Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Showing posts with label vaksin. Show all posts
Showing posts with label vaksin. Show all posts

Saturday, 30 September 2017

Daftar Harga Vaksin

Nemu foto “Daftar Harga Vaksin” ini di gallery foto HP saya. Kalau bukan karena memory HP penuh mungkin saya sudah lupa punya foto ini. Hihi. Foto ini saya ambil Desember 2014 sewaktu mengantar anak saya vaksinasi di RS Hermina Pasteur Bandung. Ini adalah daftar harga vaksin di RS tersebut pada waktu itu. Saya kurang tau kalau sekarang masih sama atau tidak, ya minimal masih bisa dipakai untuk memberi gambaran harga vaksin kala itu. ;)



Share:

Sunday, 14 May 2017

Imunisasi, Ya atau Tidak?

Suatu hari saya membaca sebuah status emosional yang kebetulan muncul di timeline facebook saya. Seseorang sedang menyatakan untuk say no pada vaksin dan mengajak teman-temannya untuk juga tidak usah mengimunisasikan anaknya. Dia baru saja memutuskan anak kedua dan ketiganya untuk tidak diimunisasi sama sekali, alasannya karena anak pertamanya baru saja terkena hepatitis B padahal sudah pernah diimunisasi.

Vaksin saat ini berkembang semakin banyak jenisnya. Saya amati banyak sekali orang tua muda yang bertanya-tanya, apakah buah hatinya harus diimunisasi lengkap atau tidak. Salah satu penyebab kebingungan adalah karena adanya kelompok vaksin wajib (yang disubsidi oleh pemerintah) dan vaksin tidak wajib tapi direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ada juga orang tua yang pernah bertanya-tanya, jangan-jangan vaksin kini tak lain hanyalah produk “bisnis”. Sebagian lagi karena khawatir akan keamanan vaksin. Ini soalnya buah hati ya. Sayapun punya anak sehingga bisa merasakan betapa ingin memberikan perlindungan terbaik untuk buah hati. Tapi manakah yang terbaik, imunisasi atau tidak?

Dear ayah bunda, tetap tenang dan tidak perlu bingung. Untuk memantapkan hati kita cukup perlu merefresh lagi pemahaman kita tentang vaksin dan menggali informasi sedalam-dalamnya. Bisa dengan berkonsultasi secara langsung kepada praktisi kesehatan yang dipercaya atau mengulik sendiri informasi yang valid tentang vaksin dari media. Namun hati-hati dalam memilih media. Sebaiknya pilihlah media yang sudah jelas terpercaya, misalnya jika dari internet, website resmi Ikatan Dokter AnakIndonesia atau website Biofarma (produsen vaksin milik negara Indonesia). Atau website lain dengan domain ".gov" atau ".org". Sebetulnya informasi lengkap tentang setiap vaksin (hingga ringkasan laporan hasil penelitiannya) bisa juga diunduh dengan mudah di website resmi WHO. Hanya memang menggunakan bahasa Inggris.

Mengapa imunisasi itu perlu? Imunisasi adalah cara untuk memancing respon imun tubuh, agar memiliki kekebalan alami terhadap infeksi pernyakit tertentu. Jika suatu saat nanti ternyata bakteri atau virus penyebab infeksi memapar tubuh, tubuh sudah siap dengan antibodi alaminya untuk melawan paparan bakteri atau virus tersebut. Sehingga tubuh terhindar dari infeksi atau kalaupun sakit, tidak separah jika infeksi datang sebelum kita diimunisasi.

Kemajuan teknologi juga berefek pada meningkatnya imigrasi (perpindahan penduduk). Ingat bahwa, berpindahnya seseorang dari suatu daerah ke daerah sangat mungkin membawa serta bakteri atau virus yang endemik di daerah sebelumnya.

Anak-anak usia sekolah paling rentan terinfeksi karena sistem imunnya umumnya belum sesiap kita orang dewasa. Mereka bisa mendapatkan infeksi dari mana saja, lingkungan sekolah (temannya yang terlebih dahulu terinfeksi misalnya), di jalan, lingkungan bergaul di sekitar rumah, dan sebagainya. Mereka juga sangat mungkin menularkan pada anak-anak pra sekolah dan anak-anak lebih muda yang belum diimunisasi ataupun memang belum waktunya diimunisasi.

Hampir semua vaksin yang sudah ada di dunia ini adalah vaksin untuk mencegah infeksi penyakit serius, yang bisa berdampak pada gejala sakit parah, kecacatan, atau bahkan kematian.

Pertimbangkan juga 3 hal di bawah ini jika Ayah Bunda belum mantap untuk mengimunisasikan buah hatinya 

Dalam memantapkan diri untuk mengimunisasikan buah hati, biasanya hal-hal berikut ini yang dipertimbangkan :

1.      1.  Masalah Keamanan dan Mutu Vaksin

Jika kekhawatiran ayah dan ibu adalah masalah keamanan, maka sesungguhnya ayah dan ibu tidak perlu khawatir karena vaksin yang resmi aman untuk digunakan.

Vaksin baru sebelum digunakan oleh masyarakat sudah diteliti selama bertahun-tahun dan juga terus di-review dengan hati-hati oleh para ilmuwan, dokter, pemerintah, dan lembaga kesehatan dunia untuk memastikan keamanannya. Total waktu  penelitian ini bisa memerlukan waktu hingga 12 tahunan.

Proses produksi vaksin juga harus mengikuti regulasi Cara Pembuatan Obat yang Baik yang terstandarisasi dan mengacu pada Good Manufacturing Process yang juga dilakukan di negara-negara maju di dunia. ini dilakukan agar kualitas vaksin terjaga. Sebelum diedarkan, setiap lot produk vaksin harus lulus uji mutu (Quality Control) dan  uji jaminan mutu (Quality Assurance) yang dilakukan oleh produsen vaksin, serta lulus pemeriksaan BPOM. Jadi pengawasannya bertingkat. Setelah lulus, setiap lot vaksin akan diberi sertifikat lulus uji oleh BPOM. Ini untuk menjaga kualitasnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, jika Ayah Bunda ragu, konsultasikan pada praktisi kesehatan atau mempelajari info lengkapnya di website yang terpercaya.

2.      2.  Masalah Efek Vaksin

Seperti obat, vaksin juga mengenal efek samping dan tentunya efek yang diharapkan.

Efek samping tiap vaksin berbeda-beda, tapi umumnya efek sampingnya minor seperti radang pada bagian kulit yang diimunisasi atau sedikit demam selama beberapa hari setelah imunisasi. Efek samping bisa muncul bisa tidak. Efek samping serius yang bisa muncul seperti reaksi alergi misalnya. Oleh karena itu informasikan juga pada dokter jika buah hati punya riwayat alergi terhadap bahan tertentu. Informasi efek samping setiap vaksin juga bisa dipelajari di website yang terpercaya tadi.

Sebagian orang tua yang ragu mengimunisasikan buah hatinya juga mungkin mempertanyakan apakah vaksin akan memberikan efek yang diharapkan. Efek yang diharapkan biasanya disebut sebagai efikasi. Seperti sudah saya sampaikan tadi, sebelum dipasarkan, vaksin sudah melalui tahap penelitian panjang. Di antara tahap penelitian itu, juga bertujuan untuk melihat efikasinya. Hasil penelitian efikasi biasanya menunjukkan persentase keberhasilannya. Misalnya persentase keberhasilannya 99%, maka dari 100 orang yang diimunisasi saat penelitian, hanya 1 yang tetap terjangkit penyakitnya, namun umumnya lebih tidak parah dibanding jika tidak menerima imunisasi sebelumnya. Kalau ragu, konsultasikan saja terlebih dahulu kepada dokter.

3.       3. Masalah Sosial, Ekonomi, dan Agama

Beberapa orang mungkin pernah mendengar bahwa ada beberapa jenis vaksin tertentu yang dalam prosesnya menggunakan atau bersentuhan dengan bahan yang berasal dari hewan tertentu yang tidak diperbolehkan oleh agama atau bertentangan dengan norma sosial.

Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia karena perusahaan vaksin milik negara Indonesia tidak menggunakan bahan yang berasal dari hewan. Ini dinyatakan di website resminya dan juga dalam suatu kuliah yang pernah saya hadiri, Bapak Dirut Biofarma saat itu juga menyatakan bahwa perusahaan itu menghindari menggunakan bahan yang bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat kita.

Ada satu vaksin yang beredar di Indonesia yang dalam prosesnya memang bersentuhan dengan bagian tubuh Babi, namun pernah diklarifikasi bahwa proses itu tidak bisa dihilangkan dan itu sudah melalui proses pembilasan berkali-kali sehingga tidak mengandung lagi unsur Babi pada produk akhir. Untuk hal ini, MUI juga sudah mengeluarkan fatwa bahwa untuk vaksin tersebut, hukumnya diperbolehkan, selama belum ada penggantinya. Alhamdulillah bagi kita yang muslim dan tinggal di Indonesia, kerja sama yang baik antara produsen vaksin, pemerintah, dan MUI bisa memberikan ketenangan pada kita dalam menyikapi masalah vaksin ini.

Bagaimana mempertimbangkan faktor ekonomi dalam memutuskan imunisasi atau tidak? Gampang saja, pertimbangkan berapa biaya imunisasi yang Ayah dan Bunda perlukan untuk jenis penyakit tertentu. Lalu bandingkan dengan kerugian kalau buah hati tidak diimunisasikan, lalu (nauzubillahimindzalik) dia terinfeksi sebelum mendapatkan vaksin itu.

Contoh, ini pengalaman pribadi saya sendiri. Saya tidak mengimunisasikan anak saya rotavirus (untuk melawan virus yang menyebabkan infeksi saluran cerna, gejalanya demam, diare dan muntah-muntah berat). Vaksin rotavirus direkomendasikan oleh IDAI tapi waktu itu belum termasuk vaksin wajib. Saya harus membayar cukup mahal, berdekatan dengan itu, ada imunisasi lain yang juga mahal harganya. Karena saya pikir-pikir infeksi rotavirus itu kan hubungannya dengan higienitas, sementara saya yakin akan higienitas lingkungan anak saya, sehingga saya putuskan untuk tidak mengimunisasikan anak saya rotavirus.

Sekitar 1,5 tahun kemudian, di negara yang berbeda, di Austria, ternyata anak saya terkena infeksi virus ini. Sumbernya tidak disangka-sangka, akibat kontak dengan temannya yang ternyata sedang terserang virus ini di hari pertama, sementara orang tuanya belum menyadarinya.

Anak saya berumur 2 tahun, dia harus dirawat di rumah sakit selama kurang lebih 1 minggu. Temannya tidak harus dirawat di rumah sakit, dia sudah pernah mendapatkan imunisasi ini dan umurnya juga 1 tahun lebih besar.

Total biaya rumah sakit yang harus kami keluarkan kurang lebih 3 kali lipat biaya imunisasi vaksin rotavirus, padahal ini sudah dibantu dengan asuransi. Belum kerugian waktu. Anak kami kehilangan waktu bermain, bereksplorasi, sebaliknya dia tergolek lemah di rumah sakit. Selama satu minggu saya ikut tinggal di rumah sakit karena anak saya tidak mau lepas dari saya. Di malam hari hanya saya sendiri yang menemani anak saya karena memang sudah ketentuan dari rumah sakit, hanya satu orang yang boelh menemani. Suami saya di siang hari ijin tidak ke kantor karena jelas kepikiran anaknya yang dirawat di rs, sementara kami bertiga jauh dari keluarga besar. Belum lagi energi yang dikeluarkan, stress, dan juga menyita pikiran keluarga besar. Sepulang anak saya dari RS, gantian suami yang terkena virus ini. Pada saat itu saya dan pihak RS juga menyesalkan anak saya tidak diimunisasi rotavirus. Sejak saat itu betul-betul deh ya, saya bertekad untuk memperjuangkan anak saya mendapatkan semua imunisasi yang sudah ada..

Sekarang, yuk sama-sama jadi masyarakat yang bijak dalam menyikapi vaksin. Jangan dulu katakan tidak pada imunisasi sebelum mempertimbangkan ketiga aspek di atas. Meskipun pada akhirnya keputusan ada pada masing-masing, namun sebaiknya dipertimbangkan juga matang-matang termasuk untung dan ruginya.

Keputusan untuk tidak mengimunisasikan anak terutama untuk vaksin-vaksin yang mencegah penyakit serius ini sama artinya dengan membiarkan anak dan siapapun di sekitarnya untuk terinfeksi penyakit serius. Iya, masalah sakit sudah diatur oleh Allah. Namun berikhtiar untuk tidak terserang penyakit adalah kewajiban kita. Imunisasi adalah salah satu pilihan jalan untuk ikhtiar itu.






Share:

Wednesday, 29 March 2017

Celoteh Anak Episode 1 : Aku Berani Diimunisasi

Percakapan antara Ibu dan buah hatinya yang berumur 27 bulan..

Bunda : "Aqila, nanti kita ke pak dokter ya.."
Anak : "okey.."
Bunda : "Aqila nanti mau disuntik.."
Anak : mematung sejenak lalu.. "dituntik itu taatit tauuuk" dan.. mundur teratur.
Bunda : "Ih.. disuntik kan sakitnya cuma dikit, kayak digigit semut, ckiiiiit. Trus udah."
Anak : "ih.. dituntik itu taaatit tauuuk" --> masih keukeh ternyata 😁

Lalu anak menghilang dari pandangan.

Bunda : "Healah. Palingan nanti dikasih permen sama dokternya"
Anak : "Pemmen itu ya em yang wannanya putih itu ya??" --> datang lagi 😂😂
Bunda : "Yok.. yang itu.. apa nama permennya kata dokternya, Traumzucker ya?"
Anak : "iya. Iya! Mau!"
Bunda : "Mau apa? Mau disuntik?"
Anak : "Iya!"

Yeah! Rayuan maut suntik hepatitis A berhasil. 

*Ngomong-ngomong, cerita tentang dokter anak saya yang kasih sebutir permen kecil sesudah vaksinasi itu benar adanya. Kadang hadiahnya bisa berupa mainan kecil, misalnya cincin untuk anak perempuan. Karena rajin jajan vaksin, anak saya totalnya sudah pernah dapat dua permen dan 2 cincin mainan, dan 1 permen untuk saya sendiri. Wkkwkw. Efeknya anak saya tidak takut ke dokter untuk diimunisasi. Ide bagus dari dokter, apreasiasi kepada dokter anak saya ini.


Share:

Wednesday, 25 January 2017

Hendak ke Luar Negeri, Perlukah Vaksinasi TBE (Tick-Borne Encephalitis) untuk Mencegah Meningitis, Ensephalitis, dan Meningoensephalitis?

Sebelumnya ini sudah saya post di FB, ternyata respon teman-teman untuk mengshare lumayan juga, jadi saya pikir ada baiknya untuk di-share juga di blog.
Hari ini (25/01/2017) jadwal kami sekeluarga vaksinasi FSME (Fruehsommer-Meningoencephalitis) atau dalam bahasa Inggris disebut TBE (Tick-Borne Encephalitis). Karena daerah kami tinggal termasuk wilayah endemik. Vaksin ini salah satu ikhtiar untuk mencegah infeksi virus yang disebarkan oleh semacam kutu (di sini kutunya disebut Zecken atau Tick dalam bahasa Inggris).
Infeksi virus yang disebar oleh kutu ini bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak), ensephalitis (radang jaringan otak), atau meningoensephalitis (radang selaput dan jaringan otak). Imbasnya pada gangguan syaraf.
Beberapa bulan yang lalu salah satu teman kami terserang virus ini. Dan efeknya masih ada sampai sekarang. Bahkan menurut tim medisnya, sakitnya bisa bertahan menahun sampai 2 tahun atau lebih, bisa berkurang atau memberat. Ikut sedih lihat kondisinya. Kata dia, ketika sakitnya "kambuh" dia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Selain itu, dia tidak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian lengan hingga jari-jari tangannya. Sebelumnya dia seorang pianis. Sejak terserang infeksi virus ini, dia tidak bisa lagi bermain piano, Bahkan sekedar mengetik di laptop nya atau menulis SMS juga kesulitan.  Tapi Alhamdulillah ikut senang. Sekarang kondisinya sudah membaik, sudah bisa berkarir lagi dan beraktivitas walaupun belum bisa main piano lagi dan juga belum se-fit dulu, masih kambuh-kambuhan. Capai sedikit, kambuh.
Di Austria vaksinasi FSME atau TBE belum digratiskan, baru ada subsidi sebagian dari pemerintahnya. Jatuhnya per orang di sini sekitar EUR 30-an sekian. Vaksinasinya rutin dengan jadwal : vaksin pertama, vaksin kedua 4 minggu dari yg pertama, vaksin ketiga 9-12 bulan dari yang kedua, vaksin keempat 3 tahun kemudian, selanjutnya setiap 5 tahun sampai berusia 60 tahun, di atas 60 tahun per 3 tahun. Vaksin ini untuk anak umur >1 tahun sampai dewasa. Kalau sudah vaksinasi rutin, insya Allah bisa mengcover 99%. Ga ada vaksin yang bisa 100% lah ya, ada campur tangan Tuhan di sana. Tapi insya Allah kalaupun kena setelah di-vaksin, ya tidak akan separah kalau kenanya belum di-vaksin.
Mahal ya, tetapi jika dibandingkan dengan dapat infeksinya pada saat kita belum di-vaksin, konsekuensinya lebih berat dibanding besar uang yang harus kita keluarkan untuk vaksin.
Saya senang dengan permisalan suami, vaksin itu ibarat kunci mobil. Mobil sudah dikunci rapat masih sering ada yang kecurian. Apalagi kalau mobilnya tidak dikunci, semakin mudah untuk dicuri.
Peta di bawah ini menggambarkan daerah endemik di dunia. Merah = TBE tipe Timur, Kuning = Tipe Barat, Orange = kedua-duanya. Selain merah, orange, kuning = bukan daerah endemik.



Alhamdulillah Indonesia saat ini tidak termasuk daerah endemik TBE. Jadi tidak perlu vaksinasi TBE. Hanya nanti perlu dipertimbangkan jika hendak berkunjung, sekolah, kerja atau pindah ke daerah endemik terutama di bulan-bulan Mei-Juni (musim semi), September (musim gugur). Apalagi jika akan berinteraksi dengan alam, main di taman, rumput, hiking, dll. Sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya konsultasikan kepada dokter mengenai vaksinasi ini.
.
Referensi : reisemed.at , wikipedia.org
.
Baca juga :

Share:

Tuesday, 17 January 2017

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit


Setiap hari, setiap saat, tanpa disadari kita berhadapan dengan kuman. Dalam bahasa mikrobiologi, kuman biasa disebut sebagai patogen. Patogen adalah sesuatu yang dapat menginfeksi tubuh kita dan membuat kita menderita penyakit tertentu. Patogen disebut juga mikroorganisme parasit. Pada saat kita berkontak langsung dengan patogen, maka bisa dikatakan kita terpapar patogen. Sementara jika patogen berhasil masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit tertentu maka dapat dikatakan kita terinfeksi patogen. Patogen tidak hanya menginfeksi manusia, patogen juga dapat menginfeksi hewan dan tumbuhan.
Di bawah ini adalah salah satu gambar hasil scan mikroskop elektron terhadap patogen yang di-publish di buku Microbiology of The Cells 4th edition karya Bruce Alberts dkk :
scan-mikroskop-kutu
Gambar A : Kutu, parasit yang sudah umum menjadikan mamalia menjadi inang, termasuk manusia, anjing, kucing, dan tikus. Kutu meminum darah inang. Gigitannya menyebarkan penyakit pes dengan memasukkan bakteri Yersinia pestis ke peredaran darah inang. Bakteri ini diperolehnya dari inang yang sebelumnya yang menderita penyakit pes.
Gambar B : Penampakan close up kaki kutu. Ini mengungkapkan bahwa kutu juga dapat dihinggapi parasit lain semacam tangau, di mana tungau ini (tampak di bawah mikroskop) diselubungi oleh bakteri. Sangat mungkin bakteri ini terparasitisasi oleh Bakteriofag yang merupakan virus bakteri.
Tubuh kita adalah ekosistem yang kompleks bagi patogen. Pada kondisi sehat, tubuh kita terdiri dari kurang lebih 1013 sel manusia dan 1014 sel bakteri, jamur, dan protozoa yang merepresentasikan ribuan spesies mikroba. Mikroba-mikroba ini disebut flora normal karena normal tinggal dalam tubuh kita. Flora normal biasanya tinggal terbatas pada area tubuh tertentu, seperti kulit, mulut, usus besar, dan vagina. Flora normal tidak menyebabkan penyakit pada manusia kecuali jika sistem imun tubuh melemah atau mereka masuk ke area steril pada tubuh. Misalnya ketika dinding usus manusia mengalami perforasi (berlubang) maka flora normal dapat memasuki rongga peritoneal (rongga perut) dan menyebabkan peritonitis (radang pada jaringan dinding perut bagian dalam).
Berbeda dari flora normal, patogen tidak harus menunggu sistem imun sel inang lemah atau terluka untuk dapat menginfeksi. Patogen memiliki mekanisme spesial untuk bisa menerobos barier sel dan biokimia manusia. Patogen juga mampu menstimulasi respon tubuh inang yang bisa membantu patogen tersebut bermultiplikasi menjadi lebih banyak.
Manusia hampir selalu terinfeksi oleh virus setiap saat. Akan tetapi, tidak selalu menimbulkan gejala yang tampak. Gejala yang muncul biasanya dihubungkan sebagai tanda suatu "penyakit" tertentu. Gejala seperti ini sesungguhnya merupakan manifestasi respon imun tubuh kita sendiri melawan infeksi. Misalnya seperti demam, bengkak, kemerahan, nanah, dan sebagainya. Gejala-gejala ini adalah tanda bahwa sistem imun kita sedang bereaksi untuk menghancurkan patogen yang menginfeksi tubuh.
Patogen itu sendiri meliputi :
1. Bakteri. Contoh : Neisseria meningitidis (salah satu bakteri penyebab meningitis), streptococcus (salah satu penyebab radang tenggorokan), dll.
2. Virus. Contoh : Hepatitis A Virus, Hepatitis B Virus,Hepatitis C Virus, dll.
3. Jamur. Contoh : penyebab kurap kaki, dll
Apakah paparan patogen akan menyebabkan infeksi atau tidak, ditentukan oleh :
1. Dosis : jumlah patogen yang memapar tubuh
2. Virulensi : kekuatan patogen yang memapar tubuh
3. Resistensi tubuh : kemampuan sistem imun tubuh untuk melawan patogen yang masuk.
Mengapa patogen senang menginfeksi manusia?
Patogen nenginfeksi manusia karena mereka mencari cara untuk bisa hidup dan berkembang biak menjadi lebih banyak. Sebagai inang, manusia kaya nutrisi, dan merupakan lingkungan yang hangat dan lembab, dengan suhu relatif seragam setiap saat, juga sel-sel tubuh yang selalu diperbaiki. Kondisi seperti ini mendukung berbagai patogen untuk bertahan hidup dan bermultiplikasi menjadi lebih banyak.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah infeksi patogen di antaranya adalah dengan melakukan vaksinasi, menjaga higienitas diri & lingkungan, menjaga makanan yang bergizi, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup. Sementara bila sudah terlanjur terkena infeksi, jalani treatment yang sesuai dengan anjuran dokter dan tenaga kesehatan.


Referensi :
Sumber featured image : Jackcusumano
Baca juga :

Share:

Saturday, 22 October 2016

Mengapa Perlu Mengisi Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak?

Pastikan Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak kita terisi dengan lengkap ya setiap kali kunjungan ke dokter. Ingatkan dokter jika beliau lupa. Seringkali sulit bagi kita mengingat informasi medis dan tumbuh kembang anak yang penting di kemudian hari, apalagi jika anak kita kemudian memiliki adik, dan adiknya punya adik lagi, dan seterusnya. Hehe. Juga, seringkali di ruang tunggu praktek, sedang menunggu anak kecil lain yang kesakitan. Informasi cepat dan akurat di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak akan mengurangi waktu yang terbuang karena kita harus mengingat-ingat informasi detail di masa lalu. Pemeriksaan jadi efisien, efektif, tapi menyeluruh terhadap anak kita.
Yuk, kita bantu ciptakan pelayanan kesehatan berkelanjutan dan menyeluruh untuk anak-anak kita. 💪:)💪
Sekitar 3 bulanan yang lalu, datang surat dari Eltern Kind Information Service (Layanan Informasi Orang Tua dan Anak dari pemerintah Austria) ke alamat kami. Isi surat tersebut adalah reminder jadwal untuk pemeriksaan tumbuh kembang oleh dokter spesialis anak untuk anak-anak usia 22-26 bulan. Pemeriksaan tersebut gratis untuk setiap anak yang memiliki ijin tinggal di Austria.
Setelah sempat tertunda karena anak saya terserang Rotavirus, akhirnya pekan lalu saya dan anak bertandang ke tempat praktek dokter spesialis anak. Baik resepsionis, asisten dokter, maupun dokter anaknya, semuanya menanyakan apakah saya memiliki "Mutter-Kind-Pass", Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Austria. Saya katakan tidak, karena anak saya lahir di Indonesia, sembari menyerahkan buku serupa yang saya dapatkan setelah persalinan di Indonesia.
Dokter dengan telaten membolak-balik satu-persatu halaman dari awal hingga akhir. Sepertinya agak sedikit kecewa karena tidak semua informasi yang beliau cari tertulis di buku atau mungkin juga justru terkesima pada gambar-gambar karikatur di setiap halamannya, who knows :D Tapi beliau sempat bermonolog mengapa tabel-tabelnya dibiarkan kosong tidak terisi (tabel bagian pemeriksaan selama hamil dan pasca melahirkan).
Rupanya informasi-informasi berikut ini yang beliau inginkan (yang selalu didokumentasikan oleh dokter kandungan dan dokter anak di dalam Mutter-Kind-Pass) :
1. Hasil pemeriksaan selama kehamilan, termasuk hasil tes lab dan USG
2. Medikasi apa saja yang ibu jalani selama hamil
3. Catatan persalinan
4. Hasil pemeriksaan bayi seketika setelah lahir
5. Hasil pemeriksaan ibu selama masa nifas, termasuk medikasi dan imunisasi terhadap ibu
6. Hasil pemeriksaan tumbuh kembang bayi berkala yang pernah dijalani sebelumnya (termasuk di antaranya berat & tinggi badan, serta lingkar kepala)
7. Rekam vaksinasi
Di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak milik saya (diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia) sebenarnya ke-tujuh poin tersebut sudah ada form, tabel, maupun chart nya. Namun, hanya bagian Catatan Persalinan, Rekam Vaksinasi, dan Grafik Berat Badan bulanan saja yang terisi. Lainnya kosong, baik hasil pemeriksaan selama hamil maupun pemeriksaan tumbuh kembang.
Bagian pemeriksaan hamil memang dibiarkan kosong karena diisi di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak dari RSIA Hermina Pasteur (selama 8 bulan pertama kehamilan saya tinggal di Bandung). Setelahnya hingga persalinan berada di Wonosobo. Nah, di bagian pemeriksaan tumbuh kembang, memang pada saat itu, hasil pemeriksaan tumbuh kembang anak saya di Indonesia selalu dilakukan berbarengan dengan vaksinasi. Rekam tumbuh kembang dicatatnya hanya di rekam medis dokter dan kepala saya, tidak dicatat di buku. Yang dicatat hanya rekam vaksinasi dan berat badan anak.
Selama di Indonesia, vaksinasi sekaligus konsultasi tumbuh kembang anak saya sempat dilakukan di 3 kota yang berbeda. Jadi, 3 dokter anak yang berbeda. Pada saat pemeriksaan sudah terbiasa dengar pertanyaan-pertanyaan tentang "masa lalu", seperti kapan tumbuh gigi pertama kali, merangkak, jalan, makan, tinggi badan saat umur sekian, sakit atau sehat ketika chart berat badan turun, riwayat sakit, dsb. Kadang terjawab dengan lancar, kadang hanya perkiraan karena tidak mungkin bisa ingat semuanya dengan detail. Informasi kira-kira ini sepertinya sudah jadi hal yang biasa dan dimaklumi. Mungkin juga karena anak saya Alhamdulillah tidak memiliki tanda kelainan apapun. Tapi ketika sesuatu tidak diharapkan terjadi, misal seperti kok beberapa bulan yang lalu berat badan di grafik KMS turun drastis. Apa yang terjadi waktu itu secara medis, konsultasi dengan dokter hanya bisa menghasilkan kesimpulan mentah karena data aktual hanya "di awang-awang" pada saat konsultasi.
Berbeda ketika hal serupa dilakukan di sini. Mungkin juga karena informasi demikian seharusnya tidak perlu dikira-kira karena tinggal dibuka di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak seandainya saja setiap konsultasi selalu terdokumentasi. Tenaga kesehatan di sini sudah terbiasa mendapatkan semua informasi tumbuh kembang yang diperlukan dari Mutter-Kind-Psss, sehingga jika terdapat ketidaksesuaian tumbuh kembang bisa terdeteksi dan diantisipasi resiko beratnya sejak dini. Pernyataan yang saya bold tertulis di Mutter-Kind-Pass.
Akhirnya, dokter memberikan saya Mutter-Kind-Pass terbitan kementerian kesehatan Austria itu, dan meminta saya mengisikan sendiri hasil-hasil pemeriksaan yang umum selama di Indonesia ke kolom-kolom yang ada, misalnya seperti perkembangannya, riwayat sakitnya, dll yang umum.
Sekilas tentang Mutter-Kind-Pass Rep. Austria berdasarkan pemahaman saya setelah membaca seluruh isi buku ini.
Mutter-Kind-Pass adalah sebuah ide bagus untuk menjaga sistem pelayanan kesehatan berkelanjutan pada seorang anak dimulai sejak dirinya berada di dalam kandungan. Ibu hamil di Austria akan mendapatkan Mutter-Kind-Pass sejak pertama kunjungannya ke dokter Obgyn. Semua rumah sakit dan dokter menggunakan Mutter-Kind-Pass yang sama.
Sesuai namanya "Pass" (=passport (EN)), memang ukurannya similar dengan paspor. Isinya sangat to the point. Hanya pengantar, lalu jadwal kontrol ibu dan anak, serta form yang mencakup ke-7 poin di atas tadi.
Pada Mutter-Kind-Pass juga disertakan brosur terpisah knowledge management untuk ibu hamil dan menyusui serta tumbuh kembang anak.
Setiap kontrol, dokter akan mencatat hasil pemeriksaan pada rekam medis di tempat prakteknya juga pada Mutter-Kind-Pass. Ini sudah menjadi SOP nya. Sehingga ke dokter mana pun bumil, busui, dan anaknya kontrol, dokter yang baru akan mendapatkan gambaran kondisi kesehatan sebelumnya dari Mutter-Kind-Pass. Informasi diperoleh dengan akurat dan cepat. Selain kontrol rutin, jika suatu saat terserang penyakit atau kelainan tertentu, dokter akan menelusuri faktor resiko penyebabnya secara menyeluruh, jika diperlukan, termasuk informasi mengenai medikasi terhadap ibu selama kehamilan.
Bagaimana kalau Mutter-Kind-Pass lupa dibawa ya saat ke dokter? Hmm kayaknya mah ga akan lupa sih, karena rupanya Mutter-Kind-Pass ini adalah "tiket" untuk mendapatkan tunjangan untuk ibu dan anak dari pemerintah. Ya, setiap anak yang ayahnya sudah membayar pajak penghasilan kepada pemerintah Austria, berhak mendapatkan tunjangan. Nah ibunya juga, kalau mau tidak bekerja, berhak mendapatkan tunjangan selama 2 tahun, dan disebut sebagai Karenz. Totally normal, pajaknya saja besar.. kurang lebih 45% dari penghasilan brutto 😮😮.
Kembali ke Mutter-Kind-Pass. Di dalam nya tertera jadwal 5x pemeriksaan wajib selama hamil, dan 5x tidak wajib, beberapa kali pemeriksaan selama nifas, dan 9x pemeriksaan tumbuh kembang anak setelah lahir.
Pemeriksaan Wajib untuk Ibu Hamil :
1. 1× pada usia kehamilan 16W (cek darah)
2. 1x pada usia kehamilan 17-20W (cek dalam)
3. 1x pada usia kehamilan 25-28W (cek darah)
4. 1x pada usia kehamilan 30-34W
5. 1x pada usia kehamilan 38W
Pemeriksaan tidak wajib ibu hamil :
1. 1x USG pada usia kehamilan 8-12W
2. 1x USG pada usia kehamilan 18-22W
3. 1x USG pada usia kehamilan 30-34W
4. 1× USG setelah anak lahir minggu pertama
5. 1× USG setelah anak lahir 6-8 minggu
Pemeriksaan wajib untuk anak (di luar jadwal imunisasi) :
1. 1x pada minggu pertama kelahirannya
2. 1x pada minggu ke-4 sampai ke-7 (termasuk pemeriksaan ortopedi)
3. 1x pada bulan ke-3 sampai 5
4. 1x pada bulan ke-7 sampai 9 (termasuk pemeriksaan THT)
5. 1x pada bulan ke-10 sampai 14 (termasuk pemeriksaan mata)
Pemeriksaan tidak wajib untuk anak :
1. 1× pada bulan ke-22 sampai 26 (termasuk pemeriksaan mata)
2. 1x pada bulan ke-34 sampai 38, sekitar ulang tahun anak ke-3
3. 1x pada bulan ke-46 sampai 50, sekitar ulang tahun anak ke-4
4. 1x pada bulan ke-58 sampai 62, sekitar ulang tahun anak ke-5
Status pemeriksaan "wajib" dan "tidak wajib" dalam Mutter-Kind-Pass berpengaruh pada pencairan tunjangan. Seluruh pemeriksaan wajib harus terlaksana dan terdokumentasi, stempel dan cap dokter di Mutter-Kind-Pass seusai pemeriksaan harus ditunjukkan kepada pihak asuransi. Di sini kantor asuransi berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam urusan pencairan tunjangan. Tidak terlaksananya pemeriksaan wajib akan menyebabkan tunjangan dihentikan atau dikurangi. Sementara pemeriksaan tidak wajib, jika tidak dilaksanakan maka tidak akan mempengaruhi tunjangan.
Jadi, dalam situasi saya, walaupun pemeriksaan tumbuh kembang dilakukan berkali-kali selama di Indonesia dan bisa disinkronkan waktunya apakah sesuai dengan jadwal yang diwajibkan untuk kontrol, tetap tidak bisa digunakan untuk mencairkan tunjangan karena tidak ada dokumentasi, cap, dan stempel asli dari dokter yang memeriksa.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pelajaran kali ini : Pastikan Buku Kesehatan Ibu dan Anak kita terisi dengan lengkap ya setiap kali kunjungan ke dokter. Ingatkan dokter jika beliau lupa. Seringkali sulit bagi kita mengingat informasi medis dan tumbuh kembang anak yang penting di kemudian hari, apalagi jika anak kita kemudian memiliki adik, dan adiknya punya adik lagi, dan seterusnya. Hehe. Yuk, kita bantu ciptakan pelayanan kesehatan berkelanjutan dan menyeluruh untuk anak-anak kita. 💪:)💪
Salam dari Leoben, Austria.
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya