Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Sunday, 14 May 2017

Resep Kue Bolu Kukus tanpa Emulsifier

Untung belum menyerah setelah 2x gagal dengan dua resep yang berbeda :D 


Resep standardnya sebetulnya gampang, tapi berhubung ga nemu emulsifier halal di sini, jadi harus coba-coba berbagai resep tanpa emulsifier. Beruntung akhirnya nemu resep yang pas, jelas, dan berhasil, meskipun di resep yang ke-3. 

Yang pernah bikin pasti tau gimana senangnya pas buka panci ternyata semua bolu kukusnya mekaarr. Hahahhh. Akhirnya bikin lagi buat acara Cafè International di Leoben, Austria.


Ternyata kuncinya :
- adonan benar-benar harus kaku sebelum masuk cetakan (kaku = ketika diusik akan membentuk tekstur yang tidak cpt kembali ke bentuk semula, sulit dituang). Kemarin di mixer selama 20 menit dengan kecepatan tinggi. Deuh.. sampai mixernya anget.



- semakin penuh diisinnya ke dalam cetakan, semakin bagus mekar yang dihasilkan :)


- biar lebih gampang pas masukin adonan ke dalam cetakan, adonan dimasukkan dulu ke dalam plastik spuit


Ada yg berminat nyoba bikin? Gampang kok ternyata. Cek gambar atau catatan di bawahnya ya.

Bahan :
- 250 mg tepung terigu protein sedang (griffig weizen mehl/ segitiga biru)

- 250 mg gula halus
- 125 ml fresh milk (susu poan)
- 2 butir telor utuh
- 1 butir kuning telor
- pasta pandan secukupnya/ pewarna lain sesuai selera

Cara :
1. Semuanya kecuali pasta pandan, dimixer sampai kaku.

2. Pisahkan sedikit adonan untuk dicampur dengan pasta pandan.
3. Masukkan adonan tanpa warna ke dalam cetakan hingga hampir penuh. Penuhkan dengan adonan berwarna.
4. Masukkan ke dalam panci kukus, beri jarak satu sama lain agar mekar sempurna.
5. Bungkus tutup panci dengan lap bersih.

6. Kukus selama kurang lebih 15 menit (air dalam kukusan harus sudah mendidih dulu, tutup panci dibungkus lap untuk menyerap embun supaya tidak netes ke adonan. Tetesan air bisa menyebabkan mekarnya ga kece)

Itu resepnya saya nyontek di sini. *terimakasih mba Farros udah nulis di blog nya


Baca juga : Resep Apfelstrudel, Resep Sup Telur Sayur, Resep Muffin Coklat






Share:

Imunisasi, Ya atau Tidak?

Suatu hari saya membaca sebuah status emosional yang kebetulan muncul di timeline facebook saya. Seseorang sedang menyatakan untuk say no pada vaksin dan mengajak teman-temannya untuk juga tidak usah mengimunisasikan anaknya. Dia baru saja memutuskan anak kedua dan ketiganya untuk tidak diimunisasi sama sekali, alasannya karena anak pertamanya baru saja terkena hepatitis B padahal sudah pernah diimunisasi.

Vaksin saat ini berkembang semakin banyak jenisnya. Saya amati banyak sekali orang tua muda yang bertanya-tanya, apakah buah hatinya harus diimunisasi lengkap atau tidak. Salah satu penyebab kebingungan adalah karena adanya kelompok vaksin wajib (yang disubsidi oleh pemerintah) dan vaksin tidak wajib tapi direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ada juga orang tua yang pernah bertanya-tanya, jangan-jangan vaksin kini tak lain hanyalah produk “bisnis”. Sebagian lagi karena khawatir akan keamanan vaksin. Ini soalnya buah hati ya. Sayapun punya anak sehingga bisa merasakan betapa ingin memberikan perlindungan terbaik untuk buah hati. Tapi manakah yang terbaik, imunisasi atau tidak?

Dear ayah bunda, tetap tenang dan tidak perlu bingung. Untuk memantapkan hati kita cukup perlu merefresh lagi pemahaman kita tentang vaksin dan menggali informasi sedalam-dalamnya. Bisa dengan berkonsultasi secara langsung kepada praktisi kesehatan yang dipercaya atau mengulik sendiri informasi yang valid tentang vaksin dari media. Namun hati-hati dalam memilih media. Sebaiknya pilihlah media yang sudah jelas terpercaya, misalnya jika dari internet, website resmi Ikatan Dokter AnakIndonesia atau website Biofarma (produsen vaksin milik negara Indonesia). Atau website lain dengan domain ".gov" atau ".org". Sebetulnya informasi lengkap tentang setiap vaksin (hingga ringkasan laporan hasil penelitiannya) bisa juga diunduh dengan mudah di website resmi WHO. Hanya memang menggunakan bahasa Inggris.

Mengapa imunisasi itu perlu? Imunisasi adalah cara untuk memancing respon imun tubuh, agar memiliki kekebalan alami terhadap infeksi pernyakit tertentu. Jika suatu saat nanti ternyata bakteri atau virus penyebab infeksi memapar tubuh, tubuh sudah siap dengan antibodi alaminya untuk melawan paparan bakteri atau virus tersebut. Sehingga tubuh terhindar dari infeksi atau kalaupun sakit, tidak separah jika infeksi datang sebelum kita diimunisasi.

Kemajuan teknologi juga berefek pada meningkatnya imigrasi (perpindahan penduduk). Ingat bahwa, berpindahnya seseorang dari suatu daerah ke daerah sangat mungkin membawa serta bakteri atau virus yang endemik di daerah sebelumnya.

Anak-anak usia sekolah paling rentan terinfeksi karena sistem imunnya umumnya belum sesiap kita orang dewasa. Mereka bisa mendapatkan infeksi dari mana saja, lingkungan sekolah (temannya yang terlebih dahulu terinfeksi misalnya), di jalan, lingkungan bergaul di sekitar rumah, dan sebagainya. Mereka juga sangat mungkin menularkan pada anak-anak pra sekolah dan anak-anak lebih muda yang belum diimunisasi ataupun memang belum waktunya diimunisasi.

Hampir semua vaksin yang sudah ada di dunia ini adalah vaksin untuk mencegah infeksi penyakit serius, yang bisa berdampak pada gejala sakit parah, kecacatan, atau bahkan kematian.

Pertimbangkan juga 3 hal di bawah ini jika Ayah Bunda belum mantap untuk mengimunisasikan buah hatinya 

Dalam memantapkan diri untuk mengimunisasikan buah hati, biasanya hal-hal berikut ini yang dipertimbangkan :

1.      1.  Masalah Keamanan dan Mutu Vaksin

Jika kekhawatiran ayah dan ibu adalah masalah keamanan, maka sesungguhnya ayah dan ibu tidak perlu khawatir karena vaksin yang resmi aman untuk digunakan.

Vaksin baru sebelum digunakan oleh masyarakat sudah diteliti selama bertahun-tahun dan juga terus di-review dengan hati-hati oleh para ilmuwan, dokter, pemerintah, dan lembaga kesehatan dunia untuk memastikan keamanannya. Total waktu  penelitian ini bisa memerlukan waktu hingga 12 tahunan.

Proses produksi vaksin juga harus mengikuti regulasi Cara Pembuatan Obat yang Baik yang terstandarisasi dan mengacu pada Good Manufacturing Process yang juga dilakukan di negara-negara maju di dunia. ini dilakukan agar kualitas vaksin terjaga. Sebelum diedarkan, setiap lot produk vaksin harus lulus uji mutu (Quality Control) dan  uji jaminan mutu (Quality Assurance) yang dilakukan oleh produsen vaksin, serta lulus pemeriksaan BPOM. Jadi pengawasannya bertingkat. Setelah lulus, setiap lot vaksin akan diberi sertifikat lulus uji oleh BPOM. Ini untuk menjaga kualitasnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, jika Ayah Bunda ragu, konsultasikan pada praktisi kesehatan atau mempelajari info lengkapnya di website yang terpercaya.

2.      2.  Masalah Efek Vaksin

Seperti obat, vaksin juga mengenal efek samping dan tentunya efek yang diharapkan.

Efek samping tiap vaksin berbeda-beda, tapi umumnya efek sampingnya minor seperti radang pada bagian kulit yang diimunisasi atau sedikit demam selama beberapa hari setelah imunisasi. Efek samping bisa muncul bisa tidak. Efek samping serius yang bisa muncul seperti reaksi alergi misalnya. Oleh karena itu informasikan juga pada dokter jika buah hati punya riwayat alergi terhadap bahan tertentu. Informasi efek samping setiap vaksin juga bisa dipelajari di website yang terpercaya tadi.

Sebagian orang tua yang ragu mengimunisasikan buah hatinya juga mungkin mempertanyakan apakah vaksin akan memberikan efek yang diharapkan. Efek yang diharapkan biasanya disebut sebagai efikasi. Seperti sudah saya sampaikan tadi, sebelum dipasarkan, vaksin sudah melalui tahap penelitian panjang. Di antara tahap penelitian itu, juga bertujuan untuk melihat efikasinya. Hasil penelitian efikasi biasanya menunjukkan persentase keberhasilannya. Misalnya persentase keberhasilannya 99%, maka dari 100 orang yang diimunisasi saat penelitian, hanya 1 yang tetap terjangkit penyakitnya, namun umumnya lebih tidak parah dibanding jika tidak menerima imunisasi sebelumnya. Kalau ragu, konsultasikan saja terlebih dahulu kepada dokter.

3.       3. Masalah Sosial, Ekonomi, dan Agama

Beberapa orang mungkin pernah mendengar bahwa ada beberapa jenis vaksin tertentu yang dalam prosesnya menggunakan atau bersentuhan dengan bahan yang berasal dari hewan tertentu yang tidak diperbolehkan oleh agama atau bertentangan dengan norma sosial.

Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia karena perusahaan vaksin milik negara Indonesia tidak menggunakan bahan yang berasal dari hewan. Ini dinyatakan di website resminya dan juga dalam suatu kuliah yang pernah saya hadiri, Bapak Dirut Biofarma saat itu juga menyatakan bahwa perusahaan itu menghindari menggunakan bahan yang bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat kita.

Ada satu vaksin yang beredar di Indonesia yang dalam prosesnya memang bersentuhan dengan bagian tubuh Babi, namun pernah diklarifikasi bahwa proses itu tidak bisa dihilangkan dan itu sudah melalui proses pembilasan berkali-kali sehingga tidak mengandung lagi unsur Babi pada produk akhir. Untuk hal ini, MUI juga sudah mengeluarkan fatwa bahwa untuk vaksin tersebut, hukumnya diperbolehkan, selama belum ada penggantinya. Alhamdulillah bagi kita yang muslim dan tinggal di Indonesia, kerja sama yang baik antara produsen vaksin, pemerintah, dan MUI bisa memberikan ketenangan pada kita dalam menyikapi masalah vaksin ini.

Bagaimana mempertimbangkan faktor ekonomi dalam memutuskan imunisasi atau tidak? Gampang saja, pertimbangkan berapa biaya imunisasi yang Ayah dan Bunda perlukan untuk jenis penyakit tertentu. Lalu bandingkan dengan kerugian kalau buah hati tidak diimunisasikan, lalu (nauzubillahimindzalik) dia terinfeksi sebelum mendapatkan vaksin itu.

Contoh, ini pengalaman pribadi saya sendiri. Saya tidak mengimunisasikan anak saya rotavirus (untuk melawan virus yang menyebabkan infeksi saluran cerna, gejalanya demam, diare dan muntah-muntah berat). Vaksin rotavirus direkomendasikan oleh IDAI tapi waktu itu belum termasuk vaksin wajib. Saya harus membayar cukup mahal, berdekatan dengan itu, ada imunisasi lain yang juga mahal harganya. Karena saya pikir-pikir infeksi rotavirus itu kan hubungannya dengan higienitas, sementara saya yakin akan higienitas lingkungan anak saya, sehingga saya putuskan untuk tidak mengimunisasikan anak saya rotavirus.

Sekitar 1,5 tahun kemudian, di negara yang berbeda, di Austria, ternyata anak saya terkena infeksi virus ini. Sumbernya tidak disangka-sangka, akibat kontak dengan temannya yang ternyata sedang terserang virus ini di hari pertama, sementara orang tuanya belum menyadarinya.

Anak saya berumur 2 tahun, dia harus dirawat di rumah sakit selama kurang lebih 1 minggu. Temannya tidak harus dirawat di rumah sakit, dia sudah pernah mendapatkan imunisasi ini dan umurnya juga 1 tahun lebih besar.

Total biaya rumah sakit yang harus kami keluarkan kurang lebih 3 kali lipat biaya imunisasi vaksin rotavirus, padahal ini sudah dibantu dengan asuransi. Belum kerugian waktu. Anak kami kehilangan waktu bermain, bereksplorasi, sebaliknya dia tergolek lemah di rumah sakit. Selama satu minggu saya ikut tinggal di rumah sakit karena anak saya tidak mau lepas dari saya. Di malam hari hanya saya sendiri yang menemani anak saya karena memang sudah ketentuan dari rumah sakit, hanya satu orang yang boelh menemani. Suami saya di siang hari ijin tidak ke kantor karena jelas kepikiran anaknya yang dirawat di rs, sementara kami bertiga jauh dari keluarga besar. Belum lagi energi yang dikeluarkan, stress, dan juga menyita pikiran keluarga besar. Sepulang anak saya dari RS, gantian suami yang terkena virus ini. Pada saat itu saya dan pihak RS juga menyesalkan anak saya tidak diimunisasi rotavirus. Sejak saat itu betul-betul deh ya, saya bertekad untuk memperjuangkan anak saya mendapatkan semua imunisasi yang sudah ada..

Sekarang, yuk sama-sama jadi masyarakat yang bijak dalam menyikapi vaksin. Jangan dulu katakan tidak pada imunisasi sebelum mempertimbangkan ketiga aspek di atas. Meskipun pada akhirnya keputusan ada pada masing-masing, namun sebaiknya dipertimbangkan juga matang-matang termasuk untung dan ruginya.

Keputusan untuk tidak mengimunisasikan anak terutama untuk vaksin-vaksin yang mencegah penyakit serius ini sama artinya dengan membiarkan anak dan siapapun di sekitarnya untuk terinfeksi penyakit serius. Iya, masalah sakit sudah diatur oleh Allah. Namun berikhtiar untuk tidak terserang penyakit adalah kewajiban kita. Imunisasi adalah salah satu pilihan jalan untuk ikhtiar itu.






Share:

Friday, 5 May 2017

Mendampingi Suami Sekolah di Luar Negeri? Kenapa Tidak?!

Makna judul tulisan saya ini mungkin menyuarakan hati sebagian istri yang sedang atau sudah mendampingi suami sekolah di luar negeri. Bagi sebagian yang lain, mungkin sebaliknya. Sementara bagi saya?

Sejak sebelum menikah, saya sudah tau bahwa calon suami saya mungkin suatu hari nanti harus melanjutkan sekolah di luar negeri, bukan setahun atau dua.. tapi minimal tiga tahun. Sementara saya, yang dalam diri saya saat itu mengalir darah muda, tersimpan energi besar, dan haus untuk mengejar ambisi dan cita-cita di masa depan, tidak ambil pusing. Bagi saya saat itu, kalau mesti LDR dulu selama suami saya sekolah di luar negeri, kenapa mesti takut?!

Seorang teman saya saat kuliah, justru berpandangan sebaliknya. Baginya, keliling dunia adalah salah satu passion-nya. Bahkan dia menantang calon suaminya untuk sanggup mengajaknya keliling dunia setelah mereka menikah. Matre! Demikian celoteh saya sambil tertawa. Maka dialah yang pertama kali menentang keberanian saya untuk LDR selama suami sekolah di luar negeri. Katanya, "demi apa lo rela LDR? Demi kerja banting tulang buat siapa? Kalau suami gue yang nanti sekolah ke luar negeri, ya gue bakal ikutlah, ga semua orang bisa jalan-jalan ke luar negeri, apa lagi sampai tinggal di sana."

Sungguh semua bagian perkataan teman saya saat itu terdengar matre di telinga saya. Matanya tampak duitan di mata saya. Tapi nyatanya, kata-katanya malah terngiang-ngiang terus di pikiran saya.

Waktu terus berlalu. Kami sudah menikah. Saya berhasil meraih cita-cita karir saya semenjak sebelum menikah. Bekerja di industri kosmetik dalam negeri, turut berjuang mengharumkan nama bangsa di mata bangsa kita sendiri minimal, dan di kancah internasional, melakukan pekerjaan yang saya cintai, dikelilingi oleh orang-orang yang baik, dan dibayar dengan jumlah yang melebihi ekspektasi awal saya. Dari situ saya belajar menabung dan bersedekah. Masa-masa itu saya seperti sedang on fire. Semuanya on the track seperti yang saya inginkan. Meskipun satu yang belum tercapai... berhenti LDR. Ya, sejak menikah, kami memang sudah LDR karena saya dan suami bekerja di kota yang berbeda.

Suatu hari suami saya memberanikan dirinya untuk jujur. Dia meminta saya untuk berhenti LDR. Kala itu, saya sedang hamil. Alasannya sederhana. Beberapa bulan lagi tiba waktunya ia harus berangkat ke luar negeri untuk sekolah. Momen dalam hidupnya yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini. Apa iya, dari sejak menikah, sampai berangkat sekolah ke luar negeri, kita belum pernah tidak LDR?

Saya memintanya bersabar untuk menunggu saya berpikir dan memantapkan hati. Sesungguhnya keluarga adalah prioritas saya, tapi apa iya saya harus berhenti sekarang, di saat karir saya sedang baik dan di kala ia akan berangkat ke luar negeri selama bertahun-tahun sementara saya entah kapan bisa menyusulnya bersama anak kami?

Saya bertanya kepada Yang Kuasa, memohon petunjuk dari-Nya. Saya berusaha berpikir logis selama berhari-hari. Tetapi semakin hari realita justru yang menjadi tidak logis. Mendadak apa yang saya cintai dari karir saya menjadi berbeda. Ini seperti kalau kita sedang menonton video, flow-nya terus-menerus maju, dan semakin seru, lalu tiba-tiba videonya jadi lambat, ceritanya monoton, dan membosankan, bahkan, menjadi suram. Video itu adalah gambaran karir saya waktu itu.

Bagi saya ini seperti tamparan dari Allah. Saya berusaha mempertahankan untuk bekerja di suatu tempat yang atasnya suami saya tidak ridho. saya sudah mempertahankan apa yang menurut saya baik untuk saya dan keluarga saya kelak, tapi sebaik-baiknya hal yang baik, adalah yang baik menurut Allah, dan mentaati permintaan suami selama itu bukan di jalan yang mungkar adalah salah satunya...

Tak berselang lama semenjak saya berhenti, rejeki tetap terus mengalir Alhamdulillah. Saya tetap melakukan apa yang saya suka kerjakan, praktek di dunia saya dunia kefarmasian dan masih berkiprah pula untuk industri yang secara fisik sudah saya tinggalkan itu, dan saya dibayar untuk itu serta ditambah dengan momen indah sebagai seorang ibu yang bisa bersama dengan anaknya hampir di seluruh waktunya. Ya, saya tetap bekerja. Tawaran pekerjaan itu datang sendiri tanpa saya yang melamar. Bukan satu, tapi empat. Dan semuanya bisa saya kerjakan di dekat anak saya yang baru lahir. Nikmat dunia mana yang hendak kau dustakan?

Menjelang keberangkatan suami ke luar negeri hingga bulan-bulan awal setelah keberangkatannya, kami menerima banyak sekali kunjungan dari teman dan kerabat. Kunjungan dalam rangka menengok anak kami yang baru lahir sebetulnya. Maka topik apakah saya akan segera menyusul hampir tak pernah luput dari perbincangan.

Di antaranya sangat mendukung saya dan anak kami segera menyusul, buah bibir yang ternyata sangat memotivasi dan menyemangati kami, tapi tak sedikit juga yang nyinyir. “Ngapain kamu ikut-ikutan segala? Terus ngapain di sana? Ngurus suami sama anak aja? Sayang banget gelarmu.” Dan lain sebagainya yang senada. Helloooo apa salahnya ya tinggal bareng dan ngurus suami dan anak sendiri? Tapi ya, boro-boro kalimat ini terucap untuk menjawab mak nyinyir.. yang ada hati malah menjadi galau. Dududu...

Saya sudah lelah mempertanyakan hal-hal duniawi. Toh hidup yang kekal hanya di akhirat. Sejak punya anak, saya merasa kematian itu menjadi semakin nyata. Kematian tak terlihat lagi sebagai akhir dari segalanya, tapi justru awal dari kehidupan yang kekal di akhirat. Ditambah lagi kehadiran buah hati kami, yang ingin kami tumbuhkan dalam lingkungan cinta kasih kedua orang tua nya semaksimal mungkin. 

Berkaca dari pengalaman saya sebelumnya, saat-saat bimbang untuk berhenti kerja, saya putuskan sudah dengan bismillah, saya hanya akan niatkan semuanya yang di depan sebagai ibadah. Saya jalani peran utama saya sebagai istri dan ibu karena ibadah. Dan itu menjadi yang utama bagi saya. Pekerjaan dan rejeki adalah hal yang bobot duniawi nya lebih besar bagi saya yang seorang wanita bersuami, akan saya kejar sebisa saya, tapi prioritas saya bukan itu lagi. Saya yakin, insyaAllah rejeki sudah dijamin oleh Allah. Toh saya sudah membuktikannya sendiri.

Bulan-bulan awal setelah keberangkatan suami ke luar negeri adalah masa-masa terpelik dalam sejarah LDR rumah tangga kami waktu itu. Ironis, kami hidup di jaman di mana teknologi sudah sangat sangat maju, tapi ternyata komunikasi ga segampang itu dijalani. Kurang lebih lima sampai enam jam perbedaan waktu antara kami. Suami sudah bangun pagi, saya masih terlelap kelelahan di tengah malam. Suami istirahat siang di kantornya, saya di Indonesia masih pagi, jam-jamnya rempong rutinitas pagi sama anak bayi yang baru bangun. Suami saya pulang dari kantor, jam saya bekerja. Jam kerja saya selesai, suami sudah terlelap di malam hari. Hahaha. 

Alhamdulillah Allah memberikan hadiah atas kesabaran kepada kami hingga beberapa bulan kemudian, berakhirlah masa-masa LDR kami itu. Allah memberikan kami kesempatan dan kemampuan untuk bisa tinggal bersama. Suatu hari suami saya datang menjemput saya dan anak untuk tinggal bersama dengannya di luar negeri
.
Ya, di sini saya menjalani peran penuh sebagai istri dan ibu yang tidak didampingi asisten dan jauh dari keluarga. Berat, menjalani rutinitas pekerjaan yang sama setiap hari, setelah sebelumnya terbiasa dalam titian karir. Karisma titian karir yang saya tinggalkan itu berganti dengan pengalaman luar biasa dalam hidup saya. serunya kejar-kejaran dengan anak, pekerjaan rumah, mendidik buah hati sesuai dengan visi misi berdua (dengan suami), belajar menjadi koki ala-ala, kursus bahasa, menimba ilmu, menulis, menikmati hobi yang lain, quality time bersama suami dan anak, video call dengan keluarga, bersosialisasi dengan orang-orang baru, menikmati kerinduan bertemu orang tua, menikmati up and down realita hidup bersama suami, berhemat supaya bisa jalan-jalan, mengenal banyak hal baru yang belum pernah saya temukan sebelumnya, serta melihat dunia yang berbeda sangat berbeda dari dunia saya sebelumnya, membuka mata saya, mengubah cara pandang saya akan dunia dan hidup ini.

Ke mana rejeki saya yang dulu? Alhamdulillah Allah masih memberikannya, dalam bentuk yang lain yang datangnya dengan cara tidak terduga, tidak ada surprise yang lebih indah daripada surprise yang datangnya dari-Nya. Sulit untuk mengungkapkan semuanya dengan kata-kata. Tapi saya bahagia, satu chapter dalam hidup saya sedang dilalui. Insya Allah akan memberi energi positif untuk chapter hidup saya selanjutnya nanti.

Leoben, Austria April 2017


<<< Cerita sebelumnya :

>>> Cerita sesudahnya :
Share:

Wednesday, 12 April 2017

Mengajukan Visa Schengen untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria



Visa untuk mendampingi pasangan sekolah di Austria baru bisa diajukan setelah ijin tinggal (residence permit) kita di-approve (baca juga : Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria). Untuk mendampingi pasangan lebih dari enam bulan, maka jenis visa yang diajukan adalah Visa-D. Caranya jauh lebih simpel dibanding saat membuat residence permit.

Setelah mendapatkan konfirmasi dari Kedubes Austria bahwa residence permit sudah di-approve, selanjutnya tinggal membuat appointment online di website Kedubes Austria kapan kita bisa datang lagi untuk mengajukan pembuatan Visa-D. Daftar dokumen yang diperlukan sudah jelas sebenarnya di website Kedubes Austria. Dokumen-dokumen berikut ini yang saya setorkan waktu itu :

1. Formulir Visa-D (bisa di-download di website Kedubes Austria), yang sudah diisi lengkap dengan Bahasa Inggris atau Jerman.

2.  Paspor (dengan masa berlaku minimal masih 6 bulan semenjak hari pertama tiba di Austria, masih memiliki minimal dua lembar kosong, dan diterbitkan maksimal dalam sepuluh tahun terakhir).

3. Pas foto, saya menggunakan foto yang sama dengan foto untuk residence permit

4. Meldezetel pengundang (penjelasannya bisa dibaca ulang di tulisan saya tentang Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria) dan surat kontrak sewa rumah. Waktu itu saya juga menyetorkan surat undangan dari suami yang dikeluarkan oleh kantor kepolisian kota Leoben Austria, tapi ternyata untuk Visa D tidak perlu surat ini.

5. Bukti reservasi tiket pesawat (waktu itu saya menggunakan print out bukti sudah booking tiket, tapi yang belum dibayar. Saya baru benar-benar beli tiket setelah semua dokumen untuk visa masuk ke kedubes dan ada tanda-tanda “lampu hijau”)

6. Surat kontrak beasiswa pasangan

7. Rekening koran tabungan suami & istri tiga bulan terakhir (sama seperti yang digunakan untuk mengajukan residence permit)

8.   Buku nikah

9.  Akta lahir

10. Polis asuransi perjalanan (syarat dan daftar asuransi yang bisa digunakan ada di website Kedubes Austria), dulu saya pakai yang AXA

Seperti saat akan mengajukan residence permit, mengajukan Visa-D Austria waktu itu saya juga harus datang sendiri (karena ada prosedur scan sidik jari). Anak-anak dan bayi sekalipun juga dibuatkan visa nya. Anak saya waktu itu tidak perlu ikut datang ke kedubes Austria karena masih berumur satu tahun, tidak perlu scan sidik jari.

Biayanya yang diperlukan juga sudah ada sih di website-nya. Diintip di sana saja ya hihi. Yang jelas anak-anak umur 0-6 tahun Alhamdulillah masih gratis. Nah jangan lupa perlu cash pas untuk membayarnya.

Pertanyaan wajib dari teman-teman biasanya ini : Berapa lama Visa nya jadi? Nah ini agak susah dijawab ya, soalnya dulu ga dikasih tenggat waktu pastinya. Tapi kalau ga salah, ga sampai sebulan dan itu tepat banget sehari sebelum tanggal berangkat yang saya setorkan di bukti booking tiket (sesuai saran suami, tanggalnya dimajukan dari yang sebenarnya). Itupun suami datang langsung ke Kedubes Austria sebelum ada konfirmasi bahwa visa sudah jadi (suami sengaja pulang ke Indonesia untuk menjemput anak istrinya sekalian ada urusan lain di Indonesia).

Omong-omong, Alhamdulillah ya, visa Austria itu juga Visa Schengen, jadi bisa dipakai untuk mengunjungi semua negara Schengen (25 negara di Eropa) tanpa harus bikin visa lagi. Tinggal berdoa aja mudah-mudahan ada rejekinya. Hehehe...

Peter Turner Park, Leoben 10.04.2017

Baca juga : Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di AustriaDay Care di LeobenHendak ke Luar Negeri Perlukah Vaksinasi TBECatatan Perjalanan Menjangkau Hannover dari Leoben

Share:

Monday, 10 April 2017

Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Aufenthaltstitel alias kartu rsidence permit Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama lebih dari enam bulan. Misalnya seperti saya, tinggal di Austria lebih dari enam bulan untuk mendampingi suami sekolah. Residence permit merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan visa Schengen Austria. Setelah residence permit jadi, barulah kita bisa mengajukan visa.

Residece permit saya baru bisa diurus setelah suami mendapatkan ijin tinggal terlebih dahulu di Austria. Karena mengurusnya butuh waktu berbulan-bulan, maka mau tidak mau ya suami saya berangkat duluan ke Austria. Saya menyusul sekitar sembilan bulan sesudahnya.

Bagaimana cara mengajukan residence permit Austria? Mudah sih sebenarnya, asalkan semua dokumen persyaratannya lengkap dan yang terpenting saldo total dalam rekening pasangan jika digabungkan mencukupi. Hehe. Selebihnya, tinggal perlu punya stok telaten, sabar, tawakal, waktu, dan energi yang banyak saja.

Flowchart nyaa.. jadi jelas atau malah pusing? XD

Memangnya berapa saldo yang diperlukan? Informasi yang saya dapatkan dari petugas loket pengajuan residence permit di kantor kedubes Austria Jakarta waktu saya hendak mengajukan residence permit, saldo rekening disiapkan saja sebanyak-banyaknya, rekening koran berdua (suami dan istri) disiapin semuanya, semakin banyak semakin besar peluangnya di-approve. Eaa.. terimakasih sarannya, memang betul sih, masalahnya kalau saldonya pas-pasan gimana dong mbak? Ahaha..

Karena kami gagal paham dengan jawaban ini, akhirnya suami saya pun bertanya langsung ke kantor kependudukan (Bezirk) di Leoben Austria. Dari sana kami mendapat pencerahan. Pada intinya, pasangan yang hendak berkumpul (tinggal) dengan suami atau istrinya di Austria, perlu menyiapkan dana di rekening untuk menjamin hidupnya minimal sampai masa berlaku residence permit habis, yaitu satu tahun. Dana ini tidak harus berbentuk saldo di rekening seluruhnya, namun bisa juga dalam bentuk “penjaminan” berupa surat kontrak beasiswa dengan instansi/ perusahaan di Austria. Dalam surat kontrak tersebut harus disebutkan berapa nominal penghasilan netto per bulan atau per tahun suami dan lama waktu kontrak. Jika ternyata nominal penghasilan netto satu tahun kurang dari nominal dana minimal yang disyaratkan, maka kekurangannya itulah yang harus disediakan di rekening pasangan suami istri (digabung, boleh rekening Austria ataupun Indonesia), tapi sebaiknya dilebihkan barang sedikit (jangan pas-pas amat). Nominal yang disyaratkan ini ternyata bisa berbeda-beda, tergantung jumlah anggota keluarga yang ikut tinggal di Austria.

Pada saat saya mengajukan residence permit tahun 2015, hingga saat ini tahun 2017, syaratnya kurang lebih ya, pastinya agak lupa euy, dihitung untuk pengundang per bulan sekitar EUR 900, orang dewasa yang ikut tinggal (pasangan misalnya) EUR 350, anak-anak EUR 150 per anak. Jadi tinggal dihitung sesuai kebutuhan masing-masing, ditotal per-bulannya, kemudian dikurangi kontrak beasiswa per-bulan, lalu dikalikan 12 (jumlah bulan dalam satu tahun). Itu adalah saldo minimal yang sebaiknya ada di tabungan, tapi sebaiknya dilebihkan.

Kekurangan dana yang harus kita sediakan di rekening tersebut, sebaiknya sudah mengendap selama minimal tiga bulan sebelum aplikasi residence permit diajukan. Ini dibuktikan dengan rekening koran dari Bank. Waktu itu saya tidak perlu Bank Statement

Setiap kita akan memperpanjang residence permit, dana tersebut juga harus ada di rekening kita. Sebagai catatan, masa berlaku residence permit normalnya satu tahun. Tapi pada teknisnya bisa berubah menjadi lebih pendek mengikuti masa berlaku residence permit pengundang. Jadi misalnya, suami saya residence permit-nya pertama kali dikeluarkan pada Januari 2015. Maka satu tahun kemudian, yaitu Januari 2016 harus diperpanjang (ini jelaslah ya). Nah, residence permit saya dikeluarkan bulan September 2015, maka seharusnya habis September 2016 kan.. tapi tidak begitu kenyataannya. Karena masa berlakunya mengikuti milik suami (pengundang), jadi bulan Januari 2016 residence permit saya jadi harus diperpanjang juga. Dengan kata lain masa berlakunya tereduksi menjadi hanya 4 bulan saja.

Pengurangan masa berlaku residence permit juga bisa terjadi karena masa berlaku paspor habis sebelum masa berlaku residence permit yang seharusnya habis. Misal, tahun depan Januari seharusnya residence permit saya baru habis masa berlakunya, tetapi paspor saya sudah akan habis masa berlakunya pada bulan Agustus tahun ini. Maka otomatis residence permit saya hanya berlaku hingga Agustus tahun ini dan bulan Agustus nanti harus diperpanjang lagi sampai Januari tahun depan kalau saya masih mau tinggal di Austria ini. Omong-omong, harga perpanjangannya normal ya, ga ada diskon. Huhu.

Selain surat kontrak kerja atau beasiswa dan rekening koran, dokumen apa saja yang perlu disiapkan?

Pada waktu itu saya perlu menyerahkan (tertulis juga di website kedubes Austria):

1. Akte lahir, asli dan dilegalisasi Depkumham & Deplu, serta terjemahan yang juga dilegalisasi Depkumham & Deplu

2. Buku nikah, asli dan dilegalisasi Depkumham & Deplu, serta terjemahan yang juga dilegalisasi Depkumham & Deplu

3. SKCK yang masih berlaku dari Polda sesuai KTP kita, asli dan dilegalisasi Depkumham & Deplu, serta terjemahan yang juga dilegalisasi Depkumham & Deplu

4. Fotokopi paspor (bagian yang ada data diri kita, difotokopi satu halaman HVS jangan dipotong)

5. Satu pas foto dengan kriteria yang sama dengan kriteria foto untuk paspor, atau klik ini. Saya bawa lebih dari satu foto untuk jaga-jaga

6. Surat bukti tempat tinggal pengundang di Austria (Meldezettel) à ini biasanya diajukan oleh pengudang setelah dirinya sampai di Austria. Diajukannya di balai kota setempat (Rathaus).

7. Surat kontrak sewa rumah

8. Bukti asuransi kesehatan di Austria milik pengundang (scan kartu asuransi/ e-card dan polis, lalu print)

9. Kartu residence permit milik pengundang, scan lalu print

10. Formulir yang sudah diisi lengkap dengan bahasa Inggris atau Bahasa Jerman. Formulir bisa di download sendiri di website kedubes Austria.

Nah, yang penting untuk diketahui adalah akte lahir, buku nikah, dan SKCK harus dilegalisasi dahulu oleh Depkumham, Deplu, dan kedubes Austria, lalu di-translate oleh penerjemah tersumpah ke Bahasa Jerman. Hasil translate-nya dilegalisasi juga oleh Depkumham, Deplu, dan Kedubes Austria. Proses ini lumayan memakan waktu, hmm rasanya ada kalau satu bulan sendiri. Tapi untuk yang legalisasi translate-an di Kedubes Austria, bisa dilakukan terakhir bersamaan dengan kita memasukkan aplikasi untuk pengajuan residence permit.

Siapa penerjemah tersumpahnya? Saya dulu ke Bapak Robani, beliau reputable dan berlokasi di Jakarta Selatan. Tapi kita tidak harus datang langsung ke kantornya, cukup telepon, menanyakan biayanya, lalu minta alamat untuk pengiriman dokumennya (kirimkan dengan asuransi). Nomor kontaknya ada di sini. Di situ ada juga daftar penerjemah tersumpah lainnya.

Kalau tidak salah perlembar berapa ya.. aduh lupa.. tapi berapa ratus ribuan kok. Waktu itu saya tinggal di Jawa Tengah dan kebetulan ada teman di Jakarta yang bisa dimintai tolong, jadi teman saya itu datang dan menjemput langsung dokumennya ke kantor penerjemah tersumpahnya itu. Alhamdulillah, semoga dia mendapat kebaikan yang banyak dari Allah.

Setelah semua dokumen dan dana siap, buat appointment online melalui website kedubes Austria. Jangan sampai berangkat ke kedubes tanpa membuat appointment online, karena appointment harus dilakukan maksimal sehari sebelumnya. Jangan lupa pada saat mengajukan legalisasi di kedubes, sediakan uang cash, sebaiknya uang pas, karena kalau tidak ada kembalian ya kita harus ikhlas. Waktu itu di sana tidak menerima pembayaran dengan kartu debit.

Apakah kita harus datang sendiri ke Kedubes atau bisa diwakilkan? Dulu waktu saya mengajukan, ya, saya harus datang sendiri ke kedubes pada saat mengajukan aplikasi residence permit sambil membawa semua dokumen. Karena seingat saya, scan sidik jari kita diperlukan di sana. Untuk urusan legalisasi dan terjemahan bisa diwakilkan.

Apakah anak-anak juga dibuatkan residence permit juga? Iya, anak-anak atau bayi sekalipun tetap dibuatkan ya. Anak saya berumur satu tahun waktu itu. Dia juga memiliki kartu residence permit yang sama dengan saya, atas nama dirinya sendiri. Syaratnya sama. Cuma karena masih bayi, scan sidik jari dan SKCK nya tidak diperlukan, jadi dia tidak perlu ikut datang ke kedubes. Batas usia anak berapakah yang tidak perlu datang langsung, nah itu saya ga tau. Ehe..

Apakah ada syarat luas rumah? Ohya, soal rumah. Ternyata ada peraturannya luas minimal rumah untuk tinggal, katanya minimal 12 m persegi per orang yang tinggal di rumah tersebut. Waktu itu ukuran rumah kontrakan kami hanya 30 m persegi dan ditinggali oleh saya, suami, dan anak kami yang masih berumur satu tahun. Sempat dipertanyakan juga, tapi akhirnya diloloskan juga karena kami beranggapan anak kami masih kecil dan tidak akan tinggal lama ini di Austria. Fyi, saya tidak merekomendasikan rumah yang "terlalu padat" seperti itu ya, karena ternyata kondisi kelembaban rumah jadi tidak sehat terutama pada saat musim dingin. Tentu bentuk, struktur bangunan, dan lokasi juga menentukan ya, tapi kalau bisa jangan "terlalu padat" deh. Pada akhirnya kami sekarang sudah pindah ke apartemen yang sedikit lebih luas untuk kami bertiga. Alhamdulillah  XD

Sejak semua dokumen kita masuk ke kedubes Austria, berapa lama residence permit kita akan keluar? Berapa ya, rasanya ada kalau satu bulan. Hehe saya lupa pastinya. Jadi semua dokumen kita itu dikirimkan ke Austria oleh kedubes Austria Jakarta. Bezirk Austria yang akan melakukan penilaian dan memberikan keputusan apakah pengajuan kita di-approve atau ada yang kurang. Waktu itu saya rajin mengonfirmasi via telepon ke kedubes Austria di Jakarta, rasanya setiap satu minggu ya kalau tidak salah. Setelah mendapatkan kabar bahwa dokumen kita sudah sampai di Bezirk Austria, suami saya menanyakan langsung keputusannya apakah bisa di-approve via email ke petugas Bezirk Leoben. Tidak berapa lama, approval-nya pun keluar. Alhamdulillah.

Setelah mendapatkan email approval dari Bezirk, sekitar beberapa hari kemudian, saya menghubungi kedubes Austria di Jakarta untuk mengonfirmasi, apakah saya sudah bisa mengajukan visa. Petugas di kedubes akan menginfokan mulai kapan kita bisa mengajukan visa.


Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan gambaran ya, buat siapa saja yang membutuhkan info ini. Selamat berjuang dan semoga sukses! J

Salam dari Leoben,

Share:

Tuesday, 4 April 2017

Catatan Perjalanan Bapak Siaga, Bumil, dan Batita Menjangkau Hannover dari Leoben

Hari yang dinanti tiba. Kami sekeluarga jadi melancong ke Hannover. Bukaaan.. bukan buat jalan-jalan tujuan utamanya. Tapi konferensi suami saya. Pak suami direkomendasi oleh pembimbing tesisnya untuk ikut dalam konferensi geologis di Hannover pada awal Maret 2017 lalu. Biaya transportasi dan akomodasi akan di-reimburse, tapi syaratnya PP naik kereta pakai vorteilscard (kartu diskon tiket kereta Austria). Suami saya bilang ke pembimbingnya kalau dia punyanya vorteilscard family, diskonnya baru berlaku kalau bepergian bersama anak. Eladalah rejeki anak, pak pembimbing bilang, “Ya udah, ajak aja istri sama anakmu...”

Alhamdulillah... bisa ngekor.. ngebolang berdua sama anak di Hannover (selagi suami konferensi). Nikmat-Nya mana yang hendak kau dustakan... (ngomong di depan kaca).

Leoben dan Hannover, dua kota di dua negara yang bersebelahan, Austria dan Jerman. Jaraknya kira-kira 900-an km atau setara dengan Bandung-Malang. Ditempuh dengan kereta perlu waktu sekitar 12,5 jam perjalanan totalnya di atas kereta. Tapi karena tidak ada kereta langsung ke Hannover dari Leoben, dan adanya dari Wina yang terdekat, ya jadi kami ke Wina dulu. Naik kereta dari Leoben ke Wina sekitar 2,5 jam, lanjut dari Wina ke Hannover 10 jam-an.

Di Austria, tiket kereta yang kita beli biasanya belum termasuk reservasi kursi. Kita harus membayar ekstra untuk reservasi kursi. Tapi dari Leoben ke Wina kami tidak perlu reservasi kursi karena biasanya banyak kursi yang nganggur. Hehehe.. terutama di bagian gerbong yang ada fasilitas kino alias bioskop mini untuk anak-anak. Gerbong ini biasanya letaknya di ujung paling belakang atau paling depan kereta, ada area parkir stroller-nya juga di dalam gerbong.

Nunggu kereta di stasiun Leoben. Stasiunnya kecil ya, namanya juga di kota kecil. Tapi untuk ukuran kota kecil, stasiunnya cukup hi-tech dan ramah stroller, kursi roda dan sepeda.

Dari Wina ke Hannover kami naik City Night Jet, alias kereta malam milik OeBB (KAI-nya Austria). Kami pilih kereta malam dari Wina ke Hannover, tujuannya untuk menyamakan dengan jam tidur anak, menghindari sebanyak mungkin anak bosan di dalam kereta.  Untuk kereta yang ini, kami sudah reservasi kursi sekaligus saat membeli tiket, karena perjalanan panjang, bisa mati gaya kan kalau sampai tidak dapat kursi. Kami pesan tiga kursi termasuk untuk anak kami, meskipun demikian untuk anak kami masih gratis karena umurnya masih 27 bulan. Alhamdulillah.

Makan malam di stasiun Wien-Meidling Wina, makan Kebap box di ruang tunggu. Enyaak.. dan insya Allah halal :)
Makanan habis, kereta belum datang. "Bapak siaga" membunuh waktu dengan nemenin anak menggambar bebas. Batita kami yang dasarnya memang suka sekali menggambar jadi 'anteng'. Bumil jagain barang bawaan sambil duduk di kursi khusus lansia, bumil, dan difable, yang juga merupakan satu-satunya kursi tunggu pakai busa. Wkwkwk.

Kami mendapatkan kursi di dalam kompartemen di kereta dari Wina ke Hannover, semacam kompartemen di kereta menuju Hogwarts dalam cerita Harry Potter. Dalam setiap satu kompartemen ada enam kursi. Pada saat akan masuk, di samping pintu setiap kompartemen tertulis kursi mana saja yang sudah dipesan dan dari stasiun mana pemesan kursi akan naik, juga di mana mereka akan turun. Informatif. Buat kami, ini berguna banget buat mengatur strategi invasi kursi orang lain dengan tenang. Hihihi...

Di kompartemen kami, tiga kursi untuk kami, dua kursi untuk orang lain yang naik dari stasiun lain di perbatasan dengan Jerman, dan satunya kosong. Tapi ternyata.. dua orang lainnya itu tidak datang. Yeyeyy jadi kami bisa pakai semua kursinya. Semua kursi bisa ditarik maju sehingga saling berimpitan membentuk seperti kasur. Kami bertiga bisa tidur selonjoran sepanjang perjalanan. Meskipun hanya anak kami yang benar-benar bisa tidur. Hahhaa.. Di tengah malam, memasuki stasiun pertama di Jerman setelah melewati perbatasan dengan Austria, kereta berhenti untuk pengecekan kartu identitas dan passpor penumpang oleh polisi Jerman. Yaaa paling tidak kami bisa selonjoran sepanjang perjalanan dan anak tidak rewel sudah Alhamdulillah. Sebelumnya sudah siap-siap mental, dikira bakal semalaman duduk sambil mangku anak supaya bisa tidur. Hihi..

Kursinya depan-depanan semuanya bisa ditarik maju, berimpitan. Kebetulan yang di foto ini belum selesai ditarik, lumayan sudah bisa dipakai selonjoran :D 
Barang bawaan kami. Kata teman-teman di Hannover, bawaan kita dikit banget untuk ukuran travelling 7 hari 6 malam satu keluarga. Satu ransel besar untuk perlengkapan selama di Hannover, dua tas ransel kecil berisi barang-barang kebutuhan selama perjalanan, seperti diaper, cemilan, dkk.
Kereta kami berangkat sekitar pukul sembilan malam dari Wina, dan tiba di Hanover Hauptbahnhof (stasiun kereta utama di Hannover) sekitar pukul tujuh pagi. Kami bergegas mencari tempat sarapan karena bumil (yang adalah saya sendiri) butuh pertolongan hahaha.. morning sickness datang euy... tapi alhamdulillah ga hoek hoek, hanya mual dan sendawa-sendawa saja seperti orang masuk angin. Untungnya kami bawa ini :

Minyak kayu putih tak lupa saya bawa ke mana-mana setiap bepergian menginap bersama anak

Waktu itu kami hanya mendapati McD, tempat makan yang rasanya akan cocok di lidah. Yang lainnya roti atau per-babi-an.. bumil solehah (aamiin) lagi picky, ga mau makan roti dan tentu cari yang halal. Tapi sayangnya McD ada di lantai dua, dan untuk ke sana harus naik tangga.... lah.. batita kami lagi tidur di stroller, rasanya ga mungkin ya harus diangkat naik tangga setinggi itu bersama strollernya.

Ya sudah.. walhasil kami berjalan menyusuri lorong di lantai bawahnya, dan ternyata lorong itu adalah mall yang ada di bawah jalan raya saudara-saudaraa... mantap jiwa Hannover ini tata ruangnya..! Mall ini menghubungkan stasiun utama Hannover dengan stasiun trem Kroepcke. Di tengah-tengah mall antara stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kropcke kami menemukan KFC. Yeayyy i miss you so much.. serius restoran ayam yang ga ada di Leoben ini ngangenin banget, yang padahal kalau di Indonesia mah saya sama suami ga suka makan di sana. Wkwkw.. dalam keadaan kepepet, kami baru pilih makan ayam di semacam KFC dan McD di Eropa biasanya sih. di Wina ada KFC dan jual nasi juga... ternyata KFC di Hannover ga jual nasi euy. Oh.. ya sudahlah.. jadi bule dulu ya kita... sarapan kentang. Tapi bumil yang juga punya batita ini sudah siap amunisi apel (dan pisau) juga susu kotak dong.hehehe mengurangi rasa bersalah karena makan fast food.

Ini yang saya bilang, lantai basement-nya mall, lantai atasnya jalan raya biasa (dan city walk juga). Foto ini diambil malam harinya, waktu kami mampir lagi ke sini.

Nah ini penampakan di siang hari, dari area city walk nya. Gedung yang ada labelnya "DB" (KAI-nya Jerman) di belakang patung berkuda itu adalah pintu masuk stasiun utama Hannover. Mall yang di basement-nya itu, menghubungkan stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kroepcke membentuk lorong bawah tanah.

Nantikan cerita kami selanjutnya tentang petualangan di Hannover ya! J




Share:

Wednesday, 29 March 2017

Celoteh Anak Episode 1 : Aku Berani Diimunisasi

Percakapan antara Ibu dan buah hatinya yang berumur 27 bulan..

Bunda : "Aqila, nanti kita ke pak dokter ya.."
Anak : "okey.."
Bunda : "Aqila nanti mau disuntik.."
Anak : mematung sejenak lalu.. "dituntik itu taatit tauuuk" dan.. mundur teratur.
Bunda : "Ih.. disuntik kan sakitnya cuma dikit, kayak digigit semut, ckiiiiit. Trus udah."
Anak : "ih.. dituntik itu taaatit tauuuk" --> masih keukeh ternyata 😁

Lalu anak menghilang dari pandangan.

Bunda : "Healah. Palingan nanti dikasih permen sama dokternya"
Anak : "Pemmen itu ya em yang wannanya putih itu ya??" --> datang lagi 😂😂
Bunda : "Yok.. yang itu.. apa nama permennya kata dokternya, Traumzucker ya?"
Anak : "iya. Iya! Mau!"
Bunda : "Mau apa? Mau disuntik?"
Anak : "Iya!"

Yeah! Rayuan maut suntik hepatitis A berhasil. 

*Ngomong-ngomong, cerita tentang dokter anak saya yang kasih sebutir permen kecil sesudah vaksinasi itu benar adanya. Kadang hadiahnya bisa berupa mainan kecil, misalnya cincin untuk anak perempuan. Karena rajin jajan vaksin, anak saya totalnya sudah pernah dapat dua permen dan 2 cincin mainan, dan 1 permen untuk saya sendiri. Wkkwkw. Efeknya anak saya tidak takut ke dokter untuk diimunisasi. Ide bagus dari dokter, apreasiasi kepada dokter anak saya ini.


Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya