Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Sunday, 14 May 2017

Resep Kue Bolu Kukus tanpa Emulsifier

Untung belum menyerah setelah 2x gagal dengan dua resep yang berbeda :D 


Resep standardnya sebetulnya gampang, tapi berhubung ga nemu emulsifier halal di sini, jadi harus coba-coba berbagai resep tanpa emulsifier. Beruntung akhirnya nemu resep yang pas, jelas, dan berhasil, meskipun di resep yang ke-3. 

Yang pernah bikin pasti tau gimana senangnya pas buka panci ternyata semua bolu kukusnya mekaarr. Hahahhh. Akhirnya bikin lagi buat acara Cafè International di Leoben, Austria.


Ternyata kuncinya :
- adonan benar-benar harus kaku sebelum masuk cetakan (kaku = ketika diusik akan membentuk tekstur yang tidak cpt kembali ke bentuk semula, sulit dituang). Kemarin di mixer selama 20 menit dengan kecepatan tinggi. Deuh.. sampai mixernya anget.



- semakin penuh diisinnya ke dalam cetakan, semakin bagus mekar yang dihasilkan :)


- biar lebih gampang pas masukin adonan ke dalam cetakan, adonan dimasukkan dulu ke dalam plastik spuit


Ada yg berminat nyoba bikin? Gampang kok ternyata. Cek gambar atau catatan di bawahnya ya.

Bahan :
- 250 mg tepung terigu protein sedang (griffig weizen mehl/ segitiga biru)

- 250 mg gula halus
- 125 ml fresh milk (susu poan)
- 2 butir telor utuh
- 1 butir kuning telor
- pasta pandan secukupnya/ pewarna lain sesuai selera

Cara :
1. Semuanya kecuali pasta pandan, dimixer sampai kaku.

2. Pisahkan sedikit adonan untuk dicampur dengan pasta pandan.
3. Masukkan adonan tanpa warna ke dalam cetakan hingga hampir penuh. Penuhkan dengan adonan berwarna.
4. Masukkan ke dalam panci kukus, beri jarak satu sama lain agar mekar sempurna.
5. Bungkus tutup panci dengan lap bersih.

6. Kukus selama kurang lebih 15 menit (air dalam kukusan harus sudah mendidih dulu, tutup panci dibungkus lap untuk menyerap embun supaya tidak netes ke adonan. Tetesan air bisa menyebabkan mekarnya ga kece)

Itu resepnya saya nyontek di sini. *terimakasih mba Farros udah nulis di blog nya


Baca juga : Resep Apfelstrudel, Resep Sup Telur Sayur, Resep Muffin Coklat






Share:

Sunday, 5 February 2017

Menilik Kandungan Petai, Apa Manfaat dan Efek Samping nya?


Beberapa hari yang lalu di-telepon, ibu saya tiba-tiba menanyakan “Dek, pete itu kandungannya apa aja ya??” Hehehe random ya pertanyaannya. Hihi, iya ibu saya memang sesekali suka menanyakan pertanyaan-pertanyaan random yang ingin dijawab dengan serius, ilmiah. “Tolong ya dek, kirimin di whatsapp, kandungannya pete apa aja, trus sama efek sampingnya juga. Soalnya ibu denger dari mbak I, katanya pete bisa ngobatin benjolan sama hipertensi. Jadi ibu penasaran. Tolong ya dek cepetan.” Jadi, mbak I itu adalah sepupu saya yang notabene seorang pengusaha pete. Okelah tulisan kali ini saya persembahkan untuk ibu yang penasaran, suami yang penikmat pete, sepupu yang pengusaha pete, dan siapapun yang suka dengan biji hijau royo-royo ini ..
Petai, dalam bahasa latin disebut Parkia speciosa Hassk., adalah tanaman yang berasal dari Asia Tenggara. Di Indonesia, Malaysia, dan Singapura disebut petai atau pete, di Thailand satawsatorsadtor, u'pang di Filipina, dalam bahasa Inggris disebut stink bean.
Selama tinggal di Austria, saya belum pernah menemukan pete di supermarket. Hehe. Tapi di toko Asia, hampir selalu ada di dalam freezer (beku). Saya sendiri bukan penikmat pete, suami saya pecinta berat. Alhamduliillah, harga pete di sini sangat melambung, udah gitu toko Asianya ada di kota sebelah. Sirna sudah hasrat suami untuk belanja pete dari toko Asia. Yeayyy #eh.
Kebanyakan dari kita pasti tau biji petai dan kulitnya seperti apa, apalagi aromanya yang khas. Tapi mungkin tidak semua orang tau kalau pohonnya bisa tumbuh hingga 40 m tingginya. Menjulang.. baik akar, batang, kulit hingga bijinya (bagian yang dimakan) mengandung senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tetapi paling banyak memang berada di bijinya. Pernah dengar dari kawan, tetangga, atau majalah yang menyebutkan bahwa petai digunakan untuk terapi hipertensi, diabetes, cacingan, dan masalah ginjal (secara tradisional)? Pernah penasaran petai serius bisa nyembuhin penyakit dan kelainan tersebut? Kalau iya, pas banget karena alinea-alinea berikutnya akan membahas tentang ini. Kalau belum, semoga sekarang jadi penasaran (biar tetap dibaca.. hehehe).
Petai Kaya Nutrisi
Ternyata, petai memang mengandung banyak nutrisi dan senyawa kimia yang bermanfaat. Nutrisi yang terkandung dalam biji petai di antaranya protein, lemak, karbohidrat, mineral (banyak sekali jenisnya), dan vitamin (vitamin C, thiamin/ vitamin B1, dan alfa tocoferol/ vitamin E). Komposisinya bisa di lihat pada gambar tabel berikut :
nutrisi-petai
Nilai yang tertera pada tabel adalah hasil penelitian terhadap sampel petai yang dipanen dari Batang Kali Selangor Malaysia tahun 2013. Nilai yang tertera kurang lebih hanya sebagai gambaran, nilainya tidak akan persis sama untuk setiap petai yang dipanen di belahan bumi manapun karena tentu kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh si pohon petai juga berpengaruh pada hasilnya. Namun jenis nutrisi yang terkandung kurang lebih akan sama.
Petai juga Mengandung Berbagai Senyawa Kimia Potensial
Hampir semua senyawa kimia penting terdapat pada bijinya. Senyawa kimia potensial yang terkandung dalam petai di antaranya tannin (dalam konsentrasi tinggi. Selain pada biji juga terdapat pada kulitnya yang tebal), terpenoid, thiazolidine-4-carboxylic acid, flavonoid, alkaloid, polisulfida siklik, dan satu lagi yang paling menarik penamaannya djenkolic acid.
Terpenoid Membawa Efek Antihiperglikemia, Antikanker, dan Antinociceptive
Senyawa terpenoid yang terdeteksi ada pada petai meliputi β-sitosterolstigmasterollupeolcampesterol, dan squalene. β-sitosterol dan stigmasterol adalah senyawa kimia yang memiliki aktivitas antihiperglikemia (menurunkan kadar gula darah). Lupeol memiliki aktivitas sebagai antikanker, antinociceptive (mengurangi rasa nyeri), dan anti inflamasi.
Tioproline turut serta Melawan Kanker
Tioproline adalah senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antikanker. Lagi-lagi antikanker. Senyawa tiopriline yang terdapat pada biji petai adalah tioprthiazolidine-4-carboxylic acid.

Petai juga Mengandung Flavonoid yang Memberikan Efek Antioksidan
Antioksidan dalam tubuh berperan untuk melawan stress oksidatif. Stress oksidatif merupakan kondisi tidak ideal yang terjadi pada sel tubuh, salah satunya proses detoksifikasi yang tidak sempurna. Stress oksidatif juga berperan pada banyak kondisi abnormal tubuh seperti tekanan darah tinggi, kanker, hiperbilirubinemia, ateroskeloris, diabetes, dan sebagainya. Rajin mengonsumsi makanan kaya flavonoid sama artinya dengan mencegah stress oksidatif terjadi pada sel tubuh kita, membantu menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit.

Polisulfida siklik dalam Petai Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Polisukfida siklik yang terkandung di dalam petai ada yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri, yaitu hexathionine dan trithiolaneBerdasarkan hasil penelitian, kandungan tersebut dalam petai memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram negatif seperti Helicobacter pyloriEscherichia coli, Aeromonas hydrophilaStaphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus anginosus, dan Vibrio parahaemolyticus. Tetapi tidak efektif menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhimuriumSalmonella typhi, Shigella sonnei, Citrobacter freundiiEdwardsiella tarda Vibrio alginolyticus, dan Vibrio vulnificus.
=======
Hmm, banyak juga ya senyawa obat yang dikandungnya. Apakah betul-betul bisa digunakan langsung untuk terapi? Sejauh ini saya belum menemukan data ilmiah terapi dengan petai untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu pada manusia. Informasi di atas diperoleh dari jurnal ilmiah yang penelitiannya dilakukan dengan menguji ekstrak petai (dalam berbagai jenis pelarut) terhadap binatang dan mikroba. Sementara untuk terapi pada manusia petai baru dilakukan secara tradisional dan belum terstandar.
Kita tentu harus ingat bahwa efikasi dalam mengobati penyakit atau kelainan tertentu salah satunya dipengaruhi oleh dosis. Berapa banyak petai yang diperlukan untuk bisa memberikan efek-efek tersebut? Apakah bila mengonsumsi petai dalam jumlah banyak sekaligus berharap salah satu efek bisa tercapai, apakah akan aman karena petai juga mengandung senyawa lain yang efeknya berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu hanya bisa dijawab dengan baik setelah melalui riset.
Yang pasti, petai memiliki potensi untuk bisa dikembangkan sebagai obat herbal terstandar, misalnya dengan diekstrak dan dipisah-pisahkan komponennya berdasarkan efeknya masing-masing, lalu diproduksi menjadi sediaan obat atau suplemen (misal dalam kapsul) yang memiliki dosis tertentu, teruji efek dan keamanannya. Ini adalah ranah ahli botani, farmasis bahan alam, industri obat, dan dokter.
Nah, hal yang lebih umum dari konsumsi petai adalah untuk kuliner, ya kan. Kebanyakan orang menghindari memakan petai karena “aroma khas”-nya yang sangat kuat. Sebagiannya justru menikmatinya. Yang berikut ini penting diketahui oleh para penikmat petai, efek samping yang bisa muncul...

Senyawa Polisulfida Siklik dalam Petai Bertanggung Jawab terhadap Aroma dan Rasa Khasnya yang Kuat
Polisulfida siklik selain memiliki efek antibakteri, juga merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aroma dan rasa khasnya yang kuat. Polisulfida siklik yang terkandung di dalam petai yang dimaksud adalah hexathioninetrithiolanetetrathianepentathiopanepentathiocane, dan tetrathiepane. Aroma dan rasa yang long last di mulut dan urin ini ya yang biasanya membuat orang tidak suka memakan petai, dan "menjaga hidung" sementara dari orang lain seusai memakannya. Hehe.
Tannin dalam Petai dapat Menghambat Proses Pencernaan Protein dan Asam Amino
Dibandingkan dengan sayur dan buah yang lain, petai mengandung tannin dengan konsentrasi tinggi. Tannin dapat menghambat proses pencernaan protein dan asam amino. Oleh karena itu, anak-anak tidak disarankan mengonsumsi petai karena absorpsi protein penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.
Petai Menganung Djenkolic Acid, Senyawa yang... Toksik!
Petai juga mengandung senyawa yang namanya nyentrik, yaitu djenkolic acidDjenkolic acid dapat mengkristal di dalam saluran kemih dan dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan sumbatan pada saluran kemih atau cedera ginjal akut. Djenkolic acid juga banyak terkandung dalam biji jengkol. Apakah memang karena itu dinamakan djenkolic acidHmm mungkin saja...
Djenkolic acid ini bisa berkurang kadarnya kalau direbus dulu sebelum dikonsumsi. Jadi, untuk menghindari efek samping dari makan petai pada ginjal, maka sebaiknya jangan dimakan mentah begitu saja, tetapi direbus dulu, dimasak, dan selalu ingat minum air putih yang banyak setelah makan petai. By the way.. setelah direbus, tentu ada beberapa senyawa larut air yang akan ikut hilang ya.. jadi mungkin saja manfaatnya akan berkurang. Paling tidak, kita mengurangi satu resiko berat pada saluran kemih dan ginjal kita. (kita? Saya kan ga makan petai. Hahaha)

====
Saya belum menemukan data ilmiah mengenai berapa rekomendasi maksimum konsumsi petai yang disarankan. Jadi menurut saya ya kembali lagi.. selama ginjal masih sehat, makan petai tidak berlebihan insya Allah aman-aman saja itupun sebaiknya direbus dulu dan disudahi dengan minum air putih yang banyak.. mm juga hargai orang lain yang tidak kuat dengan aroma nya. Hehehe.. Ngomong-ngomong berlebihan, memangnya berapa berlebihannya, itu dia yang masing-masing orang akan berbeda. Yang penting kenali dan perhatikan tanda-tanda efek samping yang muncul ya..
Featured image : Petai
Baca juga :
Share:

Sunday, 15 January 2017

Resep Apfelstrudel

Penasaran banget pengen belajar bikin makanan khas Austria ini. Kebetulan lagi punya adonan kulit pastry di rumah. Langsung cus deh bikin..

Sukak! Praktis (karena kulitnya beli jadi :D :D) dan anak & suami juga suka. Langsung save....
Sumber resep : Gutekueche
Share:

Resep Sup Telur Sayur

Budayakan sayur mayur di meja makan. Hahaaa..

Share:

Friday, 30 December 2016

Resep Muffin Coklat

Pertama bikin muffin coklat adalah dalam rangka belajar bikin kue-kuean manis buat sarapan. Karena suami suka muffin dan coklat, why not coba bikin muffin coklat. Cari-cari resep di internet, nemu yang mudah didapat bahan-bahannya. Setelah dicoba ternyata enak, semua suka, dan praktis, ga perlu mixer.  Langsung deh... catett.. hehehe.
Ini dia foto dan resepnya. Mudah-mudahan kebaca jelas.
Sumber resep : http://www.gutekueche.at/schokoladenmuffins-rezept-2017

Share:

Thursday, 24 November 2016

Fusili Keju Udang

Shock banget hari ini timbangan anak ga naik. Hikss.. Padahal bulan lalu naiknya membahagiakan. Curiga kalori makanannya kurang sebulan kemarin. Memang bulan ini dirinya lagi bosen keju-kejuan juga. Sedangkan bulan lalu, di makanannya, ya di lauk, ya karbo, ya sayur, hampir semuanya selalu ditambahin booster kalori, kalau ga keju ya santan, atau butter. Jadinya sebulan ke depan bertekad kembalikan keju dan santan ke piring. Lalu kita lihat hasilnya gimana. Yoossshh...
Tiba-tiba kepikiran bikin beginian buat merapihkan catatan resep pribadi, biar lebih menarik juga. Selama ini menu-menu favorit keluarga saya tulis aja manual di buku sakti. Hehe, tapi itu juga kalau lagi rajin aja. Semoga yang sekarang mah bisa lebih konsisten dan bermanfaat. Eh, semoga setelah di-post di blog ini bisa kebaca jelas juga. Aamiiin..

Menu ini simpel, praktis, bergizi, dan menarik buat anak. Kalau untuk anak saya, masih ditemani sup lagi di mangkok kecil di mejanya, supaya dia dapat juga asupan kaldu dan sari sayuran yang lain. Boleh lho kalau mau dicoba... hehehe.. :D :D
Share:

Saturday, 15 October 2016

Ayam Panggang Paprika


Akhir-akhir ini suka masak yang simpel-simpel aja. Tapi agak bosan juga karena untuk ayam masak yang simpel paling hanya sop, kaldu, ayam goreng. Pengen bikin ayam panggang tapi yang simpel, ternyata ada lho. Resepnya ngintip di video ini saya, saya tuliskan di bawah juga, beserta tips-tips nya berdasarkan percobaan saya. Arahan rasanya beda ya sama ayam panggang yang sering ditemui di Indonesia. Dua-duanya sama-sama unik dan enak. Suami sama anak ternyata suka lho, saya apalagi. Hehe. Repeat order deh.
Bahan :
1,5 kg Ayam
1 siung bawang bombay besar, iris tipis
2 buah tomat merah (tomat buah/ tomat chery) besar, iris bulat
+/- 5 sdm paprika bubuk
+/- 5 sdm minyak nabati/ mentega
+/- 2 sdm garam dapur
Setengah buah jeruk baby
Cara membuat :
1. Potong ayam sesuai selera, lalu cuci bersih. Bisa juga menggunakan ayam utuh, tidak dipotong. (Semakin kecil ukuran potongan ayam, waktu memanggang semakin singkat. Saya pernah mencoba ayam utuh, ayam potongan besar, dan kecil. Saya pribadi prefer yang potongan kecil kalau hanya untuk sehari-hari sih, lebih cepat matang, dagingnya juga lebih renyah dan gurih. Kalau untuk acara-acara khusus, ayam utuh lebih terlihat mewah di atas meja).
2. Blansir ayam dengan air mendidih kurang lebih 3 menit (ini untuk potongan ayam kecil. Semakin besar potongannya, setelah diblansir sebaiknya di rebus lagi beberapa lama supaya waktu memanggang tidak terlalu lama.)
3. Tiriskan ayam.
4. Panaskan oven 200°C.
5. Buat bumbu oles : Campurkan minyak nabati/ mentega, paprika bubuk, dan garam di mangkok. Aduk sampai rata.
6. Balurkan bumbu pada ayam dengan menggunakan kuas masak. Oleskan hingga seluruh permukaan ayam tertutup bumbu. (Jangan terlalu tipis supaya bumbu meresap ke dalam daging. Pada saat dipanggang, air dari dalam ayam akan keluar sehingga ada sebagian bumbu yang akan terbawa menjadi kuah kental).
7. Simpan ayam ke dalam loyang panggang. Taburkan bawang bombay dan tomat, perasan jeruk baby.
dscn8744
Siap dipanggang..

8. Panggang ayam di dalam oven, kurang lebih 45-50 menit untuk potongan ayam kecil. Pastikan bawang bombay dan tomat sudah layu. Pastikan juga ayam sudah matang hingga ke tulang menggunakan tusuk gigi atau garpu.
9. Lebih nikmati dimakan bersama nasi hangat dan sambal. Nymmm.. Selamat mencoba! :mrgreen:
image

Intip resep lainnya di sini :
Share:

Tuesday, 10 May 2016

Muffin Biji Poppy

Resep ini saya dedikasikan terutama untuk teteh yang sudah bilang muffin nya enak, namanya teh Dini, ibu super dari tiga anak. Ketiga anaknya pernah mencicipi muffin ini. Selain mereka, suami dan anak saya juga bilang ini enak. Ingat.. jawaban paling jujur adalah yang keluar pertama dari mulut seorang anak kan.. muehehe. Syukurlah... jadi ada bahan buat diposting di blog #eh..
Resepnya saya dapatkan dari buku berbahasa Jerman "Kochen für Kinder" (Memasak untuk Anak-Anak). Muffin yang satu ini bisa untuk menu camilan atau sarapan baby >1 tahun. Karena di dalamnya sudah mengandung gula dan bentuknya sama seperti muffin pada umumnya. Tapi tenang saja Bun, gulanya ga banyak kok, lebih manis muffin pada umumnya dibanding muffin yang ini. Selain itu, sebagian rasa manisnya juga didapatkan dari buah apel. Kandungan nutrisinya juga komplit lho, Bun.. dalam sebuah muffin (kurang lebih 230 kcal) sudah terkandung karbohidrat, protein hewani, buah, sayur, minyak, dan susu. Cocok kan untuk camilan sehat.. bisa dikreasikan dengan topping keju parut juga bagi yang punya project menambah berat badan anaknya. Hehe.
Membuatnya juga cepat, dari mulai mencampur bahan-bahannya hingga matang hanya 30 menit. Ya total dengan timbang menimbang dan cuci-cuci sekitar 45 menitan lah.. Resep ini akan menghasilkan 12 muffin ukuran standar..
Yuk, mari disimak resepnya...
Bahan :
2 butir telor
125 gram gula halus
125 ml Rapsöl (raspen oil/ minyak nabati)
125 ml Buttermilk
200 gram biji Poppy
1 buah Apel kecil
1 sdm jus jeruk
400 gram tepung terigu protein
3 sdt munjung baking soda
12 Kertas Muffin

Cara membuat :
1. Panaskan oven dengan settingan suhu 180 derajat celcius.
2. Kocok telur dan gula bersamaan, kemudian tambahkan minyak nabati dan buttermilk.
3. Cuci apel, kupas, lalu parut. Campurkan parutan dengan jus jeruk.
4. Campurkan tepung dan baking soda, kemudian masukkan ke dalam adonan telur. Masukkan biji poppy dan apel yang telah dicampurlan dengan jus jeruk. Aduk hingga merata.
5. Masukkan kertas Muffin ke dalam cetakan. Masukkan adonan hingga penuh. Panggang dalam oven (suhu 160 derajat celcius) selama 20-25 menit.

Gampang kan, Bun...!? :)
Btw.. Muffin yang saya buat kan mengandung biji Poppy.. hasilnya agak pucat, Bun muffinnya.. Kalau mau jadi lebih cerah, bisa diganti dengan yang warnanya cerah kayak wortel. Oke, Bun..
Ini dia penampakannya muffin biji poppy... hohoho.. dibalik wajahnya yang pucat, muffin-muffin ini menyimpan rasa yang enyak-enyak-enyak kok Bun. Hahaha... Berdasarkan testimoni lho ya..
image
image
Ok, Bun.. selamat mencoba bagi yang berminat. Bunda yang sudah coba atau punya ide resep muffin buat baby dengan kreasi lain boleh lho share di-comment... :)

Intip resep lainnya di sini :

Share:

Tuesday, 1 March 2011

Carica, si Asam Manis Spesial dari Kampung Saya

Wewh sudah lama ternyata nggak nulis :D Benar-benar sedang menikmati liburan di kampung halaman. Baru saja dimention sama teman di twitter, isinya mengingatkan saya pada makanan spesial : MANISAN CARICA.=)
source : foto
Ini dia yang saya bilang manisan carica. Sepintas mungkin penampilannya mirip dengan manisan biasa, tapi tunggu dulu, jangan percaya dengan gembar gembor bahwa rasanya sangat enak sebelum mencobanya sendiri :)
Komentar teman-teman saya yang baru pertama kali mencoba pasti tidak jauh-jauh dari : " ini buah apaan? " wkwkw. Jangan salah sangka, itu karena mereka bilang rasanya unik, mungkin karena mereka belum pernah makan buah yang namanya CARICA.

Jadi, apa itu buah CARICA?
image from: caricawonosoboasri.blogspot.com
Buah carica (Carica pubescen) sebenarnya masih family dari buah pepaya (Carica papaya), bentuk buahnya pun mirip. Tapi meskipun begitu, rasanya sama sekali berbeda. Buah carica berukuran kecil, rata-rata sebesar kepalan tangan orang dewasa. Buah carica yang sudah matang sekalipun lebih banyak mengandung getah dibandingkan buah pepaya. Oleh karena itu jangan sekali-kali mencoba memakan buah ini sebelum diolah terlebih dahulu layaknya buah pepaya.
Pohon carica hanya dapat tumbuh di dataran tinggi yang curah hujannya tinggi. Itulah sebabnya hanya sedikit daerah di Indonesia yang mengenalnya, misalnya saja Wonosobo (kampung halaman saya :) ). Kabarnya sih pohon ini juga tumbuh di Lembang - Bandung, tapi tampaknya belum dimanfaatkan sebagai wisata boga seperti di Wonosobo. Dan ternyata, pohon ini pernah diuji cobakan di Malang - Jawa Timur dan dapat tumbuh, tetapi tampaknya tidak berkembang dengan pesat seperti di Wonosobo. Sepertinya petani Malang lebih tertarik pada buah apel ketimbang keluarga pepaya. Hahaha.. only a joke..
images by 3.bp.blogspot.com
Satu botol manisan carica bisa berkisar antara 11000 sampai 13500 rupiah. Sedangkan buah mentahnya di pasaran hanya sekitar 5000 - 6000 rupiah per kilo (1 kilo paling tidak bisa sampai 10 buah).  Kalau beli langsung dari petaninya lebih murah lagi, per
kilonya bisa cuma sekitar 2000-an saja. Satu botol carica hanya cukup menampung 1 buah. Wow, bisnis yang menggiurkan ;p

Waktu masih SMP dulu sering buat makanan ini. Dan rasanya lebih enak lho membuat sendiri daripada beli yang sudah jadi. Kenapa? Karena kita nggak perlu pakai pemanis buatan (yang dapat menimbulkan efek rasa pahit dan kadang bisa memicu sakit kerongkongan bagi yang tidak cocok) juga lebih sehat karena tanpa bahan pengawet. Caranya pun mudah.
Bocoran resep membuat manisan carica. (Resep original dan telah disempurnakan berdasarkan pengalaman :) )
Bahan-bahan :
Buah carica, gula pasir, kapur lenjet (kapur yang biasanya dikunyah oleh nenek-nenek bersama sirih dan tembakau), daun pandan, dan vanili.
Caranya?
1. Pertama-tama buah carica dikupas terlebih dahulu tentunya, dipotong memanjang dari atas ke bawah (ukuran irisan sesuai selera), pisahkan daging buah dari biji dan serat-serat di antara biji dan dagingnya. Biji boleh dibuang, namun serat-
serat cukup dipisahkan dan dicuci.

2. Selanjutnya daging buah dicuci, lalu direndam kurang lebih selama 15 menit dalam air kapur lenjet (kapur lenjet dilarutkan dalam air hangat). Ini bertujuan untuk mengeluarkan semua getah dari buah carica. Jangan lupa bungkus tangan dengan plastik saat mengupas karena buah carica sangat bergetah.
3. Setelah 15 menit buah carica dicuci hingga bersih. Rebus buah carica dalam air. Banyaknya air sesuai selera. Nantinya air ini yang akan menjadi kuah manisan.
4. Jika telah mendidih, masukkan gula pasir (sesuai selera) serat-serat yang telah dicuci agar aroma dan wanginya lebih terasa. Tambahkan daun pandan dan vanili. Aduk pelan-pelan hingga gula dan vanili melarut rata.
5. Angkat jika buah sudah empuk. Maka jadilah manisan carica. Mudah kan? Manisan carica lebih enak dihidangkan dingin-dingin. Sebaiknya disimpan di dalam lemari es, dan dihidangkan bersama es batu. Nyummm. Jadi pengen buat lagi... :)
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya