mah saya sama suami ga suka makan di sana. Wkwkw.. dalam keadaan kepepet, kami baru pilih makan ayam di semacam KFC dan McD di Eropa biasanya sih. di Wina ada KFC dan jual nasi juga... ternyata KFC di Hannover ga jual nasi euy. Oh.. ya sudahlah.. jadi bule dulu ya kita... sarapan kentang. Tapi bumil yang juga punya batita ini sudah siap amunisi apel (dan pisau) juga susu kotak dong.hehehe mengurangi rasa bersalah karena makan fast food.

Ini yang saya bilang, lantai basement-nya mall, lantai atasnya jalan raya biasa (dan city walk juga). Foto ini diambil malam harinya, waktu kami mampir lagi ke sini.

Nah ini penampakan di siang hari, dari area city walk nya. Gedung yang ada labelnya "DB" (KAI-nya Jerman) di belakang patung berkuda itu adalah pintu masuk stasiun utama Hannover. Mall yang di basement-nya itu, menghubungkan stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kroepcke membentuk lorong bawah tanah.

Nantikan cerita kami selanjutnya tentang petualangan di Hannover ya! J




Share:

Wednesday, 25 January 2017

Hendak ke Luar Negeri, Perlukah Vaksinasi TBE (Tick-Borne Encephalitis) untuk Mencegah Meningitis, Ensephalitis, dan Meningoensephalitis?

Sebelumnya ini sudah saya post di FB, ternyata respon teman-teman untuk mengshare lumayan juga, jadi saya pikir ada baiknya untuk di-share juga di blog.
Hari ini (25/01/2017) jadwal kami sekeluarga vaksinasi FSME (Fruehsommer-Meningoencephalitis) atau dalam bahasa Inggris disebut TBE (Tick-Borne Encephalitis). Karena daerah kami tinggal termasuk wilayah endemik. Vaksin ini salah satu ikhtiar untuk mencegah infeksi virus yang disebarkan oleh semacam kutu (di sini kutunya disebut Zecken atau Tick dalam bahasa Inggris).
Infeksi virus yang disebar oleh kutu ini bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak), ensephalitis (radang jaringan otak), atau meningoensephalitis (radang selaput dan jaringan otak). Imbasnya pada gangguan syaraf.
Beberapa bulan yang lalu salah satu teman kami terserang virus ini. Dan efeknya masih ada sampai sekarang. Bahkan menurut tim medisnya, sakitnya bisa bertahan menahun sampai 2 tahun atau lebih, bisa berkurang atau memberat. Ikut sedih lihat kondisinya. Kata dia, ketika sakitnya "kambuh" dia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Selain itu, dia tidak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian lengan hingga jari-jari tangannya. Sebelumnya dia seorang pianis. Sejak terserang infeksi virus ini, dia tidak bisa lagi bermain piano, Bahkan sekedar mengetik di laptop nya atau menulis SMS juga kesulitan.  Tapi Alhamdulillah ikut senang. Sekarang kondisinya sudah membaik, sudah bisa berkarir lagi dan beraktivitas walaupun belum bisa main piano lagi dan juga belum se-fit dulu, masih kambuh-kambuhan. Capai sedikit, kambuh.
Di Austria vaksinasi FSME atau TBE belum digratiskan, baru ada subsidi sebagian dari pemerintahnya. Jatuhnya per orang di sini sekitar EUR 30-an sekian. Vaksinasinya rutin dengan jadwal : vaksin pertama, vaksin kedua 4 minggu dari yg pertama, vaksin ketiga 9-12 bulan dari yang kedua, vaksin keempat 3 tahun kemudian, selanjutnya setiap 5 tahun sampai berusia 60 tahun, di atas 60 tahun per 3 tahun. Vaksin ini untuk anak umur >1 tahun sampai dewasa. Kalau sudah vaksinasi rutin, insya Allah bisa mengcover 99%. Ga ada vaksin yang bisa 100% lah ya, ada campur tangan Tuhan di sana. Tapi insya Allah kalaupun kena setelah di-vaksin, ya tidak akan separah kalau kenanya belum di-vaksin.
Mahal ya, tetapi jika dibandingkan dengan dapat infeksinya pada saat kita belum di-vaksin, konsekuensinya lebih berat dibanding besar uang yang harus kita keluarkan untuk vaksin.
Saya senang dengan permisalan suami, vaksin itu ibarat kunci mobil. Mobil sudah dikunci rapat masih sering ada yang kecurian. Apalagi kalau mobilnya tidak dikunci, semakin mudah untuk dicuri.
Peta di bawah ini menggambarkan daerah endemik di dunia. Merah = TBE tipe Timur, Kuning = Tipe Barat, Orange = kedua-duanya. Selain merah, orange, kuning = bukan daerah endemik.



Alhamdulillah Indonesia saat ini tidak termasuk daerah endemik TBE. Jadi tidak perlu vaksinasi TBE. Hanya nanti perlu dipertimbangkan jika hendak berkunjung, sekolah, kerja atau pindah ke daerah endemik terutama di bulan-bulan Mei-Juni (musim semi), September (musim gugur). Apalagi jika akan berinteraksi dengan alam, main di taman, rumput, hiking, dll. Sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya konsultasikan kepada dokter mengenai vaksinasi ini.
.
Referensi : reisemed.at , wikipedia.org
.
Baca juga :

Share:

Sunday, 15 January 2017

Resep Apfelstrudel

Penasaran banget pengen belajar bikin makanan khas Austria ini. Kebetulan lagi punya adonan kulit pastry di rumah. Langsung cus deh bikin..

Sukak! Praktis (karena kulitnya beli jadi :D :D) dan anak & suami juga suka. Langsung save....
Sumber resep : Gutekueche
Share:

Saturday, 18 April 2015

Membuat Paspor untuk Bayi

Bayi saya, umurnya tujuh bulan sudah punya paspor. Bapak dan ibunya baru punya paspor setelah kerja. Ckckkc... si Nusantara (nama anak saya) ngalah-ngalahi (mengalahkan) bapak dan ibunya.
Paspor Aqila (nama panggilan si Nusantara) saya sendiri yang mengurusnya berhubung bapaknya sudah imigrasi ke Austria. Suami saya mendapat beasiswa S3 di negeri itu dan sudah berangkat dari akhir bulan Januari 2015. Beberapa bulan kemudian suami yang kesepian meminta saya dan Aqila segera menyusul, awalnya direncanakan menyusul tahun 2016, hehe. Saya sih semakin cepat keluarga kecil kami bisa berkumpul kembali semakin senang.



Mengurus sendiri paspor merupakan pengalaman pertama bagi saya. Paspor saya dulu dibuatkan oleh kantor tempat saya bekerja, jadi saya dulu cuma menyediakan dokumen selengkap-lengkapnya, lalu dititipkan ke perwakilan dari kantor. Waktu itu saya hanya datang ke kantor imigrasi (Jakarta) satu kali, yaitu untuk wawancara dan foto. Selebihnya semua sudah ada yang urus.

Kali ini, semuanya harus saya kerjakan sendiri, saya excited. Hehe memang agak lebay. Karena ini paspor untuk anak saya yang masih bayi, maka pastinya ada yang beda dong dari paspor untuk orang dewasa. Maka saya mulai dengan bertanya ke teman saya yang ada di Belanda, bagaimana step by step dulu dalam mengurus paspor untuk anaknya. Anaknya juga masih di bawah umur, sepertinya belum ada 2 tahun umurnya. Kemudian, supaya lebih afdol saya browsing-browsing juga. Hihihi. Dari situ saya dapat kesimpulan bahwa sekarang membuat paspor bisa dengan cara daftar dulu online atau datang langsung. Meskipun online, bukan berarti tidak datang ke kantor imigrasi secara langsung. Maksudnya online adalah terlebih dahulu melakukan pendaftaran secara online di website kantor imigrasi, upload dokumen-dokumennya secara online, baru datang untuk foto dan wawancara. Intinya, kalau daftar online dulu kita hanya perlu ke kantor imigrasi 2 kali (saat wawancara dan foto serta saat pengambilan) tapi kalau tidak daftar online maka kita perlu datang tiga kali (daftar, wawancara & foto, dan pengambilan).

Ohya karena setelah suami saya berangkat ke Austria saya dan Aqila hijrah ke rumah neneknya di Wonosobo, maka saya pun memutuskan pembuatan paspor Aqila dilakukan di kantor imigrasi Wonosobo meskipun KTP saya dan suami kota Bandung.

Saya pun masuk ke website kantor imigrasi, melakukan pendaftaran online, dan ternyata tidak ada pilihan upload dokumen. Browsing-browsing katanya memang ada pembaruan, jadi sekarang dokumen tidak perlu diupload, cukup melakukan pendaftaran, selanjutnya tunggu konfirmasi by email. Oke, daftar online done. Tinggal tunggu feedback saja di email. Sehari, dua hari, tiga minggu, eh, kok tidak ada feedback yang masuk? Hadeh... yasudahlah daripada tidak jelas, akhirnya ganti rencana. Berbekal semua dokumen, saya berangkat ke kantor imigrasi. By the way ternyata kantor imigrasi Wonosobo sudah pindah dan yang sekarang jauhhh lebih besar dan keren. Haha. Lain kali kita bahas ini.

Kembali ke topik. Saya ke kantor imigrasi lalu mendapati persyaratan pembuatan paspor anak di bawah umur adalah sebagai berikut :
1. KTP ayah dan ibu yang masih berlaku, fotokopi dan aslinya.
2. Kartu keluarga yang nama anaknya sudah tercantum, fotokopi dan aslinya.
3. Akta kelahiran atau surat baptis. Fotokopi dan asli.
4. Buku nikah atau akta perkawinan. Fotokopi dan asli.
5. Surat penetapan ganti nama jika pernah berganti nama
6. Fotokopi paspor orang tua yang akan menemani anaknya ke luar negeri
7. Surat pernyataan orang tua. Ini nanti saya bahas.

Untuk Aqila, karena ayahnya sudah tidak di Indonesia, maka KTP ayah cukup melampirkan fotokopiannya saja. Untung saya dan suami dari dulu membiasakan diri memegang fotokopi KTP kami berdua (saya pegang fotokopi KTP saya sendiri dan suami, demikian juga suami pegang fotokopi KTP dia dan saya). Fotokopi KTP kedua orang tua harus ada pada satu halaman. Jadi, dalam satu halaman sudah ada fotokopi KTP kedua orang tua.

Nah, untuk surat pernyataan orang tua, sudah ada form nya di kantor imigrasi, jadi kita tinggal isi. Intinya si ayah menyatakan bahwa benar anaknya belum pernah memiliki paspor, tidak keberatan anaknya diberikan paspor di mana keberadaan paspor nya menjadi tanggung jawab si ayah sepenuhnya. Sang ayah bertanggung jawab atas keberangkatan dan kembalinya si anak ke Indonesia. Selain itu dicantumkan juga dengan siapa si anak akan ke luar negeri. Surat ini harus ditandatangani ayah dan diketahui oleh ibu (ibu juga tanda tangan). Tanda tangan ibu di atas materai 6000 rupiah. Untuk kondisi Aqila, ayahnya diharuskan membuat surat ini di Austria, ditandatangani, lalu discan dan diemailkan atau difaxkan ke saya untuk saya tanda tangani.

Karena saat datang saya belum membuat surat pernyataan (baru tau saat itu), maka saya harus datang lagi setelah dokumen lengkap. Beberapa hari kemudian saya datang, kali ini saya bawa sekalian Aqila, siapa tau bisa sekalian wawancara dan foto. Dan betul, setelah dokumen diperiksa, saya dan Aqila langsung mengantri untuk wawancara dan foto.

Nah ini moment yang saya tunggu-tunggu, sesi foto paspor Aqila. Hehehe. Aqila duduk bersandar pada background putih, lalu "Aqilaa... Qilaa.." komando dari petugas, jepret jepret. Tadaa.. ini dia fotonya...

image
Setelah foto, tunggu panggilan untuk mengambil slip pembayaran. Pembayaran dilakukan di Bank BNI. Paspor jadi setelah tiga hari kerja, dihitung sejak tanggal pembayaran di Bank BNI. Kemarin biayanya 355000 rupiah (paspor biasa 48 halaman), plus 5 ribu rupiah untuk biaya administrasi di Bank.
Share:

Tuesday, 1 March 2011

Carica, si Asam Manis Spesial dari Kampung Saya

Wewh sudah lama ternyata nggak nulis :D Benar-benar sedang menikmati liburan di kampung halaman. Baru saja dimention sama teman di twitter, isinya mengingatkan saya pada makanan spesial : MANISAN CARICA.=)
source : foto
Ini dia yang saya bilang manisan carica. Sepintas mungkin penampilannya mirip dengan manisan biasa, tapi tunggu dulu, jangan percaya dengan gembar gembor bahwa rasanya sangat enak sebelum mencobanya sendiri :)
Komentar teman-teman saya yang baru pertama kali mencoba pasti tidak jauh-jauh dari : " ini buah apaan? " wkwkw. Jangan salah sangka, itu karena mereka bilang rasanya unik, mungkin karena mereka belum pernah makan buah yang namanya CARICA.

Jadi, apa itu buah CARICA?
image from: caricawonosoboasri.blogspot.com
Buah carica (Carica pubescen) sebenarnya masih family dari buah pepaya (Carica papaya), bentuk buahnya pun mirip. Tapi meskipun begitu, rasanya sama sekali berbeda. Buah carica berukuran kecil, rata-rata sebesar kepalan tangan orang dewasa. Buah carica yang sudah matang sekalipun lebih banyak mengandung getah dibandingkan buah pepaya. Oleh karena itu jangan sekali-kali mencoba memakan buah ini sebelum diolah terlebih dahulu layaknya buah pepaya.
Pohon carica hanya dapat tumbuh di dataran tinggi yang curah hujannya tinggi. Itulah sebabnya hanya sedikit daerah di Indonesia yang mengenalnya, misalnya saja Wonosobo (kampung halaman saya :) ). Kabarnya sih pohon ini juga tumbuh di Lembang - Bandung, tapi tampaknya belum dimanfaatkan sebagai wisata boga seperti di Wonosobo. Dan ternyata, pohon ini pernah diuji cobakan di Malang - Jawa Timur dan dapat tumbuh, tetapi tampaknya tidak berkembang dengan pesat seperti di Wonosobo. Sepertinya petani Malang lebih tertarik pada buah apel ketimbang keluarga pepaya. Hahaha.. only a joke..
images by 3.bp.blogspot.com
Satu botol manisan carica bisa berkisar antara 11000 sampai 13500 rupiah. Sedangkan buah mentahnya di pasaran hanya sekitar 5000 - 6000 rupiah per kilo (1 kilo paling tidak bisa sampai 10 buah).  Kalau beli langsung dari petaninya lebih murah lagi, per
kilonya bisa cuma sekitar 2000-an saja. Satu botol carica hanya cukup menampung 1 buah. Wow, bisnis yang menggiurkan ;p

Waktu masih SMP dulu sering buat makanan ini. Dan rasanya lebih enak lho membuat sendiri daripada beli yang sudah jadi. Kenapa? Karena kita nggak perlu pakai pemanis buatan (yang dapat menimbulkan efek rasa pahit dan kadang bisa memicu sakit kerongkongan bagi yang tidak cocok) juga lebih sehat karena tanpa bahan pengawet. Caranya pun mudah.
Bocoran resep membuat manisan carica. (Resep original dan telah disempurnakan berdasarkan pengalaman :) )
Bahan-bahan :
Buah carica, gula pasir, kapur lenjet (kapur yang biasanya dikunyah oleh nenek-nenek bersama sirih dan tembakau), daun pandan, dan vanili.
Caranya?
1. Pertama-tama buah carica dikupas terlebih dahulu tentunya, dipotong memanjang dari atas ke bawah (ukuran irisan sesuai selera), pisahkan daging buah dari biji dan serat-serat di antara biji dan dagingnya. Biji boleh dibuang, namun serat-
serat cukup dipisahkan dan dicuci.

2. Selanjutnya daging buah dicuci, lalu direndam kurang lebih selama 15 menit dalam air kapur lenjet (kapur lenjet dilarutkan dalam air hangat). Ini bertujuan untuk mengeluarkan semua getah dari buah carica. Jangan lupa bungkus tangan dengan plastik saat mengupas karena buah carica sangat bergetah.
3. Setelah 15 menit buah carica dicuci hingga bersih. Rebus buah carica dalam air. Banyaknya air sesuai selera. Nantinya air ini yang akan menjadi kuah manisan.
4. Jika telah mendidih, masukkan gula pasir (sesuai selera) serat-serat yang telah dicuci agar aroma dan wanginya lebih terasa. Tambahkan daun pandan dan vanili. Aduk pelan-pelan hingga gula dan vanili melarut rata.
5. Angkat jika buah sudah empuk. Maka jadilah manisan carica. Mudah kan? Manisan carica lebih enak dihidangkan dingin-dingin. Sebaiknya disimpan di dalam lemari es, dan dihidangkan bersama es batu. Nyummm. Jadi pengen buat lagi... :)
Share:

Tuesday, 8 February 2011

Tips Persiapan Packing untuk Backpacker Pemula

Beres solat subuh pagi tadi lagi-lagi hujan turun. Sumpah hujan pagi-pagi menyiutkan semangat. Berasa pengen narik selimut dan tidur lagi. hehe. Tiba-tiba teringat setahun yang lalu, kehujanan sampai menggigil gara-gara travelling keluar kota kurang persiapan ;)

Ini pengalaman liburan tergila saya. Rute perjalanan dimulai dari kampus di Bandung - Galunggung (Tasikmalaya) - Pangandaran - Pantai Batu Karas - Green Canyon Pangandaran - Bandung selama 4 hari 3 malam, ditempuh dengan kendaraan roda dua yang merakyat, MOTOR :) Kami konvoi.
Saya baru sekali itu travelling jauh selama beberapa hari hanya dengan menggunakan motor, naik gunung, dan tidur di tenda. Saya termasuk orang yang simpel dan tidak suka sesuatu yang ribet. Saya hanya bawa satu tas ransel berukuran 35x25x15 cm. Bayangkan apa yang bisa saya bawa dengan tas sekecil itu untuk naik gunung lalu ke pantai. Hahaha.. kurang.. sangat kurang.. Belum lagi saat tiba-tiba turun hujan di jalan. walaupun sudah menggunakan ponco tetap saja tas dan saya basah.
Okey, ini sekedar tips yang akan berguna untuk siapa saja yang berniat untuk travelling outdoor agar aman, paling tidak, saya sendiri tidak akan pernah melewatkannya lagi
1. List barang kebutuhan jauh-jauh hari
List semua barang yang mungkin dibutuhkan dari baju ganti sampai yang kecil-kecil, yang sangat penting sampai yang sepertinya tidak penting. Kadang kita sering malas melakukannya tapi ini akan memperkecil resiko barang tertinggal/ lupa dibawa. Selain itu kita masih punya cukup waktu untuk memastikan semua barang akan ada saat travelling nanti. Pada akhirnya sih tidak harus semuanya dibawa, tapi kita jadi bisa menempatkan prioritas barang mana saja yang sangat penting untuk dibawa, penting tapi tidak harus, tidak penting tapi berguna, dan tidak penting sama sekali (yang ngapain juga dilist. haha)

2. Jaket anti-air
Kita tidak pernah tau apa yang terjadi nanti. Ini akan berguna jika tiba-tiba turun hujan. Tebal tipisnya jaket bisa disesuaikan dengan perkiraan suhu daerah tujuan.

Jaket anti air ada yang terbuat dari material yang memang tahan air (parasit) atau material yang dilapisi semacam lilin agar menjadi anti air. Hati-hati dengan jaket dengan material yang kedua, jaket seperti itu tidak akan lepek meski terkena air seperti halnya jaket dari parasit, namun jika terlalu lama terkena lembab (kehujanan dan tidak kering dengan cepat) dapat menimbulkan bau yang tidak enak. Sebagian orang mungkin sudah tau, namun sebagian lagi tidak menyadarinya.  Oleh karena itu sebaiknya membawa jaket lebih dari satu untuk berjaga-jaga.
3. 2P (Payung dan Ponco)
Dua benda ini bentuknya tak sama dan fungsinya juga berbeda. hehe. Ponco, seperti yang kita tahu, adalah alat pelindung hujan yang dipakai seperti baju. Sedangkan payung adalah alat pelindung hujan yang kurang lebih dipakai seperti topi, di atas kepala. Ponco digunakan saat hujan di perjalanan, sedangkan payung akan berguna saat jalan-jalan. Kamu akan merasa sedang diospek jika jalan-jalan menggunakan ponco. wkwkwk.

4. Air Kemasan Sebanyak mungkin
Sangat bijaksana membawa air minum sendiri pada saat melakukan kegiatan seperti ini (travelling outdoor, camping, backpack, dan sejenisnya) walaupun sekedar air mineral saja harganya melonjak tajam di tempat-tempat wisata. Tak hanya itu, air kemasan akan sangat bernilai jika di tempat tujuan tidak ada atau sulit sumber air bersih dan kakus/ mck (misal: gunung, pantai, dan sekali lagi pada saat camping, backpack dan sejenisnya)

5. Tissue dan tissue basah
Ini akan membantu menjaga kebersihan yang akhirnya juga menjaga kesehatan kita selama di perantauan. Susah air, artinya juga susah cuci tangan. Jika tidak ada air, jangan lupa lap tangan dengan tissu basah sebelum makan dan setiap kali buang air. heu. Lebih disarankan menggunakan cairan antiseptik :)

6. Ransel/ Travelling Bag yang tahan air atau ransel biasa plus rain cover
Kamu sebaiknya tidak mengulang kesalahan yang saya lakukan. Terlalu lama kehujanan di jalan, tas ransel yang saya bawa tidak tahan air. Isinya pun basah. Jika tidak ada ransel/ tas travelling tahan air atau tidak memiliki rain cover untuk tas, bisa diakali dengan memasukkan barang bawaan ke dalam kantong plastik sebelum dimasukkan ke dalam tas. Ini sangat penting. 

7. Kantong Plastik
Yey, akhirnya sampai pada poin terakhir. Kantong plastik adalah barang yang serbaguna. Pastikan membawanya dalam jumlah yang cukup. Baju kotor. Juga untuk tempat sampah. Keep our earth clean guys ! :)

and these were the rumble... :)
"The Team"
Here we are... :)
Place#1 Galunggung
620 anak tangga menuju puncak galunggung. amazing.. haha
Kawah Galunggung
Mancing di kawah galunggung yang sekarang berubah jadi danau

The Beach
Me ^_^
The Last.. Green Canyon Pangandaran
The beauty of Indonesia's Green Canyon
Indahnya Indonesia...
Wanna go there again :(
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya