Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Showing posts with label Parenting Story. Show all posts
Showing posts with label Parenting Story. Show all posts

Thursday, 18 March 2021

Penerbangan Panjang bersama Anak Satu Tahun

Bulan September 2015, kami terbang ke Austria. Dengan mempertimbangkan waktu, dana, dsb, kami memilih Qatar Airways menjadi maskapai untuk mencapai negeri kalkun itu. Jadwal keberangkatan sekitar Magrib. Dan perkiraan total perjalanan sekitar 17 jam.

Ini adalah penerbangan panjang pertama anak sulung kami. Waktu itu usianya satu tahun satu bulan. Karena akan lama di dalam pesawat, sebagai mama newbie pastinya saya cari-cari cerita pengalaman yang lain tentang penerbangan panjang dengan anak batita. Banyak pertanyaan di benak. Beberapa ketemu jawabannya sebelum berangkat, beberapa pertanyaan lagi terjawab setelah mengalami sendiri. Hehehe.

Biar tidak keburu lupa, saya mau tuliskan pengalaman saya di sini. Siapa tau bisa bermanfaat di kemudian hari 🤗

Khawatir anak saya akan rewel karena bosan duduk lama

Ini adalah kekhawatiran saya yang pertama. Ternyata, tips nomor satu untuk mengatasi ini adalah pemilihan jadwal terbang. Memang jika perjalanan di pagi, siang, dan sore hari kita akan bisa menikmati pemandangan di luar karena terang. Biasanya juga tidak terlalu melelahkan jika dibandingkan dengan perjalanan malam, di mana kualitas tidur akan berkurang. Tapi bersama dengan anak umur satu tahun, menurut saya dan suami, lebih aman jika perjalanan dilakukan di jam tidur terpanjangnya. Dan ini yang kami pilih. Kami sengaja memilih terbang di malam hari, sehingga dia tidak bosan karena selama penerbangan, dia banyak tertidur sesuai jam biologisnya.

Memperhitungkan durasi perjalanan

Hal kedua yang jadi fokus kami adalah durasi perjalanan. Durasi perjalanan dihitung sejal keluar dari rumah di Indonesia sampai touch down di rumah tujuan. Berhubung rumah kami di Bandung, kami harus memperhitungkan waktu aman untuk tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta tepat waktu. Setelah itu, kami juga harus mempertimbangkan jumlah dan durasi transit saat penerbangan. Durasi transit yang panjang memang menarik, mungkin kita bisa jalan-jalan santai menikmati suasana di negara yang berbeda. Tapi di lain sisi, kami juga harus menyimpan energi yang cukup, mengingat setelah sampai di bandara Austria, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan mobil. Maka kami putuskan memilih penerbangan dengan waktu transit terpendek. Karena kami naik Qatar Airways malam, transitnya di Hamad International Airport, Qatar. Landing di sana sekitar tengah malam. Anak kami ternyata kebangun ketika transit. Syukurlah dia tidak rewel dan malah menikmati suasana bandara yang meski tengah malam, tapi tetap ramai orang. 

The Lamp-Bear, beruang besar ber-headlamp yang menjadi icon Hamad International Airport


Urusan mengganti diaper selama perjalanan

Saya sempat khawatir juga urusan mengganti diaper selama penerbangan. Sejujurnya, saya orangnya agak phobia berada di ruang sempit dan basah seperti toilet di pesawat dan kereta. Bagaimana saya harus meng-handle phobia ini sambil menggantikan diaper anak, yang mana anaknya masih berumur satu tahun dan tentu sulit diprediksi tingkah lakunya 😅, membuat saya deg-degan.

Secara kebetulan, begitu masuk pesawat, anak kami BAB di diaper jadi saya buru-buru menggantikan diapernya di toilet. Kami mendapatkan prioritas untuk masuk ke pesawat lebih dulu karena membawa batita. Jadi saya punya lebih banyak waktu untuk mengganti diaper-nya sebelum pesawat take off. Sudah jadi kebiasaan, sejak punya bayi, setiap pergi saya selalu menyiapkan kelengkapan ganti diaper dalam satu kantong yang mudah digapai kapanpun diperlukan. Jadi tinggal sat-set. Hehehe. Kayak apa aja. Setelah itu saya memeriksa toiletnya tanpa membawa anak. Anak, saya titipkan ke suami, supaya saya bisa tenang melihat kondisi toilet dan merencanakan strategi terbaik untuk ganti diaper tanpa drama. Hihihi. Karena saya yang pertama masuk, jadi toiletnya masih wangi dan kering. Dan ternyata di dalam toilet ada changing table nya 🤗 Changing table menempel ke dinding, bisa dibuka jika mau digunakan, dan ditutup kembali jika sudah selesai. Masalah ganti diaper tanpa drama solved 🤗

Siapkan baju berlapis untuk anak

Pertanyaan berikutnya adalah, baju seperti apa yang sebaiknya dia pakai selama penerbangan? Kan biasanya dingin di dalam pesawat. Nah, tanpa saya sangka, ternyata di dalam pesawat hangat suhunya, saudara-saudara 😊 Untungnya, sebelumnya sudah browsing-browsing dulu, disarankan persiapan bajunya berlapis saja. Jadi kalau kedinginan bisa ditambah lapisannya, kalau kepanasan gampang dilepas seperlunya. Anak kami di Bandara Jakarta pakai baju tidur bahan kaos lengan panjang. Di dalam bandara karena dingin AC nya, saya pakaikan anak sweater dan kaos kaki. Di dalam pesawat karena hangat, sweater-nya dilepas. Ketika tiba di Austria, waktu itu jam 7 pagi, di bulan Oktober. Masuk musim gugur, dingin anginnya seperti di puncak Dieng kalau di Indonesia. Jadi begitu tiba, di dalam Bandara Vienna Austria masih hangat. Saat keluar, kami sekeluarga langsung merasa perlu pakai lagi sweater dan jaket dengan benar 😅

Perlukah basinet?

Masih berhubungan sama pesawat, perlu nggak sih basinet? Konon, di pesawat rute internasional ada basinet, alias kasur bayi yang bisa dipakai oleh anak umur 0-2 tahun. Basinet di Qatar Airways yang saya tumpangi, ada di barisan kursi ekonomi yang paling depan. Untuk bisa dapetinnya harus check in seawal mungkin di counter. Karena saya pikir akan perlu, jadi kami sengaja check in lebih awal dan akhirnya dapat juga kursi yang ada basinetnya. Kursi barisan depan ini enak, karena space untuk kaki lumayan lebar, anak gegoleran di situ juga bisa (kalau nggak malu 🤭). Basinetnya nempel di dinding depan kursi. Bisa dibuka dan tutup sesuai kebutuhan. Tapi ternyata anak saya nggak bisa tidur di basinet 😅 jadi ya sudah dia tidur dalam pangkuan. Berhubung anak umur satu tahun belum dapat kursi sendiri. 

Bagaimana dengan stroller?

Perlu bawa strollerkah? Pengalaman saya, stroller lumayan membantu. Terutama kalau masuk ke pesawatnya tidak pakai garbarata. Biasanya jalannya lumayan jauh dari pintu ruang tunggu ke pesawat. Stroller ini bisa didaftarkan di counter waktu check in. Seingat saya, stroller tidak dihitung beratnya sebagai bagasi. Jadi setelah check in, stroller bisa tetap dipakai oleh anak sampai ke kabin. Apakah harus stroller cabin size? Kalau ada ya enak, memudahkan, pas masuk pesawat bisa dilipat lalu dimasukkan ke lemari kabin. Tapi kebetulan stroller anak kami bukan cabin size. Praktis dibuka tutup tapi ukurannya agak bulky. Memang waktu belinya nggak kepikiran sampai ke sana. Nah untung awak kabinnya baik semua. Mereka membantu menyimpan stroller anak kami di suatu tempat yang kami nggak tau di mana. Hehe. Waktu transit, stroller tidak ikut turun bersama kami. Untungnya ternyata di Hamad International Airport, ada banyak stroller yang bisa dipinjam secara free untuk berkeliling di dalam bandara.

Anak Kami Duduk di Stroller Milik Airport

Meskipun bawa stroller, saya tetap pakai gendongan. Gendongan adalah pelarian paling handal ketika anak kami mogok duduk di stroller. Waktu itu saya pakai gendongan ringsling karena anak kami masih suka digendong seperti itu.

Tas perlengkapan bayi yang praktis

Tas perlengkapan bayi yang paling ideal buat bepergian menurut saya adalah tas perlengkapan bayi yang bentuknya ransel. Biasanya dalam tasnya ada banyak ruang atau saku sebagai organizer, jadi memudahkan kita waktu perlu sesuatu, gampang ngambilnya karena nggak bercampur satu dan lainnya. Dan karena ransel, memungkinkan distribusi beban yang lebih merata ke badan, jadi lebih terasa ringan dan mencegah resiko cedera bahu. Waktu itu saya belum punya yang seperti ini 😂 kepikiran pun tidak. Rasanya dulu belum hits. Saya masih pakai sling bag klasik yang membuat suami saya gemes karena menurut dia lebih rempong dan kurang trendy. 🤭

Tidak perlu pakai earmuff

Kali ini kami pede tidak memakaikan anak earmuff, meskipun sebetulnya anak kami sudah memiliki earmuff. Earmuff berfungsi untuk melindungi gendang telinga dari suara bising. Hubungannya dengan pesawat, pesawat memiliki baling-baling untuk bisa terbang. Konon, suara baling-baling ini tidak baik untuk bayi. Nah, ternyata baling-baling pesawat komersil sudah diatur sedemikian rupa, sehingga suaranya aman untuk penumpangnya. Suara paling berisik yang bisa didengar penumpang biasanya saat boarding, jika penumpang harus berjalan menuju pintu pesawat tanpa garbarata. Sehingga penumpang akan melewati baling-baling pesawat yang sedang dipanaskan mesinnya. Di dalam kabin pesawat rute internasional, posisi paling dekat dengan baling-baling biasanya di area tengah, dekat sayap. Namun lagi-lagi karena sudah ada aturannya, suara baling-baling pun tidak sampai mengganggu kita orang dewasa, apalagi anak batita, pada saat sedang take off atau landing sekalipun.

Kalau begitu, untuk apa ada earmuff  anak-anak? Earmuff harus dipakai anak-anak ketika berada di lingkungan dengan suara yang sangat kencang dan mengganggu, seperti pada airshow event. Pada saat acara airshow, penonton akan disuguhkan pertunjukan manuver berbagai jenis pesawat, biasanya pesawat tempur dan sejenisnya, yang memang menghasilkan suara yang sangat kencang. Kita saja orang dewasa bisa terganggu, apalagi anak-anak. Sedangkan pesawat komersil, tidak menghasilkan suara yang mengganggu, jadi tidak perlu earmuff maupun bola-bola kapas untuk dimasukan ke telinga anak. Anak saya sendiri malah merasa tidak nyaman di dalam pesawat memakai earmuff. Mending pakai headset yang sudah disediakan di pesawat aja, pakai headset lalu nonton filmnya. 🤗

Apa yang harus dilakukan pada saat take off dan landing?

Pada saat take off dan landing, tekanan di dalam kabin berubah dengan cepat. Udara dalam telinga kita (tepatnya di telinga bagian tengah dan saluran yang menghubungkan telinga dengan mulut dan hidung) sebagai penumpang otomatis akan menyesuaikan dengan kondisi ini untuk menjaga keseimbangan tubuh. Biasanya kita akan merasakan efek seperti ada yang meletup di telinga kita. Lalu pendengaran berkurang seiring dengan naiknya ketinggian pesawat, dan kembali lagi ketika pesawat mulai turun. Batita pun sama, pasti juga merasakan ketidaknyamanan tersebut. Untuk mengurangi ketidaknyamanan di telinga saat take off dan landing, kita dan anak jika sudah agak besar bisa sambil menelan ludah atau menghisap permen.

Jika batita kita masih menyusui, sebaiknya anak disusui ketika take off dan landing. Gerakan lidahnya menelan ASI saat menyusui, dapat mengurangi rasa tidak nyaman di telinganya. Tapi jika batita sudah disapih, bisa diberikan minuman dalam botol bersedotan supaya tidak tumpah.

Anak usia tiga tahun ke bawah belum disarankan menghisap permen, karena aktivitasnya sering tidak terduga, beresiko menyebabkan tersedak.

Lalu bagaimana kalau anaknya tidur, apa perlu dibangunkan untuk menyusui? Menurut saya sih tidak perlu, ya. Justru bagus kalau anaknya bisa tidur dengan nyenyak. Cukup segera disusui jika saat take off dan landing dia terbangun.

Persiapan bekal makanan si kecil

Bekal makanan untuk si kecil juga saya pikirkan. Memang penumpang juga mendapatkan jatah makan di pesawat. Waktu itu kami dapat dua kali makan. Tentu saja saya tetap membawa bekal makanan kesukaannya sih, untuk berjaga-jaga jikalau dia tidak cocok dengan makanan yang dihidangkan. Saya membawa bekal makanan kesukaannya yang memungkinkan untuk dibawa, seperti pisang dan roti.

Mainan kesayangan

Meskipun perjalanan malam, amunisi mainan tetap dibawa. Seperti yang sudah saya ceritakan, anak seusia ini belum bisa ditebak 😅 Jadi untuk berjaga-jaga, saya tetap bawakan mainan kesayangannya, yang memungkinkan untuk dibawa. Waktu itu dia bawa boneka kucing.

Wah ternyata panjang juga ya ceritanya. Seru juga mengingat-ingat pengalaman itu. Semoga bisa bermanfaat ya 😁


<<< Cerita sebelumnya

Mengajukan Visa Schengen untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria.

Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria,


Cerita berikutnya >>>

Tinggal di Luar Negeri, Alasan Memasukkan Anak ke Playgroup

Playgroup di Leoben, Austria



Share:

Friday, 19 February 2021

Kenaikan Berat Badan Bayi di Bawah Minimum

Beberapa hari yang lalu adalah jadwalnya Nabila vaksinasi. Karena divaksin oleh dokter spesialis anak, saya sekalian konsultasikan perkembangan berat badan Nabila.

Usianya 4 bulan 1 minggu. Tiga bulan terakhir, berturut-turut kenaikan berat badannya di bawah Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM). 

Selama 3 bulan ini, Nabila memang tergolong sering muntah. Setelah ditelusuri dan diamati, dia muntah setiap kali saya makan/ minum produk susu dan seafood tertentu. Kadang disertai ruam. Sudah dikonsultasikan ke dokter anak, kesimpulannya alergi susu dan seafood tertentu. Jadi, menurut saya kemungkinan besar perkembangan BB nya di bawah KBM adalah karena dia sering muntah, alias nutrisi yang terserap tidak maksimal. 

Berdasarkan ini, saya konsultasikan ke dr. Devatri, SpA, bagaimana jika Nabila mulai MPASI?

Dokter mengecek perkembangan BB Nabila. Lalu analisa dokter seperti ini :
1. Secara umum Nabila tampak sehat
2. Kenaikan BB nya tiga bulan berturut-turut memang kurang dari KBM, tapi setelah dicek ke tabel Increment dari WHO, kenaikannya masih dalam batasan normal. 
3. Jika ada kekhawatiran, boleh mulai MPASI jika Nabila sudah menunjukkan kesiapan untuk memulai MPASI. Memang Nabila sudah menunjukkan tanda kesiapan MPASI
4. Karena masih berusia 4 bulan, MPASI nya hanya bertujuan untuk tambahan saja, bukan untuk menggantikan ASI.


Tabel Increment WHO

Tabel increment alias tabel kenaikan berat badan ternyata adalah tabel yang bisa kita rujuk, jika kenaikan berat badan anak kurang dari KBM. 

Tabelnya seperti ini (untuk memudahkan membacanya, saya tambahkan garis hijau) : 
Dokter lalu memberikan penjelasan. Kenaikan berat badan masih termasuk normal jika berada di sebelah kanan garis hijau. 

Tabel bisa diunduh dari website WHO, di link ini.


Baiklah, ketok palu. Nabila mulai MPASI.. bismillah 😇🙏

---
Cerita ini hanya sharing pengalaman. Kondisi yang sama pada anak, belum tentu memiliki diagnosa yang sama dan solusi yang sama. Solusi yang saya tuliskan, belum tentu sesuai untuk setiap kondisi yang mirip.

Jika buah hati Ayah Bunda mengalami kondisi yang mirip, boleh konsultasi terlebih dahulu ya dengan dokter spesialis anak.

Terimakasih 😊

----
Cerita lainnya >>


Share:

Monday, 9 May 2016

Tinggal di Luar Negeri, Alasan Memasukkan Anak ke Playgroup

Tak terasa sudah satu bulan lebih anak saya memulai kehidupan siang barunya di playgroup. Masa-masa yang sangat sulit untuk adaptasi sudah dilalui. Kini dia tampak sangat menikmati hari-harinya di sana.
Keputusan memasukkan anak ke playgroup tidak dengan begitu mudahnya diambil. Saya bersama suami mendiskusikannya selama berbulan-bulan. Apalagi karena saya tidak terikat jam kerja. Jangankan bagi orang lain, bagi diri saya sendiri pun ini agak aneh. Berpuluh kali saya tanyakan pada diri saya sendiri sebelum mendaftarkan anak ke playgroup, "akankah menjadi keputusan yang tepat?" dan "apakah saya sudah benar-benar yakin?". Bahkan saya sempat menyesali keputusan itu di hari-hari pertama anak saya di playgroup.
Empat minggu berlalu, melihat perkembangan positif pada anak saya dan yang terpenting dia bahagia, saya menjadi lega. Saya menjadi lebih semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pun saya tidak lagi menyesali keputusan itu. Bahkan jika perkembangan positif ini terus tampak hingga akhir semester, saya berharap semester depan anak saya bisa diperpanjang lagi di playgroup itu. Yang agak saya sesalkan hanyalah satu, kantong yang perlu dirogoh cukup dalam. Hahaha..
Karena alasan di atas juga, membuat saya ingin menceritakan pengalaman saya, dimulai dari kenapa memutuskan playgroup untuk anak, memilih playgroup, hingga sharing proses adaptasinya. Karena panjang, maka akan saya bagi-bagi menjadi beberapa postingan. Hehe. Membacanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Perasaan butuh untuk memasukkan anak ke playgroup dimulai sejak perbincangan sok serius saya dengan istri dari profesor yang membimbing suami saya dalam project doktoratnya. Saat itu saya mengalami krisis percaya diri. Hehe. Saya yang seorang ibu rumah tangga, ingin kembali meniti karir begitu kesempatan itu ada. Saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di bidang Farmasi semenjak saya dan anak menyusul suami saya yang sedang menempuh pendidikan doktorat di Austria. Mengurus sendirian, benar-benar sendirian (tanpa art maupun kerabat yang bisa dititipi anak barang sebentar) keluarga dan rumah dengan momongan berumur 1 tahun yang masih menyusui ternyata bukan hal mudah. Dua puluh empat jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan ibu rumah tangga. Pun kalau ditambah, masih tidak cukup juga karena bertambahnya waktu linear dengan bertambahnya item pekerjaan. Hahaha. Apa yang tidak sempat terkerjakan? Yah.. cuma rumah yang pabalatak.. masakan istimewa yang terhidang rapih dan menarik di atas meja.. perawatan diri.. wkkw.. dan tentunya.. AKTUALISASI DIRI. Setiap orang yang pernah membesarkan sendiri anak dari bayi hingga balita semestinya mengerti kondisi ini ;)
Bagi saya aktualisasi diri penting. Meskipun andaikata saya tidak ingin kembali berkarir, sebagai seorang Ibu dan istri tentu tetap perlu mengaktualisasi diri sendiri. Aktualisasi bukan lagi sekedar keinginan, akan tetapi kebutuhan. Karena Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Peran Ibu tentu besar untuk masa depan anak-anaknya. Juga terhadap suami, seorang istri tentunya senang menua bersama suami yang hebat dan mendambakan memiliki keluarga yang harmonis. Ingat 'kan, pepatah di belakang seorang lelaki hebat selalu ada wanita yang (lebih) hebat, dan itu bisa berarti Ibu nya maupun Istrinya. Bagaimana cara mengaktualisasi diri itu tergantung pilihan masing-masing dan disesuakan dengan kondisi juga kebutuhan masing-masing, bisa dengan cara berkarir maupun tidak.
Tinggal di negara dengan bahasa ibu bukan bahasa familiar bagi saya merupakan satu tantangan yang menarik dan sekaligus menjadi motivasi. Di negara ini, orang berbahasa Jerman dan jarang yang mau menggunakan bahasa Inggris. Untuk bisa bekerja di sini pun saya harus fasih berbahasa Jerman dan pekerjaan jenis tertentu dibutuhkan sertifikat. Yah.. menamatkan kursusnya kira-kira akan membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga tahun saja bila lancar. Haha.. Tentu saja saya cukup tertarik mencoba peruntungan dari beasiswa yang bertebaran.. kemudian bersekolah lagi. Lalu kemudian.. menimbang.. mengingat.. di kota ini tidak ada pendidikan tinggi untuk jurusan di bidang saya (persis maupun yang nyerempet-nyerempet) dan yang terdekat ada di kota sebelah yang kira-kira 1,5 jam jarak tempuhnya menggunakan kereta.. dengan keluarga yang sangat memerlukan perhatian penuh saya sepertinya untuk saat ini masih belum memungkinkan. Maka simpan dulu untuk sementara keinginan itu dan mari berfokus pada hal yang lebih urgent dan feasible, yap, MARI BELAJAR BAHASA JERMAN.
Di sini ibu yang baru melahirkan sangat dihargai pekerjaannya sebagai ibu. Dua tahun pertama mereka berhak cuti dari karirnya, dan menjadi Karenz alias ibu yang tidak berkarir karena "bekerja full time di rumah" setelah melahirkan anak. Bahkan ayahnya juga berhak mengambil cuti juga maksimal tiga bulan untuk membantu istrinya. Dan juga.. mereka akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah, sebagai kompensasi karena ibu menjadi Karenz. Nice, ya (tapi tidak perlu iri ya, ibu-ibu yang di negara lain berbeda kebijakannya, terutama di Indonesia karena situasinya tentu sangat berbeda).
Satu hal yang belum bisa saya mengerti adalah.. ketika ada seseorang perfeksionis yang menginginkan kondisi rumah orang lain selalu rapih bersih sempurna, masak hanya untuk sekali makan, dan hemat listrik meskipun harus mematikan pemanas di malam hari dan kedinginan :o:o Kondisi ideal seperti itu sudah hilang dari kamus saya sejak memiliki bayi... Dan semakin tidak bisa saya mengerti ketika beliau bilang seharusnya kami memiliki ART. Mungkin beliau pikir yang saya tanam di balkon adalah pohon uang?! 😥😥 Btw.. gaji ART saya sewaktu di Bandung 1 minggu kerja setengah hari = gaji ART di sini selama 1 jam. Wkwk..
Begitulah... kalau mau dikerucutkan, inilah alasan yang sesungguhnya kenapa akhirnya saya menitipkan buah hati tercinta di playgroup : (lah trus yang tadi panjang apa?? Hahaha..)
1. Saya butuh waktu untuk belajar bahasa Jerman. Pada mulanya saya hendak mendaftarkan diri kursus bahasa Jerman. Tapi entah kenapa, ketika anak saya sudah mendapatkan tempat di playgroup, nasib saya yang tidak mendapatkan tempat kursus semester ini. Wkwk.. mau tidak mau belajar sendiri (lagi). Hikmahnya.. tidak perlu bayar tempat kursus dan lebih hemat waktu dan uang untuk transport. Tapi ya jadi harus kuat iman, karena saya sendiri yang membuat dan mengontrol timetable nya, dan belajarnya di rumah.
2. Anak saya butuh teman bermain untuk belajar bersosialisasi. Satu-satunya teman main seumurannya juga masuk playgroup :D
3. Suami saya butuh waktu lebih untuk bertapa dalam rangka menyelesaikan disertasi dan ujian-ujian. Selama ini pulang ke rumah waktunya sebelum dan sesudah tidur dihabiskan untuk membantu membereskan pekerjaan di rumah yg belum selesai krn disambi ngurusin anak.
4. Saya miris melihat suami yang selalu kelaparan tiap pulang. Wkwk. Ini tandanya dia kurang ngemil di sela-sela jam kerja. Dia memang tipe yg ga terlalu suka ngemil sih. Kecuali.. e kecuali.. cemilannya menarik di mata dia.. yaitu, jajanan pasar. Wkwk. Gampang kan? Ya memang gampang.. kalau di Indonesia.. hiks.. masalahnya yang seperti itu tidak ada di sini, kalau mau ya mesti bikin sendiri.. (jangankan bikin jajan, masak hidangan pokok saja sering ga keuber, hiks)
5. Saya berharap rumah bisa lebih terawat dibanding sebelumnya.

Kemudian saya mulai mencari info seputar playgroup di kota ini. Juga minta share cerita dari teman yang anaknya sudah lebih dulu di playgroup. Ini nanti bermanfaat untuk menimbang-nimbang plus minusnya. Karena setiap langkah yang kita ambil tidaklah sempurna, selalu ada plus dan minusnya.
Cerita seputar playgroup di kota ini (Leoben, Austria) dan bagaimana kami menimbang-nimbang sampai akhirnya diputuskan salah satu playgroup bisa dibaca di sini.
Bagaimana dengan teman-teman para orang tua, adakah yang masih galau akan menitipkan anak atau sudah khatam menggalaunya? Ayo share di-comment... :)
Salam dari Leoben-Austria,
Vidya
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya