Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Wednesday, 24 January 2018

Rontgen untuk Mengonfirmasi Diagnosa Reflux dan Sinusitis

Hari ini saya datang ke praktek dokter Radiologi di Leoben sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh resepsionis. Beberapa hari yang lalu saya sudah ke sini untuk meminta jadwal  khusus untuk saya, "Termin" istilah yang dipakai di sini.



Dari luar, tempat praktek dokter Pelzmann ini tampak horor. Mungkin karena akses masuknya hanya berupa pintu besi bertuliskan Radiologie. Meskipun ruang prakteknya menempel dengan mall satu-satunya di kota ini. 


Pintu Masuk Praktek Dokter Radiologi



Namun begitu masuk ke dalam, kesan horor itu berubah. Di balik pintu besi itu ternyata persis layaknya klinik eksklusif. Meskipun hawa-hawa tegang di sana masih ada. Mungkin juga itu hanya perasaan saya yang berharap hasil rontgen baik-baik saja. 

Ruang Tunggu Pendaftaran

Resepsionis

Ruang Tunggu Rontgen


Saya ke sini atas rujukan dari dokter THT. Beliau perlu data radiologi saluran pernafasan saya untuk mengonfirmasi diagnosa Refluks yang bulan September lalu diberikan. Juga untuk melihat apakah ada kemungkinan lain yang mrmbuat saya kok langganan pilek tiap bulan, mungkinkah sinusitis?


Btw, saya pernah menulis tentang Refluks di sinidi sini dan di sini.


Saya menjalani dua metode rontgen. Yang pertama, rontgen saluran nafas atas untuk melihat potensi sinusitis. Saya hanya perlu berdiri di atas alat rontgen, menghadap depan, belakang, dan samping. Menggunakan apron untuk bagian pinggang ke bawah. Ini seperti proses rontgen pada umumnya. 



Metode rontgen yang kedua adalah untuk mengonfirmasi adanya Refluks. Masih menggunakan alat yang sama, namun selama proses rontgen, saya diminta sambil minum suatu cairan bernama Barium Contrast. Di ruangan radiologi saya ditemani oleh asisten, sementara dokter radiolog memantau dari ruang kaca di pojokan. Dokter memantau layar komputer yang merekam video radiologi proses yang terjadi selama saya minum. Setelah meminumnya, cairan ini akan terlihat berpendar di sepanjang saluran cerna saya dari hasil rontgen. Dokter akan melihat detail proses ketika cairan barium contrast ini saya minum, apa yang akan terjadi di pencernaan saya. Jika ada refluks, maka akan terlihat bagaimana barium contrast ini sulit tertelan hingga masuk ke lambung, dan setelah barium contrast mulai memasuki lambung, maka dia akan kembali lagi ke kerongkongan. Proses rontgen yang ini berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Selama itu saya diminta terus minum sambil berdiri dan berputar. Ada juga sesi ketika alat rontgen yang saya pijaki dan sandari bergerak naik dan miring hingga 90 derajat (menjadi posisi tidur).  serius ini asik hehe. Pada saat alat Rotngen mulai bergerak itu tangan saya harus terus disandarkan ke atas dengan tetap minum barium contrast terus menerus. Pada saat posisi badan saya sudah hampir horizontal (seperti orang tiduran) asisten memegangi cairannya dan saya meminumnya lewat sedotan. saya minum juga sambil berputar-putar saat tiduran. 


Akhirnya proses selesai.


Dokter menjelaskan diagnosa dari hasil rontgen. Kata dokter saya tidak mengalami sinusitis dan tidak terjadi refluks selama saya minum cairan tadi. Semuanya normal. Hanya di saluran nafas atas saya ada inflamasi. Sebuah inflamasi normal yang lusa akan ditangani oleh dokter THT saya. Artinya kemungkinan refluks yang selama ini terjadi adalah karena adanya gejala lain, misalnya seperti batuk, dsb. Dokter menjelaskan dengan tersenyum. Saya mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal.
Saya tidak menerima cetakan hasil rontgen. Hasil rontgen dikirimkan secara online oleh dokter radiolog langsung kepada dokter THT saya.

Bagi saya hasil rontgen ini adalah berita baik. Saya yakin saya tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia saya di depan dokter waktu itu. Tapi yang beliau tidak tau, hati saya tersenyum lebih lebar daripada senyum di bibir saya. Barakallah.. Alhamdulillah. Alhamdulillahirobbil alamin.



Saya yang pernah didiagnosa GERD (Refluks) sebelumnya dan setiap bulan sekali berikutnya selalu merasakan gejala yang sama, hingga harus selalu bedrest selama beberapa hari, sekarang merasa seperti diberi kesempatan kedua oleh Allah. Kemarin itu seakan-akan seperti warning agar saya lebih bisa mendengarkan dan memahami kebutuhan raga ini. Hindari begadang, kelelahan, dan stress. Menjaga pola hidup dan pola makan yang sehat. Selalu positif dan bahagia. Sehat itu memang kekayaan yang nilainya tiada tara dan harus diperjuangkan.



Mudah-mudahan ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan, diberkahi olehNya, dan rasa sakit yang pernah datang, menjadi penggugur dosa-dosa kita. Aamiin. 

Nama Dokter dan Jam Praktek
Alhamdulillah sudah lega

Share:

Saturday, 18 November 2017

Sekilas tentang Heartburn

Saya ga benar-benar yakin kapan pertama kali merasakan heartburn. Tetapi pertama kali di-diagnosa refluks dengan kehadiran heartburn itu kira-kira dua bulanan yang lalu, umur saya 28 tahun btw.. BB saya 46 dengan BMI normal. Jadi terbukti refluks ga cuma beresiko pada yang beratnya badannya berlebih" aja ya...

Dalam dua bulan terakhir heartburn yang lumayan betah, sudah menyerang dua kali L betah alias bertahan lama, sehingga saya harus rutin mengonsumsi obat sekitar 2 minggu di setiap masing-masing serangan heartburn. Selama satu bulan penuh harus tutup mulut sama sekali dari cabe, minyak, lemak, yang manaa hampir semua makanan kita mengandung itu. Ga enak banget didatangi heartburn. Selain harus menahan sakit di setiap serangan, bedrest dan kehilangan waktu yang berkualitas, bertanya-tanya "apa saya bisa sembuh lagi?", juga menahan kekhawatiran-kekhawatiran yang lain, karena itu justru bisa memperparah keadaan.

Setelah disambangi sama jenis penyakit yang satu ini, saya jadi engeh, betapa kadang secara ga sadar sering melupakan "hak" tubuh ini untuk lebih diperhatikan, istirahat cukup, makan makanan sehat, dan juga dijauhkan dari monster bernama "STRESS" dan rasa khawatir yang berlebihan. Mungkin dengan ini Allah ingin menyentil saya, mengingatkan banyak hal yang sudah sempat terlupakan. Hikmahnya, sekarang saya benar-benar belajar untuk "mendengarkan" badan ini dengan lebih baik. Ikhlas dalam segala situasi, sesulit apapun itu, membantu  proses self healing. Tidak sekedar bisa memaknai apa itu "Ikhlas" karena Allah atas semua yang terjadi, tapi juga melakukannya.

Mudah-mudahan serangan yang Alhamdulillah sudah berakhir kemarin ini menjadi serangan Heartburn saya yang terakhir :( saya juga berharap ini tidak terjadi pada kalian dan juga orang yang kita sayangi.. Aamiin. 


***
Apa sih heartburn itu?
Heartburn adalah rasa panas di area kerongkongan, yang biasanya memberikan sensasi seperti terbakar di area dalam dada atau leher. Heartburn ini terjadi karena cairan asam lambung naik ke kerongkongan. Tidak seperti sel-sel dinding lambung, dinding kerongkongan tidak dilindungi oleh lapisan tahan asam, sehingga jika asam lambung naik ke kerongkongan, bisa terjadi peradangan yang menimbulkan heartburn itu tadi.

Kenapa asam lambung bisa naik ke kerongkongan?
Normalnya asam lambung (dan segala isi lambung) tidak bisa naik lagi ke kerongkongan karena antara lambung dan kerongkongan ada sebuah katup. Katup ini membuka ketika ada makanan atau minuman yang kita telan, sehingga makanan dan minuman kita bisa masuk ke lambung. Pada kondisi normal, katup ini mampu menahan isi lambung untuk tidak kembali lagi naik ke kerongkongan. Jika katup ini melemah, maka isi lambung bisa kembali naik ke kerongkongan. Naiknya isi lambung ke kerongkongan disebut Refluks. Jadi, heartburn itu istilah untuk menamai sebuah gejala (rasa terbakar di kerongkongan), sementara refluks adalah kondisi yang bisa menyebabkan heartburn, atau diagnosanya alias nama penyakitnya. Heartburn tidak selalu muncul pada refluks.

Apa yang menyebabkan katup lambung melemah?
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan katup lambung melemah, di antaranya stress, jenis makanan, pola makan, pola hidup, konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, dan keturunan.
Jenis makanan yang bisa beresiko melemahkan katup lambung banyak banget, referensi nya juga sudah banyak sih, mudah didapatkan di internet, umumnya yang pedas2, asam, dan berlemak. Tingkat efeknya bisa beda-beda pada tiap orang, tergantung kondisi saluran cerna masing-masing. Tentunya yang sudah punya riwayat maag duluan yang paling beresiko.

Kayak apa sih real-nya rasanya Heartburn?
Ehem. Kayak gini contohnya.. udah lama ga makan kerupuk mie, kangen banget, makan deh, 2 buah aja. Baru selesai makan, lalu muncul rasa terbakar di kerongkongan. Rasanya mirip kalau kita terserang radang tenggorokan atau bronkitis, panas, kerting, tapi dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Sakit dan sulit untuk menelan, kalau ngaca keliatan memerah di tenggorokan dan bisa ada yang bengkak di area amandel, Dada juga bisa ikut terasa sakit dengan rasa terbakar yang sama atau hanya nyut nyut yang bisa segera hilang atau malah berkepanjangan. Seringkali disertai rasa gatal-gatal di dalam leher dan ingin batuk. Buat nelan sulit dan sakit. Lalu bisa berujung pada sesak nafas, batuk-batuk, dan muntah. Yang juga engga enaknya, terkadang heartburn itu suka PHP, sudah sembuh, lalu tiba-tiba kok muncul lagi L

Beda dengan radang tenggorokan pada umumnya, radang yang ini ga bisa diobatin dengan obat radang tenggorokan.. obatnya sama dengan obat sakit maag. Pemilihan obatnya perlu direkomendasikan oleh dokter, disesuaikan dengan tingkat keparahannya.

Heartburn ini ga boleh dibiarkan lama-lama, meskipun kita mungkin merasa belum terlalu terganggu. Jadi intinya, kalau mulai ngerasain gejala heartburn dan belum punya managemen plan nya bersama dokter, maka baiknya langsung cuss ke dokter.

Stay healthy yes saudara2....


Leoben - Targoss... Bike Touring bersama keluarga dan rekan seperjuangan di perantauan, terakhir sebelum didiagnosa Refluks. Ga tau kapan lagi bisa begini.... :)

***

Share:

Thursday, 26 October 2017

Hari Pertama Haid... Bedrest?



Day 1 menstrual cycle yg skarang 'luar biasa' dibandingkan yg biasanya. Luar biasa capeknya.. Ngantuknya.. Nyerinya.. Mualnya.. alhamdulillah nya emosi aman terkendali (perasaan saya si :D😁 )

Day 2, pagi kebangun lewat dari jam biasanya, dgn sekujur badan sakit semua T-T😆 kepala migrain, tenggorokan radang, dada nyeri, perut mual dan nyeri, kaki pegal2. Superb. Ini kayaknya perlu bed rest. Bilang ke suami "aqila libur aja apa ya hari ini, kayaknya aku perlu bedrest." Jawaban suami pun sangat romantis "udah masuk aja, aku yg anterin ke tk." Aaak mamacih.. Udah mau berangkat lebih awal muter dulu ke tk sblum k kampus di waktu2 yg task nya kayak sekarang.. Smoga tetap sehat ya mas suami.. Jangan ikutan tumbang..

===
Jd inget, bbrp teman jg ada yg di awal2 kayak gini perlu bedrest. Dan katanya ada undang2 ketenagakerjaannya ya yg menyatakan libur di hari pertama mens adalah hak tenaga kerja wanita.


===
Sambil rebahan, baca2 apa yg bisa dibaca, lalu nemu postingan ini

Well explained ttg bagaimana siklus menstrual mempengaruhi performa kerja seorang wanita setiap bulan.. Yang ga terjadi di pria yang relatif linear dan stabil.

"ignoring our bodies by working and forcing ourselves to be active during our 'winter' -menstrual days- can potentially ruin the month ahead."

Because every woman is special. 👩
We are unique and different each other.

 👩👩
Listen to your body gives you better opportunities to understand what you really need. 

===
Baca juga :
Share:

Tuesday, 17 October 2017

Tes Mata untuk Batitaku

Ini tool yang dipakai oleh dokter mata waktu minggu lalu Aqila tes mata. Seru juga ya, pakai tool ini anak-anak umur 3 tahunan udah mulai bisa tes mata.

Tool Tes Mata Toddler yang Dipakai di Dokter Mata Anak Saya. Sumber Gambar
Minggu lalu Aqila tes mata bukan karena ada apa-apa dengan matanya, Alhamdulillah hasil tes juga nunjukin semua normal. Mudah-mudahan sampai nini-nini mata Aqila terus sehat dan ga perlu pakai kacamata.. kayak Almarhumah Uyut nya yang sampai 90 tahunan usia beliau masih rajin baca Qur’an tanpa kacamata. Jangan kayak bundanya... dari SMP udah kayak doraemon. Hehehe.. Karena kalau udah terlanjur mesti pakai lensa di depan mata itu banyak ga enyaknya...

===
Umur 2 Tahun Sudah Diwajibkan Untuk Tes Mata
Di Austria ini, anak-anak wajib periksa mata ke dokter mata pertama kali kira-kira di ultahnya yang ke-2. Biayanya ditanggung oleh asuransi (baik milik pemerintah maupun swasta asuransinya).

Tahun lalu mendekati jadwal tes mata pertama kali ini rasanya penasaran, soalnya saya mah dulu baru kenal sama tes mata itu SMP deh, kelas 2. Itu gegara topik tentang mata di pelajaran Biologi. Pulang sekolah langsung inisiatif periksa mata ke optik yang ngasih periksa mata gratis, sama temen, ga tanya-tanya dulu sama orang tua. Hihi. Taunya udah minus setengah, di rumah lapor ke ortu langsung pada kaget :D

===
Emang Gimana Tes Mata Nya Anak Umur 2 Tahun?
Ternyata...metode nya ada 3.

Yang pertama kalau ga salah nama metodenya Aberrometry. Mata diukur pakai alat, caranya dagu ditaruh di penyangga di alatnya, trus matanya diminta lihat ke titik warna merah. Sekedar dicoba.. ternyata percobaan dengan alat ini gagal untuk Aqila. Hihihi. Body dan kepalanya masih terlalu kecil. Ternyata juga teman-teman Aqila juga sama belum bisanya. Hehe.

Yang kedua si batita diminta untuk menunjukkan gambar yang ada di atas sebuah kartu seukuran kartu pos, yang sepintas di atas kartu pos itu hanya ada gambar titik-titik hitam saja, persis kayak tipi yang lagi kesemutan.. Cuma ada titik-titik hitam yang memenuhi permukaan kartu.Tapi kalau diamati lebih seksama, ternyata di antara titik hitam itu ada yang membentuk gambar, dan semuanya ada 3 gambar, yaitu kucing,, bintang, dan mobil. Ketiga-tiganya merupakan gambar 3 dimensi. Dokternya tanya,”ada gambar mobil ga disitu?” lalu mata batita unyu2 yang di tes itu sibuk nyari di mana gambar mobil, ditunjuk dengan jari-jari yang juga unyu. Lalu dokter tanya lagi “Ada gambar bintang?”, dst. Waktu itu Aqila baru bisa nunjukin 2 gambar, mobil sama bintang.

Yang ketiga pakai alat lagi tapi jauh lebih kecil dari yang pertama. Dengan alat ini anak diminta untuk melihat sebuah titik (mainan misalnya), lalu dokter ngintip2 matanya pakai alat di sebelah mainan yang mesti jadi fokus obyek yang dilihat oleh si anak. Tes ini Aqila 2 tahun udah bisa.
Tes umur 2 tahun ini berasa Cuma main-main aja sama dokter mata. Hihihi. Da dari 3 metode hanya 1 yang optimal.  Ya emang apa sih yang bisa diharapkan dari tes kayak gini ke anak umur 2 tahun.. Yaayayaa.. semua ada hikmahnya. Hehe..Yang lucu ada teman Aqila. Ditanya “di mana mobilnya?” dijawab “itu di luar!” sambil nunjuk ke arah parkiran mobil. Hahaha hiburan..

===
PR Dari Dokter Mata Untuk Anak Umur 2 Tahun Dan Bundanya
Sebelum pulang, dokter beri saya PR buat ngajarin Qila istilah 4 buah gambar 2 dimensi, yaitu Persegi, Apel, Lingkaran, dan Rumah. Kenapa, karena ini akan jadi materi tes mata yang lebih serius buat anak-anak. Dokter minta saya bawa Aqila lagi kontrol lagi tahun depan (umur 3 tahun). Hoo okayy.. paham sekarang jadinya kenapa ada tes mata di umur 2 tahun...

===
Tes Mata Umur 3 Tahun
Di umurnya yang 3 tahun ini, Aqila kembali datang untuk tes mata. Ternyata benar, kali ini pemeriksaannya udah mulai bisa serius.  3 metode yang dipakai waktu pemeriksaan umur 2 tahun dipakai lagi di tahun ini dan  ternyata kali ini anak-anak batita udah bisa ngikutin semuanya. Kali ini tesnya ditambah pakai tool yang ada 4 gambar PR itu tadi : Persegi, Apel, Lingkaran, dan Rumah.

Cara kerja tesnya mirip dengan kalau kita atau anak-anak yang udah besar pakai papan tes mata yang ada huruf-hurufnya itu. Bedanya ini ga pakai huruf tapi 4 gambar itu tadi (Persegi, Apel, Lingkaran, dan Rumah.). Dokternya dengan sabar nunjuk ke gambar-gambar itu, sambil tanya “Ini gambar apa?” dari ukuran besar sampai sekecil mungkin yang anak batita bisa baca.

Dari hasil tes semua metode tadi, dokter kemudian menarik diagnosa.. kesimpulan.. Alhamdulillah Aqila normal.. Lalu diminta kontrol lagi umur 5 tahun.

==
Konsultasi Rutin Ke Dokter Yuk!  
Okey.. kali ini saya belajar, ternyata bukan cuma gigi dan tumbuh kembang anak aja yang sebaiknya rutin dikontrol ke dokter, tapi juga matanya.

Sesungguhnya kontrol berkala ini selain memantau kondisi kesehatannya, juga ngasi kesempatan kita orang tuanya untuk konsultasi personal sesuai dengan kondisi aktual anak kita, tentang keraguan dan apa-apa yang kita belum tau untuk mencegahnya terkena kelainan atau penyakit serius, langsung pada ahlinya.. tentu lebih akurat daripada hasil katanya... atau dari mbah google misalnya..
Dan kalau (naudzubillahimindzalik) terdeteksi yang engga enak, insyaAllah jadi bisa tertangani lebih awal kan...



===
Baca juga : 
Share:

Saturday, 30 September 2017

Daftar Harga Vaksin

Nemu foto “Daftar Harga Vaksin” ini di gallery foto HP saya. Kalau bukan karena memory HP penuh mungkin saya sudah lupa punya foto ini. Hihi. Foto ini saya ambil Desember 2014 sewaktu mengantar anak saya vaksinasi di RS Hermina Pasteur Bandung. Ini adalah daftar harga vaksin di RS tersebut pada waktu itu. Saya kurang tau kalau sekarang masih sama atau tidak, ya minimal masih bisa dipakai untuk memberi gambaran harga vaksin kala itu. ;)



Share:

Thursday, 7 September 2017

Punya Asma dan Maag? Hati-Hati Resiko GERD!

Langsung melongo waktu dokter bilang "Masalahmu 2, Asma sama GERD". Melongo jadi inget tugas KP buat presentasi ttg GERD dan bikin tools yg mudah dipahami buat pasien.
Plus merasa gagal da dirinya sendiri malah kena GERD 😅
Btw, ternyata Asma dan GERD ini bagaikan ayam dan telur. Masing2 saling mentrigger yg lain. Asma bisa memicu GERD, dan GERD jg bs memicu Asma. (Bisa dibaca singkat di sini http://www.webmd.com/asthma/guide/heartburn-asthma)
Jd susah mau dibilang mana yg muncul duluan (di sy?). Yg penting diobatin aja deh dua2nya. Mudah2an segera sembuh. Mohon doanya yaa. Udah kangen bernafas lega, olahraga, teriak2, dan ketawa cekikikan #eh
Buat yg belum tau GERD (gastro-esofageal reflux disease) itu kondisi kl isi lambung (terutama asam lambungnya) naik ke kerongongan, bikin di kerongkongan ada sensasi terbakar. (bayangkan otot polos di kerongkongan terkena asam lambung).
Yg punya asma dan maag di antara nya yg beresiko terkena GERD. Hati2 yaa.. Dijaga banget pola makan, hidup, stress nya jugaa.. GERD itu ga enak (iyalah emang ada penyakit yg enak😂?), apalagi kalau GERD barengan sama Asma. #introspeksi hihi.

*****
Share:

Saya, Klinik Dokter di Leoben, Asma & GERD

😂 Akhirnya kehabisan stok obat asma yang dibawa dari Indonesia. Ngrasa aneh juga sih, berasa yang dulu mah lebih ces pleng.

😂 Karena masih suka batuk2, ke dokter THT deh.

😂 Kebantu banget buat tau lokasi dan jam praktik dokternya di www.docfinder.at (bisa buat akses lokasi dan jam praktek dokter se Austria)

😂 Datang ke klinik yang dituju, ternyata ada pengumuman di pintu masuk intinya : "Ada penyesuaian jadwal praktik sehubungan dengan liburan musim panas". Jam nya brubah, dokternya ga praktik waktu saya datang. Yg saya pelajari dsni : Dokter jg manusia kakak.. Butuh liburan.. 

😊
😂 Beberapa hari kmudian saya datang lagi di jadwal praktik khusus musim panas itu.

😂 Normalnya kunjungan ke dokter (selain di RS--Rumah Sakit) mesti janjian dulu, bisa telp atau datang buat janjian. Kecuali yg agak darurat bolehlah ga perlu janjian. Kalau darurat banget ya larinya mesti ke RS, bukan ke tempat dokter praktek. Pede mengelompokkan diri kw kasus agak darurat karena berhubungan dengan saluran nafas, gejalanya sesak nafas dan batuk2, punya riwayat asma. Yang bikin canggung mau dibilang agak darurat adalah karena aktivitas dasar mah masih bisa sih, cm batuk2nya aja datang dan pergi sesuka hati. Kalau anteng, diem, ga ketawa ketiwi, baru bangun tidur, mah kayak orang 100% sehat aja. Kan galau jadinya. Hehe.

😂 Masuk klinik dokter trus ke front office nya. Curhat sedikit tentang gejalanya dan bilang bahwa belum bikin janji sbelumnya, apa bisa diperiksa hari ini? Ternyata tidak bisa saudara saudara... Pasiennya sudah full.. Durasi praktik dokter itu ketat kakak.. 6 jam ya 6 jam. Ga boleh praktik lebih dari jadwal praktiknya. Sekali lagi dokter juga manusia kakak... Yang punya banyak kesibukan.. Karena belum bikin janji sebelumnya, saya diminta besok pagi datang lagi. Ternyata slot untuk pasien yang belum bikin janji itu di awal2 jam praktek.

😂 Baiklah saya datang lagi besok paginya setelah berkutat dengan masalah anak batita yang lg sulit diajak bangun pagi 😅 Ibu front office nya masih ingat saya yg kemarin. Beliau minta kartu asuransi saya. Ya, kontrol dokter di sini mesti pakai asuransi. Kalau ga bisa tekor 😅 Saya kasih kartu asuransi saya, yg kmdn dimasukin ke alat mirip kalau kita bayar belanjaan pakai kartu atm. Kata ibunya "KARTUNYA GAK AKTIF NIH." Ya salaaam..

😂 Telp pak suami yang lagi di kantor, minta tolong ditelp kan kantor asuransi. Tentu saja.. Ini karena level bahasa jerman saya blm bisa sampai dipakai ngobrol lewat telp 

😅
😂 Tnyata kartu asuransi saya mati karena kemarin habis perpanjang ijin tinggal. Mestinya scan kartu ijin tinggal yg baru, disetor lgsg ke kantor asuransi. Lupa pisan... Nasib kartu asuransi nya e-card.. Kl ada yg ga sesuai bisa langsung ga aktif tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kalau ga aktif ya ga bisa berobat ke dokter..

😂 Langsung diurus, 15 menitan kemudian kartu asuransi udah aktif lagi. Alhamdulillah..

😂 Finally! I could met the doctor. Ini dokter THT. Pas masuk ruangan prakteknya mbatin, kok alatnya kyk dokter gigi ya.. Wkwk. Ternyata itu namanya endoskopi.. Haa. Baru tau.

😊 Dokternya baik banget. Mau banyak bertanya dan mendengar dengan sabar. Dari hasil endoskopi dan mungkin jawaban2 buat pertanyaan2 td, kata beliau masalah saya ada 2 : ASMA dan GERD 😲

Sekian ngecaprus tengah malam kali ini. InsyaAllah nanti lagi cerita lbh detil tentang sesi konsul sama dokternya.. Udah panjang soalnya






Share:

Sunday, 14 May 2017

Imunisasi, Ya atau Tidak?

Suatu hari saya membaca sebuah status emosional yang kebetulan muncul di timeline facebook saya. Seseorang sedang menyatakan untuk say no pada vaksin dan mengajak teman-temannya untuk juga tidak usah mengimunisasikan anaknya. Dia baru saja memutuskan anak kedua dan ketiganya untuk tidak diimunisasi sama sekali, alasannya karena anak pertamanya baru saja terkena hepatitis B padahal sudah pernah diimunisasi.

Vaksin saat ini berkembang semakin banyak jenisnya. Saya amati banyak sekali orang tua muda yang bertanya-tanya, apakah buah hatinya harus diimunisasi lengkap atau tidak. Salah satu penyebab kebingungan adalah karena adanya kelompok vaksin wajib (yang disubsidi oleh pemerintah) dan vaksin tidak wajib tapi direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ada juga orang tua yang pernah bertanya-tanya, jangan-jangan vaksin kini tak lain hanyalah produk “bisnis”. Sebagian lagi karena khawatir akan keamanan vaksin. Ini soalnya buah hati ya. Sayapun punya anak sehingga bisa merasakan betapa ingin memberikan perlindungan terbaik untuk buah hati. Tapi manakah yang terbaik, imunisasi atau tidak?

Dear ayah bunda, tetap tenang dan tidak perlu bingung. Untuk memantapkan hati kita cukup perlu merefresh lagi pemahaman kita tentang vaksin dan menggali informasi sedalam-dalamnya. Bisa dengan berkonsultasi secara langsung kepada praktisi kesehatan yang dipercaya atau mengulik sendiri informasi yang valid tentang vaksin dari media. Namun hati-hati dalam memilih media. Sebaiknya pilihlah media yang sudah jelas terpercaya, misalnya jika dari internet, website resmi Ikatan Dokter AnakIndonesia atau website Biofarma (produsen vaksin milik negara Indonesia). Atau website lain dengan domain ".gov" atau ".org". Sebetulnya informasi lengkap tentang setiap vaksin (hingga ringkasan laporan hasil penelitiannya) bisa juga diunduh dengan mudah di website resmi WHO. Hanya memang menggunakan bahasa Inggris.

Mengapa imunisasi itu perlu? Imunisasi adalah cara untuk memancing respon imun tubuh, agar memiliki kekebalan alami terhadap infeksi pernyakit tertentu. Jika suatu saat nanti ternyata bakteri atau virus penyebab infeksi memapar tubuh, tubuh sudah siap dengan antibodi alaminya untuk melawan paparan bakteri atau virus tersebut. Sehingga tubuh terhindar dari infeksi atau kalaupun sakit, tidak separah jika infeksi datang sebelum kita diimunisasi.

Kemajuan teknologi juga berefek pada meningkatnya imigrasi (perpindahan penduduk). Ingat bahwa, berpindahnya seseorang dari suatu daerah ke daerah sangat mungkin membawa serta bakteri atau virus yang endemik di daerah sebelumnya.

Anak-anak usia sekolah paling rentan terinfeksi karena sistem imunnya umumnya belum sesiap kita orang dewasa. Mereka bisa mendapatkan infeksi dari mana saja, lingkungan sekolah (temannya yang terlebih dahulu terinfeksi misalnya), di jalan, lingkungan bergaul di sekitar rumah, dan sebagainya. Mereka juga sangat mungkin menularkan pada anak-anak pra sekolah dan anak-anak lebih muda yang belum diimunisasi ataupun memang belum waktunya diimunisasi.

Hampir semua vaksin yang sudah ada di dunia ini adalah vaksin untuk mencegah infeksi penyakit serius, yang bisa berdampak pada gejala sakit parah, kecacatan, atau bahkan kematian.

Pertimbangkan juga 3 hal di bawah ini jika Ayah Bunda belum mantap untuk mengimunisasikan buah hatinya 

Dalam memantapkan diri untuk mengimunisasikan buah hati, biasanya hal-hal berikut ini yang dipertimbangkan :

1.      1.  Masalah Keamanan dan Mutu Vaksin

Jika kekhawatiran ayah dan ibu adalah masalah keamanan, maka sesungguhnya ayah dan ibu tidak perlu khawatir karena vaksin yang resmi aman untuk digunakan.

Vaksin baru sebelum digunakan oleh masyarakat sudah diteliti selama bertahun-tahun dan juga terus di-review dengan hati-hati oleh para ilmuwan, dokter, pemerintah, dan lembaga kesehatan dunia untuk memastikan keamanannya. Total waktu  penelitian ini bisa memerlukan waktu hingga 12 tahunan.

Proses produksi vaksin juga harus mengikuti regulasi Cara Pembuatan Obat yang Baik yang terstandarisasi dan mengacu pada Good Manufacturing Process yang juga dilakukan di negara-negara maju di dunia. ini dilakukan agar kualitas vaksin terjaga. Sebelum diedarkan, setiap lot produk vaksin harus lulus uji mutu (Quality Control) dan  uji jaminan mutu (Quality Assurance) yang dilakukan oleh produsen vaksin, serta lulus pemeriksaan BPOM. Jadi pengawasannya bertingkat. Setelah lulus, setiap lot vaksin akan diberi sertifikat lulus uji oleh BPOM. Ini untuk menjaga kualitasnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, jika Ayah Bunda ragu, konsultasikan pada praktisi kesehatan atau mempelajari info lengkapnya di website yang terpercaya.

2.      2.  Masalah Efek Vaksin

Seperti obat, vaksin juga mengenal efek samping dan tentunya efek yang diharapkan.

Efek samping tiap vaksin berbeda-beda, tapi umumnya efek sampingnya minor seperti radang pada bagian kulit yang diimunisasi atau sedikit demam selama beberapa hari setelah imunisasi. Efek samping bisa muncul bisa tidak. Efek samping serius yang bisa muncul seperti reaksi alergi misalnya. Oleh karena itu informasikan juga pada dokter jika buah hati punya riwayat alergi terhadap bahan tertentu. Informasi efek samping setiap vaksin juga bisa dipelajari di website yang terpercaya tadi.

Sebagian orang tua yang ragu mengimunisasikan buah hatinya juga mungkin mempertanyakan apakah vaksin akan memberikan efek yang diharapkan. Efek yang diharapkan biasanya disebut sebagai efikasi. Seperti sudah saya sampaikan tadi, sebelum dipasarkan, vaksin sudah melalui tahap penelitian panjang. Di antara tahap penelitian itu, juga bertujuan untuk melihat efikasinya. Hasil penelitian efikasi biasanya menunjukkan persentase keberhasilannya. Misalnya persentase keberhasilannya 99%, maka dari 100 orang yang diimunisasi saat penelitian, hanya 1 yang tetap terjangkit penyakitnya, namun umumnya lebih tidak parah dibanding jika tidak menerima imunisasi sebelumnya. Kalau ragu, konsultasikan saja terlebih dahulu kepada dokter.

3.       3. Masalah Sosial, Ekonomi, dan Agama

Beberapa orang mungkin pernah mendengar bahwa ada beberapa jenis vaksin tertentu yang dalam prosesnya menggunakan atau bersentuhan dengan bahan yang berasal dari hewan tertentu yang tidak diperbolehkan oleh agama atau bertentangan dengan norma sosial.

Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia karena perusahaan vaksin milik negara Indonesia tidak menggunakan bahan yang berasal dari hewan. Ini dinyatakan di website resminya dan juga dalam suatu kuliah yang pernah saya hadiri, Bapak Dirut Biofarma saat itu juga menyatakan bahwa perusahaan itu menghindari menggunakan bahan yang bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat kita.

Ada satu vaksin yang beredar di Indonesia yang dalam prosesnya memang bersentuhan dengan bagian tubuh Babi, namun pernah diklarifikasi bahwa proses itu tidak bisa dihilangkan dan itu sudah melalui proses pembilasan berkali-kali sehingga tidak mengandung lagi unsur Babi pada produk akhir. Untuk hal ini, MUI juga sudah mengeluarkan fatwa bahwa untuk vaksin tersebut, hukumnya diperbolehkan, selama belum ada penggantinya. Alhamdulillah bagi kita yang muslim dan tinggal di Indonesia, kerja sama yang baik antara produsen vaksin, pemerintah, dan MUI bisa memberikan ketenangan pada kita dalam menyikapi masalah vaksin ini.

Bagaimana mempertimbangkan faktor ekonomi dalam memutuskan imunisasi atau tidak? Gampang saja, pertimbangkan berapa biaya imunisasi yang Ayah dan Bunda perlukan untuk jenis penyakit tertentu. Lalu bandingkan dengan kerugian kalau buah hati tidak diimunisasikan, lalu (nauzubillahimindzalik) dia terinfeksi sebelum mendapatkan vaksin itu.

Contoh, ini pengalaman pribadi saya sendiri. Saya tidak mengimunisasikan anak saya rotavirus (untuk melawan virus yang menyebabkan infeksi saluran cerna, gejalanya demam, diare dan muntah-muntah berat). Vaksin rotavirus direkomendasikan oleh IDAI tapi waktu itu belum termasuk vaksin wajib. Saya harus membayar cukup mahal, berdekatan dengan itu, ada imunisasi lain yang juga mahal harganya. Karena saya pikir-pikir infeksi rotavirus itu kan hubungannya dengan higienitas, sementara saya yakin akan higienitas lingkungan anak saya, sehingga saya putuskan untuk tidak mengimunisasikan anak saya rotavirus.

Sekitar 1,5 tahun kemudian, di negara yang berbeda, di Austria, ternyata anak saya terkena infeksi virus ini. Sumbernya tidak disangka-sangka, akibat kontak dengan temannya yang ternyata sedang terserang virus ini di hari pertama, sementara orang tuanya belum menyadarinya.

Anak saya berumur 2 tahun, dia harus dirawat di rumah sakit selama kurang lebih 1 minggu. Temannya tidak harus dirawat di rumah sakit, dia sudah pernah mendapatkan imunisasi ini dan umurnya juga 1 tahun lebih besar.

Total biaya rumah sakit yang harus kami keluarkan kurang lebih 3 kali lipat biaya imunisasi vaksin rotavirus, padahal ini sudah dibantu dengan asuransi. Belum kerugian waktu. Anak kami kehilangan waktu bermain, bereksplorasi, sebaliknya dia tergolek lemah di rumah sakit. Selama satu minggu saya ikut tinggal di rumah sakit karena anak saya tidak mau lepas dari saya. Di malam hari hanya saya sendiri yang menemani anak saya karena memang sudah ketentuan dari rumah sakit, hanya satu orang yang boelh menemani. Suami saya di siang hari ijin tidak ke kantor karena jelas kepikiran anaknya yang dirawat di rs, sementara kami bertiga jauh dari keluarga besar. Belum lagi energi yang dikeluarkan, stress, dan juga menyita pikiran keluarga besar. Sepulang anak saya dari RS, gantian suami yang terkena virus ini. Pada saat itu saya dan pihak RS juga menyesalkan anak saya tidak diimunisasi rotavirus. Sejak saat itu betul-betul deh ya, saya bertekad untuk memperjuangkan anak saya mendapatkan semua imunisasi yang sudah ada..

Sekarang, yuk sama-sama jadi masyarakat yang bijak dalam menyikapi vaksin. Jangan dulu katakan tidak pada imunisasi sebelum mempertimbangkan ketiga aspek di atas. Meskipun pada akhirnya keputusan ada pada masing-masing, namun sebaiknya dipertimbangkan juga matang-matang termasuk untung dan ruginya.

Keputusan untuk tidak mengimunisasikan anak terutama untuk vaksin-vaksin yang mencegah penyakit serius ini sama artinya dengan membiarkan anak dan siapapun di sekitarnya untuk terinfeksi penyakit serius. Iya, masalah sakit sudah diatur oleh Allah. Namun berikhtiar untuk tidak terserang penyakit adalah kewajiban kita. Imunisasi adalah salah satu pilihan jalan untuk ikhtiar itu.






Share:

Sunday, 26 February 2017

Almond Pahit vs Almond Manis : Beracun dan Mematikan vs Sehat dan Mengenyangkan

Pertama kali mengenal almond, dari coklat yang saya makan, yang di dalamnya ada kacang almond nya. Sejak saat itu saya jadi suka sekali dengan kacang ini, tetapi tidak pernah lihat sendiri bentuk aslinya seperti apa. Seingat saya, pada waktu itu di daerah tempat tinggal saya di Indonesia, kacang mete lebih banyak dan lebih populer daripada kacang almond. Setelah tinggal di Austria barulah saya bertemu berbagai macam kacang-kacangan yang bagi saya baru, tetapi justru lebih banyak dan lebih populer dibanding kacang mete. Di antara kacang-kacangan yang baru saya kenal itu, ternyata salah satunya adalah kacang almond.

Almond, dalam Bahasa Jerman disebut Mandel, yang dijual dalam kemasan di Supermarket di Austria

Penasaran dengan kacang ini, ditambah permintaan dari kakak, saya melakukan literasi. Pantas di Indonesia jarang, ternyata pohon almond memang perlu iklim subtropis untuk bisa tumbuh. Pada mulanya almond berasal dari daerah-daerah tertentu di Timur Tengah, India, dan Afrika Utara. Tetapi, saat ini Amerika Serikat menjadi negara penghasil kacang almond terbanyak di duni), dengan terkonsentrasi di California. [1][2][3]

Menarik mengintip siklus hidup pohon almond sepanjang tahun di web Almond Board of California. Di link ini, kita bisa mengikuti perjalanan hidup pohon-pohon almond secara aktual. Seperti dituliskan di sana, pada bulan ini (November – Februari), pohon almond sedang dorman di musim dingin, menyimpan nutrisi untuk masa panen selanjutnya. Yang tidak kalah menarik, ternyata almond tidak hanya enak di lidah, tapi sedap dipandang mata ketika musim semi datang (Februari-awal Maret)... bunganyaaa.. wiihh dari kejauhan mirip dengan pohon sakura. Hehehe. Serius jadi ingin datang langsung ke kebun almond di musim semi. Hmmm, di mana ya di Austria....

Pohon Almond di Musim Semi

Nah ternyata di dunia ini ada dua macam almond, yaitu almond pahit dan almond manis. Keduanya memiliki nama spesies yang sama, yaitu Prunus amygdalus, tetapi dipanen dari pohon yang berbeda variasi. Meskipun spesiesnya sama, almond pahit dan almond manis bagaikan dua sisi mata pisau. Yang satu berbahaya, satunya tidak.

Almond Pahit mengandung sianida

Almond pahit (bitter/ wild almond) merupakan almond varian amara, mengandung racun berupa cyanogenic amygdalin diglukosida yang dapat terhidrolisis menjadi hidrogen sianida (HCN) ketika dimakan. Senyawa ini sangat toksik dan yang memberikan rasa pahit pada almond pahit. Karena toksisitasnya, almond pahit tidak boleh dimakan langsung. Memakan langsung almond pahit bisa menyebabkan masalah serius, seperti gangguan syaraf, pernafasan, hingga kematian. Sekitar dua puluh biji almond pahit sudah bisa menghilangkan nyawa orang dewasa, dan 5-10 biji bisa menghilangkan nyawa anak-anak. [4]

Dengan metode tertentu, expertis dapat mnghilangkan senyawa toksik dari almond pahit dan mengekstraksi bijinya, sehingga diperoleh bitter almond oil yang memiliki kandungan serupa dengan sweet almond oil. [5]

Penggunaan almond pahit untuk bahan makanan, harus yang sudah diolah terlebih dahulu dan terbukti sudah tidak mengandung sianida dalam kadar yang membahayakan tubuh. Di Amerika Serikat almond pahit tidak dijual dalam bentuk kacang ataupun serbuknya, melainkan hasil olahnya. Almond pahit yang beredar di pasaran biasanya sudah berupa pasta atau ekstrak minyaknya. [6]

Sulit bagi kita untuk membedakan secara langsung mana almond pahit dan almond manis dari bijinya karena almond pahit hanya sedikit lebih lebar dan pendek dibanding almond manis. Kedua jenis ini mudah dibedakan dari bunganya, bunga almond pahit berwarna pink, sedangkan bunga almond manis berwarna putih. [7]  Dari rasanya, kedua jenis almond ini sangat berbeda, almond pahit, pahitnya sangat kuat! Dituliskan di sini, aman bagi orang dewasa mencicipi almond pahit maksimal setengah dari biji yang besar.

Almond manis

Sementara itu, almond manis yang merupakan varian dulcis, tidak mengandung racun. Rasanya manis dan bisa dikonsumsi langsung bijinya (setelah melalui treatment pasteurisasi oleh produsennya untuk mencegah kemungkinan paparan Salmonella. Almond varian inilah yang biasa kita temui, baik bijinya utuh maupun sudah menjadi campuran dalam makanan. [3]

Bahasan lebih jauh tentang almond manis (nutritions fact, manfaat, dan efek sampingnya) bisa di-klik di sini.



Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya