Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Thursday, 18 March 2021

Penerbangan Panjang bersama Anak Satu Tahun

Bulan September 2015, kami terbang ke Austria. Dengan mempertimbangkan waktu, dana, dsb, kami memilih Qatar Airways menjadi maskapai untuk mencapai negeri kalkun itu. Jadwal keberangkatan sekitar Magrib. Dan perkiraan total perjalanan sekitar 17 jam.

Ini adalah penerbangan panjang pertama anak sulung kami. Waktu itu usianya satu tahun satu bulan. Karena akan lama di dalam pesawat, sebagai mama newbie pastinya saya cari-cari cerita pengalaman yang lain tentang penerbangan panjang dengan anak batita. Banyak pertanyaan di benak. Beberapa ketemu jawabannya sebelum berangkat, beberapa pertanyaan lagi terjawab setelah mengalami sendiri. Hehehe.

Biar tidak keburu lupa, saya mau tuliskan pengalaman saya di sini. Siapa tau bisa bermanfaat di kemudian hari 🤗

Khawatir anak saya akan rewel karena bosan duduk lama

Ini adalah kekhawatiran saya yang pertama. Ternyata, tips nomor satu untuk mengatasi ini adalah pemilihan jadwal terbang. Memang jika perjalanan di pagi, siang, dan sore hari kita akan bisa menikmati pemandangan di luar karena terang. Biasanya juga tidak terlalu melelahkan jika dibandingkan dengan perjalanan malam, di mana kualitas tidur akan berkurang. Tapi bersama dengan anak umur satu tahun, menurut saya dan suami, lebih aman jika perjalanan dilakukan di jam tidur terpanjangnya. Dan ini yang kami pilih. Kami sengaja memilih terbang di malam hari, sehingga dia tidak bosan karena selama penerbangan, dia banyak tertidur sesuai jam biologisnya.

Memperhitungkan durasi perjalanan

Hal kedua yang jadi fokus kami adalah durasi perjalanan. Durasi perjalanan dihitung sejal keluar dari rumah di Indonesia sampai touch down di rumah tujuan. Berhubung rumah kami di Bandung, kami harus memperhitungkan waktu aman untuk tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta tepat waktu. Setelah itu, kami juga harus mempertimbangkan jumlah dan durasi transit saat penerbangan. Durasi transit yang panjang memang menarik, mungkin kita bisa jalan-jalan santai menikmati suasana di negara yang berbeda. Tapi di lain sisi, kami juga harus menyimpan energi yang cukup, mengingat setelah sampai di bandara Austria, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan mobil. Maka kami putuskan memilih penerbangan dengan waktu transit terpendek. Karena kami naik Qatar Airways malam, transitnya di Hamad International Airport, Qatar. Landing di sana sekitar tengah malam. Anak kami ternyata kebangun ketika transit. Syukurlah dia tidak rewel dan malah menikmati suasana bandara yang meski tengah malam, tapi tetap ramai orang. 

The Lamp-Bear, beruang besar ber-headlamp yang menjadi icon Hamad International Airport


Urusan mengganti diaper selama perjalanan

Saya sempat khawatir juga urusan mengganti diaper selama penerbangan. Sejujurnya, saya orangnya agak phobia berada di ruang sempit dan basah seperti toilet di pesawat dan kereta. Bagaimana saya harus meng-handle phobia ini sambil menggantikan diaper anak, yang mana anaknya masih berumur satu tahun dan tentu sulit diprediksi tingkah lakunya 😅, membuat saya deg-degan.

Secara kebetulan, begitu masuk pesawat, anak kami BAB di diaper jadi saya buru-buru menggantikan diapernya di toilet. Kami mendapatkan prioritas untuk masuk ke pesawat lebih dulu karena membawa batita. Jadi saya punya lebih banyak waktu untuk mengganti diaper-nya sebelum pesawat take off. Sudah jadi kebiasaan, sejak punya bayi, setiap pergi saya selalu menyiapkan kelengkapan ganti diaper dalam satu kantong yang mudah digapai kapanpun diperlukan. Jadi tinggal sat-set. Hehehe. Kayak apa aja. Setelah itu saya memeriksa toiletnya tanpa membawa anak. Anak, saya titipkan ke suami, supaya saya bisa tenang melihat kondisi toilet dan merencanakan strategi terbaik untuk ganti diaper tanpa drama. Hihihi. Karena saya yang pertama masuk, jadi toiletnya masih wangi dan kering. Dan ternyata di dalam toilet ada changing table nya 🤗 Changing table menempel ke dinding, bisa dibuka jika mau digunakan, dan ditutup kembali jika sudah selesai. Masalah ganti diaper tanpa drama solved 🤗

Siapkan baju berlapis untuk anak

Pertanyaan berikutnya adalah, baju seperti apa yang sebaiknya dia pakai selama penerbangan? Kan biasanya dingin di dalam pesawat. Nah, tanpa saya sangka, ternyata di dalam pesawat hangat suhunya, saudara-saudara 😊 Untungnya, sebelumnya sudah browsing-browsing dulu, disarankan persiapan bajunya berlapis saja. Jadi kalau kedinginan bisa ditambah lapisannya, kalau kepanasan gampang dilepas seperlunya. Anak kami di Bandara Jakarta pakai baju tidur bahan kaos lengan panjang. Di dalam bandara karena dingin AC nya, saya pakaikan anak sweater dan kaos kaki. Di dalam pesawat karena hangat, sweater-nya dilepas. Ketika tiba di Austria, waktu itu jam 7 pagi, di bulan Oktober. Masuk musim gugur, dingin anginnya seperti di puncak Dieng kalau di Indonesia. Jadi begitu tiba, di dalam Bandara Vienna Austria masih hangat. Saat keluar, kami sekeluarga langsung merasa perlu pakai lagi sweater dan jaket dengan benar 😅

Perlukah basinet?

Masih berhubungan sama pesawat, perlu nggak sih basinet? Konon, di pesawat rute internasional ada basinet, alias kasur bayi yang bisa dipakai oleh anak umur 0-2 tahun. Basinet di Qatar Airways yang saya tumpangi, ada di barisan kursi ekonomi yang paling depan. Untuk bisa dapetinnya harus check in seawal mungkin di counter. Karena saya pikir akan perlu, jadi kami sengaja check in lebih awal dan akhirnya dapat juga kursi yang ada basinetnya. Kursi barisan depan ini enak, karena space untuk kaki lumayan lebar, anak gegoleran di situ juga bisa (kalau nggak malu 🤭). Basinetnya nempel di dinding depan kursi. Bisa dibuka dan tutup sesuai kebutuhan. Tapi ternyata anak saya nggak bisa tidur di basinet 😅 jadi ya sudah dia tidur dalam pangkuan. Berhubung anak umur satu tahun belum dapat kursi sendiri. 

Bagaimana dengan stroller?

Perlu bawa strollerkah? Pengalaman saya, stroller lumayan membantu. Terutama kalau masuk ke pesawatnya tidak pakai garbarata. Biasanya jalannya lumayan jauh dari pintu ruang tunggu ke pesawat. Stroller ini bisa didaftarkan di counter waktu check in. Seingat saya, stroller tidak dihitung beratnya sebagai bagasi. Jadi setelah check in, stroller bisa tetap dipakai oleh anak sampai ke kabin. Apakah harus stroller cabin size? Kalau ada ya enak, memudahkan, pas masuk pesawat bisa dilipat lalu dimasukkan ke lemari kabin. Tapi kebetulan stroller anak kami bukan cabin size. Praktis dibuka tutup tapi ukurannya agak bulky. Memang waktu belinya nggak kepikiran sampai ke sana. Nah untung awak kabinnya baik semua. Mereka membantu menyimpan stroller anak kami di suatu tempat yang kami nggak tau di mana. Hehe. Waktu transit, stroller tidak ikut turun bersama kami. Untungnya ternyata di Hamad International Airport, ada banyak stroller yang bisa dipinjam secara free untuk berkeliling di dalam bandara.

Anak Kami Duduk di Stroller Milik Airport

Meskipun bawa stroller, saya tetap pakai gendongan. Gendongan adalah pelarian paling handal ketika anak kami mogok duduk di stroller. Waktu itu saya pakai gendongan ringsling karena anak kami masih suka digendong seperti itu.

Tas perlengkapan bayi yang praktis

Tas perlengkapan bayi yang paling ideal buat bepergian menurut saya adalah tas perlengkapan bayi yang bentuknya ransel. Biasanya dalam tasnya ada banyak ruang atau saku sebagai organizer, jadi memudahkan kita waktu perlu sesuatu, gampang ngambilnya karena nggak bercampur satu dan lainnya. Dan karena ransel, memungkinkan distribusi beban yang lebih merata ke badan, jadi lebih terasa ringan dan mencegah resiko cedera bahu. Waktu itu saya belum punya yang seperti ini 😂 kepikiran pun tidak. Rasanya dulu belum hits. Saya masih pakai sling bag klasik yang membuat suami saya gemes karena menurut dia lebih rempong dan kurang trendy. 🤭

Tidak perlu pakai earmuff

Kali ini kami pede tidak memakaikan anak earmuff, meskipun sebetulnya anak kami sudah memiliki earmuff. Earmuff berfungsi untuk melindungi gendang telinga dari suara bising. Hubungannya dengan pesawat, pesawat memiliki baling-baling untuk bisa terbang. Konon, suara baling-baling ini tidak baik untuk bayi. Nah, ternyata baling-baling pesawat komersil sudah diatur sedemikian rupa, sehingga suaranya aman untuk penumpangnya. Suara paling berisik yang bisa didengar penumpang biasanya saat boarding, jika penumpang harus berjalan menuju pintu pesawat tanpa garbarata. Sehingga penumpang akan melewati baling-baling pesawat yang sedang dipanaskan mesinnya. Di dalam kabin pesawat rute internasional, posisi paling dekat dengan baling-baling biasanya di area tengah, dekat sayap. Namun lagi-lagi karena sudah ada aturannya, suara baling-baling pun tidak sampai mengganggu kita orang dewasa, apalagi anak batita, pada saat sedang take off atau landing sekalipun.

Kalau begitu, untuk apa ada earmuff  anak-anak? Earmuff harus dipakai anak-anak ketika berada di lingkungan dengan suara yang sangat kencang dan mengganggu, seperti pada airshow event. Pada saat acara airshow, penonton akan disuguhkan pertunjukan manuver berbagai jenis pesawat, biasanya pesawat tempur dan sejenisnya, yang memang menghasilkan suara yang sangat kencang. Kita saja orang dewasa bisa terganggu, apalagi anak-anak. Sedangkan pesawat komersil, tidak menghasilkan suara yang mengganggu, jadi tidak perlu earmuff maupun bola-bola kapas untuk dimasukan ke telinga anak. Anak saya sendiri malah merasa tidak nyaman di dalam pesawat memakai earmuff. Mending pakai headset yang sudah disediakan di pesawat aja, pakai headset lalu nonton filmnya. 🤗

Apa yang harus dilakukan pada saat take off dan landing?

Pada saat take off dan landing, tekanan di dalam kabin berubah dengan cepat. Udara dalam telinga kita (tepatnya di telinga bagian tengah dan saluran yang menghubungkan telinga dengan mulut dan hidung) sebagai penumpang otomatis akan menyesuaikan dengan kondisi ini untuk menjaga keseimbangan tubuh. Biasanya kita akan merasakan efek seperti ada yang meletup di telinga kita. Lalu pendengaran berkurang seiring dengan naiknya ketinggian pesawat, dan kembali lagi ketika pesawat mulai turun. Batita pun sama, pasti juga merasakan ketidaknyamanan tersebut. Untuk mengurangi ketidaknyamanan di telinga saat take off dan landing, kita dan anak jika sudah agak besar bisa sambil menelan ludah atau menghisap permen.

Jika batita kita masih menyusui, sebaiknya anak disusui ketika take off dan landing. Gerakan lidahnya menelan ASI saat menyusui, dapat mengurangi rasa tidak nyaman di telinganya. Tapi jika batita sudah disapih, bisa diberikan minuman dalam botol bersedotan supaya tidak tumpah.

Anak usia tiga tahun ke bawah belum disarankan menghisap permen, karena aktivitasnya sering tidak terduga, beresiko menyebabkan tersedak.

Lalu bagaimana kalau anaknya tidur, apa perlu dibangunkan untuk menyusui? Menurut saya sih tidak perlu, ya. Justru bagus kalau anaknya bisa tidur dengan nyenyak. Cukup segera disusui jika saat take off dan landing dia terbangun.

Persiapan bekal makanan si kecil

Bekal makanan untuk si kecil juga saya pikirkan. Memang penumpang juga mendapatkan jatah makan di pesawat. Waktu itu kami dapat dua kali makan. Tentu saja saya tetap membawa bekal makanan kesukaannya sih, untuk berjaga-jaga jikalau dia tidak cocok dengan makanan yang dihidangkan. Saya membawa bekal makanan kesukaannya yang memungkinkan untuk dibawa, seperti pisang dan roti.

Mainan kesayangan

Meskipun perjalanan malam, amunisi mainan tetap dibawa. Seperti yang sudah saya ceritakan, anak seusia ini belum bisa ditebak 😅 Jadi untuk berjaga-jaga, saya tetap bawakan mainan kesayangannya, yang memungkinkan untuk dibawa. Waktu itu dia bawa boneka kucing.

Wah ternyata panjang juga ya ceritanya. Seru juga mengingat-ingat pengalaman itu. Semoga bisa bermanfaat ya 😁


<<< Cerita sebelumnya

Mengajukan Visa Schengen untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria.

Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria,


Cerita berikutnya >>>

Tinggal di Luar Negeri, Alasan Memasukkan Anak ke Playgroup

Playgroup di Leoben, Austria



Share:

Friday, 19 February 2021

Kenaikan Berat Badan Bayi di Bawah Minimum

Beberapa hari yang lalu adalah jadwalnya Nabila vaksinasi. Karena divaksin oleh dokter spesialis anak, saya sekalian konsultasikan perkembangan berat badan Nabila.

Usianya 4 bulan 1 minggu. Tiga bulan terakhir, berturut-turut kenaikan berat badannya di bawah Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM). 

Selama 3 bulan ini, Nabila memang tergolong sering muntah. Setelah ditelusuri dan diamati, dia muntah setiap kali saya makan/ minum produk susu dan seafood tertentu. Kadang disertai ruam. Sudah dikonsultasikan ke dokter anak, kesimpulannya alergi susu dan seafood tertentu. Jadi, menurut saya kemungkinan besar perkembangan BB nya di bawah KBM adalah karena dia sering muntah, alias nutrisi yang terserap tidak maksimal. 

Berdasarkan ini, saya konsultasikan ke dr. Devatri, SpA, bagaimana jika Nabila mulai MPASI?

Dokter mengecek perkembangan BB Nabila. Lalu analisa dokter seperti ini :
1. Secara umum Nabila tampak sehat
2. Kenaikan BB nya tiga bulan berturut-turut memang kurang dari KBM, tapi setelah dicek ke tabel Increment dari WHO, kenaikannya masih dalam batasan normal. 
3. Jika ada kekhawatiran, boleh mulai MPASI jika Nabila sudah menunjukkan kesiapan untuk memulai MPASI. Memang Nabila sudah menunjukkan tanda kesiapan MPASI
4. Karena masih berusia 4 bulan, MPASI nya hanya bertujuan untuk tambahan saja, bukan untuk menggantikan ASI.


Tabel Increment WHO

Tabel increment alias tabel kenaikan berat badan ternyata adalah tabel yang bisa kita rujuk, jika kenaikan berat badan anak kurang dari KBM. 

Tabelnya seperti ini (untuk memudahkan membacanya, saya tambahkan garis hijau) : 
Dokter lalu memberikan penjelasan. Kenaikan berat badan masih termasuk normal jika berada di sebelah kanan garis hijau. 

Tabel bisa diunduh dari website WHO, di link ini.


Baiklah, ketok palu. Nabila mulai MPASI.. bismillah 😇🙏

---
Cerita ini hanya sharing pengalaman. Kondisi yang sama pada anak, belum tentu memiliki diagnosa yang sama dan solusi yang sama. Solusi yang saya tuliskan, belum tentu sesuai untuk setiap kondisi yang mirip.

Jika buah hati Ayah Bunda mengalami kondisi yang mirip, boleh konsultasi terlebih dahulu ya dengan dokter spesialis anak.

Terimakasih 😊

----
Cerita lainnya >>


Share:

Monday, 15 February 2021

Jaman Sudah Beda, Kenapa Tetap ngeBlog?


Akhir-akhir ini bermunculan pertanyaan tentang sesuatu, seringkali tentang satu hal yang sama dari beberapa teman di medsos. Kadang hanya perlu dijawab singkat, tapi ada pula yang perlu dijawab panjang. Saya yakin ini sering terjadi di lingkaran medsos kita semua.

"Ditulis di blog, Vid! Nanti kalau ada yang nanya lagi tinggal di-share link-nya, nggak perlu cerita ulang", kata salah seorang teman. Dia adalah blogger yang konsisten. Kami pernah sama-sama menjadi penulis di blog apotekerbercerita.com. Dia sudah berhasil menelurkan sebuah buku. Keren sekali. Monika Oktora namanya.

Suami saya juga sama, sering mengucapkan kalimat itu. Dia juga konsisten menulis di blog nya, andyyahya.com. Dia juga sudah menulis bukunya sendiri. Tapi kok  sudah lama ya saya tidak dengar lagi suami saya bilang, "udah.. ditulis di blog..".🤭

Pak suami sepertinya tau saya sudah mulai kehilangan semangat ngeblog. Hihi. Kelihatan history postingan saya di blog ini, terakhir ternyata sudah tiga tahun yang lalu. Setelah saya ingat-ingat, kelihatannya saya tenggelam bersama rutinitas baru. Back for good, adaptasi lagi, ngurusin sertifikasi, hamil lagi, ngurusin sekolah anak, melahirkan, hamil lagi (lagi 🤭), renovasi, lalu dilanjut PJJ. Banyak sekali ide cerita yang ingin ditulis, tapi saya merasa kesulitan untuk mengatur waktunya.

Beberapa hari yang lalu, saya jadi sengaja sempatkan satu waktu untuk membuka-buka lagi blog ini. Memangnya saya sudah ngapain aja sih dengan blog ini? Buka-buka page nya, baca-baca judulnya, lalu baca ulang cerita-ceritanya. Astaga, ternyata seru juga. Saya seperti sedang menggunakan mesin waktu, melihat dan mendengarkan diri saya yang lebih muda. Berargumen, belajar menjadi edukator, belajar masak, sampai curcol hal receh. Ternyata sedikit-sedikit memories dan rasa-rasa mulai lepas dari ingatan. Saya sampai ketawa ketiwi sendiri, terutama waktu membaca cerita tentang celotehan Aqila waktu batita. 

Jadi saya sempat merasa ngeblog nggak se-worthwhile itu untuk disempatkan di sela-sela kesibukan. Tapi sekarang, malah saya menyesal. Merasa tulisannya kurang banyak. Merasa rindu dengan masa lalu yang belum sempat diceritakan. Ternyata feel nya beda ya, ketika sebuah cerita atau artikel ditulis saat belum lama terjadi dibanding dengan ditulis ketika sudah kelewat jauh. Waktu dibaca, feel nya akan beda.

Nulis blog pun sekarang bisa dari dan di mana saja. Tinggal pakai aplikasi di HP. Tidak harus lagi pakai laptop.

Dari situ, muncul semangat saya untuk rajin menulis lagi. Apalagi sekarang sudah gabung komunitas ngeblog bareng Mamah Gajah Ngeblog. Komunitas yang isinya ibu-ibu dan calon ibu, sesama almamater kampus gajah duduk, yang sama-sama hobi ngeblog. Jadi ada yang rajin ngingetin buat nulis. Bisa belajar banyak juga dari mamah-mamah yang lain.

Tulisan ini juga jadi salah satu challenge dari Mamah Gajah Ngeblog, "Alasan kembali menulis".

Challenge sampai tahun depan bahkan sudah direncanakan :

Februari : Alasan Kembali Ngeblog
Maret: Budayakan Hidup Tanpa Bajakan/Legal
April : Review/Resensi Film
Mei: Cerita Komedi true story
Juni: Mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing
Juli: Resep Masakan Andalan
Agustus: Komunitas yang bikin aku bahagia
September: Cerita kegiatan #dirumahaja
Oktober: Pengalaman/pelajaran berharga dari masa kuliah
November: Review/resensi buku
Desember: Lesson learned 2021 dan motto 2022
Januari: Nulis blog pakai bahasa Inggris


Semoga saja bisa terus mengikuti challenge nya.

Awal lahirnya blog ini, saya tulis ini di bagian about me :

---"Dengan menulis, saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja. hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis."---

That's so true. Dan saya pikir, akan relevan sampai kapanpun.

Jadi, tetap semangat menulis ya!🤗


<<<Cerita sebelumnya :
Nasi Kebuli Kambing

Share:

Saturday, 13 February 2021

Keberangkatan ke Austria

Akhirnya hari itu tiba juga. Jadwal keberangkatan kami ke Austria. Tiket sudah di tangan. Barang-barang sudah dikemas. Visa juga tentu saja sudah siap. Walaupun baru jadi beberapa hari sebelum keberangkatan.

Sedih karena ini yang pertama kali pergi sangat jauh dari Abah dan Ibu, untuk waktu yang lama. Sangat jauh sampai kami nggak yakin kapan bisa ketemu lagi. Mungkin tahun depan, atau depannya lagi, atau depannya lagi? Entahlah. Pun juga orang tua kami, saya yakin beliau berdua merasakan kegundahan yang tidak jauh berbeda. 

Tapi juga senang, karena ini artinya saya, suami, dan Aqila tidak perlu berjauhan lagi. 

Juga excited, wondering dunia luar seperti apa yang akan saya temui. 

Kala itu teknologi bernama android dan whatsapp belum lama muncul. Generasi milenial seperti saya dan suami tentu mudah menyesuaikan diri. Lain halnya dengan generasi senior. Kami juga sudah memikirkan itu. Hari-hari sebelumnya kami membiasakan berkirim video dan foto via whatsapp dan juga video call dengan para orang tua kami. Mempelajari trouble and shoot di whatsapp dan tentu saja cara memperpanjang kuota internet 😄 Demi kelancaran komunikasi jarak jauh nanti.

Di hari H, Abah dan Ibu, kedua mertua, dan adik ipar semua mengantar di bandara. Sahabat saya, Sabrina dan Kuti juga datang. Adik kelas suami yg sudah bantu ngurus2 residence permit, Heru dan Gumi, juga datang. Kakak saya dan keluarganya yang saat itu tinggal di Tanjung Balai, tidak bisa hadir. Tapi mereka sudah menyempatkan untuk bertemu kami di rumah sebelumnya. Momen yang sangat berarti ❤️

Aqila saat itu usianya 1 tahun lewat sedikit. Dia baru bisa mulai melangkah beberapa langkah. Lucu sekali. Di bandara, dia selalu bersama mainan kucing kesayangannya. Tetap ceria sambil berusaha disuapi makan buah pisang. Dia waktu itu memang agak tidak suka makan. Hahah. Sedikit makan, tapi sehat dan sangat aktif. Alhamdulillah. Dia senang sekali banyak yang datang memperhatikannya. Dia belum mengerti momen nano-nano di hari itu 😅 yah.. sepertinya keberadaannya menjadi pelipur lara kami semua orang dewasa yang di sana.
Tiba saat saya, suami, dan Aqila harus masuk ke ruang tunggu di dalam bandara. Sekali saya sempatkan menoleh ke belakang, melambaikan tangan, tersenyum dan berusaha tidak menitikkan air mata. Wkwk. Saya orang yang gampang terharu.

---
Sekelumit cerita untuk Aqila 😊 sebelum bunda lupa suatu hari nanti 😁

<<< Cerita sebelumnya :


Mengajukan Visa Schengen Austria 


Share:

Thursday, 11 February 2021

Nasi Kebuli Kambing

Got the recommendation recipe from my Egyptian friend. Thanks once again dear Ghadeer 🤗

Btw, walaupun pakai kambing, aroma khas lemak kambingnya yang suka bikin enek hilang sama sekali lho. Dagingnya juga empuk, anak-anak bisa ikut makan.

Resep Nasi Kebuli

Bahan
3 cup Beras Basmati
500-750 gram Iga/ paha kambing muda, cuci bersih, blansir
2 sdm Minyak goreng/ mentega/ minyak samin
1 butir Bawang bombay
2 cup bawang merah cincang
3 lbr Daun salam
3 batang Kayu manis
6 buah Kapulaga
8 biji Cengkeh
2 sdm Bawang putih halus
3 buah jeruk nipis kecil, peras, saring bijinya
1 sdt lada putih bubuk
2 cup pure tomat merah 
2 sdm pasta tomat
1 sdm garam
1 sdt kaldu sapi
1 cup paprika hijau dan merah
3 buah Cabe hijau (buang bijinya kalau mau ga pedas, supaya anak2 bisa makan)
Haluskan
2 sdm bawang putih
2 ruas jari kunyit

Cara membuat
1. Cuci dan rendam beras basmati
2. Tumis bawang bombay dan bawang merah sampai layu, bawang putih dan kunyit yang sudah dihaluskan, paprika, dg minyak goreng/mentega/ minyak samin
3. Masukkan iga dan paha kambing, aduk2
4. Pindahkan ke panci presto. Lalu tambahkan daun salam, kapulaga, kayu manis, perasan jeruk nipis, lada putih, pure tomat, pasta tomat, garam dan air. Tutup panci presto, rebus kurleb 30 menit.
5. Pindahkan iga dan paha kambing ke panci. Saring kuahnya, tambahkan ke dalam panci. Adjust rasa.
6. Masukkan cabe hijau dan beras basmati yg sudah direndam. Tambahkan air panas bila perlu. Aduk2. Rebus hingga air habis. Ake, diamkan sejenak. Siap dihidangkan 🤗


Original recipe by :

International Cuisines (youtube)

Alliwa Alakhdar Kitchen (youtube)


Recook by me. 

------------------------------------
Catatan resep lainnya :
Share:

Thursday, 19 April 2018

PAUD berbasis Montessori di Austria

Saat kami berada di Austria, Aqila sempat merasakan playgrup dan TK di sana. Leoben, nama kota tempat kami tinggal di Austria. Di sana, semua playgrup dan TK berbasis Montessori, baik negeri maupun swasta. Ini salah satu yang membuat saya tertarik untuk memasukkan anak ke playgrup dan TK, karena saya penasaran (dan tentunya karena saya harus belajar Bahasa setempat, sehingga memerlukan assistance untuk Aqila).

Setelah melihat sendiri perkembangan positif pada anak teman saya setelah masuk ke PAUD Montessori itu, berkurang rasa khawatir dan bersalah saya akan memasukkan anak ke PAUD setempat. Meski tidak 100%, tapi sisa keraguannya, saya merasa harus membuktikannya sendiri. 

Tidak mudah untuk bisa terdaftar sebagai peserta playgrup, karena peminatnya banyak sekali sementara kuotanya terbatas, setiap grup maksimal hanya menampung 12 anak, meskipun biayanya terbilang mahal. Soal biaya, sebetulnya anak-anak di sana mendapatkan tunjangan dari pemerintah setiap bulan yang cukup untuk membiayai playgrup Montessori. Kebanyakan mereka yang dikirim ke playgrup karena kedua orang tuanya harus bekerja atau kursus Bahasa bagi orang asing, sementara tidak ada kerabat yang bisa menemani anaknya pada jam kerja atau kursusnya. Peserta yang diprioritaskan mendapat tempat di playgrup adalah anak yang berkebangsaan Austria atau anak asing yang lahir di Austria, baru jika masih ada tempat kosong, anak berkebangsaan asing yang tidak lahir di Austria. Itupun diprioritaskan berdasarkan usia, didulukan yang lebih tua, dengan asumsi semua ibu mendapat maternity leave selama 24 bulan. Aqila mendapat tempat setelah berada di antrian waiting list selama sekitar 4 bulan. Ini terbilang cepat.

Sementara untuk TK, cenderung semua anak mendapatkan tempat, mungkin karena kuotanya lebih besar, yaitu 24 anak untuk setiap grup dan grupnya ada banyak. Btw, biaya untuk TK ini unik. Karena pemerintah menganjurkan anak-anak usia 3 tahun untuk sudah masuk TK, pemerintah memberikan subsidi. Besarnya berdasarkan penghasilan orang tua. Mulai dari gratis hingga 300 euro per bulan. Tapi, pihak TK tidak tau menau urusan bayar membayar ini. Urusan ini hanya antara orang tua dan pemerintah kota. Orang tua menyetor bukti penghasilan dan mentransfer biayanya ke rekening pemerintah kota setiap bulan. Walhasil, baik yang kaya maupun kurang, semua anak diperlakukan sama di TK. 

Playgrup diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia kurang dari 3 tahun, sementara TK untuk anak-anak usia 3-6 tahun. Pengelompokkan grupnya berdasarkan usia dan berdasarkan lama waktu mereka berada di PAUD (half day atau full day). Di playgrup, hanya ada 2 grup, grup half day dan grup full day. Baik dari usia 1 tahunan sampai 3 tahun, semuanya digabung dalam 1 grup. Jadi yang membedakan grupnya hanya lama waktu, half day atau full day saja. Rata-rata usia anak termuda yang masuk ke sana berumur 16 bulan.

Di TK pun demikian. Ada 2 macam grup, grup half day dan grup full day, usia 3 sampai 6 tahun digabung dalam satu grup. Ternyata penggabungan usia muda dan yang lebih tua ini ke dalam satu grup juga dalam rangka mensukseskan prinsip Montessori itu sendiri, “help me to do it by myself”. Anak-anak yang lebih besar usianya, cenderung sudah memiliki kemampuan dasar lebih banyak dibanding yang lebih muda. Secara alami, yang muda akan meniru yang lebih besar, dan yang lebih besar belajar untuk membimbing yang lebih muda, layaknya mereka membimbing adik kandungnya di rumah.

Menarik untuk digali yaa. Bagaimana keseharian mereka di PAUD Montessori ini, besok lagi saya share ya. Tapi sebelumnya saya merasa perlu untuk membedah ruang-ruang dalam PAUD Montessori. Karena suksesnya pendidikan Montessori juga tidak lepas dari tools yang sudah mereka buat dan siapkan, termasuk lay out ruangannya, lho! InsyaAllah, saya post segera ya!

Aqila dan Temannya saat mengikuti Festival Musim Panas di Playgrup

Share:

Wednesday, 24 January 2018

Rontgen untuk Mengonfirmasi Diagnosa Reflux dan Sinusitis

Hari ini saya datang ke praktek dokter Radiologi di Leoben sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh resepsionis. Beberapa hari yang lalu saya sudah ke sini untuk meminta jadwal  khusus untuk saya, "Termin" istilah yang dipakai di sini.



Dari luar, tempat praktek dokter Pelzmann ini tampak horor. Mungkin karena akses masuknya hanya berupa pintu besi bertuliskan Radiologie. Meskipun ruang prakteknya menempel dengan mall satu-satunya di kota ini. 


Pintu Masuk Praktek Dokter Radiologi



Namun begitu masuk ke dalam, kesan horor itu berubah. Di balik pintu besi itu ternyata persis layaknya klinik eksklusif. Meskipun hawa-hawa tegang di sana masih ada. Mungkin juga itu hanya perasaan saya yang berharap hasil rontgen baik-baik saja. 

Ruang Tunggu Pendaftaran

Resepsionis

Ruang Tunggu Rontgen


Saya ke sini atas rujukan dari dokter THT. Beliau perlu data radiologi saluran pernafasan saya untuk mengonfirmasi diagnosa Refluks yang bulan September lalu diberikan. Juga untuk melihat apakah ada kemungkinan lain yang mrmbuat saya kok langganan pilek tiap bulan, mungkinkah sinusitis?


Btw, saya pernah menulis tentang Refluks di sinidi sini dan di sini.


Saya menjalani dua metode rontgen. Yang pertama, rontgen saluran nafas atas untuk melihat potensi sinusitis. Saya hanya perlu berdiri di atas alat rontgen, menghadap depan, belakang, dan samping. Menggunakan apron untuk bagian pinggang ke bawah. Ini seperti proses rontgen pada umumnya. 



Metode rontgen yang kedua adalah untuk mengonfirmasi adanya Refluks. Masih menggunakan alat yang sama, namun selama proses rontgen, saya diminta sambil minum suatu cairan bernama Barium Contrast. Di ruangan radiologi saya ditemani oleh asisten, sementara dokter radiolog memantau dari ruang kaca di pojokan. Dokter memantau layar komputer yang merekam video radiologi proses yang terjadi selama saya minum. Setelah meminumnya, cairan ini akan terlihat berpendar di sepanjang saluran cerna saya dari hasil rontgen. Dokter akan melihat detail proses ketika cairan barium contrast ini saya minum, apa yang akan terjadi di pencernaan saya. Jika ada refluks, maka akan terlihat bagaimana barium contrast ini sulit tertelan hingga masuk ke lambung, dan setelah barium contrast mulai memasuki lambung, maka dia akan kembali lagi ke kerongkongan. Proses rontgen yang ini berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Selama itu saya diminta terus minum sambil berdiri dan berputar. Ada juga sesi ketika alat rontgen yang saya pijaki dan sandari bergerak naik dan miring hingga 90 derajat (menjadi posisi tidur).  serius ini asik hehe. Pada saat alat Rotngen mulai bergerak itu tangan saya harus terus disandarkan ke atas dengan tetap minum barium contrast terus menerus. Pada saat posisi badan saya sudah hampir horizontal (seperti orang tiduran) asisten memegangi cairannya dan saya meminumnya lewat sedotan. saya minum juga sambil berputar-putar saat tiduran. 


Akhirnya proses selesai.


Dokter menjelaskan diagnosa dari hasil rontgen. Kata dokter saya tidak mengalami sinusitis dan tidak terjadi refluks selama saya minum cairan tadi. Semuanya normal. Hanya di saluran nafas atas saya ada inflamasi. Sebuah inflamasi normal yang lusa akan ditangani oleh dokter THT saya. Artinya kemungkinan refluks yang selama ini terjadi adalah karena adanya gejala lain, misalnya seperti batuk, dsb. Dokter menjelaskan dengan tersenyum. Saya mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal.
Saya tidak menerima cetakan hasil rontgen. Hasil rontgen dikirimkan secara online oleh dokter radiolog langsung kepada dokter THT saya.

Bagi saya hasil rontgen ini adalah berita baik. Saya yakin saya tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia saya di depan dokter waktu itu. Tapi yang beliau tidak tau, hati saya tersenyum lebih lebar daripada senyum di bibir saya. Barakallah.. Alhamdulillah. Alhamdulillahirobbil alamin.



Saya yang pernah didiagnosa GERD (Refluks) sebelumnya dan setiap bulan sekali berikutnya selalu merasakan gejala yang sama, hingga harus selalu bedrest selama beberapa hari, sekarang merasa seperti diberi kesempatan kedua oleh Allah. Kemarin itu seakan-akan seperti warning agar saya lebih bisa mendengarkan dan memahami kebutuhan raga ini. Hindari begadang, kelelahan, dan stress. Menjaga pola hidup dan pola makan yang sehat. Selalu positif dan bahagia. Sehat itu memang kekayaan yang nilainya tiada tara dan harus diperjuangkan.



Mudah-mudahan ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan, diberkahi olehNya, dan rasa sakit yang pernah datang, menjadi penggugur dosa-dosa kita. Aamiin. 

Nama Dokter dan Jam Praktek
Alhamdulillah sudah lega

Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya