Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria

Ijin tinggal atau residence permit diperlukan ketika kita hendak tinggal di Austria selama

Beradaptasi dengan Day Care

Kolaborasi Orang tua, anak dan tim di masa awal menitipkan anak di daycare.

Mengenal kuman si biang penyakit

Apa itu patogen? Apa itu virulensi? Apa itu resistensi? Belajar tentang kuman yuk supaya kita tahu bagaimana mencegahnya

Dieser Sommerurlaub war....

abenteuerlich (adventurous)/anregend (stimulating)/ erstaunlich (amazing)/ ermüdend (tiring)/ bedrohlich (threatening

Toilet training untuk anak

Sharing pengalaman yuk bagaimana membuat si kecil supaya mau pergi ke toilet

Saturday, 18 April 2015

Membuat Paspor untuk Bayi

Bayi saya, umurnya tujuh bulan sudah punya paspor. Bapak dan ibunya baru punya paspor setelah kerja. Ckckkc... si Nusantara (nama anak saya) ngalah-ngalahi (mengalahkan) bapak dan ibunya.
Paspor Aqila (nama panggilan si Nusantara) saya sendiri yang mengurusnya berhubung bapaknya sudah imigrasi ke Austria. Suami saya mendapat beasiswa S3 di negeri itu dan sudah berangkat dari akhir bulan Januari 2015. Beberapa bulan kemudian suami yang kesepian meminta saya dan Aqila segera menyusul, awalnya direncanakan menyusul tahun 2016, hehe. Saya sih semakin cepat keluarga kecil kami bisa berkumpul kembali semakin senang.



Mengurus sendiri paspor merupakan pengalaman pertama bagi saya. Paspor saya dulu dibuatkan oleh kantor tempat saya bekerja, jadi saya dulu cuma menyediakan dokumen selengkap-lengkapnya, lalu dititipkan ke perwakilan dari kantor. Waktu itu saya hanya datang ke kantor imigrasi (Jakarta) satu kali, yaitu untuk wawancara dan foto. Selebihnya semua sudah ada yang urus.

Kali ini, semuanya harus saya kerjakan sendiri, saya excited. Hehe memang agak lebay. Karena ini paspor untuk anak saya yang masih bayi, maka pastinya ada yang beda dong dari paspor untuk orang dewasa. Maka saya mulai dengan bertanya ke teman saya yang ada di Belanda, bagaimana step by step dulu dalam mengurus paspor untuk anaknya. Anaknya juga masih di bawah umur, sepertinya belum ada 2 tahun umurnya. Kemudian, supaya lebih afdol saya browsing-browsing juga. Hihihi. Dari situ saya dapat kesimpulan bahwa sekarang membuat paspor bisa dengan cara daftar dulu online atau datang langsung. Meskipun online, bukan berarti tidak datang ke kantor imigrasi secara langsung. Maksudnya online adalah terlebih dahulu melakukan pendaftaran secara online di website kantor imigrasi, upload dokumen-dokumennya secara online, baru datang untuk foto dan wawancara. Intinya, kalau daftar online dulu kita hanya perlu ke kantor imigrasi 2 kali (saat wawancara dan foto serta saat pengambilan) tapi kalau tidak daftar online maka kita perlu datang tiga kali (daftar, wawancara & foto, dan pengambilan).

Ohya karena setelah suami saya berangkat ke Austria saya dan Aqila hijrah ke rumah neneknya di Wonosobo, maka saya pun memutuskan pembuatan paspor Aqila dilakukan di kantor imigrasi Wonosobo meskipun KTP saya dan suami kota Bandung.

Saya pun masuk ke website kantor imigrasi, melakukan pendaftaran online, dan ternyata tidak ada pilihan upload dokumen. Browsing-browsing katanya memang ada pembaruan, jadi sekarang dokumen tidak perlu diupload, cukup melakukan pendaftaran, selanjutnya tunggu konfirmasi by email. Oke, daftar online done. Tinggal tunggu feedback saja di email. Sehari, dua hari, tiga minggu, eh, kok tidak ada feedback yang masuk? Hadeh... yasudahlah daripada tidak jelas, akhirnya ganti rencana. Berbekal semua dokumen, saya berangkat ke kantor imigrasi. By the way ternyata kantor imigrasi Wonosobo sudah pindah dan yang sekarang jauhhh lebih besar dan keren. Haha. Lain kali kita bahas ini.

Kembali ke topik. Saya ke kantor imigrasi lalu mendapati persyaratan pembuatan paspor anak di bawah umur adalah sebagai berikut :
1. KTP ayah dan ibu yang masih berlaku, fotokopi dan aslinya.
2. Kartu keluarga yang nama anaknya sudah tercantum, fotokopi dan aslinya.
3. Akta kelahiran atau surat baptis. Fotokopi dan asli.
4. Buku nikah atau akta perkawinan. Fotokopi dan asli.
5. Surat penetapan ganti nama jika pernah berganti nama
6. Fotokopi paspor orang tua yang akan menemani anaknya ke luar negeri
7. Surat pernyataan orang tua. Ini nanti saya bahas.

Untuk Aqila, karena ayahnya sudah tidak di Indonesia, maka KTP ayah cukup melampirkan fotokopiannya saja. Untung saya dan suami dari dulu membiasakan diri memegang fotokopi KTP kami berdua (saya pegang fotokopi KTP saya sendiri dan suami, demikian juga suami pegang fotokopi KTP dia dan saya). Fotokopi KTP kedua orang tua harus ada pada satu halaman. Jadi, dalam satu halaman sudah ada fotokopi KTP kedua orang tua.

Nah, untuk surat pernyataan orang tua, sudah ada form nya di kantor imigrasi, jadi kita tinggal isi. Intinya si ayah menyatakan bahwa benar anaknya belum pernah memiliki paspor, tidak keberatan anaknya diberikan paspor di mana keberadaan paspor nya menjadi tanggung jawab si ayah sepenuhnya. Sang ayah bertanggung jawab atas keberangkatan dan kembalinya si anak ke Indonesia. Selain itu dicantumkan juga dengan siapa si anak akan ke luar negeri. Surat ini harus ditandatangani ayah dan diketahui oleh ibu (ibu juga tanda tangan). Tanda tangan ibu di atas materai 6000 rupiah. Untuk kondisi Aqila, ayahnya diharuskan membuat surat ini di Austria, ditandatangani, lalu discan dan diemailkan atau difaxkan ke saya untuk saya tanda tangani.

Karena saat datang saya belum membuat surat pernyataan (baru tau saat itu), maka saya harus datang lagi setelah dokumen lengkap. Beberapa hari kemudian saya datang, kali ini saya bawa sekalian Aqila, siapa tau bisa sekalian wawancara dan foto. Dan betul, setelah dokumen diperiksa, saya dan Aqila langsung mengantri untuk wawancara dan foto.

Nah ini moment yang saya tunggu-tunggu, sesi foto paspor Aqila. Hehehe. Aqila duduk bersandar pada background putih, lalu "Aqilaa... Qilaa.." komando dari petugas, jepret jepret. Tadaa.. ini dia fotonya...

image
Setelah foto, tunggu panggilan untuk mengambil slip pembayaran. Pembayaran dilakukan di Bank BNI. Paspor jadi setelah tiga hari kerja, dihitung sejak tanggal pembayaran di Bank BNI. Kemarin biayanya 355000 rupiah (paspor biasa 48 halaman), plus 5 ribu rupiah untuk biaya administrasi di Bank.
Share:

Thursday, 8 January 2015

Pengalaman Pertama Hamil dan Melahirkan =)

Saya dan suami sedang LDR ketika test pack pertama kali bergaris dua. Saya bekerja di Tangerang, suami saya di Bandung. Bahagia sekali ketika dua garis itu akhirnya muncul juga, merah dan nyata. Rasanya seperti dipercaya untuk menerima amanah besar ini, saya akan menjadi orang tua. Hari itu hari Rabu, mood saya di kantor bahagia sepanjang hari. Hihi. Setelah kenyang bahagia, barulah saya mulai bingung, selanjutnya saya harus ngapain? Hahahaa.. maklum.. belum pernah punya pengalaman. Dari teman sekantor saya yang rata-rata ibu-ibu, barulah saya tau, saya perlu cek ke dokter :-)
Seperti biasa, Jumat sore saya dan beberapa teman sekantor hijrah ke Bandung. Istilah ngetrend-nya waktu itu "PJKA" (Pulang Jumat, Kembali Ahad). Saya dan suami memilih RSIA Hermina Pasteur untuk mengecek kehamilan saya. Tidak ada alasan khusus selain RS tersebut yang paling familiar bagi kami. Sebelumnya saya sudah hunting testimoni dokter terlebih dulu di internet. Saya ingin memilih dokter kandungan perempuan yang ramah, pro kelahiran normal, dan tidak pelit ilmu. Dari hasil hunting testimoni di internet, pilihan saya jatuh pada dokter Anna Fachruriah. Kebetulan jadwal prakteknya pas dengan waktu luang kami.
Kunjungan ke dokter Anna yang pertama kali memberikan kesan yang sangaaaat positif. Beliau keibuan sekali, ramah, baik, mau menjelaskan sesuatu dengan detail, dan terbuka untuk sesi konsultasi meskipun pasiennya teramat sangat banyak sekali. Sebetulnya ini juga yang jadi kekurangannya, karena pasiennya terlalu banyak, antrinya bisa berjam-jam kalau tidak datang lebih awal. Pun jauh hari sebelumnya harus sudah melakukan pendaftaran dulu. Pada kunjungan yang pertama ini hasil USG dalam rahim baru kantong yang tampak. Usianya 6 week :)
image
Setiap bulan saya rutin memeriksakan kandungan ke dokter Anna. Pernah beberapa kali saya tidak kebagian dokter Anna. Akhirnya mau tidak mau kontrol ke dokter yang lain. Sempat ganti beberapa dokter juga, selain karena tidak kebagian dokter Anna, juga karena kurang 'sreg' dengan dokter yang selain dokter Anna tersebut.
Setelah kandungan memasuki trimester ketiga, saya akhirnya memutuskan berhenti dari tempat saya bekerja. Sebetulnya di awal-awal kehamilan pun sempat terbesit keinginan untuk resign. Akan tetapi saya merasa belum ada alasan yang benar-benar membuat saya harus berhenti. Sampai akhirnya kandungan memasuki usia tujuh bulan, saya sering merasakan kontraksi. Rasanya seperti kram di perut. Mungkin rutinitas pekerjaan dan aktivitas PJKA, hehe, membuat saya terlalu lelah. Akhirnya saya resmi berhenti bekerja setelah usia kandungan delapan bulan. Saya pindah ke Bandung, tinggal bersama suami. 
Begitu saya tinggal di Bandung, aktivitas berat belum selesai. Karena saya dan suami harus mengurusi lagi pindah rumah lagi. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Di rumah baru hanya dua minggu, sudah waktunya mudik lebaran. Rumah masih super duper berantakan. Barang-barang belum sempat seluruhnya di-unpack. Apa boleh buat, kami sudah beli tiket kereta mudik dari tiga bulan sebelumnya. Kamis malam pun kami berangkat ke Jogja. Tujuan mudik kami adalah ke Wonosobo, rumah orang tua saya. Ohya sebelum mudik saya sempat kontrol dulu. Kali ini saya sengaja tidak ke dokter Anna, tapi ke dokter yang bulan lalu meminta saya cek lab. Saya pikir-pikir lebih baik meneruskan dokter yang ini daripada ganti lagi. Eh ternyata dokternya mendadak tidak bisa praktek di hari itu. Maka saya pindah dokter baru lagi. Saya pilih dokter Fitria (gambling). Saya pasien pertama nya di hari itu tetapi tetap harus menunggu karena dokter Fitria sedang menangani sc. Sambil menunggu saya hunting testimoni lagi di internet melalui ponsel. Intinya responnya positif, katanya dokter Fitria orangnya cantik dan komunikatif. Lalu nama saya dipanggil. Oke, mari kita buktikan. Masuk ruangannya, dan ternyata betul dokter Fitria cantik banget.. masih muda dan fresh. Orangnya komunikatif memang. Seperti dokter Anna tapi versi mudanya. Ahh.. kenapa ga dari dulu ke dokter Fitria.. sekalinya dapat yang pas udah mau mudik.
Di Wonosobo, setelah lebaran aktivitas kami selanjutnya adalah hunting tempat bersalin. Di Wonosobo ada beberapa rumah sakit kelas A (umum), satu rumah sakit ibu dan anak, serta satu klinik bersalin. Sudah menjadi keinginan saya dari awal melahirkan di rumah sakit yang memfasilitasi Inisiasi Menyusui Dini (IMD), rooming in (bayi langsung sekamar dengan ibunya setelahdilahirkan), dan dengan suasana homey sehingga rasanya seperti ada di rumah, bukan di rumah sakit. Bahagianya saya ternyata di sana ada satu klinik bersalin yang memenuhi kriteria ini. Maka setelah lebaran saya rutin kontrol kondisi janin di klinik itu.
image
Seminggu setelah lebaran, yaitu saat usia kandungan sudah memasuki week 37, perkiraan berat badan janin kami di USG turun. Sedih sekali, karena turunnya terjun bebas dari 2.2 kg menjadi 1.89 kg. Hari Perkiraan Lahir (HPL) tinggal tiga minggu lagi, berat janin malah turun sampai kurang dari 2 kg.  Kemudian es krim pun saya babat. Tidak pernah terlewat menu satu stick eskrim Magnum atau Feast setiap hari. Sehari saya makan nasi empat kali, pagi, menjelang zuhur, setelah ashar, dan sesudah isya. Jadwal kontrol saya sudah seminggu sekali waktu itu. Tiap kali kontrol di-USG perkiraan berat badan janin naik tapi tidak signifikan. Padahal porsi makan saya sudah kuli :( Pada week 39 jalan 40, perkiraan berat janin masih 2,2 kg (targetnya bayi lahir 2,5 - 3 kg). Secara usia kandungan, anak saya sudah boleh lahir. Tetapi secara berat masih kurang dari berat normal bayi lahir. Namun air ketuban sudah sedikit. Akhirnya saya pasrah. Saya berdoa kepada Allah, saya ikhlas, jika memang baik mohon agar bisa lahir ditemani oleh suami saya (setelah lebaran, saya dan suami kembali LDR, kali ini Bandung - Wonosobo). Meskipun perkiraan beratnya kurang, saya tetap optimis. Mungkin kalau beratnya kecil lebih gampang keluarnya. hehehe. Toh kalau sudah lahir bisa dibesarkan di luar. Yang penting "waras selamet" (sehat dan selamat).
Di lain sisi, kerabat, tetangga, sudah  ikut menanti-nanti kelahiran si jabang bayi. Saya juga jadi semakin ingin cepat menggendong bayi saya. Memasuki week 40, calon dede bayi pun sering saya ajak bicara, "Aqila lahirnya pas ada Ayah aja ya.. Ayah ada pas hari Sabtu atau Minggu." Kebetulan kontrol terakhir (ketika divonis berat janin masih 2.2 kg dan ketuban kurang) adalah di hari Sabtu. Saya bisa kontrol ditemani suami. Saat ayahnya datang, saya katakan ini kepada calon debay,"Aqila, ayah sudah datang nih.. boleh ya kalau lahir hari ini atau besok.. Senin ayah ke Bandung lagi.."
Super duper ajaib, Sabtu siang tanggal 23 Agustus 2014 sepulang dari kontrol, kontraksi yang ditunggu pun datang. Waktu itu sih saya tidak tau kalau itu kontraksi kelahiran, hanya ada terasa kontraksi yang berbeda dari biasa, terus menerus tapi pelan dan tidak menyakitkan. Malam harinya, kontraksi itu masih juga terasa, lebih menyakitkan. Saya jadi semakin curiga, mungkin ini tanda-tanda kelahiran. Saya ingat-ingat pesan ibu, kakak, sahabat, kerabat, dan literatur jika kontraksi sudah per 3 menit maka harus segera ke dokter. Kemudian saya putuskan untuk mencatat frekuensi dan durasi kontraksi dengan stopwatch di ponsel saya. Di samping kiri saya suami yang tertidur lelap karena kelelahan perjalanan dari Bandung, saya berbaring sambil sesekali menahan sakitnya kontraksi, di samping kanan saya ada hp saya yang stand by stop watch nya, note, dan pulpen. Setiap kontraksi datang, saya catat jam mulai dan berhentinya. Hingga tengah malam, saya tidak bisa tidur karena sibuk mencatat kontraksi dan gelisah, hehe. Kontraksi demi kontraksi datang, saya catat, hitung, hingga di tengah malam kontraksi itu sudah datang tiap 3 menit sebanyak 3 kali berturut-turut. Kontraksinya terasa seperti ada sesuatu sedang berusaha memasuki lorong sempit di dalam sana. Oke, jiwa sok tau saya mengatakan ini betul tanda kelahiran. Tebak setelah itu apa yang saya lakukan? Saya pergi makan. Hahahaa... saya khawatir besok pagi sudah tidak ada napsu untuk makan, tapi saya yakin melahirkan pasti butuh tenaga ekstra, makanya saya langsung isi bensin dulu untuk persiapan mengejan. Saat saya keluar kamar, ternyata keponakan saya yang berumur 3 bulan sedang rewel di kamarnya. Ibu dan kakak saya ada di kamarnya sedang berusaha menenangkan. Selesai makan, setiap kontraksi datang saya sudah mulai meringis kesakitan. Mereka menyadari ringis saya, lalu bertanya, "kamu kenapa?" Saya jawab, "sakitnya udah tiap 3 menit, hehe". Sontak ibu langsung menelepon ayah yang sedang dinas malam, agar pulang dan mengantar saya ke klinik.
Pukul dua pagi saya, suami, ibu, dan ayah sudah berada di klinik. Saya masuk ke ruang pemeriksaan, langsung diperiksa oleh bidan Norma, teman seangkatan saya waktu SMP. Hahaha rasanya santai sekali diperiksa teman sendiri. Katanya sudah pembukaan 1. Barang bawaan berupa tas yang isinya perlengkapan saya dan bayi pun segera diturunkan dari mobil. Perlengkapan ini sudah saya packing sejak usia kehamilan 33 minggu. Setelah check in kamar, bidan Norma memberi saya setengah tablet yang katanya untuk memacu kontraksi, dan nasehat agar saya segera tidur selagi bisa. Setelah minum tabletnya saya pun ke kamar mandi, kemudian berbaring tapi tidak bisa tidur. Rasanya nano nano. Hehe. Sekitar setelah azan subuh kontraksi itu semakin kuat, saya sudah sempoyongan ketika berdiri. Ke toilet pun sambil meraba-raba tembok dan memeluk ibu saya. Saya pun buru-buru berbaring lagi. Pukul 5 pagi bidan yang berbeda datang, sudah pembukaan 2. Bidan menyarankan saya miring ke kiri supaya proses pembukaannya lebih cepat dan mengurangi resiko pecah pembuluh di tulang belakang, yang ternyata membuat kontraksi terasa lebih sakit, hiks hiks. Sejak pukul tiga dini hari, setiap kontraksi datang saya tarik napas dalam-dalam sambil meyakinkan diri saya bahwa sakit kontraksi yang terasa adalah proses alamiah karena saat yang sama jalan lahir sedang menipis dan bayi mendorongkan kepalanya ke arah luar secara perlahan. Saat kontraksi datang pula, suami saya dengan sigap mengompress pinggang dan punggung saya dengan air hangat, memang saya yang minta, dan saya bersyukur suami saya mau melakukannya dengan tulus :) Tiga hal itu yang saya akui bisa mengurangi rasa sakit saat kontraksi datang. Setelah kontraksi mereda, buru-buru suami saya mengelap punggung saya yang basah saat diseka air hangat agar tidak sampai kedinginan dan kembung. Ibu saya stand by memanggilkan bidan sewaktu-waktu saya meminta. Pukul tujuh pagi bidan datang meminta bedong, kupluk, popok kain, baju bayi, selendang, dan baju saya untuk di bawa ke ruang melahirkan. Bidan juga sambil mengecek pembukaan masih juga 2. Bidan sesekali datang setelah itu untuk mengecek dan mengingatkan jika saat kontraksi datang sudah mulai terasa seperti ingin pup, segera memanggilnya, dia pun keluar. Bentuk saya sudah tidak jelas rasanya waktu itu, ingin sekali teriak bidan kenapa ngga stand by di sini aja sih. Tapi sudah tidak mampu dan tidak sempat mengucapkannya karena kontraksi datang sering sekali. Tak lama setelah bidan keluar kamar, saya mulai merasakan itu. Ibu saya langsung keluar mencari bidan tadi. Bidan datang, mengecek pembukaan, ternyata sudah bukaan 5. Saya langsung dibawa ke ruang melahirkan di lantai basement (2 lantai di bawah kamar saya) menggunakan kursi roda. Selama menuju ruang melahirkan saya sudah tidak bisa memperhatikan lingkungan sekitar. Sudah berkunang-kunang. Tiap kontraksi datang, saya remas kuat-kuat si pegangan kursi roda. Kontraksi berhenti, tinggallah lemas. Hehe, perjuangan. Di ruang melahirkan, saya masih bisa pindah sendiri dari kursi roda ke kasur melahirkan. Saya diminta berbaring menghadap ke kiri lagi. Di ruang ini suami saya sudah tak bisa lagi menyeka air hangat ke punggung saya untuk mengurangi sakit saat kontraksi. Sebagai gantinya ayah saya yang baru datang mengusap-usap punggung saya dengan kencang saat kontraksi, ini ternyata ampuh juga mengurangi rasa sakit, karena gesekannya menghasilkan panas di kulit. Satu jam kemudian, dokter pun datang, sebelumnya saya bersama bidan dua orang. Setelah bidan mengkode, dokter pun meminta hanya satu orang yang menemani. Ternyata saat itu sudah pembukaan lengkap. Saya langsung meminta suami saya yang menemani. Di saat yang sama, ternyata suami juga menjawab, "saya saja dok". Iniiii so sweet sekali, suami saya yang takut sama darah dan tindakan medis dengan sigapnya meminta ada terus di sisi istrinya sampai proses melahirkan ini selesai. Tidak ada perasaan lain detik itu selain senang dan tenang. Hihi. Orang tua saya keluar ruangan, lalu saya diminta berbaring telentang, lutut ditekuk, posisi melahirkan. Saya diminta mengejan sekuatnya ketika merasakan kontraksi yang paling kuat. Begitu merasakannya, saya mengejan kuat-kuat tapi katanya yang saya lakukan bukan mengejan. Hahahaha... entahlah saya sendiri tidak pernah mengejan dalam sehari-harinya. Saya coba lagi mengejan gaya lain. Masih salah. Heheheh. Coba sekali lagi, betul... tapi kurang kuat. Kata dokter, bidan, dan suami kepalanya sudah nongol sedikit tapi masuk lagi karena kurang kuat mengejan. Oke, saya jadi makin semangat membayangkan sebentar lagi ini semua selesai dan saya akan menimang bayi yang selama ini lucu di kandungan. Mengejan lagi... dan akhirnya dokter dan bidan berkata, "udah.. cukup.." Di saat yang sama suami mengusap kepala saya dan mengecup kening saya. Saya langsung berpikir bahwa anak saya pasti sudah lahir. Saya lirik ke arah dokter dan bidan, mereka sedang mengangkat seorang bayi, masih basah, tangan dan kakinya bergerak-gerak. Beberapa saat kemudian dia menangis. Alhamdulillah.... saya menarik napas dan mengucap syukur sedalam dalamnya. Apalagi kemudian dokter memberitau bayi saya perempuan.. sempurna.. semuanya bagus..


Alhamdulillah... insyaallah akan selalu kami jaga amanah ini. Semoga kelak dia menjadi anak yang solehah, sehat, lucu, pintar, mulia, beruntung, serta cantik jasmani, akhlak dan lisannya. Selamat datang ke dunia anakku... :)
Share:

Sunday, 7 December 2014

Ingin Menulis Lagi

Ooh astaga :) Sudah lama sekali semenjak postingan saya yang terakhir. Tidak terasa waktu sudah bergulir begitu cepatnya. Tiga tahun yang lalu setelah lulus pendidikan apoteker di Bandung saya langsung mengabdikan diri di dunia industri kosmetik. Persis setelah itu berbagai kesibukan tidak pernah absen datang menguras fisik, mental, dan energi. Seharusnya itu semua bukan jadi alasan untuk berhenti menulis blog, tapi apa daya, segala kesibukan membuat saya lupa beberapa akun dan password saya di dunia maya. Sialnya akun email yang saya gunakan untuk verifikasi akun blog ini ngehang, bisa masuk tapi tidak bisa buka inbox. Jadi tools bantuan untuk mencari password blog pun tidak bisa membantu.
Saat ini, tiga tahun setelah lulus pendidikan apoteker, saya sudah menikah dan dikaruniai seorang bayi lucu dan cantik :) Anak saya membuat saya tidak bisa menolak keinginan suami untuk berhenti dari tempat saya bekerja sebelumnya. Tanpa tekanan. Sekarang saya menjadi fully mommy. Inilah titik baliknya. Saya ingin belajar menulis lagi :)
image
Share:

Sunday, 17 April 2011

Merkuri Oh.. Merkuri

Membaca tulisan salah satu orang yang paling berpengaruh di hidup saya http://andyyahya.multiply.com/journal/item/8/Beberapa_Orang_di_Luar_Sana_Harus_Menggadaikan_Hidupnya_Demi_Sebutir_Kelereng_Mekuri_part_2-selesai tentang penambang emas liar saya jadi tersentuh. Mereka menambang emas dengan tangan-tangannya sendiri. Ahli dari pengalaman, itulah mereka, bahkan mesin pun tak ada artinya bagi mereka. Mereka mengolah bijih-bijih emas kasar menjadi emas murni dengan jari jemari nya sendiri. Tanpa penapis, dari hari ke hari, bulan, dan tahun. Bayangkan, berapa banyak merkuri yang bisa masuk ke dalam tubuh mereka setiap harinya?
Merkuri, lebih dikenal sebagai air raksa (Hg), sesungguhnya ada dalam tiga bentuk, yaitu merkuri ilemental, inorganik, dan organik.
Merkuri Ilemental terdapat dalam bentuk unsurnya, yaitu Hg itu sendiri. Inilah yang biasanya dimanfaatkan untuk termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi (untuk tambal gigi), alat elektrik, batu batere, cat, katalisator pembuatan soda kaustik (NaOH), desinfektan, dan produksi klorin dari garam natrium klorida (NaCl). Merkuri jenis ini absorpsi (penyerapan) di saluran pencernaannya rendah, sehingga tidak menyebabkan efek toksik jika tertelan. Kecuali jika zat ini tersimpan lama di lambung dan ada luka terbuka di saluran pencernaan yang memungkinkan langsung masuk ke pembuluh darah, misalnya pada kasus tukak lambung. Jika pemaparannya langsung ke dalam pembuluh darah vena, merkuri dapat menyebabkan emboli paru, menembus sawar darah di otak dan plasenta karena sifatnya yang larut lemak. Di otak akan terakumulasi dalam bentuk ion merkurik (Hg ++) yang merupakan salah satu contoh ion inorganik. Pemanasan logam merkuri akan menyebabkan terbentuknya uap merkuri oksida. Uap merkuri oksida sangat iritan pada kulit, selaput mukosa mata, mulut, dan saluran pernafasan. Karena sifat-sifatnya dan keberadaannya dalam bentuk perkakas yang sering digunakan sehari-hari, keracunan merkuri jenis ini yang paling sering terjadi karena terhirup melalui hidung dalam bentuk uapnya.
Merkuri inorganik merupakan logam merkuri dalam bentuk ionnya, yaitu Hg++ atau Hg+. Materi Hg++ biasa digunakan untuk desinfektan, sedangkan Hg+ untuk laksansia (calomel) atau teething powder. Senyawa ini larut dalam air sehingga mudah diabsorpsi oleh saluran cerna, paru-paru, dan kulit. Pemaparan akut (singkat) dalam dosis tinggi beresiko menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada pemaparan kronis (lama) dalam dosis rendah dapat menyebabkan proteinuri (ada protein di dalam urinnya, yang menandakan kerusakan ginjal) serta sindrom nefrotik dan nefropati yang berhubungan dengan gangguan imunologis.
Yang terakhir, merkuri organik, yaitu merkuri yang mengikat rantai alkil (rantai karbon). Merkuri dengan rantai karbon yang pendek biasanya yang menjadi kontaminan di lingkungan, bisa di air, sungai, tanah, dsb. Merkuri dengan rantai karbon panjang dimanfaatkan untuk fungisida dan desinfektan. Bahayanya, bila senyawa-senyawa ini mengkontaminasi ikan, tumbuh-tumbuhan dan termakan oleh manusia dapat menyebabkan degenerasi otak, ataksia, tuli, penyempitan jarak pandang, menembus plasenta dan terakumulasi dalam janin. Yang terakhir ini dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan.
Salah satu korban pencemaran merkuri Teluk Tokyo yang datang ke acara peringatan 50 tahun worst-health-disaster dalam sejarah Jepang (foodsafety.com)Masih ingat dengan kasus Minamata, Telok Tokyo? Ya, itulah contoh heboh dunia akibat pencemaran merkuri pada ikan-ikan di teluk tersebut yang akhirnya menyebabkan ataksia penduduk di segala belahan dunia. Kasus lain yang sempat membuat was-was para orang tua adalah ditemukannya kandungan timerosal (senyawa merkuri yang digunakan sebagai pengawet pada beberapa produk obat, biasanya untuk bahan tambahan pada vaksin) pada anak-anak yang divaksinasi, yang ditengarai beresiko mengakibatkan autis. Sampai saat ini kasus ini masih diperdebatkan. Kosmetik pun tak mau ketinggalan. Banyak kosmetik yang akhirnya ditarik dari peredaran karena mengandung merkuri. Oleh karena itu para wanita berhati-hatilah dalam memilih kosmetik, terutama kosmetik yang mengklaim ‘dirinya’ dapat memutihkan wajah, kulit, selangkangan, dsb. Teliti sebelum membeli :) Kasus lain yang mungkin tidak sempat tersentuh adalah penarikan obat merah. Obat merah ditarik peredarannya karena mengandung merkuri sebagai senyawa peng-antiseptik dalam obat tersebut. Wew, betapa merkuri sangat berbahaya tetapi dia sangat dekat dengan kita. Be aware, people! :)
Share:

Monday, 21 March 2011

Manisnya Lebih Terasa bila Kita Tahu Rasanya Pahit

Smile smile smile, the day i used to smile almost time was actually my birthday. Yes. It was yesterday! =)
Saya membuka dan menutup hari itu dengan tersenyum. Indahnya.. ketika hampir semua orang yang saya kenal menotifikasi bahwa hari itu bukan sekedar hari senin bagi saya, ketika orang-orang yang kita sayang meluangkan waktu, tenaga, dan tentu saja uang hanya untuk membuat hari itu berkesan, tentu juga ketika tiba saatnya jari jemari dengan lincah namun hati-hati membuka bungkusan-bungkusan lucu. Hm.. keindahan yang hanya bisa dinikmati sekali setahun. Hey, tetapi tidak kali ini. Ada sesuatu yang spesial, yang berbeda, yang saya rasakan lebih dari itu. Akhirnya saya mengerti, sesuatu itu akan terasa saaaangaaat manis bila kita pernah tau rasanya pahit.
Makasih yaa Andy Yahya Al Hakim, Devi Kamilia, Raiza Pratitha, Citta Masyitta, dan Fellyza Yunisari.


Share:

Tuesday, 1 March 2011

Carica, si Asam Manis Spesial dari Kampung Saya

Wewh sudah lama ternyata nggak nulis :D Benar-benar sedang menikmati liburan di kampung halaman. Baru saja dimention sama teman di twitter, isinya mengingatkan saya pada makanan spesial : MANISAN CARICA.=)
source : foto
Ini dia yang saya bilang manisan carica. Sepintas mungkin penampilannya mirip dengan manisan biasa, tapi tunggu dulu, jangan percaya dengan gembar gembor bahwa rasanya sangat enak sebelum mencobanya sendiri :)
Komentar teman-teman saya yang baru pertama kali mencoba pasti tidak jauh-jauh dari : " ini buah apaan? " wkwkw. Jangan salah sangka, itu karena mereka bilang rasanya unik, mungkin karena mereka belum pernah makan buah yang namanya CARICA.

Jadi, apa itu buah CARICA?
image from: caricawonosoboasri.blogspot.com
Buah carica (Carica pubescen) sebenarnya masih family dari buah pepaya (Carica papaya), bentuk buahnya pun mirip. Tapi meskipun begitu, rasanya sama sekali berbeda. Buah carica berukuran kecil, rata-rata sebesar kepalan tangan orang dewasa. Buah carica yang sudah matang sekalipun lebih banyak mengandung getah dibandingkan buah pepaya. Oleh karena itu jangan sekali-kali mencoba memakan buah ini sebelum diolah terlebih dahulu layaknya buah pepaya.
Pohon carica hanya dapat tumbuh di dataran tinggi yang curah hujannya tinggi. Itulah sebabnya hanya sedikit daerah di Indonesia yang mengenalnya, misalnya saja Wonosobo (kampung halaman saya :) ). Kabarnya sih pohon ini juga tumbuh di Lembang - Bandung, tapi tampaknya belum dimanfaatkan sebagai wisata boga seperti di Wonosobo. Dan ternyata, pohon ini pernah diuji cobakan di Malang - Jawa Timur dan dapat tumbuh, tetapi tampaknya tidak berkembang dengan pesat seperti di Wonosobo. Sepertinya petani Malang lebih tertarik pada buah apel ketimbang keluarga pepaya. Hahaha.. only a joke..
images by 3.bp.blogspot.com
Satu botol manisan carica bisa berkisar antara 11000 sampai 13500 rupiah. Sedangkan buah mentahnya di pasaran hanya sekitar 5000 - 6000 rupiah per kilo (1 kilo paling tidak bisa sampai 10 buah).  Kalau beli langsung dari petaninya lebih murah lagi, per
kilonya bisa cuma sekitar 2000-an saja. Satu botol carica hanya cukup menampung 1 buah. Wow, bisnis yang menggiurkan ;p

Waktu masih SMP dulu sering buat makanan ini. Dan rasanya lebih enak lho membuat sendiri daripada beli yang sudah jadi. Kenapa? Karena kita nggak perlu pakai pemanis buatan (yang dapat menimbulkan efek rasa pahit dan kadang bisa memicu sakit kerongkongan bagi yang tidak cocok) juga lebih sehat karena tanpa bahan pengawet. Caranya pun mudah.
Bocoran resep membuat manisan carica. (Resep original dan telah disempurnakan berdasarkan pengalaman :) )
Bahan-bahan :
Buah carica, gula pasir, kapur lenjet (kapur yang biasanya dikunyah oleh nenek-nenek bersama sirih dan tembakau), daun pandan, dan vanili.
Caranya?
1. Pertama-tama buah carica dikupas terlebih dahulu tentunya, dipotong memanjang dari atas ke bawah (ukuran irisan sesuai selera), pisahkan daging buah dari biji dan serat-serat di antara biji dan dagingnya. Biji boleh dibuang, namun serat-
serat cukup dipisahkan dan dicuci.

2. Selanjutnya daging buah dicuci, lalu direndam kurang lebih selama 15 menit dalam air kapur lenjet (kapur lenjet dilarutkan dalam air hangat). Ini bertujuan untuk mengeluarkan semua getah dari buah carica. Jangan lupa bungkus tangan dengan plastik saat mengupas karena buah carica sangat bergetah.
3. Setelah 15 menit buah carica dicuci hingga bersih. Rebus buah carica dalam air. Banyaknya air sesuai selera. Nantinya air ini yang akan menjadi kuah manisan.
4. Jika telah mendidih, masukkan gula pasir (sesuai selera) serat-serat yang telah dicuci agar aroma dan wanginya lebih terasa. Tambahkan daun pandan dan vanili. Aduk pelan-pelan hingga gula dan vanili melarut rata.
5. Angkat jika buah sudah empuk. Maka jadilah manisan carica. Mudah kan? Manisan carica lebih enak dihidangkan dingin-dingin. Sebaiknya disimpan di dalam lemari es, dan dihidangkan bersama es batu. Nyummm. Jadi pengen buat lagi... :)
Share:

Tuesday, 8 February 2011

Tips Persiapan Packing untuk Backpacker Pemula

Beres solat subuh pagi tadi lagi-lagi hujan turun. Sumpah hujan pagi-pagi menyiutkan semangat. Berasa pengen narik selimut dan tidur lagi. hehe. Tiba-tiba teringat setahun yang lalu, kehujanan sampai menggigil gara-gara travelling keluar kota kurang persiapan ;)

Ini pengalaman liburan tergila saya. Rute perjalanan dimulai dari kampus di Bandung - Galunggung (Tasikmalaya) - Pangandaran - Pantai Batu Karas - Green Canyon Pangandaran - Bandung selama 4 hari 3 malam, ditempuh dengan kendaraan roda dua yang merakyat, MOTOR :) Kami konvoi.
Saya baru sekali itu travelling jauh selama beberapa hari hanya dengan menggunakan motor, naik gunung, dan tidur di tenda. Saya termasuk orang yang simpel dan tidak suka sesuatu yang ribet. Saya hanya bawa satu tas ransel berukuran 35x25x15 cm. Bayangkan apa yang bisa saya bawa dengan tas sekecil itu untuk naik gunung lalu ke pantai. Hahaha.. kurang.. sangat kurang.. Belum lagi saat tiba-tiba turun hujan di jalan. walaupun sudah menggunakan ponco tetap saja tas dan saya basah.
Okey, ini sekedar tips yang akan berguna untuk siapa saja yang berniat untuk travelling outdoor agar aman, paling tidak, saya sendiri tidak akan pernah melewatkannya lagi
1. List barang kebutuhan jauh-jauh hari
List semua barang yang mungkin dibutuhkan dari baju ganti sampai yang kecil-kecil, yang sangat penting sampai yang sepertinya tidak penting. Kadang kita sering malas melakukannya tapi ini akan memperkecil resiko barang tertinggal/ lupa dibawa. Selain itu kita masih punya cukup waktu untuk memastikan semua barang akan ada saat travelling nanti. Pada akhirnya sih tidak harus semuanya dibawa, tapi kita jadi bisa menempatkan prioritas barang mana saja yang sangat penting untuk dibawa, penting tapi tidak harus, tidak penting tapi berguna, dan tidak penting sama sekali (yang ngapain juga dilist. haha)

2. Jaket anti-air
Kita tidak pernah tau apa yang terjadi nanti. Ini akan berguna jika tiba-tiba turun hujan. Tebal tipisnya jaket bisa disesuaikan dengan perkiraan suhu daerah tujuan.

Jaket anti air ada yang terbuat dari material yang memang tahan air (parasit) atau material yang dilapisi semacam lilin agar menjadi anti air. Hati-hati dengan jaket dengan material yang kedua, jaket seperti itu tidak akan lepek meski terkena air seperti halnya jaket dari parasit, namun jika terlalu lama terkena lembab (kehujanan dan tidak kering dengan cepat) dapat menimbulkan bau yang tidak enak. Sebagian orang mungkin sudah tau, namun sebagian lagi tidak menyadarinya.  Oleh karena itu sebaiknya membawa jaket lebih dari satu untuk berjaga-jaga.
3. 2P (Payung dan Ponco)
Dua benda ini bentuknya tak sama dan fungsinya juga berbeda. hehe. Ponco, seperti yang kita tahu, adalah alat pelindung hujan yang dipakai seperti baju. Sedangkan payung adalah alat pelindung hujan yang kurang lebih dipakai seperti topi, di atas kepala. Ponco digunakan saat hujan di perjalanan, sedangkan payung akan berguna saat jalan-jalan. Kamu akan merasa sedang diospek jika jalan-jalan menggunakan ponco. wkwkwk.

4. Air Kemasan Sebanyak mungkin
Sangat bijaksana membawa air minum sendiri pada saat melakukan kegiatan seperti ini (travelling outdoor, camping, backpack, dan sejenisnya) walaupun sekedar air mineral saja harganya melonjak tajam di tempat-tempat wisata. Tak hanya itu, air kemasan akan sangat bernilai jika di tempat tujuan tidak ada atau sulit sumber air bersih dan kakus/ mck (misal: gunung, pantai, dan sekali lagi pada saat camping, backpack dan sejenisnya)

5. Tissue dan tissue basah
Ini akan membantu menjaga kebersihan yang akhirnya juga menjaga kesehatan kita selama di perantauan. Susah air, artinya juga susah cuci tangan. Jika tidak ada air, jangan lupa lap tangan dengan tissu basah sebelum makan dan setiap kali buang air. heu. Lebih disarankan menggunakan cairan antiseptik :)

6. Ransel/ Travelling Bag yang tahan air atau ransel biasa plus rain cover
Kamu sebaiknya tidak mengulang kesalahan yang saya lakukan. Terlalu lama kehujanan di jalan, tas ransel yang saya bawa tidak tahan air. Isinya pun basah. Jika tidak ada ransel/ tas travelling tahan air atau tidak memiliki rain cover untuk tas, bisa diakali dengan memasukkan barang bawaan ke dalam kantong plastik sebelum dimasukkan ke dalam tas. Ini sangat penting. 

7. Kantong Plastik
Yey, akhirnya sampai pada poin terakhir. Kantong plastik adalah barang yang serbaguna. Pastikan membawanya dalam jumlah yang cukup. Baju kotor. Juga untuk tempat sampah. Keep our earth clean guys ! :)

and these were the rumble... :)
"The Team"
Here we are... :)
Place#1 Galunggung
620 anak tangga menuju puncak galunggung. amazing.. haha
Kawah Galunggung
Mancing di kawah galunggung yang sekarang berubah jadi danau

The Beach
Me ^_^
The Last.. Green Canyon Pangandaran
The beauty of Indonesia's Green Canyon
Indahnya Indonesia...
Wanna go there again :(
Share:

Disclaimer

Dear reader, Nothing is perfect, demikian juga konten di blog ini. Oleh karena itu, terimakasih untuk komentar, sharing, saran, kritik dan untuk kunjungannya ke blog saya, yang walaupun imperfect namun semoga bermanfaat. ♥ vidya ♥

Labels

Drop me a message

Name

Email *

Message *

Recent Posts

About me

Empat tahun mengenyam pendidikan S1 Sekolah Farmasi, saya melanjutkan Pendidikan Profesi Apoteker satu tahun. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya berkesempatan berkarya di dunia industri kosmetik setelah saya lulus Pendidikan Profesi. Tiga tahun berkiprah di dunia itu, saya memutuskan berhenti sementara dari dunia karir demi berkumpul dengan keluarga kecil di Leoben, Austria

Saya mengenal blog semenjak kuliah profesi. Saya memiliki blog pribadi dan bergabung menjadi author di www.apotekerbercerita.com. Sebelumnya saya hanya menumpahkan isi pikiran di diary. Namun saya baru menyadari kecintaan menulis justru setelah berada di Austria. Dengan menulis saya banyak membaca dan belajar, mengingat, belajar berkomunikasi, belajar bertanggung jawab dan akhirnya saya mengijinkan diri saya sedikit berbangga dan bahagia meskipun mungkin menurut orang itu biasa saja hihi. Saya merasa ada yang terobati setiap bisa menyelesaikan satu judul tulisan. Maka saya pikir tidak ada alasan untuk berhenti menulis.

Terimakasih kepada siapa saja yang sudah berkunjung, selamat membaca dan semoga konten webblog ini bisa bermanfaat.

Salam hangat,

Vidya