Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Friday, 5 May 2017

Mendampingi Suami Sekolah di Luar Negeri? Kenapa Tidak?!

Makna judul tulisan saya ini mungkin menyuarakan hati sebagian istri yang sedang atau sudah mendampingi suami sekolah di luar negeri. Bagi sebagian yang lain, mungkin sebaliknya. Sementara bagi saya?

Sejak sebelum menikah, saya sudah tau bahwa calon suami saya mungkin suatu hari nanti harus melanjutkan sekolah di luar negeri, bukan setahun atau dua.. tapi minimal tiga tahun. Sementara saya, yang dalam diri saya saat itu mengalir darah muda, tersimpan energi besar, dan haus untuk mengejar ambisi dan cita-cita di masa depan, tidak ambil pusing. Bagi saya saat itu, kalau mesti LDR dulu selama suami saya sekolah di luar negeri, kenapa mesti takut?!

Seorang teman saya saat kuliah, justru berpandangan sebaliknya. Baginya, keliling dunia adalah salah satu passion-nya. Bahkan dia menantang calon suaminya untuk sanggup mengajaknya keliling dunia setelah mereka menikah. Matre! Demikian celoteh saya sambil tertawa. Maka dialah yang pertama kali menentang keberanian saya untuk LDR selama suami sekolah di luar negeri. Katanya, "demi apa lo rela LDR? Demi kerja banting tulang buat siapa? Kalau suami gue yang nanti sekolah ke luar negeri, ya gue bakal ikutlah, ga semua orang bisa jalan-jalan ke luar negeri, apa lagi sampai tinggal di sana."

Sungguh semua bagian perkataan teman saya saat itu terdengar matre di telinga saya. Matanya tampak duitan di mata saya. Tapi nyatanya, kata-katanya malah terngiang-ngiang terus di pikiran saya.

Waktu terus berlalu. Kami sudah menikah. Saya berhasil meraih cita-cita karir saya semenjak sebelum menikah. Bekerja di industri kosmetik dalam negeri, turut berjuang mengharumkan nama bangsa di mata bangsa kita sendiri minimal, dan di kancah internasional, melakukan pekerjaan yang saya cintai, dikelilingi oleh orang-orang yang baik, dan dibayar dengan jumlah yang melebihi ekspektasi awal saya. Dari situ saya belajar menabung dan bersedekah. Masa-masa itu saya seperti sedang on fire. Semuanya on the track seperti yang saya inginkan. Meskipun satu yang belum tercapai... berhenti LDR. Ya, sejak menikah, kami memang sudah LDR karena saya dan suami bekerja di kota yang berbeda.

Suatu hari suami saya memberanikan dirinya untuk jujur. Dia meminta saya untuk berhenti LDR. Kala itu, saya sedang hamil. Alasannya sederhana. Beberapa bulan lagi tiba waktunya ia harus berangkat ke luar negeri untuk sekolah. Momen dalam hidupnya yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini. Apa iya, dari sejak menikah, sampai berangkat sekolah ke luar negeri, kita belum pernah tidak LDR?

Saya memintanya bersabar untuk menunggu saya berpikir dan memantapkan hati. Sesungguhnya keluarga adalah prioritas saya, tapi apa iya saya harus berhenti sekarang, di saat karir saya sedang baik dan di kala ia akan berangkat ke luar negeri selama bertahun-tahun sementara saya entah kapan bisa menyusulnya bersama anak kami?

Saya bertanya kepada Yang Kuasa, memohon petunjuk dari-Nya. Saya berusaha berpikir logis selama berhari-hari. Tetapi semakin hari realita justru yang menjadi tidak logis. Mendadak apa yang saya cintai dari karir saya menjadi berbeda. Ini seperti kalau kita sedang menonton video, flow-nya terus-menerus maju, dan semakin seru, lalu tiba-tiba videonya jadi lambat, ceritanya monoton, dan membosankan, bahkan, menjadi suram. Video itu adalah gambaran karir saya waktu itu.

Bagi saya ini seperti tamparan dari Allah. Saya berusaha mempertahankan untuk bekerja di suatu tempat yang atasnya suami saya tidak ridho. saya sudah mempertahankan apa yang menurut saya baik untuk saya dan keluarga saya kelak, tapi sebaik-baiknya hal yang baik, adalah yang baik menurut Allah, dan mentaati permintaan suami selama itu bukan di jalan yang mungkar adalah salah satunya...

Tak berselang lama semenjak saya berhenti, rejeki tetap terus mengalir Alhamdulillah. Saya tetap melakukan apa yang saya suka kerjakan, praktek di dunia saya dunia kefarmasian dan masih berkiprah pula untuk industri yang secara fisik sudah saya tinggalkan itu, dan saya dibayar untuk itu serta ditambah dengan momen indah sebagai seorang ibu yang bisa bersama dengan anaknya hampir di seluruh waktunya. Ya, saya tetap bekerja. Tawaran pekerjaan itu datang sendiri tanpa saya yang melamar. Bukan satu, tapi empat. Dan semuanya bisa saya kerjakan di dekat anak saya yang baru lahir. Nikmat dunia mana yang hendak kau dustakan?

Menjelang keberangkatan suami ke luar negeri hingga bulan-bulan awal setelah keberangkatannya, kami menerima banyak sekali kunjungan dari teman dan kerabat. Kunjungan dalam rangka menengok anak kami yang baru lahir sebetulnya. Maka topik apakah saya akan segera menyusul hampir tak pernah luput dari perbincangan.

Di antaranya sangat mendukung saya dan anak kami segera menyusul, buah bibir yang ternyata sangat memotivasi dan menyemangati kami, tapi tak sedikit juga yang nyinyir. “Ngapain kamu ikut-ikutan segala? Terus ngapain di sana? Ngurus suami sama anak aja? Sayang banget gelarmu.” Dan lain sebagainya yang senada. Helloooo apa salahnya ya tinggal bareng dan ngurus suami dan anak sendiri? Tapi ya, boro-boro kalimat ini terucap untuk menjawab mak nyinyir.. yang ada hati malah menjadi galau. Dududu...

Saya sudah lelah mempertanyakan hal-hal duniawi. Toh hidup yang kekal hanya di akhirat. Sejak punya anak, saya merasa kematian itu menjadi semakin nyata. Kematian tak terlihat lagi sebagai akhir dari segalanya, tapi justru awal dari kehidupan yang kekal di akhirat. Ditambah lagi kehadiran buah hati kami, yang ingin kami tumbuhkan dalam lingkungan cinta kasih kedua orang tua nya semaksimal mungkin. 

Berkaca dari pengalaman saya sebelumnya, saat-saat bimbang untuk berhenti kerja, saya putuskan sudah dengan bismillah, saya hanya akan niatkan semuanya yang di depan sebagai ibadah. Saya jalani peran utama saya sebagai istri dan ibu karena ibadah. Dan itu menjadi yang utama bagi saya. Pekerjaan dan rejeki adalah hal yang bobot duniawi nya lebih besar bagi saya yang seorang wanita bersuami, akan saya kejar sebisa saya, tapi prioritas saya bukan itu lagi. Saya yakin, insyaAllah rejeki sudah dijamin oleh Allah. Toh saya sudah membuktikannya sendiri.

Bulan-bulan awal setelah keberangkatan suami ke luar negeri adalah masa-masa terpelik dalam sejarah LDR rumah tangga kami waktu itu. Ironis, kami hidup di jaman di mana teknologi sudah sangat sangat maju, tapi ternyata komunikasi ga segampang itu dijalani. Kurang lebih lima sampai enam jam perbedaan waktu antara kami. Suami sudah bangun pagi, saya masih terlelap kelelahan di tengah malam. Suami istirahat siang di kantornya, saya di Indonesia masih pagi, jam-jamnya rempong rutinitas pagi sama anak bayi yang baru bangun. Suami saya pulang dari kantor, jam saya bekerja. Jam kerja saya selesai, suami sudah terlelap di malam hari. Hahaha. 

Alhamdulillah Allah memberikan hadiah atas kesabaran kepada kami hingga beberapa bulan kemudian, berakhirlah masa-masa LDR kami itu. Allah memberikan kami kesempatan dan kemampuan untuk bisa tinggal bersama. Suatu hari suami saya datang menjemput saya dan anak untuk tinggal bersama dengannya di luar negeri
.
Ya, di sini saya menjalani peran penuh sebagai istri dan ibu yang tidak didampingi asisten dan jauh dari keluarga. Berat, menjalani rutinitas pekerjaan yang sama setiap hari, setelah sebelumnya terbiasa dalam titian karir. Karisma titian karir yang saya tinggalkan itu berganti dengan pengalaman luar biasa dalam hidup saya. serunya kejar-kejaran dengan anak, pekerjaan rumah, mendidik buah hati sesuai dengan visi misi berdua (dengan suami), belajar menjadi koki ala-ala, kursus bahasa, menimba ilmu, menulis, menikmati hobi yang lain, quality time bersama suami dan anak, video call dengan keluarga, bersosialisasi dengan orang-orang baru, menikmati kerinduan bertemu orang tua, menikmati up and down realita hidup bersama suami, berhemat supaya bisa jalan-jalan, mengenal banyak hal baru yang belum pernah saya temukan sebelumnya, serta melihat dunia yang berbeda sangat berbeda dari dunia saya sebelumnya, membuka mata saya, mengubah cara pandang saya akan dunia dan hidup ini.

Ke mana rejeki saya yang dulu? Alhamdulillah Allah masih memberikannya, dalam bentuk yang lain yang datangnya dengan cara tidak terduga, tidak ada surprise yang lebih indah daripada surprise yang datangnya dari-Nya. Sulit untuk mengungkapkan semuanya dengan kata-kata. Tapi saya bahagia, satu chapter dalam hidup saya sedang dilalui. Insya Allah akan memberi energi positif untuk chapter hidup saya selanjutnya nanti.

Leoben, Austria April 2017


<<< Cerita sebelumnya :

>>> Cerita sesudahnya :
Share:

Wednesday, 12 April 2017

Mengajukan Visa Schengen untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria



Visa untuk mendampingi pasangan sekolah di Austria baru bisa diajukan setelah ijin tinggal (residence permit) kita di-approve (baca juga : Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria). Untuk mendampingi pasangan lebih dari enam bulan, maka jenis visa yang diajukan adalah Visa-D. Caranya jauh lebih simpel dibanding saat membuat residence permit.

Setelah mendapatkan konfirmasi dari Kedubes Austria bahwa residence permit sudah di-approve, selanjutnya tinggal membuat appointment online di website Kedubes Austria kapan kita bisa datang lagi untuk mengajukan pembuatan Visa-D. Daftar dokumen yang diperlukan sudah jelas sebenarnya di website Kedubes Austria. Dokumen-dokumen berikut ini yang saya setorkan waktu itu :

1. Formulir Visa-D (bisa di-download di website Kedubes Austria), yang sudah diisi lengkap dengan Bahasa Inggris atau Jerman.

2.  Paspor (dengan masa berlaku minimal masih 6 bulan semenjak hari pertama tiba di Austria, masih memiliki minimal dua lembar kosong, dan diterbitkan maksimal dalam sepuluh tahun terakhir).

3. Pas foto, saya menggunakan foto yang sama dengan foto untuk residence permit

4. Meldezetel pengundang (penjelasannya bisa dibaca ulang di tulisan saya tentang Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria) dan surat kontrak sewa rumah. Waktu itu saya juga menyetorkan surat undangan dari suami yang dikeluarkan oleh kantor kepolisian kota Leoben Austria, tapi ternyata untuk Visa D tidak perlu surat ini.

5. Bukti reservasi tiket pesawat (waktu itu saya menggunakan print out bukti sudah booking tiket, tapi yang belum dibayar. Saya baru benar-benar beli tiket setelah semua dokumen untuk visa masuk ke kedubes dan ada tanda-tanda “lampu hijau”)

6. Surat kontrak beasiswa pasangan

7. Rekening koran tabungan suami & istri tiga bulan terakhir (sama seperti yang digunakan untuk mengajukan residence permit)

8.   Buku nikah

9.  Akta lahir

10. Polis asuransi perjalanan (syarat dan daftar asuransi yang bisa digunakan ada di website Kedubes Austria), dulu saya pakai yang AXA

Seperti saat akan mengajukan residence permit, mengajukan Visa-D Austria waktu itu saya juga harus datang sendiri (karena ada prosedur scan sidik jari). Anak-anak dan bayi sekalipun juga dibuatkan visa nya. Anak saya waktu itu tidak perlu ikut datang ke kedubes Austria karena masih berumur satu tahun, tidak perlu scan sidik jari.

Biayanya yang diperlukan juga sudah ada sih di website-nya. Diintip di sana saja ya hihi. Yang jelas anak-anak umur 0-6 tahun Alhamdulillah masih gratis. Nah jangan lupa perlu cash pas untuk membayarnya.

Pertanyaan wajib dari teman-teman biasanya ini : Berapa lama Visa nya jadi? Nah ini agak susah dijawab ya, soalnya dulu ga dikasih tenggat waktu pastinya. Tapi kalau ga salah, ga sampai sebulan dan itu tepat banget sehari sebelum tanggal berangkat yang saya setorkan di bukti booking tiket (sesuai saran suami, tanggalnya dimajukan dari yang sebenarnya). Itupun suami datang langsung ke Kedubes Austria sebelum ada konfirmasi bahwa visa sudah jadi (suami sengaja pulang ke Indonesia untuk menjemput anak istrinya sekalian ada urusan lain di Indonesia).

Omong-omong, Alhamdulillah ya, visa Austria itu juga Visa Schengen, jadi bisa dipakai untuk mengunjungi semua negara Schengen (25 negara di Eropa) tanpa harus bikin visa lagi. Tinggal berdoa aja mudah-mudahan ada rejekinya. Hehehe...

Peter Turner Park, Leoben 10.04.2017

Baca juga : Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di AustriaDay Care di LeobenHendak ke Luar Negeri Perlukah Vaksinasi TBECatatan Perjalanan Menjangkau Hannover dari Leoben

Share:

Monday, 10 April 2017

Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Aufenthaltstitel alias kartu rsidence permit Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama lebih dari enam bulan. Misalnya seperti saya, tinggal di Austria lebih dari enam bulan untuk mendampingi suami sekolah. Residence permit merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan visa Schengen Austria. Setelah residence permit jadi, barulah kita bisa mengajukan visa.

Residece permit saya baru bisa diurus setelah suami mendapatkan ijin tinggal terlebih dahulu di Austria. Karena mengurusnya butuh waktu berbulan-bulan, maka mau tidak mau ya suami saya berangkat duluan ke Austria. Saya menyusul sekitar sembilan bulan sesudahnya.

Bagaimana cara mengajukan residence permit Austria? Mudah sih sebenarnya, asalkan semua dokumen persyaratannya lengkap dan yang terpenting saldo total dalam rekening pasangan jika digabungkan mencukupi. Hehe. Selebihnya, tinggal perlu punya stok telaten, sabar, tawakal, waktu, dan energi yang banyak saja.

Flowchart nyaa.. jadi jelas atau malah pusing? XD

Memangnya berapa saldo yang diperlukan? Informasi yang saya dapatkan dari petugas loket pengajuan residence permit di kantor kedubes Austria Jakarta waktu saya hendak mengajukan residence permit, saldo rekening disiapkan saja sebanyak-banyaknya, rekening koran berdua (suami dan istri) disiapin semuanya, semakin banyak semakin besar peluangnya di-approve. Eaa.. terimakasih sarannya, memang betul sih, masalahnya kalau saldonya pas-pasan gimana dong mbak? Ahaha..

Karena kami gagal paham dengan jawaban ini, akhirnya suami saya pun bertanya langsung ke kantor kependudukan (Bezirk) di Leoben Austria. Dari sana kami mendapat pencerahan. Pada intinya, pasangan yang hendak berkumpul (tinggal) dengan suami atau istrinya di Austria, perlu menyiapkan dana di rekening untuk menjamin hidupnya minimal sampai masa berlaku residence permit habis, yaitu satu tahun. Dana ini tidak harus berbentuk saldo di rekening seluruhnya, namun bisa juga dalam bentuk “penjaminan” berupa surat kontrak beasiswa dengan instansi/ perusahaan di Austria. Dalam surat kontrak tersebut harus disebutkan berapa nominal penghasilan netto per bulan atau per tahun suami dan lama waktu kontrak. Jika ternyata nominal penghasilan netto satu tahun kurang dari nominal dana minimal yang disyaratkan, maka kekurangannya itulah yang harus disediakan di rekening pasangan suami istri (digabung, boleh rekening Austria ataupun Indonesia), tapi sebaiknya dilebihkan barang sedikit (jangan pas-pas amat). Nominal yang disyaratkan ini ternyata bisa berbeda-beda, tergantung jumlah anggota keluarga yang ikut tinggal di Austria.

Pada saat saya mengajukan residence permit tahun 2015, hingga saat ini tahun 2017, syaratnya kurang lebih ya, pastinya agak lupa euy, dihitung untuk pengundang per bulan sekitar EUR 900, orang dewasa yang ikut tinggal (pasangan misalnya) EUR 350, anak-anak EUR 150 per anak. Jadi tinggal dihitung sesuai kebutuhan masing-masing, ditotal per-bulannya, kemudian dikurangi kontrak beasiswa per-bulan, lalu dikalikan 12 (jumlah bulan dalam satu tahun). Itu adalah saldo minimal yang sebaiknya ada di tabungan, tapi sebaiknya dilebihkan.

Kekurangan dana yang harus kita sediakan di rekening tersebut, sebaiknya sudah mengendap selama minimal tiga bulan sebelum aplikasi residence permit diajukan. Ini dibuktikan dengan rekening koran dari Bank. Waktu itu saya tidak perlu Bank Statement

Setiap kita akan memperpanjang residence permit, dana tersebut juga harus ada di rekening kita. Sebagai catatan, masa berlaku residence permit normalnya satu tahun. Tapi pada teknisnya bisa berubah menjadi lebih pendek mengikuti masa berlaku residence permit pengundang. Jadi misalnya, suami saya residence permit-nya pertama kali dikeluarkan pada Januari 2015. Maka satu tahun kemudian, yaitu Januari 2016 harus diperpanjang (ini jelaslah ya). Nah, residence permit saya dikeluarkan bulan September 2015, maka seharusnya habis September 2016 kan.. tapi tidak begitu kenyataannya. Karena masa berlakunya mengikuti milik suami (pengundang), jadi bulan Januari 2016 residence permit saya jadi harus diperpanjang juga. Dengan kata lain masa berlakunya tereduksi menjadi hanya 4 bulan saja.

Pengurangan masa berlaku residence permit juga bisa terjadi karena masa berlaku paspor habis sebelum masa berlaku residence permit yang seharusnya habis. Misal, tahun depan Januari seharusnya residence permit saya baru habis masa berlakunya, tetapi paspor saya sudah akan habis masa berlakunya pada bulan Agustus tahun ini. Maka otomatis residence permit saya hanya berlaku hingga Agustus tahun ini dan bulan Agustus nanti harus diperpanjang lagi sampai Januari tahun depan kalau saya masih mau tinggal di Austria ini. Omong-omong, harga perpanjangannya normal ya, ga ada diskon. Huhu.

Selain surat kontrak kerja atau beasiswa dan rekening koran, dokumen apa saja yang perlu disiapkan?

Pada waktu itu saya perlu menyerahkan (tertulis juga di website kedubes Austria):

1. Akte lahir, asli dan dilegalisasi Depkumham & Deplu, serta terjemahan yang juga dilegalisasi Depkumham & Deplu

2. Buku nikah, asli dan dilegalisasi Depkumham & Deplu, serta terjemahan yang juga dilegalisasi Depkumham & Deplu

3. SKCK yang masih berlaku dari Polda sesuai KTP kita, asli dan dilegalisasi Depkumham & Deplu, serta terjemahan yang juga dilegalisasi Depkumham & Deplu

4. Fotokopi paspor (bagian yang ada data diri kita, difotokopi satu halaman HVS jangan dipotong)

5. Satu pas foto dengan kriteria yang sama dengan kriteria foto untuk paspor, atau klik ini. Saya bawa lebih dari satu foto untuk jaga-jaga

6. Surat bukti tempat tinggal pengundang di Austria (Meldezettel) à ini biasanya diajukan oleh pengudang setelah dirinya sampai di Austria. Diajukannya di balai kota setempat (Rathaus).

7. Surat kontrak sewa rumah

8. Bukti asuransi kesehatan di Austria milik pengundang (scan kartu asuransi/ e-card dan polis, lalu print)

9. Kartu residence permit milik pengundang, scan lalu print

10. Formulir yang sudah diisi lengkap dengan bahasa Inggris atau Bahasa Jerman. Formulir bisa di download sendiri di website kedubes Austria.

Nah, yang penting untuk diketahui adalah akte lahir, buku nikah, dan SKCK harus dilegalisasi dahulu oleh Depkumham, Deplu, dan kedubes Austria, lalu di-translate oleh penerjemah tersumpah ke Bahasa Jerman. Hasil translate-nya dilegalisasi juga oleh Depkumham, Deplu, dan Kedubes Austria. Proses ini lumayan memakan waktu, hmm rasanya ada kalau satu bulan sendiri. Tapi untuk yang legalisasi translate-an di Kedubes Austria, bisa dilakukan terakhir bersamaan dengan kita memasukkan aplikasi untuk pengajuan residence permit.

Siapa penerjemah tersumpahnya? Saya dulu ke Bapak Robani, beliau reputable dan berlokasi di Jakarta Selatan. Tapi kita tidak harus datang langsung ke kantornya, cukup telepon, menanyakan biayanya, lalu minta alamat untuk pengiriman dokumennya (kirimkan dengan asuransi). Nomor kontaknya ada di sini. Di situ ada juga daftar penerjemah tersumpah lainnya.

Kalau tidak salah perlembar berapa ya.. aduh lupa.. tapi berapa ratus ribuan kok. Waktu itu saya tinggal di Jawa Tengah dan kebetulan ada teman di Jakarta yang bisa dimintai tolong, jadi teman saya itu datang dan menjemput langsung dokumennya ke kantor penerjemah tersumpahnya itu. Alhamdulillah, semoga dia mendapat kebaikan yang banyak dari Allah.

Setelah semua dokumen dan dana siap, buat appointment online melalui website kedubes Austria. Jangan sampai berangkat ke kedubes tanpa membuat appointment online, karena appointment harus dilakukan maksimal sehari sebelumnya. Jangan lupa pada saat mengajukan legalisasi di kedubes, sediakan uang cash, sebaiknya uang pas, karena kalau tidak ada kembalian ya kita harus ikhlas. Waktu itu di sana tidak menerima pembayaran dengan kartu debit.

Apakah kita harus datang sendiri ke Kedubes atau bisa diwakilkan? Dulu waktu saya mengajukan, ya, saya harus datang sendiri ke kedubes pada saat mengajukan aplikasi residence permit sambil membawa semua dokumen. Karena seingat saya, scan sidik jari kita diperlukan di sana. Untuk urusan legalisasi dan terjemahan bisa diwakilkan.

Apakah anak-anak juga dibuatkan residence permit juga? Iya, anak-anak atau bayi sekalipun tetap dibuatkan ya. Anak saya berumur satu tahun waktu itu. Dia juga memiliki kartu residence permit yang sama dengan saya, atas nama dirinya sendiri. Syaratnya sama. Cuma karena masih bayi, scan sidik jari dan SKCK nya tidak diperlukan, jadi dia tidak perlu ikut datang ke kedubes. Batas usia anak berapakah yang tidak perlu datang langsung, nah itu saya ga tau. Ehe..

Apakah ada syarat luas rumah? Ohya, soal rumah. Ternyata ada peraturannya luas minimal rumah untuk tinggal, katanya minimal 12 m persegi per orang yang tinggal di rumah tersebut. Waktu itu ukuran rumah kontrakan kami hanya 30 m persegi dan ditinggali oleh saya, suami, dan anak kami yang masih berumur satu tahun. Sempat dipertanyakan juga, tapi akhirnya diloloskan juga karena kami beranggapan anak kami masih kecil dan tidak akan tinggal lama ini di Austria. Fyi, saya tidak merekomendasikan rumah yang "terlalu padat" seperti itu ya, karena ternyata kondisi kelembaban rumah jadi tidak sehat terutama pada saat musim dingin. Tentu bentuk, struktur bangunan, dan lokasi juga menentukan ya, tapi kalau bisa jangan "terlalu padat" deh. Pada akhirnya kami sekarang sudah pindah ke apartemen yang sedikit lebih luas untuk kami bertiga. Alhamdulillah  XD

Sejak semua dokumen kita masuk ke kedubes Austria, berapa lama residence permit kita akan keluar? Berapa ya, rasanya ada kalau satu bulan. Hehe saya lupa pastinya. Jadi semua dokumen kita itu dikirimkan ke Austria oleh kedubes Austria Jakarta. Bezirk Austria yang akan melakukan penilaian dan memberikan keputusan apakah pengajuan kita di-approve atau ada yang kurang. Waktu itu saya rajin mengonfirmasi via telepon ke kedubes Austria di Jakarta, rasanya setiap satu minggu ya kalau tidak salah. Setelah mendapatkan kabar bahwa dokumen kita sudah sampai di Bezirk Austria, suami saya menanyakan langsung keputusannya apakah bisa di-approve via email ke petugas Bezirk Leoben. Tidak berapa lama, approval-nya pun keluar. Alhamdulillah.

Setelah mendapatkan email approval dari Bezirk, sekitar beberapa hari kemudian, saya menghubungi kedubes Austria di Jakarta untuk mengonfirmasi, apakah saya sudah bisa mengajukan visa. Petugas di kedubes akan menginfokan mulai kapan kita bisa mengajukan visa.


Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan gambaran ya, buat siapa saja yang membutuhkan info ini. Selamat berjuang dan semoga sukses! J

Salam dari Leoben,

Share:

Tuesday, 4 April 2017

Catatan Perjalanan Bapak Siaga, Bumil, dan Batita Menjangkau Hannover dari Leoben

Hari yang dinanti tiba. Kami sekeluarga jadi melancong ke Hannover. Bukaaan.. bukan buat jalan-jalan tujuan utamanya. Tapi konferensi suami saya. Pak suami direkomendasi oleh pembimbing tesisnya untuk ikut dalam konferensi geologis di Hannover pada awal Maret 2017 lalu. Biaya transportasi dan akomodasi akan di-reimburse, tapi syaratnya PP naik kereta pakai vorteilscard (kartu diskon tiket kereta Austria). Suami saya bilang ke pembimbingnya kalau dia punyanya vorteilscard family, diskonnya baru berlaku kalau bepergian bersama anak. Eladalah rejeki anak, pak pembimbing bilang, “Ya udah, ajak aja istri sama anakmu...”

Alhamdulillah... bisa ngekor.. ngebolang berdua sama anak di Hannover (selagi suami konferensi). Nikmat-Nya mana yang hendak kau dustakan... (ngomong di depan kaca).

Leoben dan Hannover, dua kota di dua negara yang bersebelahan, Austria dan Jerman. Jaraknya kira-kira 900-an km atau setara dengan Bandung-Malang. Ditempuh dengan kereta perlu waktu sekitar 12,5 jam perjalanan totalnya di atas kereta. Tapi karena tidak ada kereta langsung ke Hannover dari Leoben, dan adanya dari Wina yang terdekat, ya jadi kami ke Wina dulu. Naik kereta dari Leoben ke Wina sekitar 2,5 jam, lanjut dari Wina ke Hannover 10 jam-an.

Di Austria, tiket kereta yang kita beli biasanya belum termasuk reservasi kursi. Kita harus membayar ekstra untuk reservasi kursi. Tapi dari Leoben ke Wina kami tidak perlu reservasi kursi karena biasanya banyak kursi yang nganggur. Hehehe.. terutama di bagian gerbong yang ada fasilitas kino alias bioskop mini untuk anak-anak. Gerbong ini biasanya letaknya di ujung paling belakang atau paling depan kereta, ada area parkir stroller-nya juga di dalam gerbong.

Nunggu kereta di stasiun Leoben. Stasiunnya kecil ya, namanya juga di kota kecil. Tapi untuk ukuran kota kecil, stasiunnya cukup hi-tech dan ramah stroller, kursi roda dan sepeda.

Dari Wina ke Hannover kami naik City Night Jet, alias kereta malam milik OeBB (KAI-nya Austria). Kami pilih kereta malam dari Wina ke Hannover, tujuannya untuk menyamakan dengan jam tidur anak, menghindari sebanyak mungkin anak bosan di dalam kereta.  Untuk kereta yang ini, kami sudah reservasi kursi sekaligus saat membeli tiket, karena perjalanan panjang, bisa mati gaya kan kalau sampai tidak dapat kursi. Kami pesan tiga kursi termasuk untuk anak kami, meskipun demikian untuk anak kami masih gratis karena umurnya masih 27 bulan. Alhamdulillah.

Makan malam di stasiun Wien-Meidling Wina, makan Kebap box di ruang tunggu. Enyaak.. dan insya Allah halal :)
Makanan habis, kereta belum datang. "Bapak siaga" membunuh waktu dengan nemenin anak menggambar bebas. Batita kami yang dasarnya memang suka sekali menggambar jadi 'anteng'. Bumil jagain barang bawaan sambil duduk di kursi khusus lansia, bumil, dan difable, yang juga merupakan satu-satunya kursi tunggu pakai busa. Wkwkwk.

Kami mendapatkan kursi di dalam kompartemen di kereta dari Wina ke Hannover, semacam kompartemen di kereta menuju Hogwarts dalam cerita Harry Potter. Dalam setiap satu kompartemen ada enam kursi. Pada saat akan masuk, di samping pintu setiap kompartemen tertulis kursi mana saja yang sudah dipesan dan dari stasiun mana pemesan kursi akan naik, juga di mana mereka akan turun. Informatif. Buat kami, ini berguna banget buat mengatur strategi invasi kursi orang lain dengan tenang. Hihihi...

Di kompartemen kami, tiga kursi untuk kami, dua kursi untuk orang lain yang naik dari stasiun lain di perbatasan dengan Jerman, dan satunya kosong. Tapi ternyata.. dua orang lainnya itu tidak datang. Yeyeyy jadi kami bisa pakai semua kursinya. Semua kursi bisa ditarik maju sehingga saling berimpitan membentuk seperti kasur. Kami bertiga bisa tidur selonjoran sepanjang perjalanan. Meskipun hanya anak kami yang benar-benar bisa tidur. Hahhaa.. Di tengah malam, memasuki stasiun pertama di Jerman setelah melewati perbatasan dengan Austria, kereta berhenti untuk pengecekan kartu identitas dan passpor penumpang oleh polisi Jerman. Yaaa paling tidak kami bisa selonjoran sepanjang perjalanan dan anak tidak rewel sudah Alhamdulillah. Sebelumnya sudah siap-siap mental, dikira bakal semalaman duduk sambil mangku anak supaya bisa tidur. Hihi..

Kursinya depan-depanan semuanya bisa ditarik maju, berimpitan. Kebetulan yang di foto ini belum selesai ditarik, lumayan sudah bisa dipakai selonjoran :D 
Barang bawaan kami. Kata teman-teman di Hannover, bawaan kita dikit banget untuk ukuran travelling 7 hari 6 malam satu keluarga. Satu ransel besar untuk perlengkapan selama di Hannover, dua tas ransel kecil berisi barang-barang kebutuhan selama perjalanan, seperti diaper, cemilan, dkk.
Kereta kami berangkat sekitar pukul sembilan malam dari Wina, dan tiba di Hanover Hauptbahnhof (stasiun kereta utama di Hannover) sekitar pukul tujuh pagi. Kami bergegas mencari tempat sarapan karena bumil (yang adalah saya sendiri) butuh pertolongan hahaha.. morning sickness datang euy... tapi alhamdulillah ga hoek hoek, hanya mual dan sendawa-sendawa saja seperti orang masuk angin. Untungnya kami bawa ini :

Minyak kayu putih tak lupa saya bawa ke mana-mana setiap bepergian menginap bersama anak

Waktu itu kami hanya mendapati McD, tempat makan yang rasanya akan cocok di lidah. Yang lainnya roti atau per-babi-an.. bumil solehah (aamiin) lagi picky, ga mau makan roti dan tentu cari yang halal. Tapi sayangnya McD ada di lantai dua, dan untuk ke sana harus naik tangga.... lah.. batita kami lagi tidur di stroller, rasanya ga mungkin ya harus diangkat naik tangga setinggi itu bersama strollernya.

Ya sudah.. walhasil kami berjalan menyusuri lorong di lantai bawahnya, dan ternyata lorong itu adalah mall yang ada di bawah jalan raya saudara-saudaraa... mantap jiwa Hannover ini tata ruangnya..! Mall ini menghubungkan stasiun utama Hannover dengan stasiun trem Kroepcke. Di tengah-tengah mall antara stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kropcke kami menemukan KFC. Yeayyy i miss you so much.. serius restoran ayam yang ga ada di Leoben ini ngangenin banget, yang padahal kalau di Indonesia mah saya sama suami ga suka makan di sana. Wkwkw.. dalam keadaan kepepet, kami baru pilih makan ayam di semacam KFC dan McD di Eropa biasanya sih. di Wina ada KFC dan jual nasi juga... ternyata KFC di Hannover ga jual nasi euy. Oh.. ya sudahlah.. jadi bule dulu ya kita... sarapan kentang. Tapi bumil yang juga punya batita ini sudah siap amunisi apel (dan pisau) juga susu kotak dong.hehehe mengurangi rasa bersalah karena makan fast food.

Ini yang saya bilang, lantai basement-nya mall, lantai atasnya jalan raya biasa (dan city walk juga). Foto ini diambil malam harinya, waktu kami mampir lagi ke sini.

Nah ini penampakan di siang hari, dari area city walk nya. Gedung yang ada labelnya "DB" (KAI-nya Jerman) di belakang patung berkuda itu adalah pintu masuk stasiun utama Hannover. Mall yang di basement-nya itu, menghubungkan stasiun utama Hannover dan stasiun trem Kroepcke membentuk lorong bawah tanah.

Nantikan cerita kami selanjutnya tentang petualangan di Hannover ya! J




Share:

Wednesday, 29 March 2017

Celoteh Anak Episode 1 : Aku Berani Diimunisasi

Percakapan antara Ibu dan buah hatinya yang berumur 27 bulan..

Bunda : "Aqila, nanti kita ke pak dokter ya.."
Anak : "okey.."
Bunda : "Aqila nanti mau disuntik.."
Anak : mematung sejenak lalu.. "dituntik itu taatit tauuuk" dan.. mundur teratur.
Bunda : "Ih.. disuntik kan sakitnya cuma dikit, kayak digigit semut, ckiiiiit. Trus udah."
Anak : "ih.. dituntik itu taaatit tauuuk" --> masih keukeh ternyata 😁

Lalu anak menghilang dari pandangan.

Bunda : "Healah. Palingan nanti dikasih permen sama dokternya"
Anak : "Pemmen itu ya em yang wannanya putih itu ya??" --> datang lagi 😂😂
Bunda : "Yok.. yang itu.. apa nama permennya kata dokternya, Traumzucker ya?"
Anak : "iya. Iya! Mau!"
Bunda : "Mau apa? Mau disuntik?"
Anak : "Iya!"

Yeah! Rayuan maut suntik hepatitis A berhasil. 

*Ngomong-ngomong, cerita tentang dokter anak saya yang kasih sebutir permen kecil sesudah vaksinasi itu benar adanya. Kadang hadiahnya bisa berupa mainan kecil, misalnya cincin untuk anak perempuan. Karena rajin jajan vaksin, anak saya totalnya sudah pernah dapat dua permen dan 2 cincin mainan, dan 1 permen untuk saya sendiri. Wkkwkw. Efeknya anak saya tidak takut ke dokter untuk diimunisasi. Ide bagus dari dokter, apreasiasi kepada dokter anak saya ini.


Share:

Tuesday, 28 March 2017

Surprise dari Allah : Hamil Kedua

Wah sudah hampir tiga minggu ternyata absen dari dunia blog. Padahal baru tiga minggu yang lalu rasanya, tarik komitmen diri sendiri buat bisa minimal posting satu judul tulisan di blog setiap minggu.

Tiga minggu ini bukannya ga sempat ya, insya Allah sih sempat kalau disempatkan. Tapi badan kok ya rasanya agak susah dikompromi. Biasanya saya membiasakan diri untuk nulis setiap setelah solat subuh (sebelum si buah hati bangun) dan siang hari saat dia tidur siang. Ada rutinitas yang bisa dibilang baru tiga minggu ini muncul, apa coba.. rutinitas itu adalah.. jeng.. jeng.. morning sickness dan afternoon sickness! Hehehe.. saya baru testpack tiga minggu yang lalu dan hasilnya positif. Alhamdulillah...

Tapi si sickness-sickness ini membuat saya oh rasanya ingin mengistirahatkan badan saja, membenamkan mata ke dalam bantal sampai tertidur pulas dan lupa rasa mualnya. Saya ikuti keinginan saya itu sambil istighfar, sebetulnya, oh... ini maunya jaga badan biar tetap fit atau hanya menuruti nafsu belaka sih. Hehehe..

Akhirnya hari ini saya berhasil mensugesti diri sendiri untuk kembali ke laptop. Alhamdulillah cuaca hari ini jugaaa sangat mendukung semangatnya. Hari ini masih permulaan frühling alias musim semi tapi panasnya di luar rumah sudah seperti musim panas. Di dalam rumah sih ya di spot-spot yang tidak kebagian matahari suhunya tetap sejuk-sejuk dingin, 18.5oC.

Apa gejala hamil yang saya rasakan? Awalnya saya tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Sama sekali. Sampai akhirnya saya mulai “engeh” sudah terlambat datang bulan dua minggu. Biasanya kalaupun terlambat juga paling hanya dua hari. Saya jadinya rajin memperhatikan gejala-gejala hamil kan. Intip PD tiap hari, ah.. no pain no (significantly) gain. Tapi memang saya jadi lebih sering buang air kecil. Mood? Ah ya mood saya sebulan terakhir parah mirip ayunan. Kasian suami dan anak huhu... jadi korbannya.. suami sudah lama nyadar sih.. biasanya menurut dia saya jadi sangat sensitif sebelum datang bulan. Kali ini, sensitifnya udah sejak lama, kok bulannya ga datang-datang? Hehehe. Nafsu makan saya juga jadi aneh. Saya jadi suka makan apa yang biasanya tidak saya suka, sambal! Berat badan saya terus menerus naik ke angka yang sebelumnya mustahil. Xixi.. dan yang munculnya kemudian adalah rasa malas serta rajin sendawa seperti orang masuk angin.

Kenapa saya akhirnya memutuskan untuk testpack? Pada saat menanti-nanti kehamilan anak yang pertama, beberapa kali saya merasa sedih dan kecewa melihat hasil testpack yang berkali-kali hanya garis satu. Hehehe. Dari situlah saya yang baru terlambat datang bulan dua minggu belum ingin testpack. tapi suatu hari, kami sekeluarga harus berangkat ke Hannover. Dengan gaya travelling kesukaan kami ala backpacker yang sering melelahkan, tentu membahayakan kan kalau ternyata saya hamil tapi saya gatau? Akhirnya dua hari sebelum berangkat, saya jajan testpack dan vitamin bumil di apotek.

Insya Allah akan segera jadi kakak :)


Bagaimana rasanya hamil kedua? Alhamdulillah.. syukur alhamdulillah.. rasanya menyenangkan.. sama senangnya seperti ketika dikaruniai hasil testpack garis dua yang pertama kali. Bedanya, kehamilan yang pertama itu kehamilan yang kami tunggu-tunggu ya.. jadi waktu akhirnya positif itu senang dan terharunya bukan main. Kehamilan yang kedua ini sungguh surprise dari Yang Maha Kuasa. Saya baru saja memantapkan hati menyerahkan kepada Allah kapan baiknya anak pertama kami akan punya adik kandung, tetapi insya Allah saya ingin bilang ke suami saya kita program aja yuk summer tahun ini. Hehehe.. ga taunya, hanya selang beberapa hari ternyata saya sudah “dung” duluan. Ya Alhamdulillah.. doa saya terjawab sudah...

"Mudah-mudahan Allah berkenan membuat kehamilan saya menjadi kehamilan yang normal dan terus sehat tanpa komplikasi, janin di dalam rahim saya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, sempurna jiwa raganya, soleh/ solehah, cerdas, selamat dunia dan akhirat. Saya berharap Allah memberikan kami umur panjang untuk taat kepadaNya. Aamiin-aamiin yra.."

Share:

Thursday, 2 March 2017

Doaku Selalu Ada Untukmu Wahai Abah dan Ibu..

Kamis dini hari saya terbangun dari tidur karena mimpi buruk. Buruk sekali tentang orang tua saya. Sampai-sampai terbawa ke suasana hati, saya jadi sedih, istigfar dan berdoa mudah-mudahan mereka baik-baik saja. Mudah-mudahan ini hanya bunga mimpi biasa karena mungkin salah posisi tidur atau... terkena tendangan maut batita selama tidur. Hh..

Belum lama sejak selesai berdoa tiba-tiba si batita juga terbangun. Merengek.. sambil memanggil-manggil babahnya. Babah adalah panggilan untuk kakeknya yang juga merupakan ayah saya. Jantung saya kembali berdebar. Mungkinkah dia juga mimpi buruk tentang babahnya? Kenapa kebetulan sekali sama.. ah.. wallahua’lam. Saya katakan padanya, “Nanti agak siang kita telepon babah sama buk ti ya..” Diapun menjawab iya lalu tampak lebih tenang dan bisa tidur lagi.

Pada saat makan siang, segala kerepotan urusan negara yang urgent semenjak bangun tidur biasanya sudah selesai. Pada saat ini juga biasanya saya dan anak agak santai untuk bisa sambil mengobrol dengan orang tua di-telepon. Kadang mereka yang menelepon lebih dulu, kadang saya, bergantian saja siapa yang lebih dulu bisa menelepon.

Kali ini saya yang menelepon duluan. Tidak diangkat. Mungkin sedang jauh dari HP atau sedang terapi. Ya, mulai minggu ini ayah saya disarankan untuk mulai fisioterapi. Semenjak kecelakaannya di awal bulan November, beliau memang belum sepenuhnya fit seperti sedia kala. Masih harus kontrol ke dokter setiap hari Senin. Masih harus minum obat karena tekanan darahnya masih sering naik, persendiannya masih sering sakit, otot kelopak matanya yang bengkak belum 100% sembuh, masih gampang lelah, pusing dan mual.

Biasanya orang tua saya akan segera menelepon balik setelah mereka membuka HP dan punya waktu untuk menelepon. Maka saya menunggu dengan tenang sambil beraktivitas seperti biasa dengan anak. Hari itu agak aneh, anak saya jadi sering sekali berceloteh menyebut-nyebut Babah dan Buk Ti (panggilannya untuk ibu saya) lebih sering dibandingkan biasanya.

Malam telah tiba. Tiba saatnya relaksasi bagi keluarga kami, pendinginan setelah “panas” seharian, bersiap-siap untuk tidur. Saat itulah saya baru sadar, orang tua saya belum menelepon balik padahal ini sudah tengah malam di Indonesia. Saya sedikit khawatir.

Keesokan harinya pun sama, telepon saya tidak diangkat dan tidak ada panggilan masuk ke HP saya dari abah dan ibu. Ada apa gerangan? Sedang sibukkah mereka? Atau paket internet habis ya? Ya, kami sambungan telepon kami memang mengandalkan internet.

Keesokan harinya, hari Sabtu, seperti biasa jadwal saya, suami, dan sekeluarga bertelepon dengan semua anggota keluarga dekat. Ibu dan ayah mertua di Malang, adik dan adik ipar di Jepang, Abah dan ibu di Wonosobo, dan kakak saya, istrinya beserta keponakan lucu saya di Tanjung Balai. Kami bertelepon satu-satu sekedar untuk menyapa, menanyakan kabar mereka, mengabarkan kesehatan kami, dan haha hihi barang sebentar. Yang paling jarang bisa tersambung via telepon adalah kakak kami di Tanjung Balai karena tinggal di kepulauan yang sinyalnya belum kuat. Hiks. Begitulah keluarga kami, sangat mengandalkan koneksi telepon dan internet untuk bersilaturahim karena semuanya berjauhan. Terutama kami yang di luar negeri, terpaksa harus absen dulu dari berkumpul saat lebaran.

Lagi-lagi hari Sabtu, ibu dan abah tidak mengangkat telepon dan tidak juga menelepon kami. Hati saya semakin bertanya-tanya.

Akhirnya di hari Minggu kami berhasil menghubungi kakak di Tanjung Balai itupun dengan suara yang tidak jernih. Entah karena koneksi di sana sedang tidak bagus atau karena HP kami lemah baterainya. Tidak tau pasti. Dan terjadilah percakapan ini..

“... nanti pas lahiran Bapak Ibu jadinya ga bisa datang ya mba?” maksud saya sebetulnya menanyakan Bapak Ibu Cilacap (Bapak dan Ibu mertua kakak saya), tapi mungkin karena suara tidak jernih kakak ipar jadi menangkap kalau yang saya tanyakan adalah Abah dan I bu. Lalu kakak ipar menjawab,”Ng.. adek udah tau belum ya? Abah sama ibu kantutt-tuut lalu telepon terputus karena hp suami saya kehabisan baterai.

Ya Allah saya dag dig dug. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja.

Kamipun kembali menelepon Ibu dan Abah dan Alhamdulillah diangkat! Saya lega sekali. Ibu terlihat sehat. Setelah saya tanyakan perihal telepon saya yang sudah tiga hari tidak diangkat, akhirnya ibu bercerita sambil terburu-buru, “Ibu kemarin habis ngantar Abah masuk rumah sakit lagi..” masuk rumah sakit?? “.. sebenernya Abah kemarin tiga malam empat hari di rumah sakit lagi.. di RSU situ deket rumah. ibu dibantuin, ditemenin sama..” ibu dibantu dan ditemani oleh sepupu-sepupu saya.

Astagfirullah... ternyata selama tidak bisa dihubungi Abah masuk rumah sakit. “Ibu ga sempat ngubungin kamu pas Abah di rumah tiba-tiba ndrodog demam.. pas kamu telepon juga ibu ga berani angkat. Takut pada khawatir.. dah gapapa yang penting sekarang Abah udah di rumah.. udah sehat.. doain terus yo tetep sehat terus...”

Saya menahan emosi bergejolak di hati saya. Sedih, merasa bersalah, ayah saya masuk rumah sakit tapi saya tidak membantu apa-apa. Bahkan taunya pun sesudah beliau di rumah. Mungkin, jika tau pun saya hanya bisa mensupport melalui telepon atau whatsapp kepada ibu saya yang sudah sangat kuat agar tetap kuat dan sabar menemani ayah saya. Hal yang lebih baik lagi hanyalah mendoakan mereka yang sejatinya insyaallah sudah selalu saya lakukan minimal setelah sholat. Tetap saya tidak bisa hadir secara fisik, membantu dengan tenaga, waktu, dan lain-lain, seperti apa yang saudara-saudara kami lakukan. Seperti apa yang harusnya seorang anak lakukan.. tapi saya tidak bisa... hadir...

Sedih.. sedih sekali..

Sambungan telepon yang baru beberapa menit itu tiba-tiba terputus karena ibu saya menerima panggilan masuk dari HP lain. Ya, kami menggunakan fasilitas video call dari Line, yang akan otomatis terputus jika ada panggilan reguler masuk ke salah satunya. Mungkin kakak menelepon ibu, pikir saya. Saya biarkan saja. Saya sudah lega mendapatkan kabar dari orang tua. Meskipun ternyata ada kabar duka yang terlambat saya ketahui, setidaknya saat ini ayah saya sudah rawat jalan dan saya sudah bisa melihat senyum keduanya di video call tadi. Cukup bagi saya.

Sekitar dua jam kemudian, saya mengajak anak bermain ke taman bermain di komplek apartemen. Di sana suami saya dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia-Leoben (orang Indonesia yang tinggal di Leoben) sudah menunggu. Mm... sudah mulai beraktivitas lebih tepatnya. Hari itu kami semua sudah janjian untuk berolahraga bersama di taman, bermain pingpong, bulutangkis, dan basket. Cari seru sekaligus sehat.

Di jalan menuju taman, saya pikir orang tua saya akan terhibur melihat cucunya asyik bermain nanti. Maka saya hubungi lagi orang tua saya. Telepon berdering.. satu menit.. tidak ada yang mengangkat. Ketika di taman, saya telepon lagi juga sudah tidak ada yang angkat. Ya sudah, mungkin sudah istirahat.

Esoknya hari Senin, suami saya sudah di kantor seperti hari kerja biasanya. Siang hari kembali saya hubungi orang tua saya. Sungguh saya ingin mengikuti perkembangan kesehatan mereka. Setelah pengalaman sebelumnya ternyata orang tua saya tidak mau mengangkat telepon karena ayah saya sedang sakit, sekarang mereka tidak mengangkat lagi saya jadi was-was. Hiks. Apalagi si batita, kembali berceloteh sedih ingin bertemu dengan Buk Uti dan Babah.

Bahkan saat belajar pipis di toilet sekalipun...

“Aqila penen main tama Buk Ti. Di Tomotobo..” (Aqila pengen main sama Buk Ti. di Wonosobo)
“Iya sayang.. nanti kita telepon Buk Ti ya..”
“Iya.. Babah tatit... Mimik obat Babah.. Aqila ambil-in obat buat Babah” (Iya.. Babah sakit.. Minum obat Babah.. Aqila ambilin obat buat Babah)

Atau percakapannya dengan ayahnya di malam hari sebelum tidur...

“Aqila mau main tama Buk Ti di Tomotobo..”
“Sama Babah juga?” tanya ayahnya.
“Ndak. Babah ladi tatit.. Aqila ambil-in obat buat Babah..” (Ndak. Babah lagi sakit.. Aqila ambilin obat buat Babah)

Saya termangu sedih di ruang makan mendengar percakapan mereka, suami saya tidak mengetahui kalau saya sedang galau karena kedua orang tua saya kembali tidak mengangkat telepon. Saya tidak ingin menularkan kegalauan padanya. Jadi saya pendam saja. Saat solat, saya menangis. Suami saya malah memeluk saya lalu meminta maaf. Dia pikir ada perkataannya yang menyinggung perasaan saya. Hadeh.. suamiku.. saya iyakan saja.. saya tidak ingin suami saya galau seperti saya mengkhawatirkan kondisi orang tua saya yang juga berarti orang tuanya. Dia harus tetap fokus pada studinya.. dia harus bisa lulus akhir tahun ini. Harus. Saya harus kuat untuk menguatkan dia. Saya pun menangis lagi.

Selasa... telepon saya masih juga tidak diangkat. Ya Allah.. mudah-mudahan mereka baik-baik saja. Saya hanya bisa mendoakan dari jauh. Ya Allah mohon Engkau jagakan mereka, sehatkan mereka, sembuhkan Abah tanpa kurang suatu apapun, jangan Engkau susahkan kedua orangtua hamba ya Allah.. dan jadikanlah kesakitan mereka selama ini sebagai penggugur dosa. Bahagiakan mereka di dunia dan akhirat ya Allah...

Di titik ini saya jadi flashback. Memikirkan kembali keputusan-keputusan besar yang terjadi di masa lalu dan berandai-andai. Andaikan saya menunda resign dari pekerjaan saya waktu itu... mungkinkah saya bisa ada di sisi orang tua saya ikut menemani mereka berjuang menghadapi cobaan sakit ini? Mungkinkah saya ada di samping Ibu enam bulan lalu, ketika Abah terbaring koma tidak sadarkan diri..

Astagfirullah... lalu saya kembali istighfar dan optimis insya Allah rejeki  tidak tertukar.. insya Allah ini memang jalan yang harus keluarga saya hadapi. Insya Allah ini hanyalah ujian Allah untuk kami agar keimanan dan ketakwaan kami semakin bertambah. Insya Allah kami bisa. Insya Allah Abah akan segera sehat dan beraktivitas kembali seperti sedia kala, insya Allah.. ya Allah..

Saat ini hanya doa yang bisa aku berikan pada kalian wahai Abah dan Ibu.. tiada yang lain.. hanya doa dan support-ku.. hanya doa dan perhatianku lewat telepon ini yang aku bisa berikan. Hanya doa dan kiriman-kiriman kecil yang aku harap bisa membantu pemulihan Abah.. hanya doa.. hanya doa.. yang insya Allah akan selalu ada untukmu Abah.. Ibu.. selepas sholatku..

Terimakasih Ibu sudah jadi istri Abah yang sangat kuat. Terimakasih sudah setia merawat abah. Insya Allah kami akan pulang Ibu, sebelas bulan lagi.. akan kutemani engkau merawat abah. Insya Allah akan kulayani kalian seperti raja dan ratu.

Ujian ini.. sungguh menyadarkan saya akan pemikiran saya yang ternyata salah. Dulu.. salah satu cita-cita saya adalah saya ingin bisa sewaktu-waktu ada untuk kedua orangtua saya, karena mereka pasti membutuhkan anak-anaknya.. saya salah.. mereka memang ingin berkumpul dengan anak-cucunya selalu.. tapi nyatanya mereka bisa tanpa kami.. sementara saya.. mendengar ayah saya sakit dan berkali-kali telepon tidak terhubung hidup saya jadi berantakan.. saya jadi tidak fokus.. mudah sekali menangis.. saya yang lebih membutuhkan mereka...

Teman.. saudaraku.. sahabatku.. seandainya kalian membaca tulisan ini.. dan kalian masih diberikan rejeki, waktu, uang, tenaga, untuk bisa menemui orang tua kalian, temuilah selagi bisa.. selagi mereka masih bisa ditemui.. teleponlah mereka.. tanyakan kabar mereka setiap hari.. selagi mereka masih bisa menyahut..

Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti.. seperti saya yang tidak pernah menyangka ujian ini menimpa keluarga kami. Pun saya masih bersyukur keluarga besar banyak sekali perhatiannya pada kami..

Kita mungkin memiliki orang tua dengan kondisi yang berbeda, situasi kita juga berbeda. Tapi saya yakin kita memiliki cinta yang sama besarnya kepada kedua orang tua kita masing-masing. Tunjukkanlah rasa cinta itu sebanyak-banyaknya kalian bisa. Ciptakan moment indah bersama orang tua kalian sebanyak-banyaknya kalian bisa.

Mudah-mudahan orang tua kita selalu dalam lindungan-Nya dimanapun mereka berada. Aamiin.. aamiin yra..

Leoben, 28 Februari 2017

Abah, Ibu, Keponakan, dan Kakak Ipar
Tanjung Balai Juni 2016, sekitar 3 Bulan Sebelum Kecelakaann itu Terjadi

Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya