Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Friday, 9 April 2021

Resep Nasi Biryani Ayam

 

Nasi Biryani adalah makanan khas India yang umumnya berbahan dasar beras basmati dan lauk berupa daging kambing, ayam, atau sapi. Nasi dan lauknya dimasak bersamaan dan dibumbui dengan aneka rempah sehingga menciptakan cita rasa yang otentik.

Nasi Biryani memiliki arahan rasa yang menyerupai Nasi Kebuli, tetapi sedikit berbeda karena juga mencampurkan yoghurt saat proses memasak. Saat disajikan, nasi biryani ditemani oleh saus kacang pedas dan saus yoghurt sebagai pelengkapnya.

Ternyata nasi biryani banyak penggemarnya juga ya di Indonesia. Di Bandung, kota tempat tinggal saya, mulai banyak resto-resto yang menyajikan kuliner khas India ini.  Pernah diajak sama suami ke salah satu resto di Jl. Riau, yang nasi biryani nya favorit. Nasi Biryani di sana disajikan dengan sangat otentik, tidak hanya bahan baku dan rasa, tapi juga suasana ruangan di dalam resto. Enak dan mevvah, kesan pertama saya ketika menikmati hidangan ini di resto itu. Tapi harganya juga mewah, bukan jadi resto yang bisa sering-sering kami kunjungi. 😂 Karena rasanya ngangenin, saya jadi termotivasi untuk bisa memasaknya sendiri.

Setelah mempelajari resep-resep yang beredar di google dan youtube dan mencobanya beberapa kali, saya bisa menarik kesimpulan bahwa tidak heran jika semakin otentik rasanya, semakin melangit harganya. Beberapa bahan yang diperlukan memang masih jarang digunakan di negara kita.

Nah, berikut ini resepnya saya rangkum. Jadi resep andalan saya untuk memasak Nasi Biryani ayam  buat orang-orang tersayang 😘


Nasi Biryani Ayam disajikan dengan saus yoghurt (dokumentasi pribadi)

Resep Nasi Biryani Ayam

Bahan :

-          3 cup beras basmati

-          1 sdm garam

-           1 kg ayam, potong-potong, blansir

-          1 cup yoghurt

-          1 sdm pasta tomat

        Sejumput Saffron


Bumbu :

-          2 sdm Margarin

-          2 sdm minyak goreng

-          1 siung bawang bombay ukuran sedang, cincang

-          1 sdm jahe yang sudah dihaluskan

-          1 sdm bawang putih cincang

-          1 batang kayu manis (+/- 10 cm)

-          2 butir lemon, diperas

-          3 lembar daun salam kecil

-          3 butir cengkeh

-          3 butir kapulaga

-          2 butir tomat ukuran medium, cincang

-          1 sdm ketumbar bubuk

-          1 sdm paprika bubuk

-          1 sdt jinten bubuk

-          1 sdt kunyit bubuk

-          ¼ sdt kayu manis bubuk

-          1 sdt seven spices

-          1 sdt kaldu bubuk

-          1 sdm garam


Bahan pelengkap :

-          Yoghurt

-          Bawang bombay cincang

-          Seledri

-          Kacang2an goreng

-          Kismis/ Dried fruit lainnya

 

Cara memasak :

1. Panaskan margarin dan minyak goreng dalam panci

2. Tumis bawang bombay sampai layu. Tambahkan jahe, Bawang putih, kayu manis, lemon peras, daun salam, cengkeh, dan kapulaga, sambil sesekali diaduk.

3. Masukkan ayam, aduk lagi

4. Tambahkan irisan tomat dan bumbu-bumbu bubuk. Aduk rata

5. Masukkan yoghurt dan pasta tomat. Aduk. Tambahkan air mendidih +/- 500 ml. Didihkan. Sesuaikan rasanya. Masak hingga bumbu meresap +/- 45 menit

6. Sambil menunggu ayam matang, cuci bersih beras basmati, rendam bersama 1 sdm garam. Rendam selama +/- 1 jam.

7. Setelah ayam matang, sisihkan ayamnya, Saring kuahnya.

8. Tiriskan beras basmati. Siapkan +/- 500 ml air mendidih dalam panci antilengket, campurkan 3 sdm minyak goreng. Masukkan beras. Tutup panci. Rebus +/- 7 menit sehingga beras menjadi nasi setengah matang. Tiriskan.

9. Tuang 3 sdm minyak goreng ke dalam panci anti lengket. Masukkan setengah bagian nasi. Tata semua ayam di atasnya. Tindih dengan semua bagian nasi yang tersisa. Tambahkan +/- 400 ml kuah. Tambahkan saffron. Tutup panci. Masak +/- 15 menit.

10. Buat saus yoghurt : yoghurt plain + bawang bombay cincang + seledri cincang

11. Saus kacang : bumbu hasil saringan kuah, pisahkan daun salam, kayu manis, cengkeh, dan kapulaganya. Blender bersama kacang goreng, cengek, dan sedikit kuah.

12. Tata nasi biryani di atas wadah. Beri topping sesukanya : seledri aneka kacang (mis. Almond, dsb), aneka dried fruit (kismis, dsb). Sajikan bersama saus yoghurt dan saus kacang.


Prosesnya lumayan panjang ya. But trust me, it is worth the effort! 😁👌

Selamat mencoba ya 🤗

 

Intip resep lainnya, yuk!

Nasi Kebuli Kambing

Ayam Panggang Paprika

Bolu Kukus Tanpa Emulsifier

Share:

Sunday, 4 April 2021

Mengapa Memilih Sekolah Farmasi ITB

Dalam rangka memperingati bertambahnya usia ITB, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengajak saya kembali bernostalgia. Mengenang tentang alasan memilih jurusan di ITB.

Saya jadi teringat tahun itu. Tahun 2006, ketika tiba saatnya saya harus mendaftar kuliah dan memilih perguruan tinggi yang mana yang akan diperjuangkan. Di antara beberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Pulau Jawa, sejujurnya saya tidak terbayang sebelumnya akan kuliah di ITB. Karena cita-cita saya waktu itu adalah menjadi dokter. Sementara ITB tidak memiliki jurusan kedokteran.

Kala itu saya sekolah di SMA 3 Yogyakarta.  Seterusnya tinggal di Yogyakarta adalah impian saya yang lain. Maka tak heran, jika lalu saya berharap bisa kuliah di  Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu universitas negeri yang prestasinya bersaing ketat dengan ITB.

Saya tidak pernah melirik perguruan tinggi lain. Pun saat teman-teman saya bereuforia dengan dibukanya pendaftaran ITB jalur mandiri. Saya tetap santai. Hati dan pikiran saya tetap terfokus ke UGM.

 

Ikut Ujian Perguruan Tinggi Jalur Mandiri sebagai Try Out

Beberapa bulan menjelang Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), try out masuk perguruan tinggi mulai banyak digelar oleh berbagai lembaga. Saya berusaha memyempatkan untuk selalu ikut. Latihan mental, tujuan utama saya. Tes ombak adalah tujuan berikutnya. Kira-kira kemampuan saya sudah sampai mana sih untuk mengejar cita-cita saya itu.

Mendekati jadwal SPMB, beberapa perguruan tinggi negeri mulai membuka pendaftaran jalur mandiri dan PMDK, termasuk UGM. Saya ikuti proses Ujian Masuk UGM jalur mandiri ini (UM-UGM). Saya berharap bisa diterima di jurusan incaran saya, kedokteran, melalui jalur ini, sehingga saya sudah bisa tenang lebih awal. Kalaupun tidak, di tahun itu saya masih akan punya satu kesempatan lagi, yaitu dengan ikut ujian SPMB.

Setelah UM-UGM, saya juga mengikuti saringan masuk Pendidikan Dokter Universitas Airlangga (Unair) jalur PMDK dan Ujian Saringan Masuk ITB (USM-ITB).

Jikalau rejeki saya diterima, maka bisa untuk cadangan. Tapi jika tidak, ya nothing to lose toh, karena impian saya sesungguhnya adalah Kedokteran UGM.

 

Tidak Ingin Membuat Ibu Kecewa

Meski hanya saya anggap try out, jalan untuk ikut USM ITB ternyata tidak semudah itu. Ternyata keputusan ini membuat ibu saya patah hati. Ibu sempat tidak mengijinkan. Bahkan saat saya menanyakan pendapat Ibu terkait pilihan jurusan di ITB yang akan saya pilih, Ibu saya memilih diam dan cemberut. 🙈

Lain halnya dengan Abah (ayah saya). Abah cenderung mendukung saja apa pilihan saya selagi itu baik.

Usut punya usut, ternyata Ibu saya suatu hari nanti ingin memiliki anak yang berprofesi sebagai dokter. Sementara Ayah saya berharap ada anaknya yang menjadi engineer. Harapan ayah saya sudah dipenuhi oleh kakak saya yang kuliah di Teknik Mesin. Sebagai anak bungsu, maka saya menjadi satu-satunya harapan ibu saat itu 😅

Perlu waktu beberapa hari untuk meyakinkan Ibu akan niat saya ikut USM ITB. Tampaknya teman-temannya juga banyak memberikan pencerahan terkait ITB sehingga akhirnya saya berhasil mengantongi restu Ibu untuk mendaftar USM ITB.

 

Pilihan Pertama Idealis, Pilihan Kedua Realistis

Tidak seperti saat mendaftar UM-UGM yang saya sudah yakin dengan jurusan yang hendak saya pilih, saat mendaftar ITB saya harus mempelajari dulu jurusan apa saja yang ditawarkan. Di titik ini, sejujurnya saya tidak terlalu serius dalam memilih. 

Saya mengingat-ingat hari ketika mas-mas dan mbak-mbak senior alumni SMA saya yang sudah menjadi mahasiswa ITB kembali ke sekolah. Mereka datang untuk memberikan pencerahan tentang ITB dan ujian masuknya, kepada kami adik-adiknya yang masih duduk di bangku kelas tiga. Mereka juga memotivasi kami untuk kuliah di ITB.

Dari pencerahan mereka, saya jadi berani tertarik untuk memilih Teknik Kimia. Saya rasa jurusan ini cocok untuk situasi saya saat itu, karena lingkup kerjanya kelak masih luas. Cocok untuk saya yang belum memiliki passion yang spesifik di bidang teknik.

Untuk meyakinkan diri, saya mencoba mengajak Ibu berdiskusi. Ternyata pandangan Ibu berbeda.

"Karena tidak ada kedokteran, sudah pilih apa aja yang terdekat dengan bidang kesehatan!"

Begitu saran Ibu saya. Maksud Ibu saya tak lain dan tak bukan adalah agar saya memilih jurusan Farmasi saja di ITB.

Awalnya saya ingin menjadikan Teknik Kimia di pilihan pertama, lalu Sekolah Farmasi di pilihan yang kedua. Tetapi Ibu saya masih belum srek jika Sekolah Farmasi di pilihan kedua. Akhirnya demi mendapat restu Ibu untuk ke Bandung, ketika mendaftar saya balik, Sekolah Farmasi pilihan pertama, dan Teknik Kimia pilihan kedua.

Setiap yang dengar pilihan saya ini pasti bernafas panjang. Hihi. Karena dua-duanya termasuk kelompok jurusan yang passing grade nya tinggi. Tapi bagi saya mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi jalur mandiri adalah nothing to lose. Menurut saya sebaiknya dipilih jurusan yang paling diminati. Terlalu idealis pun tidak apa-apa. Asal sesuai minat.

Nasehat dari mas-mas dan mbak-mbak senior tentang "Pilihan Pertama Idealis, Pilihan Kedua Realistis" saya simpan dulu untuk mendaftar SPMB, jika memang saya tidak diterima di seleksi mandiri.

 

Allah Maha Membolak-balikkan Hati

Saya sedang ada di Bandung ketika hari pengumuman UM-UGM. Saya di Bandung karena beberapa hari lagi waktunya tes USM-ITB. Saya deg-degan sekali hari itu. Akhirnya rasa was was saya terjawab. 

Saya tidak diterima di Pendidikan Dokter melalui jalur UM -UGM yang sudah saya ikuti.

Seketika saya langsung lemas.

"Mungkin kurang kenceng doanya, Vid." Begitu kata teman saya mencoba menyemangati. Ah ya mungkin saja ya.

Masih ada SPMB. Juga PMDK Unair yang belum pengumuman. Dalam hati saya. Meski begitu saya tidak bisa bohong kalau saya jadi khawatir juga meleset di SPMB. 

Sejak hari itu, saya tersadar bahwa setiap "pintu masuk kuliah" mestinya "diketuk" dengan serius. Karena kita tidak tau pintu mana yang sebetulnya jadi rejeki kita. 

Sejak saat itu, USM-ITB juga jadi lebih serius saya persiapkan. Tinggal beberapa hari lagi.

 

If You Get Tired, Learn to Rest, Not To Quit -Banksy

Setelah tes USM ITB, saya pulang ke Yogyakarta. Hati saya yang masih sedih bertambah sedihnya melihat suasana Yogyakarta yang baru tertimpa musibah.

Ya, gempa besar yang menghantam Jogja di tahun 2006. Saat gempa terjadi, saya baru tiba di Surabaya untuk tes PMDK UNAIR. Dari Surabaya saya langsung ke Bandung untuk tes USM-ITB. Jadi setelah USM, baru saya kembali lagi ke Jogja.

Tempat tinggal saya Alhamdulillah tidak apa-apa. Hanya barang-barangnya saja kacau berantakan. Kakak saya bilang, kamar saya sengaja tidak dibereskan supaya saya sendiri ikut menyaksikan efek gempa dahsyat itu. 

Perjalanan mengetuk pintu kuliah ini dari Jogja-Surabaya-Bandung-Jogja ternyata cukup melelahkan. Tapi sepertinya semakin terasa melelahkan lagi karena pengumuman hasil UM-UGM saya dinyatakan tidak lolos. Perjalanan saya masih panjang. Masih perlu banyak latihan soal SPMB. Tapi suasana hati kok tidak mendukung ya 😅

Saya putuskan istirahat dulu dari persiapan SPMB. Saya minta kakak menemani berkeliling Yogyakarta, dan apa yang saya dapati ternyata lebih memilukan lagi. Kota Bantul yang rata dengan tanah. 😭 Sejauh mata memandang, hanya reruntuhan rumah-rumah, kantor, gedung. Masyarakat tinggal di pengungsian. Sebagian lagi harus dirawat di Rumah Sakit. 

Di lain hari saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya. Sebagian dari mereka sudah lolos UM-UGM. Sebagian lagi sama seperti saya, masih harus berjuang. Mereka menceritakan kejadian di hari H terjadinya gempa. Kacau, panik, kehilangan anggota keluarga, dan sedikit humor untuk meredakan ketegangan. Dalam hati saya, saya harusnya bersyukur, Allah sudah menyelamatkan saya dan keluarga saya dari musibah. Allah juga mengijinkan saya mencoba mengikuti tes beberapa perguruan tinggi ternama. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Meski kali ini gagal, saya tetap harus semangat, pasti Allah punya rencana lain yang lebih indah. 

 

Saya Sempat Ragu 

Akhirnya tiba waktunya pengumuman PMDK UNAIR dan USM-ITB. UNAIR juga saya tidak lolos. Tapi tanpa saya sangka, ternyata saya lolos di pilihan pertama (Sekolah Farmasi) ITB. Senang sekali rasanya. Senang dan tenang karena sudah mendapat tempat di perguruan tinggi. Saya bisa pede memilih Pendidikan Dokter UGM sebagai pilihan pertama, karena saya pikir kalaupun, saya tetap bisa kuliah di ITB. 

Ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama. Karena setelah membaca lebih detail lagi tentang syarat pendaftaran ulang, ternyata hari daftar ulang bertepatan dengan hari tes SPMB. Sementara daftar ulang di ITB tidak boleh diwakilkan oleh orang lain dengan alasan apapun. Jadi? Saya harus memilih, ikut SPMB atau daftar ulang ITB?

 

Bukan Pilihan Mudah

Kalau saya memilih SPMB, saya bisa perjuangkan lagi Pendidikan Dokter UGM. Tapi kalau meleset alias tidak lolos lagi, sementara Farmasi ITB sudah dilepas.. ahh.. saya sulit membayangkannya. Mungkin juga jadi berat melepasnya karena pada waktu itu Sekolah Farmasi ITB menduduki peringkat pertama passing grade fakultas farmasi se-Indonesia.

Sementara kalau saya memilih daftar ulang Farmasi ITB, maka saya harus menutup "buku cita-citaku" yang ingin jadi dokter itu.

Saya tidak bisa memilih sendiri. Bertanya ke Ibu saya, Ibu saya lebih menyarankan saya ikut SPMB saja dengan pilihan ke dua sama-sama pendidikan dokter, tapi di universitas lain yang lebih realistis. Bagi ibu saya, jurusan pendidikan dokter adalah yang paling penting. Sementara bagi saya, minat kepada perguruan tinggi nya juga penting.

Saya pun istikhoroh. Berkali-kali. Dan entah bagaimana ceritanya hati saya tetap condong ke Farmasi ITB. 

Setelah saya sampaikan lagi ke Ibu dan Abah, beliau berdua pun akhirnya merestui.

 

Ridho Allah Bersama Ridho Orang Tua

Masuk ITB bersama ribuan mahasiswa baru dalam satu angkatan, disambut dengan Sidang Terbuka di Sabuga.

 Sempat merasa bersalah juga pada Ibu, karena tidak bisa memenuhi harapannya. Pernah merasa kesepian juga karena keluarga nun jauh di mato. Sempat down dan minder waktu adaptasi dengan lingkungan dan budaya baru yang jauh beda dengan di kampung halaman. Juga cukup kaget dengan pola belajar teman-teman sejurusan. Hahaha.. 

Alhamdulillah masih bisa lulus tepat waktu empat tahun kemudian dan tambah satu tahun lagi untuk belajar di pendidikan profesi Apoteker dengan beasiswa. 

Tentunya berkat ridho Allah, doa ibu dan usaha untuk bisa membahagiakan orang tua. Mungkin berkat ini juga, sebelum lulus saya berhasil mendapat posisi permanen di salah satu perusahaan kosmetik besar di Indonesia. Tiga tahun kemudian saya mencoba menceburkan diri ke dunia pelayanan farmasi di Apotek. Meski sekarang harus off dulu dari menjadi garda depan yang berkontribusi langsung dalam membangun kesehatan masyarakat yang berkualitas.

Dulu, mungkin saya berat move on dari cita-cita untuk jadi dokter. Tapi ternyata sekarang saya juga berat move on dari pekerjaan kefarmasian. Walaupun saat ini ada tanggung jawab lain yang harus saya lakukan dan situasi membuat saya belum bisa praktek lagi, tapi menimba ilmu dan edukasi ke masyarakat tetap bisa berlanjut. InsyaAllah tabungan jariyah. Aamiin.

 

<<< Cerita sebelumnya

Penerbangan Panjang bersama Anak Satu Tahun

KenaikanBerat Badan Bayi di Bawah Minimum 

Jaman Sudah Beda, Kenapa Tetap ngeBlog?

 

Share:

Thursday, 18 March 2021

Penerbangan Panjang bersama Anak Satu Tahun

Bulan September 2015, kami terbang ke Austria. Dengan mempertimbangkan waktu, dana, dsb, kami memilih Qatar Airways menjadi maskapai untuk mencapai negeri kalkun itu. Jadwal keberangkatan sekitar Magrib. Dan perkiraan total perjalanan sekitar 17 jam.

Ini adalah penerbangan panjang pertama anak sulung kami. Waktu itu usianya satu tahun satu bulan. Karena akan lama di dalam pesawat, sebagai mama newbie pastinya saya cari-cari cerita pengalaman yang lain tentang penerbangan panjang dengan anak batita. Banyak pertanyaan di benak. Beberapa ketemu jawabannya sebelum berangkat, beberapa pertanyaan lagi terjawab setelah mengalami sendiri. Hehehe.

Biar tidak keburu lupa, saya mau tuliskan pengalaman saya di sini. Siapa tau bisa bermanfaat di kemudian hari 🤗

Khawatir anak saya akan rewel karena bosan duduk lama

Ini adalah kekhawatiran saya yang pertama. Ternyata, tips nomor satu untuk mengatasi ini adalah pemilihan jadwal terbang. Memang jika perjalanan di pagi, siang, dan sore hari kita akan bisa menikmati pemandangan di luar karena terang. Biasanya juga tidak terlalu melelahkan jika dibandingkan dengan perjalanan malam, di mana kualitas tidur akan berkurang. Tapi bersama dengan anak umur satu tahun, menurut saya dan suami, lebih aman jika perjalanan dilakukan di jam tidur terpanjangnya. Dan ini yang kami pilih. Kami sengaja memilih terbang di malam hari, sehingga dia tidak bosan karena selama penerbangan, dia banyak tertidur sesuai jam biologisnya.

Memperhitungkan durasi perjalanan

Hal kedua yang jadi fokus kami adalah durasi perjalanan. Durasi perjalanan dihitung sejal keluar dari rumah di Indonesia sampai touch down di rumah tujuan. Berhubung rumah kami di Bandung, kami harus memperhitungkan waktu aman untuk tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta tepat waktu. Setelah itu, kami juga harus mempertimbangkan jumlah dan durasi transit saat penerbangan. Durasi transit yang panjang memang menarik, mungkin kita bisa jalan-jalan santai menikmati suasana di negara yang berbeda. Tapi di lain sisi, kami juga harus menyimpan energi yang cukup, mengingat setelah sampai di bandara Austria, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan mobil. Maka kami putuskan memilih penerbangan dengan waktu transit terpendek. Karena kami naik Qatar Airways malam, transitnya di Hamad International Airport, Qatar. Landing di sana sekitar tengah malam. Anak kami ternyata kebangun ketika transit. Syukurlah dia tidak rewel dan malah menikmati suasana bandara yang meski tengah malam, tapi tetap ramai orang. 

The Lamp-Bear, beruang besar ber-headlamp yang menjadi icon Hamad International Airport


Urusan mengganti diaper selama perjalanan

Saya sempat khawatir juga urusan mengganti diaper selama penerbangan. Sejujurnya, saya orangnya agak phobia berada di ruang sempit dan basah seperti toilet di pesawat dan kereta. Bagaimana saya harus meng-handle phobia ini sambil menggantikan diaper anak, yang mana anaknya masih berumur satu tahun dan tentu sulit diprediksi tingkah lakunya 😅, membuat saya deg-degan.

Secara kebetulan, begitu masuk pesawat, anak kami BAB di diaper jadi saya buru-buru menggantikan diapernya di toilet. Kami mendapatkan prioritas untuk masuk ke pesawat lebih dulu karena membawa batita. Jadi saya punya lebih banyak waktu untuk mengganti diaper-nya sebelum pesawat take off. Sudah jadi kebiasaan, sejak punya bayi, setiap pergi saya selalu menyiapkan kelengkapan ganti diaper dalam satu kantong yang mudah digapai kapanpun diperlukan. Jadi tinggal sat-set. Hehehe. Kayak apa aja. Setelah itu saya memeriksa toiletnya tanpa membawa anak. Anak, saya titipkan ke suami, supaya saya bisa tenang melihat kondisi toilet dan merencanakan strategi terbaik untuk ganti diaper tanpa drama. Hihihi. Karena saya yang pertama masuk, jadi toiletnya masih wangi dan kering. Dan ternyata di dalam toilet ada changing table nya 🤗 Changing table menempel ke dinding, bisa dibuka jika mau digunakan, dan ditutup kembali jika sudah selesai. Masalah ganti diaper tanpa drama solved 🤗

Siapkan baju berlapis untuk anak

Pertanyaan berikutnya adalah, baju seperti apa yang sebaiknya dia pakai selama penerbangan? Kan biasanya dingin di dalam pesawat. Nah, tanpa saya sangka, ternyata di dalam pesawat hangat suhunya, saudara-saudara 😊 Untungnya, sebelumnya sudah browsing-browsing dulu, disarankan persiapan bajunya berlapis saja. Jadi kalau kedinginan bisa ditambah lapisannya, kalau kepanasan gampang dilepas seperlunya. Anak kami di Bandara Jakarta pakai baju tidur bahan kaos lengan panjang. Di dalam bandara karena dingin AC nya, saya pakaikan anak sweater dan kaos kaki. Di dalam pesawat karena hangat, sweater-nya dilepas. Ketika tiba di Austria, waktu itu jam 7 pagi, di bulan Oktober. Masuk musim gugur, dingin anginnya seperti di puncak Dieng kalau di Indonesia. Jadi begitu tiba, di dalam Bandara Vienna Austria masih hangat. Saat keluar, kami sekeluarga langsung merasa perlu pakai lagi sweater dan jaket dengan benar 😅

Perlukah basinet?

Masih berhubungan sama pesawat, perlu nggak sih basinet? Konon, di pesawat rute internasional ada basinet, alias kasur bayi yang bisa dipakai oleh anak umur 0-2 tahun. Basinet di Qatar Airways yang saya tumpangi, ada di barisan kursi ekonomi yang paling depan. Untuk bisa dapetinnya harus check in seawal mungkin di counter. Karena saya pikir akan perlu, jadi kami sengaja check in lebih awal dan akhirnya dapat juga kursi yang ada basinetnya. Kursi barisan depan ini enak, karena space untuk kaki lumayan lebar, anak gegoleran di situ juga bisa (kalau nggak malu 🤭). Basinetnya nempel di dinding depan kursi. Bisa dibuka dan tutup sesuai kebutuhan. Tapi ternyata anak saya nggak bisa tidur di basinet 😅 jadi ya sudah dia tidur dalam pangkuan. Berhubung anak umur satu tahun belum dapat kursi sendiri. 

Bagaimana dengan stroller?

Perlu bawa strollerkah? Pengalaman saya, stroller lumayan membantu. Terutama kalau masuk ke pesawatnya tidak pakai garbarata. Biasanya jalannya lumayan jauh dari pintu ruang tunggu ke pesawat. Stroller ini bisa didaftarkan di counter waktu check in. Seingat saya, stroller tidak dihitung beratnya sebagai bagasi. Jadi setelah check in, stroller bisa tetap dipakai oleh anak sampai ke kabin. Apakah harus stroller cabin size? Kalau ada ya enak, memudahkan, pas masuk pesawat bisa dilipat lalu dimasukkan ke lemari kabin. Tapi kebetulan stroller anak kami bukan cabin size. Praktis dibuka tutup tapi ukurannya agak bulky. Memang waktu belinya nggak kepikiran sampai ke sana. Nah untung awak kabinnya baik semua. Mereka membantu menyimpan stroller anak kami di suatu tempat yang kami nggak tau di mana. Hehe. Waktu transit, stroller tidak ikut turun bersama kami. Untungnya ternyata di Hamad International Airport, ada banyak stroller yang bisa dipinjam secara free untuk berkeliling di dalam bandara.

Anak Kami Duduk di Stroller Milik Airport

Meskipun bawa stroller, saya tetap pakai gendongan. Gendongan adalah pelarian paling handal ketika anak kami mogok duduk di stroller. Waktu itu saya pakai gendongan ringsling karena anak kami masih suka digendong seperti itu.

Tas perlengkapan bayi yang praktis

Tas perlengkapan bayi yang paling ideal buat bepergian menurut saya adalah tas perlengkapan bayi yang bentuknya ransel. Biasanya dalam tasnya ada banyak ruang atau saku sebagai organizer, jadi memudahkan kita waktu perlu sesuatu, gampang ngambilnya karena nggak bercampur satu dan lainnya. Dan karena ransel, memungkinkan distribusi beban yang lebih merata ke badan, jadi lebih terasa ringan dan mencegah resiko cedera bahu. Waktu itu saya belum punya yang seperti ini 😂 kepikiran pun tidak. Rasanya dulu belum hits. Saya masih pakai sling bag klasik yang membuat suami saya gemes karena menurut dia lebih rempong dan kurang trendy. 🤭

Tidak perlu pakai earmuff

Kali ini kami pede tidak memakaikan anak earmuff, meskipun sebetulnya anak kami sudah memiliki earmuff. Earmuff berfungsi untuk melindungi gendang telinga dari suara bising. Hubungannya dengan pesawat, pesawat memiliki baling-baling untuk bisa terbang. Konon, suara baling-baling ini tidak baik untuk bayi. Nah, ternyata baling-baling pesawat komersil sudah diatur sedemikian rupa, sehingga suaranya aman untuk penumpangnya. Suara paling berisik yang bisa didengar penumpang biasanya saat boarding, jika penumpang harus berjalan menuju pintu pesawat tanpa garbarata. Sehingga penumpang akan melewati baling-baling pesawat yang sedang dipanaskan mesinnya. Di dalam kabin pesawat rute internasional, posisi paling dekat dengan baling-baling biasanya di area tengah, dekat sayap. Namun lagi-lagi karena sudah ada aturannya, suara baling-baling pun tidak sampai mengganggu kita orang dewasa, apalagi anak batita, pada saat sedang take off atau landing sekalipun.

Kalau begitu, untuk apa ada earmuff  anak-anak? Earmuff harus dipakai anak-anak ketika berada di lingkungan dengan suara yang sangat kencang dan mengganggu, seperti pada airshow event. Pada saat acara airshow, penonton akan disuguhkan pertunjukan manuver berbagai jenis pesawat, biasanya pesawat tempur dan sejenisnya, yang memang menghasilkan suara yang sangat kencang. Kita saja orang dewasa bisa terganggu, apalagi anak-anak. Sedangkan pesawat komersil, tidak menghasilkan suara yang mengganggu, jadi tidak perlu earmuff maupun bola-bola kapas untuk dimasukan ke telinga anak. Anak saya sendiri malah merasa tidak nyaman di dalam pesawat memakai earmuff. Mending pakai headset yang sudah disediakan di pesawat aja, pakai headset lalu nonton filmnya. 🤗

Apa yang harus dilakukan pada saat take off dan landing?

Pada saat take off dan landing, tekanan di dalam kabin berubah dengan cepat. Udara dalam telinga kita (tepatnya di telinga bagian tengah dan saluran yang menghubungkan telinga dengan mulut dan hidung) sebagai penumpang otomatis akan menyesuaikan dengan kondisi ini untuk menjaga keseimbangan tubuh. Biasanya kita akan merasakan efek seperti ada yang meletup di telinga kita. Lalu pendengaran berkurang seiring dengan naiknya ketinggian pesawat, dan kembali lagi ketika pesawat mulai turun. Batita pun sama, pasti juga merasakan ketidaknyamanan tersebut. Untuk mengurangi ketidaknyamanan di telinga saat take off dan landing, kita dan anak jika sudah agak besar bisa sambil menelan ludah atau menghisap permen.

Jika batita kita masih menyusui, sebaiknya anak disusui ketika take off dan landing. Gerakan lidahnya menelan ASI saat menyusui, dapat mengurangi rasa tidak nyaman di telinganya. Tapi jika batita sudah disapih, bisa diberikan minuman dalam botol bersedotan supaya tidak tumpah.

Anak usia tiga tahun ke bawah belum disarankan menghisap permen, karena aktivitasnya sering tidak terduga, beresiko menyebabkan tersedak.

Lalu bagaimana kalau anaknya tidur, apa perlu dibangunkan untuk menyusui? Menurut saya sih tidak perlu, ya. Justru bagus kalau anaknya bisa tidur dengan nyenyak. Cukup segera disusui jika saat take off dan landing dia terbangun.

Persiapan bekal makanan si kecil

Bekal makanan untuk si kecil juga saya pikirkan. Memang penumpang juga mendapatkan jatah makan di pesawat. Waktu itu kami dapat dua kali makan. Tentu saja saya tetap membawa bekal makanan kesukaannya sih, untuk berjaga-jaga jikalau dia tidak cocok dengan makanan yang dihidangkan. Saya membawa bekal makanan kesukaannya yang memungkinkan untuk dibawa, seperti pisang dan roti.

Mainan kesayangan

Meskipun perjalanan malam, amunisi mainan tetap dibawa. Seperti yang sudah saya ceritakan, anak seusia ini belum bisa ditebak 😅 Jadi untuk berjaga-jaga, saya tetap bawakan mainan kesayangannya, yang memungkinkan untuk dibawa. Waktu itu dia bawa boneka kucing.

Wah ternyata panjang juga ya ceritanya. Seru juga mengingat-ingat pengalaman itu. Semoga bisa bermanfaat ya 😁


<<< Cerita sebelumnya

Mengajukan Visa Schengen untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria.

Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria,


Cerita berikutnya >>>

Tinggal di Luar Negeri, Alasan Memasukkan Anak ke Playgroup

Playgroup di Leoben, Austria



Share:

Friday, 19 February 2021

Kenaikan Berat Badan Bayi di Bawah Minimum

Beberapa hari yang lalu adalah jadwalnya Nabila vaksinasi. Karena divaksin oleh dokter spesialis anak, saya sekalian konsultasikan perkembangan berat badan Nabila.

Usianya 4 bulan 1 minggu. Tiga bulan terakhir, berturut-turut kenaikan berat badannya di bawah Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM). 

Selama 3 bulan ini, Nabila memang tergolong sering muntah. Setelah ditelusuri dan diamati, dia muntah setiap kali saya makan/ minum produk susu dan seafood tertentu. Kadang disertai ruam. Sudah dikonsultasikan ke dokter anak, kesimpulannya alergi susu dan seafood tertentu. Jadi, menurut saya kemungkinan besar perkembangan BB nya di bawah KBM adalah karena dia sering muntah, alias nutrisi yang terserap tidak maksimal. 

Berdasarkan ini, saya konsultasikan ke dr. Devatri, SpA, bagaimana jika Nabila mulai MPASI?

Dokter mengecek perkembangan BB Nabila. Lalu analisa dokter seperti ini :
1. Secara umum Nabila tampak sehat
2. Kenaikan BB nya tiga bulan berturut-turut memang kurang dari KBM, tapi setelah dicek ke tabel Increment dari WHO, kenaikannya masih dalam batasan normal. 
3. Jika ada kekhawatiran, boleh mulai MPASI jika Nabila sudah menunjukkan kesiapan untuk memulai MPASI. Memang Nabila sudah menunjukkan tanda kesiapan MPASI
4. Karena masih berusia 4 bulan, MPASI nya hanya bertujuan untuk tambahan saja, bukan untuk menggantikan ASI.


Tabel Increment WHO

Tabel increment alias tabel kenaikan berat badan ternyata adalah tabel yang bisa kita rujuk, jika kenaikan berat badan anak kurang dari KBM. 

Tabelnya seperti ini (untuk memudahkan membacanya, saya tambahkan garis hijau) : 
Dokter lalu memberikan penjelasan. Kenaikan berat badan masih termasuk normal jika berada di sebelah kanan garis hijau. 

Tabel bisa diunduh dari website WHO, di link ini.


Baiklah, ketok palu. Nabila mulai MPASI.. bismillah 😇🙏

---
Cerita ini hanya sharing pengalaman. Kondisi yang sama pada anak, belum tentu memiliki diagnosa yang sama dan solusi yang sama. Solusi yang saya tuliskan, belum tentu sesuai untuk setiap kondisi yang mirip.

Jika buah hati Ayah Bunda mengalami kondisi yang mirip, boleh konsultasi terlebih dahulu ya dengan dokter spesialis anak.

Terimakasih 😊

----
Cerita lainnya >>


Share:

Monday, 15 February 2021

Jaman Sudah Beda, Kenapa Tetap ngeBlog?


Akhir-akhir ini bermunculan pertanyaan tentang sesuatu, seringkali tentang satu hal yang sama dari beberapa teman di medsos. Kadang hanya perlu dijawab singkat, tapi ada pula yang perlu dijawab panjang. Saya yakin ini sering terjadi di lingkaran medsos kita semua.

"Ditulis di blog, Vid! Nanti kalau ada yang nanya lagi tinggal di-share link-nya, nggak perlu cerita ulang", kata salah seorang teman. Dia adalah blogger yang konsisten. Kami pernah sama-sama menjadi penulis di blog apotekerbercerita.com. Dia sudah berhasil menelurkan sebuah buku. Keren sekali. Monika Oktora namanya.

Suami saya juga sama, sering mengucapkan kalimat itu. Dia juga konsisten menulis di blog nya, andyyahya.com. Dia juga sudah menulis bukunya sendiri. Tapi kok  sudah lama ya saya tidak dengar lagi suami saya bilang, "udah.. ditulis di blog..".🤭

Pak suami sepertinya tau saya sudah mulai kehilangan semangat ngeblog. Hihi. Kelihatan history postingan saya di blog ini, terakhir ternyata sudah tiga tahun yang lalu. Setelah saya ingat-ingat, kelihatannya saya tenggelam bersama rutinitas baru. Back for good, adaptasi lagi, ngurusin sertifikasi, hamil lagi, ngurusin sekolah anak, melahirkan, hamil lagi (lagi 🤭), renovasi, lalu dilanjut PJJ. Banyak sekali ide cerita yang ingin ditulis, tapi saya merasa kesulitan untuk mengatur waktunya.

Beberapa hari yang lalu, saya jadi sengaja sempatkan satu waktu untuk membuka-buka lagi blog ini. Memangnya saya sudah ngapain aja sih dengan blog ini? Buka-buka page nya, baca-baca judulnya, lalu baca ulang cerita-ceritanya. Astaga, ternyata seru juga. Saya seperti sedang menggunakan mesin waktu, melihat dan mendengarkan diri saya yang lebih muda. Berargumen, belajar menjadi edukator, belajar masak, sampai curcol hal receh. Ternyata sedikit-sedikit memories dan rasa-rasa mulai lepas dari ingatan. Saya sampai ketawa ketiwi sendiri, terutama waktu membaca cerita tentang celotehan Aqila waktu batita. 

Jadi saya sempat merasa ngeblog nggak se-worthwhile itu untuk disempatkan di sela-sela kesibukan. Tapi sekarang, malah saya menyesal. Merasa tulisannya kurang banyak. Merasa rindu dengan masa lalu yang belum sempat diceritakan. Ternyata feel nya beda ya, ketika sebuah cerita atau artikel ditulis saat belum lama terjadi dibanding dengan ditulis ketika sudah kelewat jauh. Waktu dibaca, feel nya akan beda.

Nulis blog pun sekarang bisa dari dan di mana saja. Tinggal pakai aplikasi di HP. Tidak harus lagi pakai laptop.

Dari situ, muncul semangat saya untuk rajin menulis lagi. Apalagi sekarang sudah gabung komunitas ngeblog bareng Mamah Gajah Ngeblog. Komunitas yang isinya ibu-ibu dan calon ibu, sesama almamater kampus gajah duduk, yang sama-sama hobi ngeblog. Jadi ada yang rajin ngingetin buat nulis. Bisa belajar banyak juga dari mamah-mamah yang lain.

Tulisan ini juga jadi salah satu challenge dari Mamah Gajah Ngeblog, "Alasan kembali menulis".

Challenge sampai tahun depan bahkan sudah direncanakan :

Februari : Alasan Kembali Ngeblog
Maret: Budayakan Hidup Tanpa Bajakan/Legal
April : Review/Resensi Film
Mei: Cerita Komedi true story
Juni: Mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing
Juli: Resep Masakan Andalan
Agustus: Komunitas yang bikin aku bahagia
September: Cerita kegiatan #dirumahaja
Oktober: Pengalaman/pelajaran berharga dari masa kuliah
November: Review/resensi buku
Desember: Lesson learned 2021 dan motto 2022
Januari: Nulis blog pakai bahasa Inggris


Semoga saja bisa terus mengikuti challenge nya.

Awal lahirnya blog ini, saya tulis ini di bagian about me :

---"Dengan menulis, saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja. hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis."---

That's so true. Dan saya pikir, akan relevan sampai kapanpun.

Jadi, tetap semangat menulis ya!🤗


<<<Cerita sebelumnya :
Nasi Kebuli Kambing

Share:

Saturday, 13 February 2021

Keberangkatan ke Austria

Akhirnya hari itu tiba juga. Jadwal keberangkatan kami ke Austria. Tiket sudah di tangan. Barang-barang sudah dikemas. Visa juga tentu saja sudah siap. Walaupun baru jadi beberapa hari sebelum keberangkatan.

Sedih karena ini yang pertama kali pergi sangat jauh dari Abah dan Ibu, untuk waktu yang lama. Sangat jauh sampai kami nggak yakin kapan bisa ketemu lagi. Mungkin tahun depan, atau depannya lagi, atau depannya lagi? Entahlah. Pun juga orang tua kami, saya yakin beliau berdua merasakan kegundahan yang tidak jauh berbeda. 

Tapi juga senang, karena ini artinya saya, suami, dan Aqila tidak perlu berjauhan lagi. 

Juga excited, wondering dunia luar seperti apa yang akan saya temui. 

Kala itu teknologi bernama android dan whatsapp belum lama muncul. Generasi milenial seperti saya dan suami tentu mudah menyesuaikan diri. Lain halnya dengan generasi senior. Kami juga sudah memikirkan itu. Hari-hari sebelumnya kami membiasakan berkirim video dan foto via whatsapp dan juga video call dengan para orang tua kami. Mempelajari trouble and shoot di whatsapp dan tentu saja cara memperpanjang kuota internet 😄 Demi kelancaran komunikasi jarak jauh nanti.

Di hari H, Abah dan Ibu, kedua mertua, dan adik ipar semua mengantar di bandara. Sahabat saya, Sabrina dan Kuti juga datang. Adik kelas suami yg sudah bantu ngurus2 residence permit, Heru dan Gumi, juga datang. Kakak saya dan keluarganya yang saat itu tinggal di Tanjung Balai, tidak bisa hadir. Tapi mereka sudah menyempatkan untuk bertemu kami di rumah sebelumnya. Momen yang sangat berarti ❤️

Aqila saat itu usianya 1 tahun lewat sedikit. Dia baru bisa mulai melangkah beberapa langkah. Lucu sekali. Di bandara, dia selalu bersama mainan kucing kesayangannya. Tetap ceria sambil berusaha disuapi makan buah pisang. Dia waktu itu memang agak tidak suka makan. Hahah. Sedikit makan, tapi sehat dan sangat aktif. Alhamdulillah. Dia senang sekali banyak yang datang memperhatikannya. Dia belum mengerti momen nano-nano di hari itu 😅 yah.. sepertinya keberadaannya menjadi pelipur lara kami semua orang dewasa yang di sana.
Tiba saat saya, suami, dan Aqila harus masuk ke ruang tunggu di dalam bandara. Sekali saya sempatkan menoleh ke belakang, melambaikan tangan, tersenyum dan berusaha tidak menitikkan air mata. Wkwk. Saya orang yang gampang terharu.

---
Sekelumit cerita untuk Aqila 😊 sebelum bunda lupa suatu hari nanti 😁

<<< Cerita sebelumnya :


Mengajukan Visa Schengen Austria 


Share:

Thursday, 11 February 2021

Nasi Kebuli Kambing

Got the recommendation recipe from my Egyptian friend. Thanks once again dear Ghadeer 🤗

Btw, walaupun pakai kambing, aroma khas lemak kambingnya yang suka bikin enek hilang sama sekali lho. Dagingnya juga empuk, anak-anak bisa ikut makan.

Resep Nasi Kebuli

Bahan
3 cup Beras Basmati
500-750 gram Iga/ paha kambing muda, cuci bersih, blansir
2 sdm Minyak goreng/ mentega/ minyak samin
1 butir Bawang bombay
2 cup bawang merah cincang
3 lbr Daun salam
3 batang Kayu manis
6 buah Kapulaga
8 biji Cengkeh
2 sdm Bawang putih halus
3 buah jeruk nipis kecil, peras, saring bijinya
1 sdt lada putih bubuk
2 cup pure tomat merah 
2 sdm pasta tomat
1 sdm garam
1 sdt kaldu sapi
1 cup paprika hijau dan merah
3 buah Cabe hijau (buang bijinya kalau mau ga pedas, supaya anak2 bisa makan)
Haluskan
2 sdm bawang putih
2 ruas jari kunyit

Cara membuat
1. Cuci dan rendam beras basmati
2. Tumis bawang bombay dan bawang merah sampai layu, bawang putih dan kunyit yang sudah dihaluskan, paprika, dg minyak goreng/mentega/ minyak samin
3. Masukkan iga dan paha kambing, aduk2
4. Pindahkan ke panci presto. Lalu tambahkan daun salam, kapulaga, kayu manis, perasan jeruk nipis, lada putih, pure tomat, pasta tomat, garam dan air. Tutup panci presto, rebus kurleb 30 menit.
5. Pindahkan iga dan paha kambing ke panci. Saring kuahnya, tambahkan ke dalam panci. Adjust rasa.
6. Masukkan cabe hijau dan beras basmati yg sudah direndam. Tambahkan air panas bila perlu. Aduk2. Rebus hingga air habis. Ake, diamkan sejenak. Siap dihidangkan 🤗


Original recipe by :

International Cuisines (youtube)

Alliwa Alakhdar Kitchen (youtube)


Recook by me. 

------------------------------------
Catatan resep lainnya :
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya