Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Monday, 25 July 2016

Sapih Menyapih

[Hari 1]
Anak bulan depan insya Allah sudah genap 2 tahun usianya. Insya Allah juga, keesokan hari setelah ultahnya, langsung akan mulai disapih total. Bundanya dag dig dug duer. Hehe. Atas saran dari pak suami, mulai dikurangi saja dulu menyusuinya dari sebelumnya, karena selama ini kegiatan menyusunya bisa dibilang sering. Sering tp sebentar2, kecuali pas bobo, bisa 2-3 jam an ngempeng terus 😅.
Walhasil dari sebulan yll sudah mulai ngitung hari sama anak, bahwa mulai 23 bulan, anak sudah harus belajar nen cuma pas mau tidur malam tok. Anak tampak agak mengerti sh. Awal2 dy geleng2 aja. Bbrp hari kemudian ngangkat jempol sambil bilang "oke" tp ditambah embel2 minta nen di bis sama tut tut (dy tau banget, di bis n kereta, emaknya sll paling susah nolak dy nen. Gmn g susah, bis sama kereta seringnya hening tenang begitu, bahkan di kereta ada simbol orang naruh jari di depan mulut 😅)
Akhirnya bbrp hari menjelang due date, tiap kali ngitung hari, jempolnya yg diangkat 2, sambil masih minta naik bis n tut tut jam sepuluh, tp g ditambain embel2 minta nen. Hoyeee..
Kemarin genap usianya 23 bulan, dimulailah hari pertama sapih siang2. Dari bangun tidur pas masih nen sambil ngumpulin nyawa, sudah diingetin lagi klo hari itu mulai belajar ga nen siang2, jd puas2in dlu silakan nen nya sblm 'bangun' beneran. Jempolnya ngangkat lagi dua2nya. Alhamdulillah banget sampai beres sarapan dy g mnta nen, klo haus langsung minum air. Biasanya di tengah2 sarapan sll ada pause nen. Sampai jam tidur siang, dy langsung mapan sndiri ke kasur, nata bantal sndiri, bawa boneka2 nya jg, kelonan mereka di sana. Lalu dy mnta bundanya ikut tiduran di sampingnya, kelon jg. Betapa senangnya hatiku 😍😍
1 menit kemudian.. mulailah dy kasak kusuk pindah posisi, gtu terus sampai 15 menit pertama, akhirnya ga tahan. "Menyu menyu!" Dia minta nen. 😄😄 Lalu dihibur, dijelasin, mba Qila udah besar, anak besar nen nha sblm 'good night' aja ya, biar tambah pinter n tambah cantik, walopun g nen bunda tetep sayang sm mb qila, pasti mb qila bisa.
Jegeerrr.. drama tantrum pun dimulai. Nangis, mnta gendong sambil mnta nen, pindah duduk dapur, balik ke kamar lagi, semua kursi mnta didudukin, terakhir, mnta jalan2 ke luar rumah. Pada akhirnya dy bs berhenti menangis dan bobok sambil timang2 di bawah perdu di pinggir jalan belakang rumah.
Setelah tampak tidur pulas, dibawalah pulang k rumah tp g berani mindahin ke kasur. Biasanya dy tidur siang 2 jam an. Tak gendong ke mana-mana 2 jam an gpp lah drpd drama lagi. Eh lha 1 jam pertama malah kebangun 😱 untung banget waktu itu kebetulan lagi video call an sm yangkung, yangti, om, sm tante nya. Krn rame, dy pun terhibur, tp tetep bbrp menit kemudian tampak gelisah lagi krn masih ngantuk.
Alhamdulillah, kebetulan setelah itu ada acara kumpul2 penduduk Leoben plus plus (plus penduduk kota sebelah). Qila keliatannya menikmati banget main bareng sama abang kembar, kakak tifa, tante2, om, pakdhe. Sampai lupa nen.
Pulang ke rumah udh jam 8 kurang, udh boleh nen lagi.
Drama sapih episode 1, durasi total 45 menit. :mrgreen:💖
Semoga episode 2 lebih baik lagi. Aamiin..
image
Share:

Friday, 15 July 2016

Suka Duka Mendaftarkan Anak di Day Care Negeri Orang

Lazimnya untuk bisa terdaftar di day care milik pemerintah di kota Leoben, Austria, harus melalui pendaftaran yang dibuka kurang lebih 6 bulan sebelum semester baru dimulai. Ya, layaknya TK, dan juga bertempat di TK, day care milik pemerintah juga menganut sistem semester. Jam bukanya hanya dari hari Senin sampai Jumat, pukul 07.00 sampai 15.00 (klik di sini untuk membaca cerita tentang day care nya lebih detail). Semester baru dimulai pada tanggal tertentu seperti halnya TK dan memiliki libur musim panas selama kurang lebih 2 bulan juga libur natal-tahun baru. Akan tetapi, pada libur musim panas anak-anak bisa ikut kelas musim panas dengan membayar ekstra yang besarnya sama seperti bulan reguler, dengan kuota peserta yang lebih sedikit.
Pendaftaran hanya dibuka selama 1 hari. Wow. Pada saat pendaftaran, salah satu orang tua hanya perlu datang ke TK bersama anak membawa kartu sakti asuransi, akta lahir, dan surat keterangan tempat tinggal dari balai kota (di sini bernama Meldedaten). Orang tua akan diminta untuk mengisi formulir. Pada saat formulir dikumpulkan kembali, orang tua akan menerima formulir lain yang bisa digunakan untuk mengajukan tunjangan uang makan ke balai kota jika anak sudah diterima. Jika diterima, sekitar 4 bulan sebelum semester baru dimulai, orang tua akan mendapatkan 2 buah surat dari balai kota. Surat pertama ditujukan kepada ibunya, berupa ucapan selamat karena anak Anda sudah mendapat tempat di day care X, masuk per tanggal sekian. Surat ke-2 untuk ayahnya berupa tagihan uang bulanannya. Hahaha.. gokil yah..
Beserta surat tagihan itu, terlampir blanko transfer uang bulanan yang sudah diisi (ada beberapa blanko dengan nama bulan berbeda-beda). Jadi ayah tinggal membawa blanko transfer tersebut ke mesin transfer bersama kartu atm, maksimal tanggal sekian setiap bulannya. Tidak ada tagihan lain selain uang bulanan. Tidak ada uang pangkal, uang pembangunan, apalagi seragam. Cukup uang bulanan, sebesar €261, saja. *sambil gigit jari* 😂😂
Karena kuota di day care tidak banyak, yaitu hanya 12 tempat untuk full day dan 12 tempat untuk half day, untuk setiap day care (fyi, tidak semua TK milik pemerintah memiliki program day care full day), maka bisa jadi ada antrian. Termasuk anak saya, karena saya kudet alias kurang update terhadap info pendaftaran TK, maka saya datang ke TK bukan pada saat pendaftaran. Wkkw. Alhasil tidak dapat tempatlah.
TK pertama yang saya datangi adalah TK yang paling dekat dengan tempat tinggal tentunya. Saat itu saya ditemani oleh teman berkebangsaan Austria keturunan Turki. Dia tentu bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Ternyata day care di situ sudah full. Petugas TK menyarankan saya datang lagi bulan depan karena pendaftaran untuk semester depan di buka pada bulan depan, atau bisa menghubungi ke bagian urusan kindergarten di balai kota untuk tau di mana day care milik pemerintah yang masih memiliki tempat kosong untuk semester yang sudah berjalan ini.
Saya pun mengikuti saran yang kedua. Masih ditemani oleh teman Austria saya itu, bertanya ke balai kota. Kami mendapatkan informasi yang diperlukan. Ada 2 day care yang masih memiliki tempat kosong di semester yang sedang berjalan waktu itu. Lokasi kedua-duanya perlu ditempuh kurang lebih 20 menit dengan bus. Petugas berkata, padanya saya bisa melakukan pendaftaran di salah satu TK tersebut. Ah baiklah, saya harus survey dan diskusi dulu sama suami, pikir saya waktu itu. Dua hari kemudian, setelah survey dan diskusi dengan suami, kami memutuskan memilih TK yang kebetulan, anak dari teman saya yang lain juga ada di sana. Selain lebih tenang karena ada kenalan, juga karena lokasinya di lingkungan yang lebih ramah anak. Pilihan TK yang lainnya berlokasi di daerah industri. Mengingatkan saya akan kerasnya hidup di kawasan industri X di Indonesia. Hehehe..
Sayapun datang kembali ke balai kota, menemui petugas urusan kindergarten. Kali ini saya hanya berdua dengan anak saya, tanpa teman yang jago berbahasa Jerman. Bermodalkan hafalan dari google translate, hehe, saya utarakan maksud untuk mendaftarkan anak ke day care. Betapa herannya saya, ketika itu petugas yang sama, berkata saya harus mendaftar langsung di TK. Saya harus membuat janji dengan penanggung jawab (PJ) di TK via telepon. Dia menuliskan nama PJ tersebut dan nomor teleponnya. Oke, baiklah.
Membuat janji dengan ybs via telepon ternyata tidak sesingkat yang saya bayangkan. Saya harus menelepon berkali-kali sampai akhirnya telepon diangkat. Setelah diangkat, orang yang menerima telepon di seberang sana ternyata bukan ybs. Ketika akhirnya bisa berbicara dengan ybs, ternyata beliau sedang sibuk dan meminta saya menelepon kembali pada pukul 15.00. Weleh.. ini mau bikin janji via telepon saja harus janjian terlebih dahulu, batin saya.
Betapa senang dan geernya saya ketika ibu PJ TK yang ternyata adalah ibu kepala sekolah, mempersilakan saya untuk datang ke TK mengurus pendaftaran anak saya di day care. Setiba saya di day care, ibu PJ TK sedang kontrol ke dokter karena sakit. Saya diminta menunggu. Sejak saat itu akhirnya saya paham, betapa SDM yang mengelola TK jumlahnya sangat terbatas. Tidak ada sekretaris khusus bagian pendaftaran ataupun administrasi. Tidak ada yang terlihat bekerja duduk-duduk di depan komputer di kantornya. Semuanya selalu sibuk pada jam kerja.
Saya menunggu sambil mengobrol santai dengan pädagogin dan para pengasuh di day care yang kebetulan sudah di luar jam kerja. Mereka semua ramah dan akrab. Mereka bilang MASIH ADA BANGET tempat kosong di day care. Teman saya yang anaknya di sana pun, sengaja kepo untuk saya, dia bilang sepertinya ada 2 tempat kosong (berdasarkan loker anak yang masih kosong tak bernama, tak bertuan).
Ketika akhirnya ibu kepala sekolah datang, beliau menyambut baik dan ramah serta akrab dengan anak saya. Saya mengisi formulir, menyerahkan persyaratan sambil tersipu-sipu, berpikir kami beruntung sekali mendaftar ketika semester baru sudah dimulai, ternyata masih mendapatkan tempat. Lalu kemudian ibu kepala sekolah bilang ".. tapi maaf Aqila belum bisa masuk sekarang karena sudah penuh." Jeger.. rasanya seperti disambar petir di wajah. Hahaha... mulai.. lebay..
Kecewa? Iyaaa. Ga percaya? Iya juga lah... berkali-kali saya memastikan apa betul sudah penuh? (Karena petugas balai kota urusan kindergarten, pädagogin dan pengasuh, semua bilang masih ada tempat). Jawabannya tetap sama, full. Unpredictable dan unbelievable. Beliau menerima formulir tersebut sambil bilang beliau tidak dapat memastikan kapan anak saya akan mendapatkan tempat. Semester depan sekalipun. Jika beruntung, maka balai kota akan mengirimkan surat kepada kami memberitahukan jika akhirnya anak saya mendapatkan tempat. Silakan ditunggu saja...
Sore itu pukul 6, masih di musim dingin, sudah sangat gelap. Melangkahkan kaki keluar dari TK dengan perasaan kecewa dan bertanya-tanya, sampai tidak menyadari ternyata saya meninggalkan dompet saya di ruangan ibu kepala sekolah. Dan baru menyadari setelah sampai di rumah, suami saya dihubungi oleh TK (yang lagi-lagi saya geer mengira si ibu salah ngomong) eh ternyata mengabarkan kalau dompet saya tertinggal. Haha what a day....
Besoknya, saya coba datangi TK pilihan terakhir di daerah industri itu. Batin saya, ah kalau anak saya jadi di day care ini, lagi-lagi saya termakan omongan sendiri 2 kali (yang pertama pada saat masih kuliah, setelah kerja praktek di kawasan industri X saya membatin bahwa saya tidak mau kerja di daerah itu nantinya, nyatanya malah setelah lulus saya kerja di sana selama 3 tahun. Lalu sekarang, ketika saya tidak ingin anak saya berada di day care di daerah industri ini.. saya malah seperti tidak punya pilihan lain. Ckck..).

By the way, ketika hari sebelumnya saya survey ke sana, saya sempat bertemu kepala sekolahnya dan bertanya masih adakah tempat kosong di sana, dan dibilang masih. Surprisingly, ketika saya datang di hari itu, beliau, kepala sekolah, orang yang sama, berkata ini sudah full. Lalu saya hanya bisa bernyanyi miris. Begini naasib..
Hari-hari berikutnya saya pasrahkan urusan day care pada Allah dan introspeksi diri. Ya, betul, saya memang butuh tempat di day care untuk anak saya segera. Karena lusa adalah hari pertama semester baru kursus bahasa Jerman reguler dimulai. Sebelum mendaftarkan diri di tempat kursus, tentu saya harus memastikan anak mendapatkan tempat di day care yang menurut saya baik. Tapi, bagaimana urgensinya si kursus Jerman ini..?? Perdebatan diri sendiri di kepala akhirnya sepakat pada kesimpulan bahwa.. belajar bahasa lokal penting, tetapi tidak urgent. Maka seharusnya saya hanya perlu selow dan tidak perlu baper ketika anak saya tidak dapat tempat di day care saat itu. Mungkin next semester, atau semester depannya lagi, atau memang menurut Yang Maha Kuasa ada yang lebih baik untuk dilakukan bersama anak setiap waktu, hmm manusia mana ada yang tau rencana Tuhan. Tugas manusia hanya berusaha. Dan saya sudah berusaha maksimal yang saya bisa untuk bisa belajar bahasa lokal intensif pada expert nya dan untuk mendapatkan tempat yang menurut saya baik untuk anak selama saya harus kursus intensif. Ternyata dari usaha yang sudah saya lakukan, warna-warni pelayanan baik, ramah, juga dingin, ketus dan jutek, saya dapatkan, ternyata hasilnya adalah, pernyataan yang mengejutkan dari para petugas pendaftaran, baik di balai kota maupun sang kepala sekolah. Mungkin terlalu fokus akan jurus-jurus dalam menggapai misi saya untuk make things happen, sampai-sampai saya lupa bahwa sejak awal seharusnya saya sudah ikhlas dengan apapun hasilnya nanti.
Hari-hari berikutnya saya belajar legowo. Akhirnya saya bisa ikhlas sampai benar-benar ikhlas. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Rejeki anak dan saya, saya pikir. Kami jadi bisa terus-terusan bersama di saat banyak ibu-ibu lain yang mendambakan quality time seperti ini.
Tiba-tiba beberapa pekan kemudian, suami saya mendapatkan telepon. Telepon itu ternyata dari TK yang anak teman saya juga di sana, mengabarkan bahwa per 1 April ada tempat di day care untuk anak saya. Kaget bercampur senang. Di sinilah lagi-lagi saya belajar ilmu ikhlas. Ketika saya ikhlas untuk tidak mendapatkan sesuatu yang diidamkan dan sudah saya usahakan maksimal, justru disitulah saya dapat meraihnya.
Pada waktu itu, saya sudah terlalu terlambat untuk bisa terdaftar di kursus intensif bahasa Jerman. Tapi ya sudah tidak apa-apa toh saya masih punya buku pinjaman dari teman Indonesia yang tinggal di sini juga. Setidaknya saya bisa belajar sendiri ketika anak di day care dan mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak terkerjakan dengan baik selama ini. Maka kami tetap menerima tawaran tempat di day care itu.
Tidak disangka, ternyata sebulanan kemudian (saat anak saya sudah bisa dilepas di day care) istri dari kolega suami saya yang menjadi pengajar kelas kursus Jerman gratis khusus untuk pengungsi Timur Tengah mengundang saya untuk bergabung menjadi peserta. Dulu saya tidak berhasil dapat tempat di kursus yang berbayar, sekarang ternyata malah datang tawaran tempat di kursus yang gratisan. Ya Allah nikmat Mu mana lagi yang hendak hamba Mu ini dustakan.. Alhamdulillah...
Kejadian ini mengingatkan saya sekali lagi untuk selalu mengiring ikhlas bersama usaha dan doa yang maksimal. Ya, ikhlas, bersama usaha dan doa yang maksimal. :):)
Share:

Monday, 27 June 2016

Playgroup di Leoben, Austria

Halooo.
Nah ini dia, akhirnya mood bertemu lagi dengan kesempatan untuk menulis. Sebelum bercerita tentang masa-masa adaptasi anak saya di playgroup (yang tentunya lebih menarik bagi orang tua yang mau memasukkan anak ke playgroup juga 😁😁), supaya lebih nyambung nantinya, saya akan menceritakan terlebih dahulu bagaimana playgroup ini menjalankan programnya, sehingga bisa tampak jelas mengapa saya akhirnya mantap memasukkan anak ke playgroup tersebut.
Ketika saya memutuskan memasukkan anak ke playgroup, tidak serta merta itu menjadi keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat. Saya merasa perlu memastikan playgroup tersebut baik untuk perkembangan anak saya. Saya ingin manfaat yang didapat setelah anak masuk playgroup jauh lebih besar daripada pengorbanan yang kami keluarkan. Ya, tentu saja ini penting, terutama karena pengorbanan yang kami keluarkan bukan hanya uang tapi juga quality time, terutama antara saya dan anak saya yang belum genap berumur 2 tahun. Jika tidak sebanding, ya lebih baik tidak usah masuk playgroup, lebih baik saya menunda diri dulu lagi untuk belajar bahasa secara intensif daripada tumbuh kembang anak dikorbankan. Ini sama seperti ketika saya hendak memilih antara resign atau tidak dari perusahaan tempat saya bekerja sebelum melahirkan (yang akhirnya saya memilih untuk resign). Maka kemudian saya mulai mencari informasi yang valid seputar playgroup di kota tempat tinggal kami.
Dengan keterbatasan kemampuan lisan bahasa Jerman saya, maka yang bisa saya lakukan hanyalah menghimpun informasi dari teman  saya yang anaknya sudah lebih dulu masuk playgroup serta (biasa) browsing di internet. Teman saya ini berkebangsaan Mesir dan merupakan satu-satunya teman di sini yang memiliki anak seumuran dengan anak saya, saya bersyukur dia bisa berbahasa Inggris. Hehe.
Hasil pencarian informasi dari internet juga sangat memuaskan. Karena di halaman pertama pencarian di google saya menemukan web site resmi dari pemerintah kota setempat yang bertautan dengan web site setiap taman kanak-kanak milik pemerintah yang ada di kota ini.

Fyi, ternyata setiap taman kanak-kanak milik pemerintah di sini ada playgroup nya untuk anak-anak di bawah umur 3 tahun.
Dari web itu saya bisa mendapatkan informasi valid dan up to date di mana saja lokasi taman kanak-kanak milik pemerintah, jam buka, jadwal dan penjelasan singkat kegiatan sehari-hari, foto beberapa spot, visi misi taman kanak-kanak tersebut, serta nama dan foto kepala sekolah, pädagogin, serta pengasuh. Penjelasannya singkat, mengena, dan desain web site nya lucu. Hahaha.. penting ga penting ya desain ini. Karena menurut saya, desain lucu seperti ini menegaskan bahwa taman kanak-kanak adalah tempat yang menyenangkan, dinamis, dan tidak kaku. Kalau penasaran bisa klik link ini hehe http://www.kindergarten-leoben.at
Umaaak... saya berharap nanti setelah pulang ke Indonesia bisa mendapatkan informasi resmi terintegrasi seperti ini supaya tidak perlu ngubek-ubek sendiri kota Bandung.. soalnya saya sudah iseng cari-cari juga web site resmi seperti ini untuk taman kanak-kanak di kota Bandung di Google kok belum ketemu-ketemu ya? Kalau blog banyak sih. Ya Alhamdulillah dan terima kasih pada mereka yang sudah mau mereview hasil survey nya di blog.
Ehem. Kembali lagi ke pencarian info playgroup untuk anak saya di sini. Nah, sayangnya informasi mengenai pendaftaran dan biaya tidak dicantumkan juga, di sana hanya dicantumkan ke mana saya harus bertanya mengenai informasi ini (yaitu ke balai kota atau langsung ke salah satu taman kanak-kanak yang dituju). Phyuh... pada waktu itu saya tidak tau apakah informan di balai kota dan taman kanak-kanak tersebut bisa dan mau berbahasa Inggris. Yap. Kota ini memang kota "Internasional", banyak orang asing tinggal di kota ini, baik mahasiswa maupun pekerja dan keluarganya. Namun percaya atau tidak, masih banyak yang komunikasi dalam pelayanan publik hanya mau berbahasa Jerman. Pelayanan publik terasa lebih baik dan lebih ramah jika kita menggunakan bahasa Jerman. Dan Bahasa Jerman saya tet tot.. menurut suami, seperti anak saya yang sedang belajar bahasa Indonesia. Hahahaaa.. Anyway, kekhawatiran saya benar juga.. Person in Charge untuk taman kanak-kanak di balai kota setelah saya temui ternyata hanya berbicara bahasa Jerman. Dia mengerti bahasa Inggris karena ketika saya hopeless tidak menemukan kalimat yang tepat dalam bahasa Jerman lalu saya menggunakan Bahasa Inggris, dia mengerti dan menjawab panjang lebar, tetapi dalam bahasa Jerman, dan tidak semua kalimat bisa saya pahami. Syukurlah waktu itu saya sudah sedia payung sebelum hujan, saya ditemani oleh seorang teman berkebangsaan Turki yang lahir dan besar hidup di Austria sehingga bahasa Jermannya sudah seperti penduduk lokal. Ke salah satu taman kanak-kanak pun demikian. Di titik itu saya merasa disitulah pentingnya relasi yang luas. Saya pun masih belajar membangun relasi.
Singkat cerita, inilah gambaran umum playgroup yang ada di taman kanak-kanak milik pemerintah di kota Leoben, Austria. Kurang lebih di kota-kota lain juga demikian, meskipun tidak plek-plekan sama.
- Di taman kanak-kanak terdapat dua macam grup : Grup Kindergarten itu sendiri (untuk usia 3-6 tahun) dan Grup Kinderkrippe (untuk usia kurang dari 3 tahun).
Jadi pembagiannya sudah jelas, berdasarkan usia. Usia menentukan stimulasi yang perlu dan tidak perlu mereka dapatkan sehingga berefek pada kegiatan sehari-hari yang akan mereka jalani selama di sana. Kinderkrippe inilah yang saya sebut sebagai playgroup. Jika diartikan ke dalam bahasa Inggris, Kinderkrippe memang artinya Playgroup. Akan tetapi di Indonesia, kinderkrippe lebih seperti gabungan antara day care dan playgroup. Namun supaya tidak bingung, maka saya tetap konsisten menggunakan istilah playgroup ya untuk kinderkrippe ini. Jadi kinderkrippe di sini semacam playgroup yang kegiatannya terjadwal, terstruktur, dan setiap hari anak-anak didampingi oleh pendidik lulusan sekolah Montessori dan pengasuh yang sudah di-training dengan baik oleh pemerintah untuk menjalankan metode Montessori.

- Apa itu metode Montessori? Silakan cari sendiri jawabannya di Google ya. Hehehe *takut salah jawab 😂.
- Kesannya kok keren atau sok keren itu ya bo playgroup aja Montessori segala? Ya gimana lagi yang ada ini di sini. Akhirnya saya malah jadi belajar dan mengakui kelebihan metode ini dalam menstimulasi anak. Dan sebenarnya tanpa disadari, banyak orang tua yang menstimulasi anaknya dengan metode ini. Mungkin Bunda Ayah yang membaca tulisan ini juga menerapkan metode ini. Hanya saja ada yang menyadari dan tidak. Mengenal istilah metode Montessori dan menuliskannya di sini supaya memudahkan barangkali ada yang ingin menggali lebih dalam mengenai metode-metode Montessori yang menyenangkan dalam menstimulasi anak-anak kita, sudah banyak juga buku di pasaran maupun artikel di internet yang bisa kita manfaatkan, bagi yang tertarik.
- Baik Kindergarten dan Kinderkrippe ada yang full day (pagi sampai sore) maupun half day (pagi sampai siang). Kelompok fullday dan half day dipisahkan. Jadi anak yang terdaftar full day tidak akan ada di ruangan yang sama dengan yang half day. Karena jadwal kegiatan mereka berbeda.
- Istilah full day dan half day hanya menunjukkan durasi maksimal anak berada di sana. Full day : maksimal 10 jam (dari jam 7-17.00), akan tetapi disarankan maksimal 8 jam untuk mengakomodasi kebutuhan emosional anak akan quality time bersama orang tuanya. Half day dari jam 7-13.00.
- Di kinderkrippe, anak tidak harus datang pagi dan pulang pada jam tertentu selama masih di dalam waktu tersebut. Bebas. Dan yang perlu diingat, datang maupun tidak, bayarnya tetap sama ya. Hahaha *perhitungan. Anak saya biasanya tiba di playgroup pada sekitar pukul 8.30 dan saya jemput sekitar pukul 16.15.
- Rutinitas setiap hari sama, yang berbeda adalah pädagogin, pengasuh, menu makanan, jenis permainan dan stimulasi yang dimainkan bersama-sama.
- Dalam satu grup hanya ada maksimal 12 anak. Setiap grup didampingi oleh 3 pengasuh dan 1 pädagogin setiap harinya.
- Jadwal playgroup full day :

7.00-9.15 bermain bebas di dalam ruangan

9.00-9.15 beberes ruangan bermain dan berkumpul di pintu keluar
9.15-9.30 berkumpul di ruang loker, bernyanyi bersama dengan gerakan, sambil mengantri cuci tangan
9.30-10.00 snack pagi bersama-sama
10.00-10.30 cuci tangan, ganti baju outdoor
10.30-11.30 bermain di halaman TK
11.30-12.00 ganti baju, cuci tangan
12.00-13.00 makan siang bersama
13.00-14.30an cuci tangan lanjut tidur siang
14.30an-15.00 bermain bebas di ruangan
15.00-15.30 beberes, cuci tangan
15.30-16.00 snack sore
16.00-17.00 bermain bebas di halaman (kalau cuaca cerah) atau di ruangan (kalau cuaca tidak memungkinkan).

Disana anak belajar untuk : mandiri (sesuai prinsip Montessori "help me, to do it myself", bersosialisasi dengan teman seumuran maupun orang dewasa (pädagogin dan pengasuhnya), bereksplorasi dengan mainannya, merapihkan mainannya sendiri, fokus, menyukai buku, mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, dan disiplin.


image
Dengan pola yang sudah tertata seperti ini, mainan yang sangat banyak dan menarik, tempat yang bersih dan rapih, pädagogin dan pengasuh yang ramah, ternyata tetap bukan hal yang mudah bagi anak saya beradaptasi di sana pada awalnya. Tentu saja karena anak belum kenal dengan lingkungan baru itu serta habit yang jauh berbeda diterapkan di sana. Bersama ibu nya di rumah banyak hal lebih ditoleransi daripada di sana. Seringkali senjata ibunya mah... "wes sing penting anake meneng.." (yang penting anaknya ga rewel 😂, dalam batasan-batasan tentunya).
Adaptasi selama 3 minggu sangat berat. Apalagi karena anak masih terbiasa menyusui langsung. Anak nangis, rewel, minta pulang, sudah jadi santapan selama 3 minggu itu. Tapi semua itu sangat berarti. Kami berdua, saya dan anak, banyak mendapatkan manfaat dari sana.
Mau tau bagaimana perjalanan adaptasi anak saya di playgroup? Simak postingan berikutnya yaa 😆😆😆
#selalu_ada_cerita_untuk_dibagi
Share:

Sunday, 26 June 2016

Sommer Fest 2016 (Festival Summer 2016)

Jadi ceritanya sejak hari Rabu yg lalu di sini sudah resmi masuk musim panas. Dan memang tiba-tiba suhunya jadi panas sekali. Huhah.. saking panasnya berasa lengket di kulit, mirip di Jogja panasnya.
Hari Jumat, TK tempat di mana day care nya anak bernaung, mengadakan "Sommer Fest", festival untuk menyambut kedatangan musim panas. Setiap orang tua diminta membawa tikar, makanan untuk dimakan bersama, dan investasi €5 semingguan sebelumnya untuk mengundang pesulap. Wkkw.
Karena excited, saya terpikir untuk membuat onde-onde dan sudah tanya ke Pädagogin-nya dari 2 mingguan sebelumnya boleh atau tidak bawa onde-ond3 karena mengandung gluten/ ketan, bisi anak-anak banyak yang alergi gluten. Katanya boleh, engga apa apa nanti infoin aja ingredients nya apa. Tapi mendadak H-1 malas sekali ribet undel-undel satu-satu da ga ikutan makan juga da Ramadhan *lupa kalau anaknye butuh makan juga siang2 😂😂 ibu macam apa* Akhirnya H-1 sebelum jemput Q di TK, impulsif-lah beli 2 kg anggur putih untuk hari H. Yess.. jadinya ga perlu capek2 bikin.
Sampai di TK, tanya lagi ke Pädagogin-nya, "gapapa kan bawa buah anggur?". Kata Pädagogin-nya, "Mmm.. anak-anak umuran segini kayaknya belum bisa atau ga doyan makan anggur deh biasanya..." dan dia sangat tertarik pada onde-onde si makanan Asia itu.
Umaaak khilaf. Baru ingat juga kalau anak juga belum bisa makan anggur (harus dikupaskan dan dipotongkan kecil-kecil, serta dihilangkan dulu bijinya). Yasudah, akhirnya bikin onde2 kira2 75-100 pcs, setelah solat subuh (eh Alhamdulillah onde-onde nya laris :) )
Pas hari H, Pädagogin dan orang-orang TK sudah membuatkan semua anak day care kostum dengan tema penyihir dan sulap. Wkwk. Untuk anak-anak day care grupnya Q, 2 minggu sebelumnya sudah diminta mengumpulkan kaos polos biru dongker. Ternyata sama mereka diberi gambar bintang-bintang dan bulan sabit menggunakan spidol khusus untuk tekstil. Mereka juga dibuatkan topi kerucut dan kalung yang saya pikir name tag ternyata bukan. Untuk anak-anak TK kostumnya topi dari kain, seragam, diberi gambar juga dengan spidol tekstil, pakai jubah (anak laki-laki), dan rumbai-rumbai dari kain jersey (anak perempuan). Semua kostum ini surprise, untuk orang tua. Kreatif maksimal memang tim TK nya. Nah kostum yang dikenakan oleh Pädagogin dan tim TK nya sih beda ya, terlihat paling "wah" karena sepertinya kostum sewaan sih. Haha.
Acara dibuka dengan parade pendek anak-anak dari dalam ruangan ke halaman depan TK. Setelah itu semua berbaris. Anak-anak TK melingkar berdiri, di belakang anak-anak TK itu berdirilah anak-anak day care. Karena anak-anak day care yang masih sangat innocent-innocent itu belum bisa diharapkan untuk berbaris sendiri, maka hampir semua digendong oleh orang tuanya. Termasuk Q. Lalu kepala sekolahnya keluar berdiri di depan memandu Choir dengan gitar. Wew gaul ibu kepala sekolah TK nya padahal usianya kira-kira sekitar kepala 5, dilihat dari gesture dan penampilannya sih. Suaranya juga merdu. Anak-anak TK bernyanyi bersama kepala sekolahnya lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ee lhaa ternyata Q bisa ikutan nyanyi juga! Sambil tepuk tangan dan goyang-goyang. Aduh nakkk terharu bunda mu ini.
Suasananya jadi mirip pentas seni perpisahan kelas. Iya sih minggu depan memang minggu terakhir di semester ini. Setelah itu liburan musim panas dan tahun ajaran baru (banyak yang lalu masuk SD, pindah dari day care ke TK karena usianya sudah cukup, atau berhenti bagi yang di day care karena memang belum wajib sekolah).
Choir selesai, ibu kepala sekolah meresmikan acara hari itu dan menjelaskan bahwa hari ini acaranya anak-anak dan orang tuanya bermain bersama di pos-pos permainan dan menonton pertunjukan sulap bersama-sama. Total ada 10 pos permainan. Setiap pos ada nomornya acak (bukan angka 1-10, tp ada yang puluhan juga), supaya anak bisa sambil belajar mengenal angka-angka puluhan.
Yealah saya pikir acaranya sekedar piknik santai sambil menonton anak-anak yang menonton sulap. Terlanjur pakai sepatu wedges..




wkwkw... akhirnya ya bisa ditebak... karena jalan dari pos satu ke pos lainnya, serta dari rumah ke halte dan halte ke rumah, akhirnya tiba di rumah, bundanya tepar bersama si anak.
Besok mau cerita keseruan di setiap pos-pos nya ah. Siapa tau bermanfaat bagi yang sedang cari ide bermain bersama anak di luar rumah.
Ada cerita seru juga dari sekolah anak? Ayo dibagi! :)
Salam dari Leoben, Austria ya.. *mau ngangkat jemuran*
#selalu_ada_cerita_untuk_dibagi
Share:

Tuesday, 10 May 2016

Muffin Biji Poppy

Resep ini saya dedikasikan terutama untuk teteh yang sudah bilang muffin nya enak, namanya teh Dini, ibu super dari tiga anak. Ketiga anaknya pernah mencicipi muffin ini. Selain mereka, suami dan anak saya juga bilang ini enak. Ingat.. jawaban paling jujur adalah yang keluar pertama dari mulut seorang anak kan.. muehehe. Syukurlah... jadi ada bahan buat diposting di blog #eh..
Resepnya saya dapatkan dari buku berbahasa Jerman "Kochen für Kinder" (Memasak untuk Anak-Anak). Muffin yang satu ini bisa untuk menu camilan atau sarapan baby >1 tahun. Karena di dalamnya sudah mengandung gula dan bentuknya sama seperti muffin pada umumnya. Tapi tenang saja Bun, gulanya ga banyak kok, lebih manis muffin pada umumnya dibanding muffin yang ini. Selain itu, sebagian rasa manisnya juga didapatkan dari buah apel. Kandungan nutrisinya juga komplit lho, Bun.. dalam sebuah muffin (kurang lebih 230 kcal) sudah terkandung karbohidrat, protein hewani, buah, sayur, minyak, dan susu. Cocok kan untuk camilan sehat.. bisa dikreasikan dengan topping keju parut juga bagi yang punya project menambah berat badan anaknya. Hehe.
Membuatnya juga cepat, dari mulai mencampur bahan-bahannya hingga matang hanya 30 menit. Ya total dengan timbang menimbang dan cuci-cuci sekitar 45 menitan lah.. Resep ini akan menghasilkan 12 muffin ukuran standar..
Yuk, mari disimak resepnya...
Bahan :
2 butir telor
125 gram gula halus
125 ml Rapsöl (raspen oil/ minyak nabati)
125 ml Buttermilk
200 gram biji Poppy
1 buah Apel kecil
1 sdm jus jeruk
400 gram tepung terigu protein
3 sdt munjung baking soda
12 Kertas Muffin

Cara membuat :
1. Panaskan oven dengan settingan suhu 180 derajat celcius.
2. Kocok telur dan gula bersamaan, kemudian tambahkan minyak nabati dan buttermilk.
3. Cuci apel, kupas, lalu parut. Campurkan parutan dengan jus jeruk.
4. Campurkan tepung dan baking soda, kemudian masukkan ke dalam adonan telur. Masukkan biji poppy dan apel yang telah dicampurlan dengan jus jeruk. Aduk hingga merata.
5. Masukkan kertas Muffin ke dalam cetakan. Masukkan adonan hingga penuh. Panggang dalam oven (suhu 160 derajat celcius) selama 20-25 menit.

Gampang kan, Bun...!? :)
Btw.. Muffin yang saya buat kan mengandung biji Poppy.. hasilnya agak pucat, Bun muffinnya.. Kalau mau jadi lebih cerah, bisa diganti dengan yang warnanya cerah kayak wortel. Oke, Bun..
Ini dia penampakannya muffin biji poppy... hohoho.. dibalik wajahnya yang pucat, muffin-muffin ini menyimpan rasa yang enyak-enyak-enyak kok Bun. Hahaha... Berdasarkan testimoni lho ya..
image
image
Ok, Bun.. selamat mencoba bagi yang berminat. Bunda yang sudah coba atau punya ide resep muffin buat baby dengan kreasi lain boleh lho share di-comment... :)

Intip resep lainnya di sini :

Share:

Monday, 9 May 2016

Tinggal di Luar Negeri, Alasan Memasukkan Anak ke Playgroup

Tak terasa sudah satu bulan lebih anak saya memulai kehidupan siang barunya di playgroup. Masa-masa yang sangat sulit untuk adaptasi sudah dilalui. Kini dia tampak sangat menikmati hari-harinya di sana.
Keputusan memasukkan anak ke playgroup tidak dengan begitu mudahnya diambil. Saya bersama suami mendiskusikannya selama berbulan-bulan. Apalagi karena saya tidak terikat jam kerja. Jangankan bagi orang lain, bagi diri saya sendiri pun ini agak aneh. Berpuluh kali saya tanyakan pada diri saya sendiri sebelum mendaftarkan anak ke playgroup, "akankah menjadi keputusan yang tepat?" dan "apakah saya sudah benar-benar yakin?". Bahkan saya sempat menyesali keputusan itu di hari-hari pertama anak saya di playgroup.
Empat minggu berlalu, melihat perkembangan positif pada anak saya dan yang terpenting dia bahagia, saya menjadi lega. Saya menjadi lebih semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pun saya tidak lagi menyesali keputusan itu. Bahkan jika perkembangan positif ini terus tampak hingga akhir semester, saya berharap semester depan anak saya bisa diperpanjang lagi di playgroup itu. Yang agak saya sesalkan hanyalah satu, kantong yang perlu dirogoh cukup dalam. Hahaha..
Karena alasan di atas juga, membuat saya ingin menceritakan pengalaman saya, dimulai dari kenapa memutuskan playgroup untuk anak, memilih playgroup, hingga sharing proses adaptasinya. Karena panjang, maka akan saya bagi-bagi menjadi beberapa postingan. Hehe. Membacanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Perasaan butuh untuk memasukkan anak ke playgroup dimulai sejak perbincangan sok serius saya dengan istri dari profesor yang membimbing suami saya dalam project doktoratnya. Saat itu saya mengalami krisis percaya diri. Hehe. Saya yang seorang ibu rumah tangga, ingin kembali meniti karir begitu kesempatan itu ada. Saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di bidang Farmasi semenjak saya dan anak menyusul suami saya yang sedang menempuh pendidikan doktorat di Austria. Mengurus sendirian, benar-benar sendirian (tanpa art maupun kerabat yang bisa dititipi anak barang sebentar) keluarga dan rumah dengan momongan berumur 1 tahun yang masih menyusui ternyata bukan hal mudah. Dua puluh empat jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan ibu rumah tangga. Pun kalau ditambah, masih tidak cukup juga karena bertambahnya waktu linear dengan bertambahnya item pekerjaan. Hahaha. Apa yang tidak sempat terkerjakan? Yah.. cuma rumah yang pabalatak.. masakan istimewa yang terhidang rapih dan menarik di atas meja.. perawatan diri.. wkkw.. dan tentunya.. AKTUALISASI DIRI. Setiap orang yang pernah membesarkan sendiri anak dari bayi hingga balita semestinya mengerti kondisi ini ;)
Bagi saya aktualisasi diri penting. Meskipun andaikata saya tidak ingin kembali berkarir, sebagai seorang Ibu dan istri tentu tetap perlu mengaktualisasi diri sendiri. Aktualisasi bukan lagi sekedar keinginan, akan tetapi kebutuhan. Karena Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Peran Ibu tentu besar untuk masa depan anak-anaknya. Juga terhadap suami, seorang istri tentunya senang menua bersama suami yang hebat dan mendambakan memiliki keluarga yang harmonis. Ingat 'kan, pepatah di belakang seorang lelaki hebat selalu ada wanita yang (lebih) hebat, dan itu bisa berarti Ibu nya maupun Istrinya. Bagaimana cara mengaktualisasi diri itu tergantung pilihan masing-masing dan disesuakan dengan kondisi juga kebutuhan masing-masing, bisa dengan cara berkarir maupun tidak.
Tinggal di negara dengan bahasa ibu bukan bahasa familiar bagi saya merupakan satu tantangan yang menarik dan sekaligus menjadi motivasi. Di negara ini, orang berbahasa Jerman dan jarang yang mau menggunakan bahasa Inggris. Untuk bisa bekerja di sini pun saya harus fasih berbahasa Jerman dan pekerjaan jenis tertentu dibutuhkan sertifikat. Yah.. menamatkan kursusnya kira-kira akan membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga tahun saja bila lancar. Haha.. Tentu saja saya cukup tertarik mencoba peruntungan dari beasiswa yang bertebaran.. kemudian bersekolah lagi. Lalu kemudian.. menimbang.. mengingat.. di kota ini tidak ada pendidikan tinggi untuk jurusan di bidang saya (persis maupun yang nyerempet-nyerempet) dan yang terdekat ada di kota sebelah yang kira-kira 1,5 jam jarak tempuhnya menggunakan kereta.. dengan keluarga yang sangat memerlukan perhatian penuh saya sepertinya untuk saat ini masih belum memungkinkan. Maka simpan dulu untuk sementara keinginan itu dan mari berfokus pada hal yang lebih urgent dan feasible, yap, MARI BELAJAR BAHASA JERMAN.
Di sini ibu yang baru melahirkan sangat dihargai pekerjaannya sebagai ibu. Dua tahun pertama mereka berhak cuti dari karirnya, dan menjadi Karenz alias ibu yang tidak berkarir karena "bekerja full time di rumah" setelah melahirkan anak. Bahkan ayahnya juga berhak mengambil cuti juga maksimal tiga bulan untuk membantu istrinya. Dan juga.. mereka akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah, sebagai kompensasi karena ibu menjadi Karenz. Nice, ya (tapi tidak perlu iri ya, ibu-ibu yang di negara lain berbeda kebijakannya, terutama di Indonesia karena situasinya tentu sangat berbeda).
Satu hal yang belum bisa saya mengerti adalah.. ketika ada seseorang perfeksionis yang menginginkan kondisi rumah orang lain selalu rapih bersih sempurna, masak hanya untuk sekali makan, dan hemat listrik meskipun harus mematikan pemanas di malam hari dan kedinginan :o:o Kondisi ideal seperti itu sudah hilang dari kamus saya sejak memiliki bayi... Dan semakin tidak bisa saya mengerti ketika beliau bilang seharusnya kami memiliki ART. Mungkin beliau pikir yang saya tanam di balkon adalah pohon uang?! 😥😥 Btw.. gaji ART saya sewaktu di Bandung 1 minggu kerja setengah hari = gaji ART di sini selama 1 jam. Wkwk..
Begitulah... kalau mau dikerucutkan, inilah alasan yang sesungguhnya kenapa akhirnya saya menitipkan buah hati tercinta di playgroup : (lah trus yang tadi panjang apa?? Hahaha..)
1. Saya butuh waktu untuk belajar bahasa Jerman. Pada mulanya saya hendak mendaftarkan diri kursus bahasa Jerman. Tapi entah kenapa, ketika anak saya sudah mendapatkan tempat di playgroup, nasib saya yang tidak mendapatkan tempat kursus semester ini. Wkwk.. mau tidak mau belajar sendiri (lagi). Hikmahnya.. tidak perlu bayar tempat kursus dan lebih hemat waktu dan uang untuk transport. Tapi ya jadi harus kuat iman, karena saya sendiri yang membuat dan mengontrol timetable nya, dan belajarnya di rumah.
2. Anak saya butuh teman bermain untuk belajar bersosialisasi. Satu-satunya teman main seumurannya juga masuk playgroup :D
3. Suami saya butuh waktu lebih untuk bertapa dalam rangka menyelesaikan disertasi dan ujian-ujian. Selama ini pulang ke rumah waktunya sebelum dan sesudah tidur dihabiskan untuk membantu membereskan pekerjaan di rumah yg belum selesai krn disambi ngurusin anak.
4. Saya miris melihat suami yang selalu kelaparan tiap pulang. Wkwk. Ini tandanya dia kurang ngemil di sela-sela jam kerja. Dia memang tipe yg ga terlalu suka ngemil sih. Kecuali.. e kecuali.. cemilannya menarik di mata dia.. yaitu, jajanan pasar. Wkwk. Gampang kan? Ya memang gampang.. kalau di Indonesia.. hiks.. masalahnya yang seperti itu tidak ada di sini, kalau mau ya mesti bikin sendiri.. (jangankan bikin jajan, masak hidangan pokok saja sering ga keuber, hiks)
5. Saya berharap rumah bisa lebih terawat dibanding sebelumnya.

Kemudian saya mulai mencari info seputar playgroup di kota ini. Juga minta share cerita dari teman yang anaknya sudah lebih dulu di playgroup. Ini nanti bermanfaat untuk menimbang-nimbang plus minusnya. Karena setiap langkah yang kita ambil tidaklah sempurna, selalu ada plus dan minusnya.
Cerita seputar playgroup di kota ini (Leoben, Austria) dan bagaimana kami menimbang-nimbang sampai akhirnya diputuskan salah satu playgroup bisa dibaca di sini.
Bagaimana dengan teman-teman para orang tua, adakah yang masih galau akan menitipkan anak atau sudah khatam menggalaunya? Ayo share di-comment... :)
Salam dari Leoben-Austria,
Vidya
Share:

Thursday, 4 June 2015

Berbagi Tips dan Trik Lulus ASI Eksklusif Enam Bulan



Leganya, akhirnya bayi saya lulus ASI eksklusif enam bulan. Setiap Ibu ASI pasti tau bagaimana beratnya perjuangan supaya bayinya tetap mendapat ASI eksklusif pada enam bulan pertama masa hidupnya. Apalagi ketika masanya MPASI semakin dekat. Bayi semakin cepat lapar. Si ibu baru mau mulai melakukan sesuatu, tiba-tiba bayinya "ngeeeng.." minta disusui. Dan itu berlangsung selama sehari 24 jam. Boro-boro mengatualisasi diri dan me time, bisa tidur nyenyak, makan tenang, mandi santai, ibadah kusyuk, menyiapkan makan untuk keluarga, dan kegiatan sepele harian lainnya dengan tenang, merupakan hal yang luar biasa. Bagi ibu yang bekerja, pun sama berat perjuangannya. Harus pumping ASI di kantornya, dan mungkin juga di malam hari untuk memastikan stok ASIP di freezer cukup, memastikan bayinya mau minum ASI pakai dot, dsb. Pumping bukan perkara yang ringkas lho... dimulai dari mensterilkan pompa dan wadah penyimpanannya yang bisa memakan waktu antara 10-15 menit, merangkai si alat pompa yang sudah steril, lalu atur posisi memompa. Setelah memompa masih harus segera mencuci si alat pompanya supaya nanti kualitas ASIP berikutnya terjamin higienitasnya. Eits.. belum selesai sampai di sini, ASIP yang sudah dipompa harus dipastikan kualitasnya hingga nanti diminum oleh si bayi. Bagaimana kalau bayi menolak ASIP? Hmmm...

Saya bersyukur masa-masa itu bisa terlalui dengan baik. Meskipun bisa dibilang tidak semulus itu, karena di awal-awal sempat merasakan juga perasaan stress, mungkin itu yang dinamakan baby blues.

Jika dirunut dari awal, inilah 9 kunci kesuksesan ASI eksklusif enam bulan untuk bayi saya :

1. Pemahaman sedalam mungkin tentang ASI semenjak bayi belum lahir

Memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan ASI tidak hanya menjadi kebutuhan saya sebagai calon ibu (pada waktu itu). Namun suami dan orang tua saya juga merasa perlu untuk tau. Pemahaman yang betul dan sejalan mengenai ASI antara ibu menyusui, pak suami, dan kakek nenek si bayi akan memudahkan pemberian ASI, meskipun realitanya tidak semudah itu 😁. Kebetulan saya dan suami mempunyai hobi yang sama, yaitu membaca, jadi kami tidak mengalami kesulitan dalam mencari informasi tentang ASI. Buku-buku yang saya baca : Setiap Wanita (Derek Llewellyn Jones) dan AyahASI (yang ini suami saya juga baca). Selain itu baca-baca artikel saja di internet. Ibu saya rajin mencari informasi di TV, juga kenalannya yang dokter, bidan, dan ibu-ibu arisan, hehe. Saya bersyukur juga karena ibu saya cukup bawel, sehinggainformasi yang beliau dapatkan pasti dishare ke ayah saya, dan tentu saja ke saya. Hehe. Selain itu saya juga banyak berguru pada yang sudah pernah mengalami. Selalu tanamkan prinsip bahwa pengalaman orang lain adalah pelajaran berharga bagi saya.

Keuntungan pemberian ASI menurut Derek dalam bukunya :
- ASI merupakan produk yang steril, seimbang, dan cocok untuk bayi
- Pemberian ASI memungkinkan bayi berinteraksi lebih baik dibanding diberi susu botol
- Dalam ASI terkandung zat-zat makanan yang melindungi  bayi terhadap infeksi, khususnya infeksi gastro-intestinal, pernafasan, dan virus
- ASI dapat melindungi bayi terhadap gangguan alergi seperti asma dan eksim
- Bayi yang diberi ASI cenderung tidak obesitas, faktor yang dalam kehidupan dewasa berpengaruh pada penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, penyakit kandung kemih, dan diabetes.
- Lebih praktis, cukup menyodorkan PD ke mulut bayi
- Pemberian ASI lebih ekonomis dibandingkan susu formula

Dengan semua keuntungan ini, maka sudah seyogyanya setiap ibu memberikan ASI kepada bayinya, kecuali jika terdapat halangan medis.
Bagaimana terbentuknya ASI?

Setelah bayi lahir, PD mulai menghasilkan ASI atas peran hormon prolactin. Prolactin diperlukan oleh sel pembuat ASI di dalam alveoli PD. Alveoli dapat dibayangkan sebagai gelembung-gelembung seperti buah anggur (bentuknya, bukan ukurannya) di dalam PD. Hormon prolactin dikeluarkan oleh sel-sel dalam kelenjar pituitari tepat di bawah otak. Pada saat hamil, produksi hormon ini cenderung terhambat oleh progesteron dan estrogen yang dihasilkan selama kehamilan, sehingga ASI tidak bisa diproduksi. Saya katakan cenderung karena pada kenyataannya ada ibu-ibu yang masih bisa menyusui sementara mereka hamil. Setelah melahirkan, progesteron dan estrogen akan berkurang kadarnya. Ketika ibu sedang menyusui, rangsangan lidah bayi pada puting akan menghasilkan impuls syaraf yang akan menjadi sinyal bagi sel pituitari untuk melepaskan prolactin. Prolactin selanjutnya akan beredar melalui aliran darah dan ketika mencapai PD akan diambil oleh sel pembuat ASI. Prolactin datang, dibuatlah ASI.

Setelah ASI diproduksi, ASI tetap akan berkumpul di dalam kelenjar ASI, sehingga kelenjar tersebut menggelembung, kecuali jika ASI dikeluarkan. ASI keluar dari kelenjar ASI melalui saluran menuju (katakanlah) kolam susu, baru kemudian keluar ke mulut bayi. Proses pengeluaran ASI ini dipengaruhi oleh hormon oxytocin, yang dilepaskan bersama prolactin ketika bayi disusui. Oxytocin menyebabkan otot-otot di sekitar saluran tersebut mengerut sehingga ASI bisa keluar dari PD.

Pada mulanya cairan yang keluar dari PD ibu berwarna kekuningan dan kental, dinamakan Colustrum. Dalam rentang 24-48 jam setelah melahirkan, ASI yang berwarna putih akan mulai keluar. Jumlah ASI yang dikeluarkan tergantung dari kebutuhan bayi. Sel pituitari menerjemahkan "kebutuhan bayi" sesuai dengan impuls syaraf yang diterimanya pada saat bayi disusui. Artinya, semakin sering bayi disusui, akan semakin banyak prolactin dan oxytocin yang dilepaskan. Semakin banyak prolactin, akan semakin banyak pula ASI yang diproduksi. Semakin banyak oxytocin, akan semakin banyak pula volume ASI yang dikeluarkan dari PD.

Jadi semakin teranglah, pentingnya proses menyusui dalam 24-48 jam pertama setelah bayi lahir :)

2. Faktor Makanan

Terbukti memang ada makanan-makanan tertentu yang kalau dimakan bisa menjadi booster ASI, yaitu sayur-sayuran berkuah (tidak bersantan), sayur-sayuran hijau, kacang-kacangan, dan daging sapi. Saya mulai perbanyak mengkonsumsi menu jenis ini sejak usia kehamilan masuk minggu ke-36.

3. Pemilihan tempat dan tenaga medis yang membantu proses persalinan

Kini terdapat banyak sekali pilihan tempat bersalin. Di antaranya tempat praktek bidan, klinik bersalin, dan rumah sakit. Saran saya, pilihlah tempat bersalin dan tenaga medis yang mendukung pemberian ASI ekslusif. Pemilihan tenaga medis dapat dimulai sejak positif hamil.

Pengalaman saya, sejak testpack positif saya langsung pilih dokter kandungan yang pro ASI eksklusif, ini bisa didapat dari informasi teman-teman maupun review di internet. Biasanya seorang dokter bisa memiliki lebih dari satu tempat praktek di satu kota/ daerah. Pilihlah tempat praktek yang pelayanannya paling baik dan mendukung pemberian ASI eksklusif. Informasi tentang ini juga bisa didapat dari teman maupun review di internet.

Bagaimana ciri-ciri tempat bersalin yang mendukung ASI eksklusif? 

Tempat bersalin yang mendukung pemberian ASI eksklusif biasanya memiliki kebijakan rooming-in. Rooming-in adalah istilah yang menggambarkan bahwa setelah bayi lahir bayi langsung tidur sekamar dengan ibunya, sehingga memudahkan pemberian ASI. Biasanya di setiap kamarnya terdapat box bayi yang ada penghangatnya. Tapi bukan inkubator. Karena inkubator mahal, hehe, dan hanya kasus-kasus tertentu saja yang bayinya perlu dimasukkan ke dalam inkubator.

Ciri yang kedua dari tempat bersalin yang proASI adalah adanya kebijakan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini. Setelah melahirkan, sebelum bayi dimandikan dan dipakaikan baju bayi akan dibiarkan berada di pelukan ibunya. Selama berada di pelukan ibunya mulut bayi akan mencari-cari PD ibu untuk menyusui. Proses ini berlangsung selama 15 menit sampai 1 jam. Alhamdulillah klinik yang saya pilih memiliki dua kebijakan ini.

Namun bukan berarti tempat bersalin yang tidak memiki kebijakan rooming-in lantas tidak pro ASI. Silakan diskusikan hal ini dengan petugas yang berwenang, baiknya dipastikan juga bagaimana pemberian ASI nya jika bayi tidak sekamar dengan ibunya. Berdasarkan pengalaman saya, kebetulan Aqila ngASI nya kuat, sering sekali, dan betah lama-lama. Misal baru beres disusui, setengah jam kemudian bisa saja minta ASI lagi. Jadi bagaimana ya, kalau Aqila tidak seruangan dengan saya? Mungkin pemberian ASI melalui botol? Atau susu formula dalam botol? Hal ini yang perlu dipastikan.

4. Menyusui sesering mungkin

Semakin sering menyusui, produksi ASI juga akan semakin meningkat. Biasanya di awal-awal kelahiran bayi, produksi ASI masih sedikit atau bahkan belum keluar. Di lain sisi si bayi sudah lapar dan tidak sabar. Tidak perlu khawatir, tetap saja susui bayi kita meskipun ASI yang keluar hanya sedikit atau bahkan belum keluar. Saya pernah mengalaminya sendiri. Alhamdulillah ASI memang langsung keluar setelah Aqila lahir, tapi kuantitasnya? Paling harus sabar dan kuat mental kalau ada orang lain yang komentar, "ga keluar ASI nya lho itu!", "kok ga kedengeran suara apa-apa, ASI nya keluar ga sih?" "Kasian rewel terus, udah laper itu..."

Yakinlah, semakin sering dikenyot-kenyot produksi ASI akan semakin banyak. Yakinlah, ini adalah moment pahit yang harus dilewati sebelum produksi ASI yang melimpah sebentar lagi. Yakinlah, ASInya sedang dalam proses pengolahan dan distribusi, belum tiba di kantong PD. 😆😆

5. Motivasi yang kuat untuk ASI eksklusif

Dengarkanlah suara hati diri sendiri, apa alasan kuat untuk tetap memberikan ASI eksklusif? Ibu sudah mencari tau apa itu ASI. Kelebihan ASI dibanding susu formula. Ilmu ibu sudah banyak. Lalu apa keputusan ibu? ASI eksklusif kan? Enam bulan ASI eksklusif dan 2 tahun ASI eksklusif plus MPASI, iya kan? :)

Jika iman kita sudah kuat untuk memberikan ASI eksklusif, maka insyaallah akan tahan dengan godaan yang mungkin akan datang selama proses persusuan. Baik dalam menghadapi kerewelan si kecil, mengatur waktu antara memberikan ASI dan aktivitas yang lain, godaan untuk memberikan ASI karena si kecil tampak lebih langsing dibanding teman-teman seumurannya, suara-suara dari orang lain, pengalaman masa kecil dengan susu formula, dsb. Semua itu hanya sedikit kerikil tajam. Motivasi yang kuat bisa mendukung kesuksesan pemberian ASI eksklusif.

6. Percaya diri dan positif thinking, hilangkan stres

Jika ibu yang baru melahirkan percaya diri bisa menyusui, maka pemberian ASI akan berhasil. Juga sebaliknya, kecemasan ASI yang dihasilkan hanya sedikit dan tidak mencukupi, pun akan menyebabkan produksi ASI terhambat. Ini ternyata sudah ada penelitiannya lho.

Saya akui kepercayaan diri saya terjaga juga berkat bantuan pak suami, orang tua, keluarga, dan teman-teman. Saya bersyukur ada grup ibu-ibu menyusui (saya dan teman-teman yang seangkatan sejurusan di kala kuliah) di whatsapp. Tempat para ibu-ibu bisa bertanya, sharing dan bahkan ada yang berkeluh kesah mengenai seeemuanya yang berhubungan dengan ibu-ibu menyusui. Kemudian ada juga grup motherhood di facebook, yang anggotanya ibu-ibu satu almamater lintas jurusan. Salah satu tempat mengobati stress dan mencari solusi. Seolah punya banyak penasehat yang akan saling membantu setiap kali diperlukan.

Pelepasan oxytocin, hormon yang dibutuhkan untuk produksi ASI, juga dipengaruhi oleh emosi. Ketika ibu merasa nyaman dan bahagia, oxytocin akan banyak dihasilkan, produksi ASI lancar. Begitupula sebaliknya, dalam kondisi tertekan, oxytocin sedikit atau bahkan tidak dilepaskan, produksi ASI terhambat, atau tidak ada produksi sama sekali. Meskipun hal ini terjadi sementara, dan semua kembali normal ketika ibu kembali merasakan kenyamanan dan bahagia.

Refleks pengeluaran ASI (proses setelah ASI diproduksi) juga dapat dipicu tanpa rangsangan fisik lidah bayi. Refleks ini dipengaruhi oleh getaran halus di PD ibu dan keinginan untuk menyusui. Ketika ibu mendengar bayinya menangis dan ibu ingin menyusui, ia akan segera merasakan di PD nya, ASI akan segera keluar. Hal ini berlaku juga sebaliknya. Jika ibu merasa ASI nya tidak cukup, maka pengeluaran ASI terhambat dan terasa tidak mencukupi, meskipun sesungguhnya produksi ASI normal. Inilah kekuatan magis dari pemikiran sederhana : positif thinking.

7. Pijat PD

Kegiatan ini bisa dilakukan sendiri mulai kehamilan usia 30 minggu. Bagaimana caranya? Sudah banyak artikel di internet yang mencantumkan caranya untuk tujuan kelancaran produksi ASI di kala nanti bayi sudah lahir.

Berikut ini cara yang disarankan Derek dalam bukunya :
- Awali dengan menyeka kedua PD menggunakan air hangat dan waslap
- Letakkan tangan di sekeliling bagian luar PD
- Dengan lembut tapi kuat pijat ke arah (maaf) puting
- Tarik keluar setiap puting, kemudian putar dengan hati-hati antara telunjuk dan ibu jari beberapa kali. Proses ini akan membuat puting lebih fleksibel dan tidak mudah retak ketika bayi mengisapnya.

Ahli massage ibu hamil dan bayi langganan saya menyarankan pijat dilakukan 2 kali sehari, setiap sebelum mandi pagi dan mandi sore, menggunakan baby oil supaya tidak kesat.

Menurut konselor laktasi, perlu juga dibersihkan bagian saluran tempat keluarnya ASI. Karena secara tidak sadar sepanjang umur kita bagian tersebut bisa tertutup oleh benda asing (kotoran, benang halus, dsb) yang semakin hari semakin menumpuk. Hal ini bisa menghambat keluarnya ASI pertama kali. Bersihkan dengan hati-hati menggunakan cotton bud dan baby oil. Derek pun dalam bukunya menyarankan proses ini.

Pijat PD dan pembersihan saluran keluarnya ASI ini dilakukan sejak kehamilan masuk usia 30 minggu, sebanyak dua kali sehari, kurang lebih sekitar 10 menit untuk setiap PD. Terkadang terasa kontraksi pada kandungan saat dipijat dan dibersihkan. Jika hal ini terjadi, hentikan pemijatan dan pembersihan sejenak, kemudian baru dilanjutkan jika kontraksi berhenti, demikian seterusnya.

8. Teknik pemberian ASI, teknik perlekatan yang benar

Ternyata, posisi otot-otot saluran ASI (yang bertanggung jawab terhadap pengeluaran ASI) terletak pada bagian areola PD (bagian berwarna gelap di sekitar puting). Gigitan gusi bayi pada bagian ini akan menyebabkan pengerutan otot saluran ASI lebih kuat, sehingga memperbanyak volume ASI yang keluar. Inilah mengapa teknik perlekatan penting diperhatikan, pastikan gusi bayi menggigit bagian areola.

Bagaimana jika bayi hanya menggigit bagian puting? Otomatis volume ASI yang keluar lebih sedikit demi sedikit. Jika bayi terlanjur lapar dan gemas, ini akan berakibat gigitannya menjadi semakin kencang dan bisa melukai puting ibu.

9. Jadwal pemberian ASI

Kebutuhan masing-masing bayi berbeda. Pada dasarnya, berikan ASI sesering kemauan bayi.



Demikianlah kunci kesukseksan ASI eksklusif bayi saya selama 6 bulan kemarin, yang saya padu padankan antara pengalaman dan teori dari literatur. Semoga tulisan ini bermanfaat dan insyaallah akan jadi reminder bagi saya kelak ketika menyusui adiknya Aqila *masih dalam perencanaan* hehe..

Bagaimana pengalaman Anda? Share yuk...
Referensi :
Llwellyn-Jones, Derek. 2009. Setiap Wanita - Panduan Terlengkap tentang Kesehatan, Kebidanan, & Kandungan.  Delapratasa Publishing.
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya